
Jangan lupa vote ya untuk mendukung author.
Jangan lupa like juga.
Jangan lupa favoritkan novel ini agar mendapat pemberitahuan jika ada update. 😘
...------------------xxx----------------...
Pada akhirnya, Irgi dan Daniel hanya mendapatkan seekor ikan kecil dan seekor ikan berukuran lumayan besar di akhir waktu memancing. Mereka kalah. Sementara Dean dan Ayash di TK kecil menjadi pemenangnya.
Keduanya terbengong-bengong. Dua kali lomba tidak ada yang mereka menangkan.
"Maafkan Papa Irgi ya, Daniel. Papa Irgi memang tidak pandai memancing. Papa Irgi hanya pandai memancing emosi orang." gumam Irgi.
"Kenapa tidak ada perlombaan golf sih.... Siapa itu panitianya, bikin lomba yang aku tidak bisa. Itu namanya tidak adil!"
"Katanya menang kalah tidak masalah.... Kenapa sekarang jadi kesal begini?"
"Gengsi, Sayang.... Masa aku bisa kalah oleh Ayash."
"Daniel sudah tidak mau lomba lagi, ya.... Daniel mau main sendiri."
Irgi dan Raeka saling berpandangan mendengar perkataan Daniel. Mereka merendahkan tubuh, menaruh lutut di tanah agar sejajar dengan Daniel. Wajah anak itu kelihatan murung. Pasti dia sedih karena sejak tadi dia kalah terus.
"Daniel marah, ya, karena kita kalah lagi?" tanya Irgi.
"Tidak apa-apa, Daniel. Kan masih ada lomba mengisi air ke botol, lomba bawa kelereng, dan lomba lari. Daniel pasti bisa juara."
"Mama Raeka benar, Papa Irgi janji, kali ini akan serius lombanya biar Daniel juara."
"Tidak ah, Daniel lelah, tidak mau main lagi."
"Daniel kenapa?" terdengar suara Ayash yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka bersama Dean.
"Daniel ngambek."
"Tidak, Papa. Daniel tidak ngambek." Daniel membantah perkataan Irgi. "Daniel hanya lelah saja, tidak mau lomba lagi."
Ayash menurunkan Dean dari gendongannya. Ia berjalan mendekat ke arah Dean. Sementara, Irgi dan Raeka kembali berdiri memberi ruang kepada Ayash untuk membujuk anaknya.
"Sayang, kalau ikut lomba itu yang utama adalah semangat dan perasaan bahagia. Menang itu hanya bonus. Jangan sedih karena belum menang." Ayash mencoba membujuk Daniel agar tidak bersedih hati.
"Daniel tahu, Papa. Tapi, Daniel sudah tidak mau ikut lomba lagi."
"Hm, bagaimana kalau Papa yang menemani Daniel bermain? Nanti gantian dengan Dean."
Daniel menggeleng, "Daniel mau main sendiri dulu saja. Jangan diganggu, ya. Nanti kalau sudah bosan, Daniel balik ke sini lagi."
Daniel berlari ke area bermain pasir yang terletak di sebelah pos satpam dekat pintu gerbang. Biasanya, saat jam istirahat, Daniel dan teman-temannya suka menghabiskan waktu bermain di sana. Kali ini, tempat itu sepi karena semua anak sudah sibuk untuk mengikuti perlombaan bersama orangtuanya.
Ia mulai memasukkan pasir ke dalam cetakan ember. Nantinya ia akan berencana membangun istana pasir yang besar.
"Kamu tidak ikut lomba?"
Tiba-tiba datang seorang anak perempuan menghampiri Daniel. Namanya Rania, teman satu kelas Daniel.
"Tadi aku sudah ikut lomba. Sekarang aku mau main." jawab Daniel tanpa menghentikan kegiatan yang sedang dilakukannya.
__ADS_1
"Kamu sendiri kenapa tidak ikut lomba?"
"Aku kan tidak punya papa, jadi tidak ikut lomba."
Daniel baru ingat, Rania atau Rani itu adalah anak yang pernah Rooney bilang kalau ayahnya kabur dari rumah atau semacamnya.
"Ini kamu mau buat apa? Aku bantu, ya.... "
"Kamu isi ember yang ini. Aku mau buat kastil."
Daniel memberikan sekop kecil dan ember cetakan kepada Rani. Keduanya terlihat menikmati bermain bersama.
Mereka sibuk dengan keasyikannya sendiri, tidak peduli dengan keramaian dan sorak sorai meriah yang ada di sekeliling. Mereka bisa saling tertawa tanpa ada yang mengganggu. Biasanya, kalau mereka sedang bermain, pasti ada yang iseng menghancurkan hasil kreasi mereka. Kali ini, tidak ada satupun pengganggu yang datang. Semuanya sedang sibuk bersama orang tua masing-masing.
"Kamu kan biasanya diantar pak sopir. Kenapa tidak mengajak pak sopir untuk menemanimu lomba?"
"Tidak mau! Nanti dikira Pak Slamet itu ayahku. Nanti teman-teman mengejekku lagi."
"Oh, iya juga. Apalagi Rooney, dia nakal sekali."
"Kamu tadi ikut lomba berarti daddy-mu datang, ya?"
"Tidak."
"Yah.... Padahal aku ingin melihat daddy-mu."
"Sepertinya teman-teman yang lain juga begitu." Daniel mengatakan hal itu dengan raut sedih. Rasa kecewa kembali muncul karena ayahnya tidak bisa datang.
"Iya, semua juga penasaran ingin melihat daddy-mu."
