ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Peristiwa di Bagaskara Corp


__ADS_3

Ben lebih dulu sampai di ruang kerja Samuel. Dia sangat mudah memasuki ruangan itu karena memang hampir setiap hari dia yang ikut mengurusi ruangan itu. Segala macam dokumen, tempat menyimpannya, dia masih hafal. Termasuk dokumen rahasia mengenai daftar request pembunuhan yang pernah dilakukan Tiger King. Sungguh, itu merupakan dokumen tak termaafkan jika sampai jatuh ke tangan publik. Akan banyak orang yang menghujat Samuel beserta rekan bisnisnya.


Ben menekan sebuah tombol yang terdaoat pada pojok tembok. Ketika tombol itu dibuka, rak dokumen yang ada di sana membuka, memberinya jalan masuk ke suatu ruangan kecil. Ada banyak dokumen rahasia di sana. Tapi, Ben cukup mengambil dokumen itu saja. Seandainya ia mengambil semuanya, sampai matipun Samuel tak bisa menebus dosa-dosanya. Termasuk dosanya yang telah merenggut masa muda anaknya sendiri sebagai anak yang penuh kebahagiaan, Bayu Bagaskara.


Setelah mengambil dokumen yang diperlukannya, dia kembali keluar dari ruangan itu.


"Ben.... "


Baru saja keluar, Ben sudah dikepung oleh Samuel dan kelima anak buah yang siap mengacungkan pistol ke arahnya.


"Anak kurang ajar!" bentak samuel. Ia mengeratkan giginya, menahan amarah yang memuncak.


Ben masih berdiri dengan tenang. Sikapnya itu seakan sudah tidak takut lagi jika malam ini ia akan mati ditangan Samuel. Apapun yang terjadi, malam ini segalanya harus selesai.


"Anda harus menyerah, Tuan."


"Kembalikan dokumen yang sudah kamu ambil! Kalau aku tertangkap kamu juga akan ikut tertangkap, Ben! Apa kamu tidak sadar!"


Samuel merasa sangat kecewa. Anak seorang sopir yang dia besarkan selama ini pada akhirnya kini berdiri di hadapannya sebagai musuhnya sendiri.


Bukannya menyerahkan dokumen yang baru saja diambilnya, Ben justru mengambil pistol dari dalam saku celananya. Ia arahkan pistol itu ke arah Samuel tanpa rasa takut, padahal ada lima pistol yang mengarah padanya.


"Saya sepenuhnya sadar, Tuan. Saya siap menebus segala kejahatan yang pernah saya lakukan meskipun harus menghabiskan sisa hidup di dalam penjara."


"Hahaha.... Kamu memang sudah gila. Kamu belum pernah merasakan kerasnya kehidupan penjara dan berani berkata seperti itu."


"Jika kamu tahu, aku yakin kamu akan lebih memilih mati."


Brak!


"Pak Ben!"


Prita dan Alex datang di saat yang tidak tepat. Wajah Ben langsung panik melihat istri Bayu ada di sana. Sementara, Samuel tersenyum dengan kedatangan menantunya. Menantu yang sedang ia cari-cari ternyata datang sendiri menghampirinya.


"Menantuku, kemarilah. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Kemarilah!" ucap Samuel dengan nada yang manis.


Prita kebingungan. Sepertinya situasi di sana sedang tegang, Ben beserta orang-orang itu saling mengacungkan pistol. Sementara, Samuel masih bisa tersenyum menyambut kedatangannya. Alex ikut-ikutan takut. Ia menyesal sudah membuka pintu ruangan itu tanpa terlebih dahulu melihat situasinya.


"Nona Prita! Lari!" teriak Ben.


"Cepat Lari!"


Dor!

__ADS_1


Ben sengaja menembakkan pelurunya ke pintu samping Prita sehingga membuat Prita dan Alex sangat terkejut. Mereka langsung bergegas lari.


Ben berguling ke balik meja sembari menembaki balik pengawal Samuel yang berusaha menembakinya.


Samuel dan dua orang pengawalnya berlari mengejar Prita, sementara tiga orang lainnya bertahan menghadapi Ben.


Alex dan Prita masih berlari tunggang langgang menyusuri koridor kantor. Mereka tidak menyangka jika kedatangan mereka ke sana sama artinya dengan masuk ke dalam bahaya.


Dor!


"Ah!"


Kaki Alex terkena tembakan. Dia sudah tidak bisa berlari lagi.


"Alex!"


Prita kembali menghampiri Alex. Dia berusaha memapahnya, namun Alex menolaknya.


"Nona, pergi dari sini! Cepat!"


Mata Prita sudah berkaca-kaca menatap darah segar yang mengalir dari betis kiri Alex.


"Pergi!" seru Alex lagi.


Bruk!


Prita menabrak seseorang. Sayangnya, yang ia tabrak juga merupakan salah satu anak buah Samuel. Lelaki itu mengacungkan pistol ke arah Prita.


