ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Perbincangan Pagi di Desa


__ADS_3

Bayu duduk di atas dipan kayu di depan rumah milik Bara sembari memandangi suasana pedesaan yang masih asri. Sesekali melintas warga desa yang memulai aktivitas paginya. Rata-rata orang yang lewat memakai caping serta memikul cangkul di pundak, sudah bisa ditebak kalau mereka petani yang hendak pergi ke sawah atau ladang.


Jarak antar rumah di sana cukup berjauhan dan jumlah penduduk masih sedikit. Akses jalan hanya jalan setapak seperti jalan hutan. Memang sepertinya perkampungan itu terletak di tengah hutan. Suasananya sepi, tidak bising, cocok sebagai tempat untuk menenangkan diri.


Rumah yang Bayu tempati sangat sederhana, terbuat dari kayu dengan lantai berupa tanah yang dipadatkan. Bara tinggal bersama ayah dan ibu angkatnya yang sudah berusia sekitar 60 tahunan. Mereka sangat ramah menyambut kedatangan Bayu.


Luka tusuk di pinggang Bayu sudah ditangani dengan lebih layak. Sebelum pulang ke rumah, Bara lebih dulu membawanya ke tempat dokter kenalannya. Ditempat itu, luka Bayu mendapat beberapa jahitan karena sayatan pisau yang mengenainya cukup dalam. Setelahnya, luka itu diolesi dengan obat lalu dibalut perban mengelilingi pinggangnya.


"Pisang goreng?"


Bara membawakan sepiring pisang goreng dan dua cangkir teh hangat ke hadapan Bayu. Ia ikut duduk di atas dipan berhadapan dengan Bayu.


"Kemana bapak dan ibumu?"


"Sudah pergi ke ladang untuk mengecek sayuran yang mereka tanam."


"Apa mereka tidak curiga dengan kedatanganku?"


"Sepertinya kamu santai sekali membawa orang asing yang terluka pulang ke rumah."


"Hahaha.... Mereka juga sudah tahu kalau aku seorang polisi yang menyamar."


"Warga desa di sini tidak ada yang suka dengan kelompok pemberontak itu, meskipun berasal dari tanah yang sama."


"Aku bilang kamu temanku, jadi mereka juga berpikir kalau kamu juga sama sepertiku, polisi yang sedang menyamar untuk menjalankan misi."


"Ayo, dimakan!"


Bara mengambil satu pisang goreng, diikuti oleh Bayu. Pisang goreng yang dimakan saat masih hangat rasanya memang enak, apalagi ditambah dengan teh manis yang melegakan tenggorokan.


"Kamu jatuh dari ketinggian yang lumayan, kena tusukan pisau juga, tapi kondisimu masih sangat prima. Aku yakin kamu bukan orang biasa."


Bayu memperlambat kunyahan pisang goreng di mulutnya. Ia merasa Bara mulai mencurigainya.


"Bekas luka di tubuhmu juga sangat banyak. Aku tahu, beberapa itu bekas luka tembakan. Sepertinya ini bukan pertama kalinya kamu menghadapi bahaya."


"Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Bara dengan ekspresi wajah serius.


"Aku manusia serigala."


Bara terdiam sejenak. Cara bicara Bayu terlihat meyakinkan. Tapi, ini bukan cerita fiksi fantasi, tidak mungkin ada hal seperti itu di dunia ini.


"Hahaha.... Kamu mau melawak pagi-pagi? Kalau memang benar manusia serigala, seharusnya semalah aku melihatmu berubah wujud saat bulan purnama."


"Aku seorang petugas keamanan." jawab Bayu.

__ADS_1


"Semalam tugasku mengawal pengiriman kayu gelondongan."


"Kamu juga pasti tahu, orang-orang sepertiku sangat dibutuhkan oleh para pengusaha, karena dalam perjalanan pengiriman atau pengangkutan barang, ada banyak penjahat yang menghadang di jalan."


"Aku memang orang yang terlatih untuk itu."


"Oh, pantas saja kalian memiliki senjata. Warga sipil dilarang memiliki senjata."


"Kalau kami tidak memakai senjata, kami harus melawan mereka dengan apa? Harus pasrah mereka tembaki?"


"Jumlah polisi di negara ini masih sangat sedikit, harap maklum kami harus bisa melindungi diri kami sendiri."


"Apa sekarang kamu akan menangkapku karena memakai senjata ilegal?"


Bara merasa tersindir dengan perkataan Bayu. Ucapannya memang benar, tapi membuat telinganya panas juga.


"Sayangnya aku ditugaskan bukan untuk itu."


"Tapi lain kali kalau kita bertemu lagi, hati-hati. Aku akan menangkapmu. Jangan main-main dengan senjata lagi, oke?"


