
Prita pulang ke mansion bersama Dean. Tampak Mama Maya sedang menemani Livy bermain masak-masakan di ruang tengah.
"Oma.... " Dean berlari penuh semangat menjumpai neneknya. Dia ingat tadi pagi neneknya berkata akan memberikan mainan sepulang sekolah. Ia sudah tidak sabar untuk melihat mainan itu.
"Kamu sudah pulang, Sayang.... "
"Iya, Oma. Mana hadiah untukku?"
"Oh, kamu cepat-cepat pulang mau hadiah?"
"Iya!" jawabnya penuh semangat.
Maya mengambilkan dua buah kotak mainan yang telah dibelinya. Ia berikan satu untuk Dean.
"Ini untukmu dan ini untuk kakakmu Daniel. Mana Daniel?"
"Tidak ada. Kak Daniel ikut Papa ke kantor."
Dean langsung mengamati kotak mainan yang diberikan neneknya. Mainan kereta api beserta relnya. Tanpa menunggu lama, ia buka kotak mainan itu sendiri.
"Prita, kenapa kamu biarkan Daniel ikut Ayash ke kantor? Apa nanti tidak mengganggu di sana?"
"Aku sudah bilang begitu, Ma. Tapi Ayash bilang tidak apa-apa. Tadi dia juga mau mengajak Dean sekalian tapi Dean tidak mau."
"Ah, kalian ini. Tidak bisa membaca situasi sama sekali. Selalu melakukan sesuatu semau sendiri." gumam Maya.
"Maksud Mama bagaimana?"
"Kamu tahu sendiri kan, Daniel itu tidak ada mirip-miripnya dengan Ayash. Masa anak yang wajahnya kebule-bulean memiliki ayah yang wajahnya pribumi. Kamu tidak berpikir, kalau ada orang kantor yang bertanya tentang Daniel bagaimana? Mereka pasti juga akan mengira kalau Daniel bukan anak Ayash."
Prita mematung. Dari luar memang kelihatannya dia diam dan tenang. Tapi sebenarnya dalam hati perasaannya seperti tersayat-sayat. Ucapan Mama Maya sangat menyakitinya meskipun mungkin maksudnya bukan untuk menyakiti.
Prita tahu, memang Daniel bukan anak kandung Ayash. Tapi dia tidak ingin permasalahan itu selalu dibahas. Terutama oleh Mama Maya. Rasanya sakit sekali mendengar kata-kata itu keluar dari mulut orang yang sangat ia hormati.
Sebenarnya asalkan keluarga bisa diam dan menerima keberadaan Daniel, dia tidak akan peduli sekalipun di luaran akan beredar gosip-gosip buruk tentangnya. Ia hanya peduli dengan orang-orang terdekatnya. Tapi, Mama Maya belum juga berhenti membahas tentang hal itu. Membuat rasa sakitnya terus bertambah.
"Mama sedang tidak bermaksud menyalahkanmu Prita, kamu jangan salah paham. Mama hanya khawatir dengan apa yang terjadi nanti. Seperti yang mama bilang, mama tetap sayang Daniel."
__ADS_1
Prita memaksakan senyum, "Iya, Ma. Aku paham."
"Ini mainan untuk Daniel. Kamu simpankan di kamarnya dan berikan pada Daniel setelah dia pulang nanti."
"Iya, Ma. Terima kasih."
Prita menerima kota mainan Daniel. Livy dan Dean masih asyik bermain. Prita membawa kotak mainan itu ke lantai atas menuju kamar anak-anak. Tanpa ada yang tahu, air mata Prita mulai menetes saat menapaki satu per satu anak tangga.
Prita menjadi bingung, apakah keputusannya menikahi Ayash adalah sesuatu yang salah? Apakah semua cobaan berat yang ia lalui sebelum pernikahan sebenarnya merupakan pertanda jika seharusnya ia berhenti, tidak meneruskan langkah menuju jenjang pernikahan bersama Ayash?
Menikah dengan Ayash adalah mimpinya yang menjadi nyata. Ia bahagia bisa hidup bersama orang yang benar-benar ia cintai. Tapi, hidup bersama orang yang ia cintai terasa sangat sulit, penuh liku, dan menyakitkan. Kini ia telah memiliki anak-anak dari dua orang lelaki yang berbeda. Semua semakin rumit karena keputusannya.
Mama Maya adalah orang yang paling menyayanginya dulu. Prita merasa diperlakukan seperti anak sendiri olehnya. Semua berubah sejak Daniel lahir. Mama Maya lebih bersikap dingin padanya. Prita tak bisa menyalahkan Mama Maya. Semua adalah kesalahannya dan Ayash yang tidak mau jujur mengatakan hal yang sebenarnya. Seharusnya sejak awal mereka ungkapkan jika kondisi Prita sedang mengandung anak lelaki lain. Setidaknya jika Mama Maya menolak, ia akan mundur lebih awal dan tidak terjebak dengan kondisi seperti saat ini.
