ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Pengakuan


__ADS_3

Prita sedang memandangi Daniel dari luar jendela kaca. Di dalan ruangan itu, tampak Daniel sedang dipasangi transfusi darah serta diberi antibiotik lewat cairan infus. Kata dokter, hal itu peelu rutin dilakukan untuk membantu kecocokan sel induk baru dan pemulihan pasca transplantasi.


Kesehatan dokter akan dipantau dan dikontrol terus menerus selama beberapa minggu hingga beberapa bulan ke depan. Daniel juga harus berada dalam ruangan steril. Semua dilakukan karena ada kemungkinan besar risiko terkena infeksi sebelum dan selama proses transplantasi berlangsung. Ini dikarenakan pada masa-masa ini pasien memiliki jumlah sel darah putih yang sedikit karena memang imunitas tubuh sedang diturunkan. Kondisi ini membuatnya menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri. Mulai dari sistem pencernaan, bahkan bakteri yang melekat di kulit sekalipun.


Dokter juga menyarankan untuk membatasi interaksi kunjungan dengan orang-orang ataupun memastikan kalau orang-orang dengan mereka kamu akan berinteraksi dalam kondisi sehat dan sudah mencuci tangan sebelum berinteraksi dengan pasien adalah langkah untuk menjaga supaya tubuh tetap sehat. Karena terlalu khawatir, Prita sendiri belum berani mendekat pada Daniel. Ia ingin Daniel benar-benar sembuh, tidak tertular penyakit lain yang mungkin akan dibawa orang yang mendekatinya. Prita menyerahkan urusan Daniel kepada perawat yang lebih higienis dalam menangani pasiennya.


Saat awal-awal pasca operasi, Daniel mengalami gejala badan lemas, muntah-muntah, diare dan tidak ***** makan. Dokter sampai menginstruksikan untuk memberi makanan cair lewat selang dan transfusi darah rutin. Syukurlah gelaja-gejala itu hari ini sudah tidak terjadi.


"Mama.... "


Prita berbalik. Ada Dean yang berlari kencang ke arahnya. Ia merentangkan kedua tangannya memyambut kedatangan Dean. Syukurlah anaknya itu selamat. Ia ciumi Dean berkali-kali hingga anak itu cemberut karena tidak suka dicium.


Dean datang bersama Ayash dan Andin.


"Kalian datang juga, ya?"


"Bagaimana dengan Daniel?" tanya Andin.


"Dia ada di dalam. Dia sudah membaik sekarang. Kata dokter sepertinya tidak ada tanda-ganda penolakan terhadap donornya."


Andin dan Ayash mendekat ke arah jendela kaca, melihat Daniel yang masih diurusi oleh perawat.


"Aku mau masuk ke dalam."


Prita menahan tangan Ayash, "Sebaiknya jangan masuk, aku takut Daniel ketularan penyakit apapun dari orang luar. Daya tahan tubuhnya masih rendah."


Ayash mengerutkan dahi, "Kan bisa pakai baju hamzat, Ta."


"Tapi kan.... "


"Kamu belum masuk sama sekali menemui Daniel?"


Prita menggeleng, "Kata dokter kan tidak boleh menerima kunjungan dulu dari banyak orang."


"Dibatasi kan bukan berarti tidak boleh sama sekali, Ta. Aku masuk dulu, ya."


Akhirnya Prita melepaskan tangannya, ia biarkan Ayash masuk ke ruangan itu. Dari luar juga tampak Daniel yang kegirangan melihat keberadaan Ayash.


"Mama, Dean diculik. Dean dibawa penjahat banyak." celoteh Dean.


"Anakmu yang satu ini memang super bikin khawatir orang, Ta." guman Andin.


"Hahaha.... Maaf ya, Ndin. Pasti semua orang khawatir."


"Walah! Satu mansion seharian tidak ada yang bisa tenang. Terutama Tante Maya. Aku ikut pusing mendengar ocehannya."


"Mama.... Aku ditolong Uncle Yu. Dia pukuli semua orang jahat itu. Tapi dia mati ditembak. Tapi sudah hidup lahi."

__ADS_1


"Tuh, anakmu senang banget cerita tentang kepahlawanannya pacarmu itu. Bikin papanya sendiri kesal. Dimana-mana dia cerita begitu terus."


Prita hanya tersenyum. Ia jadi kembali terpikir tentang Bayu. Katanya dia terkena luka tembak. Ia juga ingin tau kondisinya apa dia baik-baik saja atau tidak.


"Mama.... Aku mau beli mainan." rajuk Dean.


"Mana ada mainan? Nanti tunggu papamu keluar dulu."


Prita melihat ke arah kaca. Tampak Ayash memakai baju hamzat, masker, tutup kepala sedang bercengkrama dengan Daniel. Anak itu tertawa lepas dan kelihatan sangat bahagia.


"Nggak mau, pokoknya Dean mau mainan sekarang!"