Prita tampak semakin ketakutan. Lelaki itu mencekal tangannya sembari menodongkan senjatanya tepat di kepala Prita.


"Jalan!" perintahnya.


Pengawal itu kembali membawa Prita menyusuri koridor yang sebelumnya Prita lewati. Ia bertemu lagi dengan Alex yang masih terkapar di lantai. Ada Samuel dan dua orng anak buahnya di sana sedang mengerumuni Alex.


"Menantuku, sebenarnya aku ingin berbicara denganmu secara baik-baik, tidak dengan cara seperti ini."


"Tapi, sepertinya mustahil kamu akan mau menurut padaku."


Alex tampak kesakitan dengan kondisi kakinya. Anak itu, seumur hidup belum pernah merasakan terluka seperti itu meskipun menjadi anak buah Bayu. Dia pasti sangat menderita. Prita tidam tega melihat kondisi Alex. Alex sudah seperti adiknya sendiri.


"Aku heran dengan semua orang. Padahal, aku melakukan semua ini juga demi keluarga. Kenapa semua orang jadi berbalik memusuhiku? Apa yang salah denganku?"


"Alex.... Coba jelaskan, sampai dulu kamu lebih memilih ikut dengan Bayu daripada aku yang sudah memungutmu dari jalanan."

__ADS_1


Samuel merasa kesal. Baik Ben maupun Alex yang dia angkat dari kubangan kemiskinan, mereka semua mengkhianatinya.


"Akh! Akh! Akh....!"


Alex menjerit kesakitan saat Samuel menginjak bagian luka tembakan pada betisnya. Alex sampai menangis di sela-sela jeritannya. Alex berusaha menyingkirkan kaki Samuel, namun usahanya sia-sia.


"Ayah.... Tolong hentikan." Air mata Prita mengalir deras melihat Alex diperlakukan seperti itu.


"Oh, apa menantuku ini sedang mengasihani Alex? Dia hanya anak jalanan, kalau mati juga tidak ada yang akan mencarinya."


Prita menangis sesenggukan.


"Kenapa kamu dan Bayu sama-sama bisa menyayangi orang semacam ini? Sungguh aneh."


"Prita, apa kamu mau membantuku?"


"Bantu aku merebut dokumen yang ada di tangan Ben. Anak itu juga saat ini sedang gila, kita harus menyadarkan dia kembali."


Samuel mengangkat kakinya dari Alex. Ia berjalan mendekati Prita yang masih menangis dan gemetar ketakutan.


"Menantuku, kamu harus tahu. Jika dokumen itu jatuh ke tangan polisi, Bayu juga akan ikut masuk penjara. Apa kamu mau suamimu dipenjara?"


"Apa mungkin kamu tidak tahu, kalau suamimu itu bukan pengusaha biasa, tetapi juga ada bisnis terlarang yang ikut ia jalani. Apa tidak apa-apa jika dia ikut masuk penjara?"


Prita mematung. Ia tahu jika Bayu dulunya memang orang yang tidak baik. Namun, sekarang ia berusaha menjadi orang yang lebih baik. Apakah ia siap jika suaminya harus ikut mempertanggungjawabkan perbuatan jahatnya yang dulu?


"Aku tahu, kamu pasti tidak akan tega melihat suamimu dipenjara. Aku bisa membereskan semuanya asal kamu mau mematuhiku."


Prita seperti orang yang sedang dicuci otaknya oleh Samuel. Ia hanya diam mendengarkan apa yang Samuel katakan.


"Nona Prita, jangan didengarkan." di sela-sela kesakitannya, Alex masih tetap berusaha memperingatkan nonanya.


"Ayo, menantuku. Ikut aku." ajak Samuel.


Antara putus asa dan takut, Prita menuruti perkataan Samuel. Dia berjalan mengikutinya. Pengawal di sampingnya tetap mengarahkan pistol ke kepalanya, untuk mengintimidasi.


"Nona Prita!"


Alex terus menyeru meskipun nonanya berlalu meninggalkannya begitu saja bersama Tuan Samuel. Ia juga memegangi kakinya yang masih terasa sakit apalagi diperparah oleh tindakan Samuel sebelumnya.


-------xxx------


Bayu.... Bayu.... Gara-gara kamu authornya ada yang musuhin. Kenapa kamu jadi orang jahat banget, mau tobat aja nggak boleh. Niatnya mau bikin novel yang cerita akhirnya pada jadi orang baik semua, malah gara-gara cerita ini ada reader yang jadi jahat sama author. Reader yang jadi tim Bayu-Prita juga sampai dijelek-jelekkan, serasa orang lain nggak boleh punya imajinasi sendiri. Luar biasa dia. Tanggung jawab kamu, Bayu! I hate you but I love you! 😪

__ADS_1


__ADS_2