"Apa dia tampan?"
"Ih.... Kamu kan jelek, berarti daddy-mu lebih jelek lagi."
"Memang!" ucap Daniel tanpa keraguan.
"Masa daddy sejelek itu?"
Daniel mematung sejenak, menghentikan bermainnya. Ia terkejut mendengar suara seseorang dari arah belakang. Secepat kilat ia menengok, didapatinya orang yang sangat ditunggu kedatangannya. Orang itu adalah daddy-nya.
"Daddy....!"
Daniel langsung membuang mainannya lalu berdiri memeluk erat tubuh ayahnya. Bayu menyambut pelukan Daniel. Ia bawa anak kesayangannya itu ke dalam gendongannya. Terakhir mereka bertemu entah sudah berapa lama, yaitu saat dirinya harus masuk penjara sementara Prita masih koma.
Sementara, Rania masih tertegun melihat sosok yang selalu Daniel sebut sebagai 'daddy'. Ayah Daniel ternyata sangat tampan dan keren. Ia juga mau kalau memiliki ayah seperti itu. Omongan Daniel memang bohong, ayahnya tidak jelek, tapi good looking. Kalau saja dia ingin mengadopsi anak, Rania juga ingin ikut memanggilnya 'daddy' seperti Daniel.
Bayu menyadari keberadaan anak perempuan itu. Ia menurunkan Daniel, lalu berjongkok di depan kedua anak kecil itu.
"Halo anak manis, perkenalkan om adalah ayahnya Daniel." ucapnya sembari tersenyum.
"Halo, Om.... Aku Rani, teman Daniel." Rania menjawabnya dengan malu-malu.
"Bagaimana menurutmu, kata Daniel, om ini jelek. Memangnya begitu, ya?"
Rania langsung menggeleng, "Yang jelek itu Daniel, Om. Jangan percaya! Om ganteng banget."
"Hahaha.... " Bayu merasa terhibur mendengar respon dan jawaban dari Rania.
__ADS_1
"Daddy, aku kan hanya bercanda." Daniel agak kesal ayahnya membuat Rania mengatakan kalau dirinya jelek.
"Om.... Boleh minta peluk juga nggak? Soalnya Rania kan tidak punya papa. Mau juga dipeluk daddy-nya Daniel yang ganteng."
Bayu semakin ngakak dengan permintaan anak kecil itu.
"Rani, itu namanya genit kepada Daddy." protes Daniel.
"Aku memang tidak punya papa, Daniel. Kamu tidak kasihan?"
"Sana peluk ayah temanmu yang lain, jangan Daddy."
"Yang ganteng kan cuma daddy-mu. Aku mau dipeluk ayahmu saja."
"Hahaha.... Sudah, kalian jangan bertengkar."
"Rani, sini om peluk. Bareng Daniel juga."
Rania dengan senang hati memeluk Bayu. Daniel juga ikut-ikutan. Kini Bayu seperti punya dua orang anak yang sedang bermanja padanya.
Ada rasa lain yang Rania rasakan. Sudah lama ia tidak bertemu ayahnya dan sudah lama pula ia tidak merasakan kehangatan kasih sayang seorang ayah. Memeluk ayahnya Daniel setidaknya membuatnya bahagia sejenak, bahagia bisa merasakan pelukan seorang ayah.
"Om, terima kasih, ya, sudah mau memeluk Rani." ucap Rania sembari tersenyum. "Daniel juga, terima kasih sudah mau main dengan Rani."
"Rani mau pulang dulu, ya. Kasihan Pak Slamet kelamaan menunggu."
"Besok kita main lagi, ya, Daniel."
Daniel membalas lambaian tangan tanda perpisahan dari Rani dengan anggukan.
Rania berjalan ke arah pintu keluar gerbang sekolah untuk menghampiri sopirnya yang menunggunya di sana. Tak terasa ia meneteskan air mata karena tiba-tiba merindukan ayahnya.
Sementara, Bayu dan Daniel masih ada di sana berdua sedang berbicara.
"Daddy, aku kira Daddy tidak bisa datang."
Bayu tersenyum mengetahui anaknya mengharapkan kedatangannya, "Maaf ya, Sayang. Urusan Daddy baru selesai, jadi Daddy baru bisa datang."
"Lalu, bagaimana tadi dengan lombanya?"
"Tadi kalah terus main dengan Papa Irgi. Daniel jadi sedih."
"Tidak apa-apa, kalah itu kan biasa. Jangan sedih." Bayu mengusap rambut anaknya.
Daniel menggeleng, "Daniel sedih bukan karena kalah, tapi karena tidak bisa bermain bersama Daddy."
Betapa meleleh hati Bayu mendengar kata-kata itu. Daniel sedih karena mengharapkan kehadirannya. Padahal, ia kira Daniel sangat cuek dan tidak pernah peduli dengannya.
"Daddy jadi semakin menyesal tidak bisa mendampingimu sejak awal perlombaan."
"Jadi, bagaimana kalau Daniel lanjut ikut lomba? Kali ini biar daddy yang temani."
"Paling sudah selesai lombanya." Daniel sedikit memanyunkan bibirnya.
Bayu menoleh ke arah perlombaan kelompok Tak besar, "Masih ada lomba lari yang belum dimulai."
"Ayo kita ke sana! Daddy yakin kita bisa jadi juara."
__ADS_1
Bayu menggendong Daniel secara tiba-tiba lalu membawanya berlari cepat ke arena lomba lari kaki tiga. Mereka belum terlambat, karena peserta yang lain juga baru mulai bersiap-siap.