
"Bagaimana, apa tiga orang manager itu sudah mau mengembalikan uang perusahaan?" tanya Ayash sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ya, untunglah mereka kooperatif, tidak mangkir dari kewajibannya. Mereka sampai menjual aset-aset pribadi untuk mengganti uang yang sudah mereka korupsi."
"Itu memang kewajiban mereka. Toh uang yang digunakan untuk membeli aset-aset mereka juga dari hasil korupsi." seperti biasa, Irgi selalu semangat kalau soal mengkritik orang.
Siang ini Prita bersama Ayash dan Irgi menyempatkan diri makan siang bersama. Kedua teman Prita mengecek Minata Food jika ada kendala lain setelah perombakan jabatan yang sudah mereka lakukan. Prita setiap hari juga rajin mengecek ke kantor meskipun ada Alex dan Fredi yang mengurusi di sana. Prita menggantikan peran Bayu yang belum juga kembali.
Ayash dan Irgi tidak membiarkan Prita sendiri. Selama ini, mereka terus mengecek perkembangan perusahaan. Memang, kondisinya masih buruk, hutang bertambah, pendapatan minus. Tapi, jika diperketat sistem yang sudah diperbaiki, lambat laun kondisi perusahaan juga akan membaik.
"Tapi aku kasihan juga, sepertinya meskipun menjual semua aset mereka tetap tidak akan cukup mengganti uang yang sudah mereka selewengkan."
"Untuk apa kasihan? Biarkan saja, itu resiko jadi orang jahat. Sudah untung mereka tidak dijebloskan ke penjara dan dibongkar aib-aibnya ke media."
Bukan Prita namanya kalau tidak memikirkan orang lain. Dia tidak tega jika harus melihat orang lain menderita.
"Bagaimana kalau mereka jadi gelandangan?"
"Tampung di rumahmu, Ta.... " Irgi sepertinya sangat kesal Prita masih merasa kasihan kepada orang yang sudah mengkorupsi uang perusahaan.
"Tampung.... Sekalian rumahmu jadi rumah singgah bagi para koruptor."
Susah memang kalau masalah bisnis dicampur dengan rasa simpati. Padahal, dalam dunia bisnis itu yang terpenting adalah mendapat keuntungan, tanpa ada rasa belas kasihan.
"Sabar, Ir. Sabar..... " Ayash menepuk punggung Irgi agar tidak emosi.
"Mengembalikan uang perusahaan yang sudah mereka ambil itu memang hukuman paling ringan, Ta. Seperti yang Irgi katakan. Kalau dibawa ke jalur hukum, bukan hanya mereka harus ditahan, tetapi juga seluruh aset mereka akan disita karena diperoleh dari hasil korupsi."
"Tuh, dengar, Nona Prita."
"Bisa tidak kalau bicara dengan tutur kata yang lebih lembut? Telingaku sulit menerima kata-katamu." Protes Prita.
"Kenapa aku harus lembut padamu? Memangnya kamu istriku?"
Prita memutar bola matanya malas.
"Efek kelamaan ditinggal suami pasti, berharap diperlakukan lembut lelaki lain. Hahaha.... "
Ctak!
"Aduh!" Irgi memegangi dahinya yang baru saja disentil oleh Ayash. Seketika ia langsung berhenti tertawa.
"Ta, sudah sebulan lebih kan, suamimu tidak pulang?"
"Ya."
"Aku rasa hanya ada dua kemungkinan. Pertama, dia kabur karena wanita lain, kedua.... dia sudah mati."
__ADS_1
"Kayaknya temanku jadi janda lagi. Hahaha.... "
"Mulutmu memang pantas ditampol, Ir. Kalau bicara yang baik-baik."
"Lah, memangnya kenapa? Masih ada Ayash yang siap kembali padamu. Nasibmu itu sangat baik, tidak akan terlantar meskipun jadi janda."
Plak!
"Aduh!"
Prita memukul keras kepala Irgi.
"Sekali lagi membahas tentang janda, aku benar-benar akan memukulmu sampai babak belur."
"Galak banget sekarang!" gerutu Irgi.
"Kira-kira apa pekerjaan sebenarnya suamimu? Kayaknya semua bidang dia kuasai. Pemilik klab malam, CEO perusahaan makanan, owner hotel dan restoran.... Jangan-jangan dia juga bisnis narkoba dan senjata ilegal."
"Nah, mulai lagi, kan.... " Prita sudah siap-siap akan menyalurkan segala amarah kepada Irgi.
"Jangan marah dulu, ini kan hanya asumsi. Memangnya kamu benar-benar tahu siapa suamimu?"
Prita menghela nafas, "Irgi, aku percaya pada suamiku. Kamu tidak usah membuat citranya buruk di mataku. Dulu memang dia orang yang tidak baik, tapi sekarang dia sudah berubah. Memangnya tidak boleh kalau orang yang pernah jahat berubah jadi baik?"
