
Bund.... Terima kasih dukungannya, novel ini masuk top 10 lomba update tim kemarin. Terus dukung novel ini sampai tamat, ya. terima kasih 🥰
Jangan lupa vote ya biar author semakin semangat 😘
------------------------------------xxx---------------------------------------
"Kalau ada penjahat paling gob*lok itu ya kamu. Dari awal, untuk apa susah payah melaporkan kejahatan sendiri kepada polisi. Keenakan mereka kerjanya jadi gampang. Bisa penuh penjara kalau semua orang seperti dirimu."
Seperti biasa, Harlan berbicara dengan nada bahasa yang kasar di hadapan Bayu. Namun orang yang sedang ia ajak bicara nampaknya tetap bersikap biasa saja.
"Aku dengar pengacara keluargaku kamu berhentikan semua, ya?"
Awalnya Bayu meminta bantuan lima pengacaranya untuk membantu menangani kasusnya. Pengacara itu merupakan pengacara yang biasa ayahnya pakai saat ada masalah mrngenai perusahaan atau hal lainnya. Tapi, semenjak pengacara yang bernama Harlan itu datang, dia dengan entengnya langsung memberhentikan semua pengacaranya, lalu menangani kasus Bayu sendiri.
"Aku hanya menawarkan uang yang lumayan banyak agar mereka mau berhenti dan mereka menerima tawaranku." jawab Harlan enteng.
"Aku susah kalau harus bekerja dalam tim, malas untuk berdebat jika ada beda pendapat. Tapi tenang saja, aku orangnya sangat gigih untuk membela client."
Bayu hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan kelakuan pengacara itu.
"Ya, aku sudah diberi tahu tentangmu. Terima kasih sudah mau menangani kasusku."
"Aku punya kabar bagus untukmu."
"Apa?"
"Istrimu sudah bangun dari koma. Beberapa hari yang lalu aku dengan Ayash dan dia mengatakan itu padaku."
Bayu hanya tersenyum mendengar berita yang membahagiakan itu. Sebenarnya, dalam hati dia merasa sangat lega.
"Syukurlah." ucapnya singkat.
"Kamu ingin segera bisa berkumpul dengan anak dan istrimu, kan?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, bekerjasamalah dengan polisi."
Bayu mrmicingkan sebelah alisnya, "Maksudnya?"
"Jadilah narasumber untuk polisi. Katakan siapa saja yang biasa menjadi bandar narkoba, letak kebun ganja, serta informasi lain yang polisi butuhkan."
"Hah! Kamu mau menjadikan aku seperti anjing pelacak mereka?"
Bayu terkekeh mendengar ide yang pengacaranya lontarkan. Terdengar sangat konyol.
"Kamu ingin segera pulang ke rumah apa masih betah di sini?"
__ADS_1
"Katanya bisa menangani kasusku dengan baik, kenapa harus jadi mitra polisi?"
"Itu pilihan terbaik.... Kamu tidak perlu menjalani hukuman penjara atau menyandang gelar narapidana ketika keluar dari sini."
"Jangan bercanda.... Mereka mau membebaskanku?" Bayu kembali terkekeh.
"Aku kan sudah bilang, aku pengacara yang sangat gigih untuk membela client. Jadi jangan membuat usahaku sia-sia. Tidak ada cara lain untuk membebaskanmu dari kesalahan yang telah kamu perbuat, kecuali kamu menebusnya dengan cara berbakti kepada bangsamu sendiri."
"Kalau begini caranya musuhku akan bertambah banyak. Aku tidak ada urusan dengan mereka, itu tugas polisi untuk menangkap mereka kalau bisa."
"Identitasmu akan ditutupi, kamu tenang saja."
"Bisa beri aku waktu untuk berpikir?"
"Tidak bisa!"
"Hahaha.... " Bayu tertawa mendengar ketegasan pengacaranya. Dia sangat pemaksa. "Ya sudah, terserah padamu saja. Aku akan melakukan yang kamu minta."
Bayu belum begitu begitu percaya kalau polisi akan benar-benar mau membebaskannya. Jangan-jangan mereka hanya mau memanfaatkannya saja untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Setelah itu, dia akan dikembalikan lagi ke dalam penjara.
"Aku akan membawamu langsung menghadap kapolda, sekarang dijabat oleh Bapak Inu, ayahnya Bara. Aku yakin kamu pasti kenal."
Ya, Bayu pernah sekali bertemu dengan ayah Bara di pesta Bapak Hanung saat itu.
"Aku sudah membahas tentang dirimu bersamanya. Jangan khawatir, aku akan tetap mengawasi kesepakatan di antara kami."
Mungkin kalau itu Bara dan ayahnya, dia bisa mempercayai mereka. Entah keputusannya kali ini tepat atau tidak, ia juga ingin berjuang demi keluarganya. Jika sampai identitasnya terkuak, orang-orang itu, musuh-musuh ayahnya sudah pasti akan memusuhinya juga. Artinya, Prita dan anak-anaknya akan kembali dalam bahaya. Ia berharap cukup sampai ayahnya saja yang menjadi pengganggu dalam kehidupannya. Dia benar-benar ingin bisa bernafas dengan leluasa dalam menjalani kehidupannya.