*****
Irgi memeriksa beberapa dokumen di ruangannya. Sementara, Daniel asyik bermain lego membangun kota dengan seriusnya. Sebelum sampai hotel, Irgi sengaja mampir ke toko mainan dan membelikan lego untuk Daniel. Anak itu memang sangat suka bermain lego. Selain memberikan mainan, tidak lupa Irgi menyiapkan minuman dan camilan di dekat Daniel. Hasilnya, Daniel bisa main dengan tenang dan dirinya juga bisa bekerja dengan tenang.
Tring... tring....
Telepon di ruangannya berbunyi.
"Pak, ada yang ingin bertemu dengan Anda." ucap sekertarisnya dari seberang telepon.
"Suruh masuk ke ruangan saya."
"Baik, Pak."
Irgi kembali berkutat pada berkas-berkas di hadapannya. Orang yang dimaksud sekertarisnya pasti hanya perwakilan dari Skylight Bar yang hendak mengirimkan sejumlah dokumen mengenai kerjasama.
Tok tok tok....
Pintu ruangan Irgi diketuk.
"Masuk."
Betapa terkejutnya Irgi saat melihat orang yang masuk ruangannya adalah Bayu Bagaskara sendiri. Tanpa pikir panjang, ia langsung bangkit dari kursinya dan berlari mendekap Daniel. Ia berusaha menyembunyikan Daniel agar Bayu tidak melihatnya.
__ADS_1
"Bukankah itu Daniel?" tanya Bayu. Ternyata Bayu lebih dulu menyadari kalau anak kecil di ruangan itu adalah Daniel.
"Uncle Yu.... " anak yang berusaha Irgi sembunyikan malah justru menyapa Bayu. Irgi heran, kenapa Daniel bisa mengenal Bayu.
"Daniel... kemari! Uncle Yu kangen sekali dengan Daniel."
Mendengar kata-kata itu, Daniel langsung melepaskan dirinya dari pelukan Irgi. Irgi menghela nafas. Anak itu malah menghampiri orang yang ingin ia jauhkan darinya.
Daniel memeluk erat Bayu. Tentu saja Bayu sangat bahagia bisa memeluk anaknya lagi. Ada untungnya dia membawa sendiri dokumen ke hotel Greenland Paradise yang seharusnya dibawa oleh anak buahnya. Ia bisa bertemu anaknya di sana.
"Bagaimana kalian bisa saling kenal?"
"Hah! Aku kan sudah bilang, anak tetap akan mengenali siapa ayahnya."
"Omong kosong. Anak sekecil Daniel tidak akan paham. Aku yakin kamu sudah melakukan sesuatu."
"Apa salahnya melakukan sesuatu untuk anak sendiri? Kamu tidak pernah merasakan rasanya dipisahkan dari anak sendiri, kan? Jadi tidak usah banyak bicara."
Daniel bingung sendiri. Dia tidak paham kedua orang dewasa itu sedang membahas tentang apa.
"Daniel, kamu mau ikut Uncle Yu makan spagetti?"
"Mau mau.... aku mau..... " Daniel antusias mendengar kata spagetti.
"Daniel, kamu tidak boleh pergi bersama orang asing. Kamu harus terus bersama Papa Irgi."
"Uncle Yu orang baik, Papa Irgi. Kami sudah sering makan bersama waktu di Singapura. Uncle Yu bukan orang asing."
Irgi terhenyak mendengar penuturan Daniel. Benarkah mereka sering bertemu di Singapura? Dilihat dari kedekatan mereka, sepertinya ucapan Daniel benar. Karena Daniel tipe anak yang tidak mudah akrab dengan orang terutama yang baru ia jumpai.
"Kamu dengar sendiri kan, perkataan Daniel?"
"Tetap saja, Daniel, kamu tidak boleh pergi. Nanti mama papa bisa marah."
"Kalau begitu Papa Irgi jangan bilang Mama Papa, ya.... Aku cuma mau makan spagetti bersama Uncle Yu. Nanti Daniel balik lagi. Oke?"
"Kamu tenang saja, aku tidak akan menculik Daniel. Aku hanya akan mengajaknya makan di restoranmu saja. Setelah selesai, Daniel akan aku antarkan kembali kesini."
__ADS_1
"Ini dokumen yang harus kamu periksa. Kami pergi dulu." Bayu meletakkan map berisi dokumen di meja Irgi.
Irgi hanya bisa mematung melihat Daniel yang tampak bahagia dalam gendongan ayah kandungnya. Ia kini bingung, apa harus menelepon Ayash atau membiarkannya saja.