"Aku rasa tidak sesimpel itu."
"Jangan kaget kalau tahu pekerjaan Bayu yang sebenarnya."
"Kenapa kamu jadi sok lebih tahu?"
"Karena aku memang tahu!"
"Sudah, kalian berdua kalau masih diteruskan lebih baik aku pulang saja."
"Kasihan makanan yang sudah kita pesan merasa terlantar tidak dihabiskan."
Prita dan Irgi akhirnya diam, mereka kembali memakan makanannya masing-masing.
Sejak dulu keduanya tidak pernah berubah, sering bertengkar gara-gara Irgi yang mulutnya lemes tidak bisa menyaring kata-kata. Namun, hubungan pertemanan mereka bisa bertahan belasan tahun.
Ayash memerhatikan cara makan Prita. Wanita itu masih tampak kesal ketika menyendokkan makanan ke mulutnya. Sampai ada kuah yang belepotan ke sudut bibirnya.
Ayash tersenyum. Ia gunakan jari telunjuknya untuk membersihkan sisa makanan yang menempel pada sudut bibir Prita.
Prita sampai kaget dan menghentikan kunyahan karena Ayash tiba-tiba menyentuhnya.
"Makannya pelan-pelan, jangan sampai belepotan." tegur Ayash.
__ADS_1
"Oh.... " Prita mengangguk lalu meneruskan kembali makannya dengan lebih hati-hati.
Ayash kembali tersenyum. Namun, senyum itu perlahan memudar ketika bola matanya menangkap sosok lelaki yang sedang menatap ke arahnya. Lelaki yang menyender pada dinding dekat food court tempat mereka makan, mengenakan pakaian serba hitam, bertopi, dan memakai masker. Bisa Ayash lihat tatapan tidak suka yang dilayangkan padanya.
"Aku mau ke toilet sebentar, ya."
"Ah, iya."
"Cepat kembali, jam makan siang sudah hampir habis!"
"Iya, iya."
Ayash pamit pergi ke toilet, padahal tujuan sebenarnya untuk mengejar orang yang sejak tadi memerhatikan mereka. Orang yang hendak Ayash kejar berlalu pergi. Ayash tetap membuntutinya, sampai akhirnya keduanya sama-sama masuk ke dalam toilet pria. Kebetulan saat itu toilet sedang sepi, hanya ada mereka berdua. Ayash mengunci pintu toilet agar tidak ada orang lain lagi yang masuk.
"Kenapa kamu mengikuti kami?"
Lelaki itu hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Ayash. Posisinya, dia berdiri membelakangi Ayash.
"Aku sudah tahu kalau itu kamu.... Bayu."
Setelah merasa ketahuan oleh Ayash, Bayu melepas topi dan maskernya. Ia berbalik menghadap Ayash yang berdiri pada jarak 3 meter darinya. Raut wajahnya tampak tidak suka kepada Ayash.
"Apa kamu sedang bersembunyi? Kamu jadi buronan polisi?"
Ayash sangat penasaran kenapa Bayu selama ini tidak memberikan kabar padahal beberapa kali ia merasa memang Bayu selalu mengikuti Prita. Baru kali ini ia memutuskan untuk mengejarnya, sekedar memastikan kalau dia tidak salah lihat.
"Bukan urusanmu." nada bicara Bayu sangat kentara jika dia tidak suka bertemu Ayash.
"Hahaha.... Kenapa? Kamu membenci kedekatanku dengan Prita? Kamu cemburu melihatnya bersama mantan suaminya?" Ayash tertawa puas mengejek Bayu yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat kedekatannya dengan istrinya.
Bayu mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Aku yakin kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Prita sampai kamu tidak berani muncul di hadapannya."
"Apa kamu tidak tahu kalau yang kamu lakukan itu membuatnya sedih?"
Tentu saja Bayu tahu. Setiap malam ia datang melihat istrinya. Dia tahu, kalau terkadang Prita sampai menangis karenanya.
"Teruskan saja seperti itu, karena aku yang akan selalu menghiburnya. Aku akan menjadi orang yang mampu memberinya perhatian selagi kamu tak ada."
"Bangsat!" Bayu meraih kerah leher Ayash dan mencengkeramnya kencang. Matanya menatap tajam, "Berani sekali berkata seperti itu di depanku!"
"Singkirkan tangan sialanmu dari istriku. Jangan pernah berani kamu menyentuhnya!"
"Hubunganku dengan Prita lebih lama darimu. Belasan tahun kami berteman dan lima tahun menjalani pernikahan. Mudah untuk membuatnya kembali lagi padaku, apalagi saat suaminya tak ada."
Ayash menyingkirkan tangan Bayu dari lehernya. Itu adalah peringatan darinya, ia akan merebut kembali Prita jika Bayu tak berhenti menyakiti perasaannya.
__ADS_1