Anak itu memang keras kepala. Sudah dibilang nanti tapi masih juga memaksa.


"Nanti, Sayang."


"Sekarang! Sekarang! Sekarang!"


"Ya sudah, Ta. Biar aku temani Dean beli mainan."


"Dean, ayo beli mainan bareng Tante Andin."


Dean meminta diturunkan dari gendonga Prita. Dia meraih tangan Andin dan menuntunnya ke arah tadi ia melihat mainan sebelum masuk.


Prita mengambil ponsel dari kantong blazernya. Ia lihat tak ada panggilan maupun pesan yang masuk. Dia sedang menunggu kabar dari Bayu. Meskipun tidak diperlihatkan, tapi saat ini dia sangat mengkhawatirkan kondisinya. Bayu orang yang sangat dekat dengan hal-hal ekstrem seperti itu. Dia seringkali terluka. Kali ini, dia berharap lelaki itu juga bisa selamat. Apalagi dia sudah mempertaruhkan nyawa demi anaknya, Dean.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya dia tekan juga tombol panggilan. Terdengar nada jika telepon tersambung.


"Halo?"


Prita menelan ludah ketika mendengar suara berat Bayu dari seberang telepon. Seketika ia jadi gugup dan tidak tau apa yang mau ia katakan.


"Kenapa, Ta?"


"Em, Bayu.... Bagaimana kondisimu?" tanyanya canggung.


"Ah, mimpi apa semalam sampai Prita menanyakan kondisiku. Apa kamu sedang mengkhawatirkanku?"


"Tentu saja aku khawatir!" seru Prita. Dia sampai lepas kontrol menahan emosinya. "Em, maksudku, siapa yang tidak khawatir saat mendengar kamu terkena tembakan." Prita memukul kepalanya sendiri yang sudah keceplosan bicara.


"Begitu, ya?"


"Iya."


"Badanku sakit semua dan sepertinya tulang-tulanhku patah gara-gara melawan banyak orang. Apalagi bagian pundak kiri yang terkena tembakan, sakitnya masih terasa walaupun sudah beberapa hari."


Prita jadi merasa kasihan, Bayu ada di sana sendirian sementara dia ada di sini menemani Daniel.

__ADS_1


"Untuk makan saja rasanya susah sekali. Apalagi untuk mandi, aku tak bisa melakukan apapun. Ini kondisi yang paling parah yang pernah aku alami."


"Tapi syukurlah, Dean bisa selamat. Aku sudah senang mendengarnya baik-baik saja."


Bayu memang pantas disebut Dean sebagai pahlawan. Dia rela menghadapi para penculik itu sendirian tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Prita jadi terharu.


"Terima kasih, ya. Sudah menyelamatkan anakku. Aku sangat berhutang budi untuk itu."


"Dan maaf, aku belum bisa menjengukmu. Sebenarnya aku ingin sekali menemuimu. Kamu pasti sangat kesulitan dengan kondisimu."


"Seandainya aku bisa ke sana, aku akan membantu merawatmu atau menyuapimu juga aku mau."


"Benarkah?"


"Hah?"


"Apa seorang Prita bisa sebaik itu ya padaku? Aku kira kamu mendoakanku untuk cepat mati."


Prita membelalak, "Yang benar saja, mana mungkin aku seperti itu. Kamu sudah menolong anakku dan aku sangat berterima kasih padamu."


"Ini bukan sekedar lip service untuk menyenangkanku, kan?"


"Tidak, aku sangat peduli padamu."


"Aku lebih butuh bukti daripada sekedar ucapan saja."


"Kalau posisi kita dekat, tentu akan aku buktikan. Aku akan bantu merawatmu. Karena aku harus merawat Daniel di sini, aku hanya bisa mendoakan supaya kamu baik-baik saja di sana."


"Kata-katamu manis banget sih, aku jadi makin cinta sama kamu. Apa kamu juga sudah mulai mencintaiku?"


Muka Prita memerah, kenapa tiba-tiba Bayu membahas tentang cinta.


"Kenapa diam? Kamu masih membenciku, ya?"


"Tidak, aku tidak membencimu."


"Kalau tidak benci, berarti cinta?"


"Kenapa membahas seperti itu sekarang?"


"Karena aku ingin tau, sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku. Saat dikeroyok orang-orang itu, aku juga sempat takut mati. Aku takut mati lebih dulu sebelum mendengar perasaanmu yang sebenarnya padaku. Apa menjawab seperti itu saja sangat sulit?"


"Aku.... "


Jujur Prita sangat sulit menafsirkan perasaan sebenarnya pada Bayu. Dia tidak tau apakah yang dirasakannya akhir-akhir ini adalah cinta atau bukan. Bayu sudah terlalu banyak mengisi kesendiriannya. Segala bantuan juga dia berikan meskipun ia selalu bersikap buruk padanya.


"Aku tidak tau. Tapi, sepertinya aku mulai menyukaimu."

__ADS_1


__ADS_2