
"Hah! Apa-apaan ini?"
"Katanya mau naik gunung, kalau seperti ini ya namanya cuma camping di bukit."
"Mana bukitnya kayak bukit teletubies lagi."
Irgi marah-marah. Ia sudah bersemangat sekali memperdiapkan segala perlengkapan untuk naik gunung bersama Ayash. Sengaja mereka kosongkan waktu untuk camping di puncak gunung.
Realitas sangat bertolak belakang dengan ekspektasinya. Dia kira akan mendaki gunung dengan ketinggian yang lumayan, membangun tenda, lalu melihat matahari terbit dari atas sana. Kenyataannya, Ayash mengajaknya ke tempat wisata peternakan dimana terdapat bukit-bukit kecil dengan rumput hijau segar. Memang, tempat itu biasa digunakan sebagai tempat berkemah keluarga, tapi itu tidak sesuai dengan keinginan Irgi.
Segala perlengkapan yang ia persiapkan dari mulai tenda, alat masak, pakaian dan bahan makanan tidak berguna. Di sana sudah dipersiapkan tenda yang cukup besar untuk kapasitas 5 orang, tempat api unggun dan barbeque, bahan makanan, serta penerangan. Sepertinya itu sudah satu paket jika menyewa tempat itu.
Dia sudah bercerita kepada Raeka sepertinya tidak akan pulang selama tiga hari untuk naik gunung. Kalau tempatnya seperti ini, besok juga dia sudah harus pulang. Tempat yang tidak ada tantangannya sama sekali, hanya membuang-buang waktunya.
"Ini juga salahmu sendiri, bilang-bilang rencana kita pada Raeka."
Ayash membela dirinya. Ia menurunkan Daniel dari gendongannya. Anak itu tampak suka melihat pemandangan di sekitar, tampak asri dan segar. Sudah lama Daniel tidak bermain di alam bebas.
Daniel langsung berlari mendekat ke arah tenda. Dia senang sekali malam ini akan tidur di tenda, berkemah bersama kedua papanya.
"Wajar kan aku bilang rencanaku pada istriku sendiri? Dia aku ajak juga tidak mau."
"Masalahnya Nenek Lampir itu juga cerita pada Prita."
"Memangnya Prita tidak setuju?"
"Ya jelas dia tidak setuju. Dia khawatir kalau Daniel kenapa-napa kita ajak naik gunung."
"Prita lebay."
"Dia takut Daniel kambuh lagi penyakitnya. Katanya, kalau mau naik gunung, Daniel tidak perlu diajak."
"Makanya aku bilang nggak ada yang mau naik gunung, kita hanya akan kemah dan memancing."
"Jadi kamu yang memilih tempat ini?"
"Bukan aku, tapi Prita."
"Dia punya mata-mata di sini, jadi mau tidak mau kita harus berkemah semalam di sini."
"Ah, sia-sia hari liburku yang berharga." Irgi menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah.
"Lain kali aku temani mendaki gunung beneran."
"Justru aku maunya sekarang. Sebenarnya aku mau melihatmu menderita mendaki gunung sambil menggendong Daniel. Hahaha.... "
Irgi mengungkapkan rencana sebenarnya.
"Benar-benar teman sialan ya." guman Ayash.
"Aku rasa Bayu iri sekali denganmu."
__ADS_1
"Iri kenapa?"
"Daniel lebih memilihmu daripada dia."
"Ah.... "
"Setidaknya kamu tidak terlalu rugi ya, karena dia sudah mengambil Prita darimu."
"Kalau bisa, gunakan Daniel untuk merebut kembali Prita darinya."
Ayash menggeleng-gelengkan kepalanya, "Otakmu itu penuh rencana jahat, ya? Apa kamu setan yang sedang berusaha menggoda iman manusia?"
"Walaupun jahat, tapi kan tujuannya baik. Aku tidak tega melihat hidupmu nelangsa terus."
"Halah! Bukannya kamu yang paling senang mengejekku karena hal ini?"
"Hahaha.... Iya juga, sih."
"Tapi jujur, aku kasihan melihatmu."
"Kenapa kasihan? Memangnya aku pernah menangis di depanmu?"
"Hais.... "
"Sudahlah, semua ini kan juga pilihan Prita sendiri. Dia harus bertanggung jawab pada pilihan hidupnya itu."
"Kita kan sama-sama tahu, Bayu orang yang seperti apa. Kalau Prita dalam kesulitan, apa kita hanya akan melihat dan tidak berbuat apa-apa?"
"Kamu sudah tidak mengharapkan Prita lagi?"
