
Irgi tidak jadi masuk ke ruang perawatan Daniel. Dia memilih kembali ke kantornya karena sudah ada Raeka di sana. Dia berharap Raeka bisa benar-benar berteman dengan Prita.
"Pak, Tuan Rudy ingin bertemu." kata sekertaris Irgi.
"Persilakan Beliau masuk."
Rudy Wijaya, ayah mertua Irgi menyempatkan diri mengunjungi menantunya setelah beberapa lama tidak bertemu.
"Halo, Pa. Apa kabar?" Irgi mencium tangan mertuanya dan mempersilakannya duduk di ruangannya.
"Hahaha.... Kabar apa yang diharapkan dari orang yang sudah tua seperti aku? Mau dibilang sehat tapi asam urat sesekali juga kambuh."
"Tapi Papa masih terlihat gagah kok, walaupun tetap aku yang lebih gagah dari Papa."
"Hahaha.... Dasar anak kurang ajar!"
"Bagaimana dengan Raeka? Apa dia kesulitan menyesuaikan hidup bersamamu? Dia itukan anak yang manja, apa-apa sudah terbiasa disiapkan orang lain."
"Raeka baik, Pa. Dia sekarang jadi suka memasak. Setiap hari yang membantuku menyiapkan seragam kantor itu Raeka sendiri."
"Ah, Syukurlah kalau begitu. Aku sebagai orang tua hanya khawatir dia tidak bisa menyesuaikan diri."
"Papa jangan khawatir, aku akan memperlakukan Raeka dengan baik, seperti dia diperlakukan di dalam keluarganya."
"Aku juga tidak akan menuntut Raeka untuk melakukan hal-hal yang tidak dia suka. Dia boleh tetap menjadi Raeka yang seperti biasanya. Bahkan kalau dia tidak bisa memasak atau mencuci pakaian, aku tidak akan mempermasalahkannya."
"Ya, Papa tahu kamu akan begitu. Tapi yang aku harapkan setidaknya Raeka bisa sedikit mandiri. Bisa melakukan sesuatu hal sendiri."
"Hah! Salah kami juga sebagai orang tua yang sejak dulu tidak melatihnya untuk mandiri. Kami menyerahkannya pada pengasuh karena sibuk bekerja."
*****
"Dia kan orangnya memang begitu, Ra. Kalau tidak bicara ceplas-ceplos sepertinya otaknya bisa meledak." ujar Prita.
Raeka dan Prita masih betah di ruangan Daniel sedari tadi mereka terus berbicara. Daniel sudah kembali ke ruangannya. Ia sedang memainkan mainannya di atas ranjang.
Baru satu hari berteman, Raeka sudah berani banyak bercerita tentang hubungannya dengan Irgi. Mulai dari pengalamannya berlibur di Eropa hingga sifat-sifat Irgi yang sangat membuatnya tidak nyaman atau risih.
"Lalu kamu ngelakuin apa yang dia mau?"
"Ih! Nggak, lah! Itu kan aneh banget."
Ternyata mereka berdua sedang membahas tentang keinginan Irgi agar Raeka mengenakan apron seksi saat di dapur.
Rasanya otak Raeka mendidih kalau mengingat segala permintaan tidak masuk akal Irgi padanya.
"Hahaha.... Itu kan hal biasa. Mungkin memang maunya Irgi seperti itu."
__ADS_1
"Sumpah! Kadang tuh aku pengin Irgi jadi orang yang normal-normal kalau lagi berdua. Mes*mnya nggak ada obat."
"Katanya kan begitu, lelaki dianggap memiliki fantasi seksual yang lebih liar dibanding wanita. Kita mikirnya hal kayak gitu aneh kan?"
"Kamu sendiri pernah nggak begitu, Ta?"
Prita menggigit jarinya. Kata-katanya kini jadi berbalik menyerang dirinya sendiri. Ia bingung menjawabnya. Takut pengantin baru itu syok kalau dia ceritakan semua pengalamannya.
"Kalau menurutmu sendiri bagaimana? Aku kelihatannya bagaimana?" tanya Prita.
Raeka berpikir sejanak. Kembali ia memandangi wajah Prita, mencoba menerka kira-kira sampai mana pengalamannya dalam hal bercinta. Apalagi dia sudah lima tahun menikah dan memiliki anak.
"Kalau dilihat sekilas, kalian tampaknya pasangan yang biasa-biasa saja. Nggak mungkin aneh-aneh, kan?"
Prita menutup mulutnya. Ia ingin tertawa tapi ia tahan. Berarti Raeka menilainya sebagai wanita yang kurang pengalaman. Padahal menurutnya, setiap pasangan punya cerita liarnya sendiri kalau sudah masuk kamar.
Dia pikir Raeka orang yang kaku. Ternyata wanita itu asyik juga menjadi teman bicara. Apalagi, sifat polosnya itu terlihat alami. Pantaslah ia terganggu dengan kepribadian Irgi yang seperti itu.
