ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Perlombaan di Sekolah 2


__ADS_3

"Anak-anak dan para ayah, untuk lomba yang pertama nanti adalah lomba makan kerupuk."


Ibu Mariana, guru TK besar berdiri di depan dua puluh pasangan ayah dan anak dari TK besar yang akan berlomba.


"Tapi peraturannya sedikit berbeda ya, ayah.... Nanti, anak-anak digendong di atas pundak ayahnya lari dari garis start sebelah sana menuju tempat kerupuk yang sudah tergantung ini."


"Anak-anak harus memakan kerupuknya sambil tetap digendong ayahnya."


Tiang yang digunakan untuk menggantung kerupuk memang sengaja dibuat tinggi, sehingga ayah juga harus menjaga keseimbangannya agar anaknya nanti bisa memakan kerupuk dengan tenang.


"Makan kerupuknya tidak boleh dipegangi pakai tangan, ya.... Bagi tim yang lebih dulu menghabiskan kerupuknya, dia yang akan memenangkan perlombaannya."


"Semuanya sudah siap?"


"Siap.... " seru para ayah dan anak dengan penuh semangat.


"Ayo, Daniel. Kamu juga harus semangat untuk menghabiskan kerupuknya."


Irgi menggendong Daniel di atas pundaknya, lalu membawanya berjalan ke garis start. Anak-anak yang lain sudah bersiap di atas pundak ayah mereka dengan wajah yang kelihatan ceria. Berbeda dengan Daniel, dia masih saja murung. Irgi mendesah, kali ini dia tidak bisa menggantikan orang yang paling Daniel nantikan.


"Daniel.... Semangat...." seru Raeka memberi semangat untuk Daniel dari pinggir arena. Dia berdiri sejajar dengan ibu-ibu lain yang juga sedang menyemangati anak-anak mereka.


"Papa muda yang sebelah sana ganteng banget ya. Wajahnya bening ngalahin artis."


"Iya. Sayang sekali wajah seperti itu tidak jadi artis."


"Aduh, untungnya hari ini aku mengikuti kemauan anakku datang kesini. Setidaknya bisa cuci mata."


"Heh, ingat suami yang sedang kerja."


"Iya, iya.... Nanti kalau pulang juga ingat lagi kok. Mumpung di sini, pura-pura amnesia dulu."


"Hahaha.... "


Samar-samar Raeka mendengar suara yang tak begitu jauh darinya. Sekelompok wanita muda yang sedang mengobrol sambil melihat ke arah tempat lomba anak-anak TK besar. Sepertinya mereka orangtua dari anak-anak SD yang juga ikut menonton perlombaan di tempat playgroup dan TK itu. Antara pendidikan Pra sekolah dan SD memang dimiliki oleh yayasan yang sama. Event lomba diadakan bergantian, minggu ini untuk playgroup dan TK, sedangkan minggu depan baru untuk anak-anak SD. Dari obrolannya, sepertinya Raeka tahu kalau lelaki yang sedang mereka bahas adalah suaminya, Irgi.


"Itu anak yang digendong si papa muda juga ganteng, ya. Wajahnya kebule-bulean. Agak beda sih sama papanya meskipun sama-sama ganteng."


"Mungkin mamanya bule.... "


"Itu kalau sudah besar mau aku jadikan mantu deh."


"Lah, kan anakmu sudah kelas tiga SD."


"Memangnya kenapa? Hanya selisih tiga tahun kok.... "


"Eh, di sebelah sana juga ada papa ganteng."


"Mana-mana.... "


Pandangan mereka beralih pada para ayah kelompok TK kecil yang sedang mengikuti lomba jalan di dalam karung bersama anaknya. Tentu saja pandangan mereka tertuju pada sosok papa muda yang berada di urutan paling depan, yaitu Ayash dan Dean. Keduanya tampak tertawa riang menikmati lomba itu.


"Ah.... Kenapa banyak sekali papa muda ganteng di sini. Kenapa suamiku berbeda Ya Tuhan.... "


"Kayaknya kalau kelamaan di sini jadi kurang bersyukur deh. Sumpah, iri bagaimana mereka bisa mendapatkan suami idaman seperti itu.... Kenapa suamiku burik dan perutnya buncit.... "


"Heh.... gila ya, suami sendiri dijelek-jelekin."

