
Bayu hanya bisa menyaksikan istrinya yang sedang bersama dengan mantan suaminya dari jauh, di satu sudut pusat perbelanjaan.
Prita dan anak-anaknya sedang makan bersama di area food court. Meskipun di sana juga ada Alex dan Leta, ia tetap merasa kesal.
Ini bukan pertama kalinya Prita terlihat bersama dengan Ayash. Beberapa hari ini, Bayu selalu mengikuti mereka yang tampak bersama seperti sebuah keluarga yang harmonis. Seharusnya dia yang sekarang ada di posisinya. Tapi, belum waktunya ia pulang. Belum ada yang tahu keberadaannya selain Ben, termasuk anak buahnya sendiri.
"Bos, waktunya kita pergi." tegur Ben.
Sepertinya jika Bayu tidak ditegur, dia akan terus mematung di sana sembari terus memandangi istri dan anaknya.
"Ayo, Ben."
Akhirnya Bayu melupakan keegoisannya sementara demi menyelesaikan rencana yang sudah ia susun bersama Ben di apartemennya.
"Ini sebagian kecil bukti yang bisa saya dapatkan." Ben menyerahkan map coklat berisi beberapa dokumen.
"Ben, apa kamu yakin akan menggali tentang hal ini?"
Bayu agak terkejut melihat dokumen yang Ben bawa, ternyata tentang transaksi penyelundupan senjata ilegal untuk kelompok pemberontak di Pulau S dan Pulau P. Itu adalah sebuah isu yang besar dan pastinya akan sangat mendapat perhatian dari negara karena menyangkut keutuhan negara.
"Saya kembalikan keputusan kepada Anda, Bos."
Bayu jadi bimbang. Salah satu cara membuat ayahnya berhenti adalah dengan memisahkannya dari Tuan Saddam. Orang itu terlalu berbahaya untuk dijadikan teman maupun musuh. Ia harus bertindak sehalus mungkin jangan sampai Tuan Saddam tahu ia ingin mengusiknya.
Tapi, jika Tuan Saddam terlibat kasus sebagai pendukung gerakan pemberontak, otomatis nama ayahnya juga akan disangkutkan. Katakanlah Bayu masih belum tega jika harus menjebloskan ayahnya sendiri ke penjara.
Bayu juga tahu, salah seorang yang paling dicari-cari oleh Bara, polisi yang menyelamatkannya adalah Tuan Saddam. Bara sengaja melakukan penyelidikan di sana selama satu tahun hanya untuk mengetahui orang-orang dari Kota J yang terlibat mendukung gerakan pemberontak. Bayu bisa saja memberikan bukti itu kepada Bara.
"Aku masih akan melihat apakah ayahku bisa berubah, Ben. Akan aku simpan bukti yang kamu berikan."
"Iya, Bos. Itu terserah Anda."
__ADS_1
"Apa kamu tidak marah padaku?"
"Kenapa saya harus marah?"
"Kamu sudah mempertaruhkan nyawamu sendiri untuk mendapatkan dokumen ini dan aku masih mempertimbangkan untuk menggunakannya."
"Kalau ayahku menyadari dokumennya ada yang hilang, aku yakin dia akan langsung mencurigaimu."
"Saya tahu resikonya. Anda tidak perlu khawatir." Ben mengatakan hal itu dengan tersenyum.
"Ben.... aku pernah membencimu saat kamu lebih memilih ikut dengan ayahku enam tahun yang lalu."
"Terima kasih kamu masih ada di pihakku dan selalu membantuku seperti seorang kakak."
"Setelah semua ini berakhir, hiduplah dengan normal, Ben. Tinggalkan dunia yang seperti ini."
Ben kembali tersenyum, "Iya, Bos."
Antara Bayu dan Samuel sangat berbeda memperlakukannya. Samuel memang memungutnya dari jalanan, memberikan kehidupan dan pendidikan yang layak, namun memperlakukannya seperti budak. Sedangkan Bayu memperlakukannya seperti saudara. Bayu rela dalam bahaya untuk menyelamatkannya, sedangkan Samuel selalu menempatkannya dalam bahaya demi keselamatannya sendiri. Seakan dia hidup atau mati adalah hal wajar bagi seorang Samuel.