Prita berusaha mengembalikan ekspresinya semula, "Ah, ya menurutku setiap pasangan pasti pernah sesekali melakukan hal yang di luar dugaan."
"Setiap orang kadang memiliki pikiran atau fantasi liar, Ra. Terutama saat bertemu atau melihat lawan jenis yang menarik. Bisa jadi otak cowok akan membayangkan berbagai hal nakal dalam imajinasinya."
"Apalagi ketika lawan jenis itu memberi respons positif seperti membalas dengan senyuman atau bertegur sapa. Jika melihat perempuan seksi dan menarik, lelaki mungkin bisa sampai membayangkan bercinta dengan perempuan itu."
"Jadi menurutku, kamu mulai saja sesekali menuruti kemauan Irgi. Buat dia makin mencintaimu dengan cara yang nakal." Prita mengerlingkan sebelah matanya.
Raeka memegangi kedua pipinya. Badannya terasa panas dingin hanya dengan membayangkan melakukan hal yang Irgi inginkan.
"Kayaknya aku nggak bakalan bisa, Ta. Aku terlalu malu untuk melakukan hal-hal seperti itu. Aku tidak berbakat menjadi wanita perayu."
"Kalau sampai Irgi dirayu wanita lain gimana?" Prita memanas-manasi. Ada rasa kepuasan melihat respon Raeka terhadan bahasannya. Ternyata Raeka orang yang cukup pemalu.
"Aku biasanya akan menjambak rambutnya, Ta. Kalau melihat wanita berani menggoda Irgi."
Senyum Prita tiba-tiba hilang. Ia jadi ingat waktu masa SMA, "Ah, ya. Pantas dulu kamu suka menjambakku ya? Pasti dipikirnya aku merebut Irgi darimu."
"Hahaha.... Memang dulu aku mikirnya gitu, Ta. Tolong jangan bahas itu lagi. Aku jadi malu padamu. Harusnya dulu kita berteman, ya. Tapi malah bermusuhan."
"Kamu yang memusuhi, Ra. Bukan aku."
"Ya, ya.... maafkan aku."
"Lalu, menurutmu apa langkah paling mudah untuk bisa menggoda suami sendiri? Soalnya kalau cara-cara yang ekstrim sepertinya aku belum berani."
Prita berpikir sejenak, "Em, kamu biasanya tidur pakai apa?"
"Piyama tidur. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Coba beli beberapa lingeri. Kalau belum berani pakai yang seksi, bisa pilih yang agak tertutup."
"Uh! Pakaian transparan itu ya.... Aku sama sekali tak penah terpikir untuk memakainya." Raeka bergidik.
"Kalau begitu mulai biasakan. Awal-awal pasti akan memalukan. Tapi lama kelamaan akan jadi biasa kok. Mungkin kamu malah akan jadi wanita nakal di rumah sendiri. Hahaha.... " Prita tertawa karena membayangkan Raeka melakukan hal gila seperti itu.
"Booo.... Kayaknya Prita kita seorang suhu di sini."
"Ya, kelebihanku memang lebih berpengalaman darimu. Makanya kamu lakukan saja. Siapa tahu kalian bisa lebih cepat membuat bayi."
"Anakmu tiga dan masih kecil-kecil masih bisa melakukan hal seperti itu ya, Ta? Pernah nggak keganggu tangisan anak waktu lagi nanggung-nanggungnya?"
"Sering!" bisik Prita. "Pintar-pintar aja cari waktu."
"Sudah ah! Kenapa jadi membahasku? Aku sudah bercerai ingat ya."
"Coba sekali-kali kagetin Irgi pakai baju cosplay waktu dia pulang, Ra. Kamu pasti bakalan langsung dikurung dalam kamar sama dia."
"Aduh, biar rumah tangga harmonis ternyata istri harus bisa nakal, ya?"
"Daripada suami dinakalin wanita lain, Ra."
"Hahaha.... benar juga. Oke, suhu.... saranmu akan aku coba lakukan."
"Ah, ya. Satu lagi."
"Kamu bisa katakan kalimat ini saat akan tidur atau bangun tidur di sebelah Irgi."
"Apa?"
Raeka menunjukkan rasa penasarannya. Padahal, Prita sedang berniat untuk mengerjainya.
"Kamu harus mengucapkannya dengan dengan nada yang manis dan manja, ya."
Raeka hanya mengangguk.
"Sayang.... aku mau lolipop."
"Kenapa minta lolipop?" Raeka tampak kebingungan.
"Udah, lakuin aja. Irgi tahu kok."
Dalam hati Prita ingin tertawa. Teman barunya itu benar-benar menghiburnya. Ia tidak menyangka Raeka bisa sepolos itu padahal waktu SMA galaknya minta ampun.
------------------------------------------------------------------------------
Jangan dilakuin Ra.... 😅😅😅
__ADS_1