__ADS_1


"Nggak jelek-jelekin, tapi heran aja, kenapa nggak bisa glow up seperti mereka. Padahal waktu pacaran suamiku juga ganteng. Setelah menikah, ah.... bentuknya sudah berbeda!"


"Yang penting uangnya masih sama banyak, kan.... "


"Hahaha.... Itu yang utama. Kalau lelaki tidak bisa good looking, setidaknya harus good rekening."


"Dan good attitude juga."


Raeka geleng-geleng kepala mendengar percakapan mereka. Cobaan terbesar memiliki suami tampan memang lirikan kekaguman dari wanita-wanita lain.


Raeka kembali fokus pada lomba yang baru saja dimulai. Irgi berlari dari garis start lebih dulu sampai di bagian tiang yang sudah digantung kerupuk. Kemudian menyusul ayah-ayah yang lainnya bersama dengan anak mereka. Ibu-ibu bersorak memberi semangat tak terkecuali Raeka.


Perlombaannya berlangsung seru. Ada anak yang curang memakai tangannya, sampai panitia lomba menyuruh ayah masing-masing untuk memegangi tangan anaknya. Tiupan angin juga menyusahkan anak-anak memakan kerupuk. Ada anak yang mukanya tertampar kerupuk.


"Ayo.... Ayo.... Ayo.... " seru dari tim supporter.


"Ayo Daniel, lebih semangat makan kerupuknya. Habisin!" kata Irgi dengan girangnya. Tampaknya dia sangat menjiwai perannya sebagai seorang ayah.


"Papa Irgi jangan goyang-goyang terus.... Daniel susah makan kerupuknya. Jogetnya berhenti dulu!" ucap Daniel dengan nada tinggi.


"Hahaha.... ini musiknya enak untuk bergoyang. Kan Papa Irgi jogetnya juga pelan-pelan."


Sejak awal memang Irgi tidak bisa diam. Saking semangatnya ikut lomba, didukung dengan suara musik dengan tempo yang asyik, dia berjoget-joget kecil seperti beberapa bapak-bapak yang lain. Akhirnya anak-anak mereka yang kesusahan untuk memakan kerupuknya.


"Yap! Lomba makan kerupuk sudah berakhir. Pemenangnya adalah Fiko dan ayahnya.... "


Fiko terlihat senang saat namanya disebut sebagai juara lomba makan kerupuk. Sementara, Daniel menekuk wajahnya. Seperti biasa, berpartner dengan Irgi memang bukan keputusan yang baik. Memang lebih baik kalau dia tidak usah ikut lomba. Jadinya kalah.


"Hahaha.... Santai, Daniel. Masih banyak lomba lainnya. Papa Irgi jamin, di lomba berikutnya kita akan menang." Meskipun kalah, Irgi masih terlihat bahagia. Dia seperti anak kecil di acara ini.


Plak!


Raeka memukul lengan Irgi.


"Aku bilang kan serius, Sayang. Ini lombanya Daniel, loh."


"Lah, kalah menang kan hal biasa, Sayang. Yang terpenting itu kita semangat dan bahagia."


"Ayo, Daniel.... Semangat!"


"Semangat.... " ucap Daniel dengan nada lemas.


"Berikutnya lomba memancing, loh. Tempatnya gabung dengan anak-anak TK kecil." ucap Raeka.


"Oke.... Kita langsung ke sana!"


Daniel dituntun oleh Raeka dan Irgi menuju kolam pemancingan milik sekolah. Di sana sudah banyak ayah dan anak yang mencari spot terbaik untuk memancing. Irgi menghampiri Ayash dan Dean yang lebih dulu ada di sana.


"Kak Daniel.... Tadi aku dan Papa menang lomba jalan di karung, loh." ucap Dean. "Kalau lombanya Kak Daniel bagaimana?"


"Tadi kalah." jawab Daniel.


"Santai, Daniel. Kali ini kita pasti yang akan menang." Irgi masih bersemangat menggebu-gebu.


"Kok bisa kalah? Kamu ngapain tadi?" Ayash bertanya dengan lirikan mautnya kepada Irgi.


"Ya serius lomba, lah! Hanya belum beruntung saja. Iya kan, Daniel?"