*****
Dor!
Sebuah balon meledak saat Prita baru membuka pintu rumah. Dari atas pintu, turun hujan potongan kertas warna warni menyambutnya seperti ada perayaan besar. Para pelayan berjajar rapi di depannya, dengan anak-anaknya yang ada di barisan paling depan.
Hari ini, Prita keluar dari rumah sakit setelah seminggu dilakukan observasi. Menurut dokter, kondisi Prita sudah sepenuhnya pulih. Ia dijemput oleh Fredi dan diantar pulang ke rumah yang serasa sudah sangat lama ia tinggalkan.
Rumah itu dihiasi oleh ornamen-ornamen bunga, balon, pita warna-warni, sudah seperti acara ulang tahun. Entah ide dari siapa mereka menyiapkan penyambutan kepulangannya dari rumah sakit.
"Mama.... Selamat datang.... "
Daniel berjalan ke arah mamanya sembari menuntun adik-adiknya. Prita tertawa kecil, ia bahagia bisa berkumpul lagi dengan anak-anaknya. Ia bersimpuh di lantai, merentangkan kedua tangannya, lalu menyabut mereka bertiga yang berlari ke dalam pelukannya. Rasa rindu yang anak-anak rasakan juga sama dirasakan oleh Prita.
"Uh.... Anak-anak kesayangan mama." Prita menciumi satu persatu anaknya.
"Mama sudah sembuh?" tanya Daniel.
Prita tersenyum. Anak pertamanya itu terlihat sangat perhatian, "Sudah sayang."
__ADS_1
Lalu, pandangan Prita beralih pada orang-orang yang bekerja di rumahnya. Dari mulai sopir, tukang kebun, juru masak, sampai pengasuh semuanya berkumpul di sana.
"Terima kasih, ya. Kalian sampai menyiapkan hal seperti ini untuk menyambutku. Ide siapa ini?" tanya Prita.
"Ide Leta, Nyonya." jawab mereka dengan kompak. Leta tampak malu dengan ide kekanak-kanakannya.
"Terima kasih ya, Leta. Terima kasih semuanya. Terima Kasih sudah merawat anak-anak dan rumah ini selama aku pergi."
"Mama.... Ke kamar ayo.... Daniel punya hadiah untuk Mama."
Prita penasaran dengan apa yang akan Daniel perlihatkan padanya. Prita mengangguk.
"Kalian boleh kembali lagi bekerja, ya. Aku akan menemani anak-anak ke atas dulu."
"Baik, Nyonya."
Mereka semua segera membubarkan diri. Sementara, Prita menggendong Livy serta mengikuti kedua anak lelakinya yang berjalan di depannya menuju ke arah kamar.
Sesampainya di kamar, Daniel dan Dean memberikan sebuah kotak berukuran agak besar kepada Prita. Prita penasaran, apa yang anak-anaknya hendak berikan kepadanya.
Saat ia membukanya, ternyata isinya sebuah boneka beruang. "Kok memberi mama boneka? Mama jadi merasa seperti anak-anak seperti kalian."
"Ini untuk menemani Mama kalau tidur, kan Daddy belum pulang." ujar Daniel.
Prita tak bisa menahan untuk tertawa karena Daniel membahas tentang ayahnya.
"Iya, Sayang. Terima kasih. Daddy-mu itu sibuk sekali sampai bekerja di luar kota belum pulang juga."
Prita menghela nafas, seminggu setelah dirinya sadar, Bayu belum juga datang menemuinya.
"Daddy belum bisa pulang, Mama.... Kan Daddy ada di penjara."
Prita membulatkan mata, terkejut dengan ucapan Daniel. Semua orang tidak ada yang memberitahunya kalau Bayu dipenjara. Ayash bilang Bayu masih bekerja di luar kota sehingga belum bisa menemuinya.
Sementara, Daniel yang merasa telah kelepasan bicara, menutup mulutnya sendiri. Dia lupa kalau tidak boleh mengatakan kepada mamanya dulu.
Prita memegangi kedua pundak Daniel, menatap matanya dalam-dalam agar anaknya itu mengatakan yang sebenarnya padanya.
"Daniel, apa benar daddy ada di penjara?"
"Mama.... Daniel tidak tahu." Daniel mencoba mengelak. Tapi, sudah jelas dia sedang berbohong.
"Daniel.... Jujur kepada mama. Kamu pernah bertemu dengan daddy?"
Daniel mengangguk, "Papa mengajakku menemui Daddy. Dia tidak boleh keluar, polisi membawa Daddy masuk ruangan yang ada besinya."
Prita menghela nafas panjang, mencoba menata hati agar tetap sabar mendengar perkataan anaknya. Berarti, Ayash dan semua orang sudah menutup-nutupi semua itu darinya.
__ADS_1