"Sepertinya saya tidak bisa sering datang ke sini. Tuan Samuel akan curiga kalau saya di sini terus. Saya akan kembali ke Pulau S, untuk berpura-pura mencari Anda."
"Iya, Ben. Terima kasih atas bantuannya."
"Jaga diri Anda, saya pamit."
*****
Malam kembali datang. Seperti biasa, Bayu kembali datang ke rumahnya secara diam-diam. Ia menaiki pagar balkon kamarnya lalu mencongkel jendela kamar dengan mudahnya seperti seorang pencuri.
Istrinya sudah tertidur seperti biasa. Biasanya ia memang datang untuk memandangi wajah istrinya yang sedang tidur atau memeluk dan mengecupnya sedikit untuk melepaskan rasa rindunya.
__ADS_1
Tapi, malam itu ada yang sedikit berbeda di kamarnya. Ada sebotol wine yang isinya sudah berkurang. Bayu mengerutkan dahinya, mungkinkah tadi istrinya baru saja meminum wine? Dia tidak biasa minum, tapi kenapa malam ini ada satu botol wine di kamarnya?
Bayu mendekati istrinya. Ia mencium aroma wine dari mulut istrinya. Berarti benar, Prita sudah meminum wine itu.
Dia menjadi merasa bersalah, istrinya yang tidak penah menyentuh hal seperti itu tiba-tiba menjadi pemabuk. Apakah semua itu karena dirinya? Mungkinkah Prita stres selama ia tinggalkan sampai harus mabuk?
Bayu mengecup singkat bibir istrinya. Dia rindu sekali dengannya. Tapi, ia harus segera pergi, tak bisa berlama-lama di sana. Ia takut ada yang memergokinya.
"Mas.... Jangan pergi.... "
Bayu tersentak kaget ketika tangannya ditahan oleh Prita saat akan pergi. Istrinya tertidur, tapi bisa bicara. Mungkin ia sedang mengigau.
Bayu berusaha melepaskan tangan Prita dari lengannya. Namun yang terjadi, Prita justru menarik Bayu dengan kedua tangannya hingga Bayu terjatuh ke atas kasur. Entah sejak kapan istrinya punya tenaga seperti itu. Wanita itu kuat untuk menariknya.
Bayu terlentang di atas kasur. Sementara, istrinya mulai merangkak mendekatinya. Matanya terbuka, memandanginya sembari menunjukkan seulas senyum. Bayu sudah panik dirinya sudah ketahuan malam ini.
Istrinya yang memakai baju tidur transparan itu dengan berani menaiki tubuhnya dengan begitu sensual seperti ingin menggodanya. Belahan dadanya tampak begitu menggiurkan untuk dijamah. Apalagi Bayu sudah lama menahan diri, tepat di hadapannya ada istrinya yang begitu menggoda.
"Mas.... Apa aku sangat merindukanmu ya, sampai aku bermimpi seperti ini."
Prita berkata dengan raut wajah malu-malu, namun tindakannya sangat berani. Tangannya meraba-raba dada bidang suaminya seakan ia sudah lama merindukan sosok yang sekarang ada di bawahnya.
Prita merebahkan tubuhnya di atas tubuh Bayu dengan nyamannya, "Mas.... Kalau ini hanya mimpi, aku harap kamu jangan cepat-cepat pergi. Aku masih kangen."
Perkataan Prita yang seperti mengigau menguatkan dugaan Bayu jika saat ini istrinya sedang mabuk. Dia sepenuhnya tidak sadar kalau orang yang saat ini ia peluk benar-benar suaminya.
"Mas.... Aku kangen.... "
Lelaki mana yang tidak akan meleleh melihat wajah menggemaskan itu dan mendengar ucapan kangen darinya. Binar mata polos itu semakin membuatnya tidak tahan apalagi dia sendiri sudah berusaha menahan kerinduan terhadap istrinya.
Melihat penampilan istrinya yang sangat menggoda, sepertinya tidak apa-apa jika ia akan sedikit lama menghabiskan waktu bersama istrinya malam ini. Toh istrinya sedang mabuk, dia tidak akan ingat kejadian malam ini. Bayu akan memberikan Prita mimpi yang indah.
__ADS_1