__ADS_1


"Serius dari mana? Marahi saja temanmu ini! Daritadi dia sibuk joget-joget sendiri, heran!" Raeka menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kelakuan Irgi di lapangan tadi. Kelakuannya bahkan sampai mengundang lebih banyak perhatian ibu-ibu muda. Membuat dia jadi kesal saja.


"Sudah, sudah.... Sayang, kamu mundur ke belakang dulu. Lombanya mau dimulai ini sebentar lagi." Irgi mengusir halus istrinya.


Mulai terdengar suara panitia dari pengeras suara tentang peraturan lomba.


"Anak-anak dan ayah, nanti kalian harus kerjasama memancing, ya. Pada hitungan ketiga, baru boleh melemparkan kail. Waktu memancing 30 menit. Pemenangnya adalah yang bisa mendapatkan ikan dengan bobot paling berat. Untuk TK besar ada juaranya sendiri, dan TK kecil juga ada juaranya sendiri."


"Apa semuanya sudah siap?"


"Siap.... "


"Oke, satu, dua, tiga.... mulai!"


Pluk! Pluk! Pluk!


Para peserta mulai melemparkan kailnya.


"Daniel, hari ini kita akan panen banyak ikan." Irgi tersenyum sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Daniel yang duduk di sebelah Irgi tak memberikan respon apapun.


"Papa Irgi kan tidak bisa memancing. Mana bisa dapat ikan. Wekkk.... " ujar Dean meledek.


"Hust!" Ayash langsung membungkam mulut anaknya. Akan repot karena mereka berlomba bersama. Sementara, Ayash tahu memang Irgi orang yang paling tidak pernah beruntung kalau diajak memancing.


"Lihat saja, Dean, Papa Irgi akan mengalahkanmu dan papamu. Jangan meremehkan aku."


"Papa Irgi payah! Wekkk.... " Dean masih berusaha meledek Irgi.


"Kailnya bergerak!" seru Daniel antusias melihat kail yang dilemparkan Irgi bergerak-gerak.


"Benar, kan. Hari ini kita akan panen ikan!"


Irgi dengan semangat mulai menarik kailnya. Ia tarik ulur agar ikan yang memakan umpannya tidak lepas dan terangkat ke atas.


Splash!


Seekor ikan berhasil menyangkut di kail milik Irgi. Baik Irgi dan Daniel tertegun melihat ikan hasil tangkapan mereka.


"Hahaha.... Papa, Ikannya kecil." ledek Dean.


"Tidak apa-apa, Daniel. Ini baru pemanasan. Setidaknya kita sudah dapat ikan lebih dulu daripada mereka. Semangat!"


Irgi menaruh ikan di dalam ember berisi air, lalu memasang kembali umpan pada mata kail dan melemparkan kembali kailnya ke dalam kolam.


"Papa Papa.... Tarik kailnya. Ini ikannya pasti besar!"


Pandangan Irgi dan Daniel terarah pada sebelah mereka. Dean merasa senang melihat kail ayahnya bergerak.


"Ayo, Papa.... Dean bantu tarik kailnya!" anak kecil itu sangat bersemangat.


"Hore.... Ikannya besar!" soraknya ketika seekor ikan berukuran besar berhasil dipancing oleh ayahnya. Hal tersebut tentu saja membuat Irgi dan Daniel merasa iri. Ikan yang mereka tangkap kecil.


"Cihuy! Papa memang yang terhebat!"


Tak berselang lama setelah pancingan ikan pertama itu, Ayash kembali mendapatkan ikan. Beberapa kali kailnya berhasil mendapatkan ikan. Teriakan kegirangan Dean sampai membuat banyak orang memperhatikan mereka. Dalam waktu singkat, mereka sudah mendapatkan banyak ikan.

__ADS_1


Sementara, kail yang sejak tadi dilemparkan Irgi belum lagi ditarik oleh ikan. "Papa Irgi harap nanti pancingan kita ditarik ikan duyung, Daniel.... Nanti Papa Irgi sendiri yang akan menggendongnya ke tempat penimbangan. Kamu bantu pegangi ekornya ya, Dean." gumam Irgi sembari meletakkan kepalanya pada lutut kaki tang ia tekuk. Tangannya sibuk mencabuti rumput di sekelilingnya seperti orang kurang kerjaan.


Daniel ikut-ikutan meniru gaya Irgi. Dia juga kebosanan menunggu kail yang tidak kunjung ditarik ikan.


__ADS_2