"Kalau aku bilang tidak, berarti aku bohong. Aku masih mengharapkannya kembali padaku. Tapi, aku lebih berharap dia bahagia dengan pilihannya."
"Walaupun kamu sendiri yang terluka?"
"Aku juga pernah melukainya, Ir. Kami sama-sama terluka."
Ayash berjalan mendekat ke arah tenda, duduk di sebelah Daniel yang sedang sibuk memilih snak.
"Papa.... Apa aku boleh makan ini?" tanyanya sembari mengangkat satu bungkus snak kentang di tangannya.
"Boleh, tapi jangan banyak-banyak. Nanti mama marah."
"Oke. Daniel hanya akan makan sedikit."
"Papa.... bukain.... "
Daniel memberikan bungkus jajanan untuk dibukakan papanya.
"Wah, ada bahan-bahan barbeque. Kebetulan, perut sudah mulai lapar. Ayo eksekusi, Yash." seru Irgi bersemangat.
Ayash memberikan bungkus jajan yang sudah dibuka kepada Daniel. Kemudian, dia bangkit menuju ke arah tempat barbeque bersama Irgi.
__ADS_1
Ini kemah tersimpel yang pernah Irgi rasakan. Tidak perlu bersusah payah menyiapkan apapun semuanya sudah tersedia. Ibaratnya asalkan ada uang, maka segalanya tersedia.
Irgi mulai meletakkan irisan daging di atas alat panggang barbeque. Ayash bagian membantunya mengoleskan bumbu barbeque yang juga sudah satu paket.
"Lumayan juga sih main ke tempat seperti ini. Walaupun dengan lelaki ngenes sepertimu."
"Ini semua juga salah mulutmu kan, jangan protes!"
"Eh, ini nanti barbequenya ada nasinya juga nggak ya? Masa cuma makan daging?"
"Ada tuh di kotak putih itu." Ayash menunjuk pada benda yang terletak pada meja samping tenda.
"Oh, iya iya. Mantap. Orang Indonesia asli memang kalau makan apapun harus pakai nasi biar afdhol. Hahaha.... "
"Sudah biasa hidup di luar negeri masih menganggap nasi jadi makanan pokok?"
"Oh, ya jelas. Selama di Singapura mamaku selalu masak nasi, nggak bisa aku kalau sarapan pakai roti."
Setelah makanan selesai dimasak, Ayash menggelar tikar dindepan tenda. Irgi memindahkan makanan yang sudah di masak ke atas tikar, lalu kedua orang dewasa dan satu anak kecil itu duduk bersama mengelilingi makanan.
Hari memang masih cukup sore untuk makan malam. Tapi, mereka sudah tidak sabar jika harus menunggu sampai malam.
"Hmmm.... Enak!" Kepala Daniel sampai goyang-goyang saat memakan makanannya.
"Kamu suka Daniel?"
"Suka, Papa Irgi. Ini enak!"
"Kamu nggak kangen mama? Kok main sama papamu terus?"
Daniel memperlambat kunyakan makannya, "Aku masih suka Papa, jadi masih mau sama Papa terus."
"Daniel kan sudah lama sama Mama, jadi gantian sekarang menemani Papa. Iya kan, Pa?"
Aysah menjawab dengan acungan jempolnya sambil tersenyum.
"Menurut Daniel, Papa Ayash dan Daddy Bayu, siapa yang paling baik pada Daniel?"
"Irgi.... "
"Aku kan hanya bertanya biasa, santai, Yash."
"Papa baik.... Daddy juga baik.... Papa Irgi juga baik.... Semuanya baik."
"Papa Irgi pikir kamu tidak suka Daddy Bayu."
Daniel menggeleng, "Daddy baik sama Mama, Daddy juga baik sama Daniel, Dean, dan Livy. Daniel hanya sedang ingin sama Papa sekarang, bukan karena benci Daddy."
Ayash mengelus puncak kepala Daniel. Anaknya semakin hari semakin membuatnya kagum, pemikirannya sangat dewasa. Anak itu seperti orang yang tidak mau menyakiti siapapun dan anak yang berharap semua orang merasa bahagia.
Malam mulai menyelimuti. Langit petang berubah jadi malam. Suasana sunyi, ditemani suara-suara binatang malam yang mulai aktif. Mereka masih menikmati makanan dan jajanan sembari memperbincangkan hal-hal ringan dan sepele.
__ADS_1
Pada akhirnya, Daniel menjadi yang pertama tidur. Tersisa Ayash dan Irgi yang masih betah membuka mata. Mereka masih betah berbagi cerita tentang masa lalu dan sesekali membahas tentang kehidupan mereka saat ini. Sepertinya hingga menjelang fajarpun obrolan mereka tidak akan berhenti.