Bayu hanya tersenyum mendengar ucapan Bara. Dia ingin melihat, siapa yang lebih cerdik antara dirinya dengan Bara. Apakah dia benar-benar bisa menangkapnya suatu saat nanti.


"Apa kamu hanya ditugaskan sendiri di sini?"


"Tidak, kami berlima di sini. Dokter yang menanganimu itu salah satunya. Lalu ada lagi yang menyamar sebagai pedagang, petani, dan guru."


"Lalu hasilnya?"


"Selama setahun lebih aku di sini, sepertinya tidak ada yang mendukung mereka. Hanya saja mereka terpaksa tetap diam karena takut dengan ancaman."


"Masyarakat lebih suka hidup tenteram di bawah pemerintahan negara ini daripada ingin merdeka seperti yang sering mereka gaungkan. Aneh, sebenarnya suara siapa yang mereka wakili sementara masyarajat sendiri jengah dengan perbuatan mereka."


"Apalagi mereka suka memaksa warga yang memiliki anak lelaki untuk bergabung dengan mereka, didoktrin, dan dilatih secara militer."


"Kalau aku berhasil mengungkap sumber pendanaan dan persenjataan mereka, aku yakin bisa menumpas mereka sampai ke akar-akarnya."


"Selama satu tahun di sini apa yang sudah kamu dapatkan?"


"Ah, posisiku di kelompok mereka yang paling rendah, belum ada info apapun yang berhasil didapatkan selain benerapa titik yang menjadi pusat persembunyian mereka."


"Kalau mereka sampai tahu kamu seorang mata-mata, kamu pasti akan mati. Apa kamu tidak takut?"


Bara tertawa kecil, "Kalau sejak awal aku takut untuk mati, tidak mungkin aku bergabung dengan kepolisian negara ini."


"Bagaimana dengan keluargamu di Kota J?"

__ADS_1


"Mereka sangat mendukung karirku."


"Berarti mereka tidak takut kalau sewaktu-waktu kamu mati saat bertugas? Pulang hanya tinggal nama?"


"Hahaha.... Bukankah kita memang selalu berada di antara hidup dan mati? Setiap yang bernyawa pasti akan mati, hanya waktu dan cara matinya saja yang berbeda. Kata ayahku, seandainya aku meninggal saat bertugas, setidaknya kematianku bukanlah hal yang sia-sia."


"Oh, ayahmu seorang polisi juga?"


"Iya, dia seorang wakapolda di Kota J." Bara mengatakan hal tersebut sambil tersenyum.


Pantas saja Bara sangat percaya diri dan pemberani. Ayahnya bukan orang sembarangan, tetapi seorang jendral. Tega sekali dia mengirim anaknya ke daerah yang rawan konflik dan pemberontakan.


"Berapa usiamu?"


"Hah? Apa itu penting? Bara mengerutkan keningnya.


"Aku hanya ingin tahu saja."


"Bulan depan usiaku 27 tahun."


"Sudah menikah?"


"Belum.... Kamu mau menjodohkanku dengan seseorang?"


"Tidak, aku hanya berharap agar kamu bisa selalu selamat."


"Berhati-hatilah, menumpas kelompok seperti mereka tidak semudah teori yang kamu pelajari saat pendidikan di kepolisian. Biasanya ada banyak orang berkuasa dan memiliki kepentingan di belakang mereka. Tidak jarang juga melibatkan petinggi kepolisian sendiri."


"Terima kasih nasihatnya. Kamu sudah seperti seniorku di sini." Bara tak bisa berkata-kata, mendengar ucapan Bayu yang seolah lebih paham darinya.


"Apa kamu punya ponsel yang tidak terpakai?"


"Ada.... "


"Boleh aku meminjamnya? Aku perlu menghubungi seseorang untuk menjemputku."


"Kamu yakin akan segera pulang dari sini? Bagaimana kalau menunggu sampai lukamu pulih? Aku juga sebenarnya senang punya teman bicara sepertimu."


"Aku punya seorang istri yang sudah seminggu kutinggalkan. Sepertinya dia akan menangis kalau lebih lama aku meninggalkannya."


Pikiran Bayu seketika menerawang jauh memikirkan istrinya yang ada di rumah. Dia pasti sedang mengkhawatirkannya, memarahi Alex yang tidak mau memberitahukan keberaannya.


"Ini ponsel yang sudah lama tidak aku pakai."


Tiba-tiba Bara sudah keluar menyerahkan sebuah ponsel kepadanya. Bayu bahkan tidak tahu kapan Bara masuk rumah.

__ADS_1


"Kamu bisa memilikinya. Pergilah ke bukit sebelah sana untuk mendapatkan sinyal." Bara menunjuk pada bukit yang tidak jauh dari rumahnya.


"Kalau kamu tidak kuat mendakinya, tunggu sampai lukamu sembuh dulu, jangan memaksakan diri. Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik."


__ADS_2