ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Menjemput Anak


__ADS_3

"Jadi, kamu beneran nggak marah sudah aku bohongi?" Prita mencoba memastikan.


Rafa malah tersenyum, "Nggak, aku nggak marah."


"Aku malah senang bisa jalan-jalan denganmu semalam."


Rafa sampai lupa rasa sakit akibat dihajar oleh suami dari wanita di hadapannya. Apa dia sudah gila? Itu istri orang....


"Seharusnya kita lebih cepat bertemu, ya.... "


"Memangnya kenapa?"


"Aku ingin lebih mengenalmu.... Sayang sekali saat aku mulai tertarik padamu, ternyata kamu sudah menikah."


Prita menelan ludah. Raeka bisa marah malau tahu kakaknya tertarik padanya.


"Mungkin kita tidak berjodoh.... "


"Ya, bisa jadi. Tapi aku masih dibuat baper gara-gara istri orang."


"Uhhh.... Sebaiknya perasaan seperti itu harus cepat-cepat dihapus soalnya tidak baik untuk kesehatan mental."


"Hahaha.... Jadi ini ibaratnya perasaan yang baru mulai tumbuh, bertunas, tiba-tiba harus dicabut supaya mati."


"Aduh, kasihan sekali ini."


"Raeka juga, punya teman semanis kamu tapi tidak pernah dia ajak main ke rumah."


"Aku belum lama berteman dengan Raeka."


"Lah, katanya kalian kenal sejak SMA?"


"Iya, tapi dulu Raeka memusuhiku. Kami tidak pernah berteman."


"Wah, coba kita dengarkan, kenapa adikku bisa memusuhi orang sebaik kamu?" Rafa jadi penasaran dengan cerita Prita.


"Dia cemburu, karena aku dan Irgi bersahabat."


"Hm, begitu, ya.... "


"Raeka memang dari dulu sulit berteman. Aku jadi senang sekarang dia sudah mulai bisa berteman."


"Raeka teman yang menyenangkan. Kalau sudah mengenalnya, ternyata dia baik."


Prita melirik jam tangannya, sudah waktunya menjemput Dean dari sekolah.


"Mm.... Sepertinya aku harus pergi sekarang."


"Kenapa buru-buru? Bagaimana kalau kita makan siang dulu?"


Rafa agak kecewa mendengar Prita akan pergi meninggalkannya.


"Mungkin lain kali, ya. Aku harus menjemput anakku di sekolah."


Rafa mengernyitkan dahi, "Kamu.... sudah punya anak? Katanya kamu baru menikah?"


Prita tersenyum, "Sebelum menikah dengan suamiku yang sekarang, aku janda dengan tiga orang anak."


Rafa benar-benar tercengang mendengarnya. Dia kira Prita tidak jauh berbeda dengan adiknya, ternyata dia sudah pernah menjanda bahkan sudah memiliki tiga anak.


"Sepertinya aku benar-benar salah mengagumi wanita kali ini."


"Hahaha.... Aku sudah bilang, kan. Lebih baik dilupakan perasaan kagum itu. Tidak baik untuk kesehatan mental."


"Aku pergi dulu."


Prita meninggalkan Rafa yang tampaknya masih belum percaya mendengar kenyataan tentang dirinya. Apa dia menyesal sudah membayangkan telah berkencan dengan wanita tapi ternyata sudah punya anak tiga?


Prita menghampiri sopirnya yang masih menunggu dalam mobil yang terparkir di basement. Ia duduk di kursi belakang.


"Maaf ya, Pak Ahmad saya agak lama."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nyonya. Sekarang, Anda mau kemana lagi?"


"Ke sekolahan Dean."


"Baik, Nyonya."


Pak Ahmad melajukan mobilnya meninggalkan area apartemen milik keluarga Wijaya. Pak Ahmad merupakan sopir lama saat Prita masih tinggal di apartemen bersama Ayash. Prita meminta Pak Ahmad ikut bersamanya karen beliau merupakan orang yang bisa dipercaya. Ayash juga membolehkan Pak Ahmad bekerja untuk Prita.


Sesampainya di depan sekolah, sepertinya anak-anak belum mulai pulang. Hal tidak terduga Prita bertemu dengan Ayash di sana. Sepertinya dia juga hendak menjemput Daniel. Anaknya yang satu itu memang masih betah tinggal dengan papanya.


"Diantar siapa?" tanya Ayash saat Prita mendekatinya di area depan gerbang sekolah.


"Diantar Pak Ahmad."


"Daniel belum mau pulang, ya?"


"Belum. Aku juga sudah membujuknya untuk pulang dulu tapi katanya masih betah di apartemen."


"Ah.... Ya sudahlah, terserah Daniel saja."


"Tapi kamu nggak merasa kerepotan, kan?"


"Tidak. Aku malah senang rumah jadi tidak terlalu sepi."


Keduanya terdiam. Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Terbersit rasa bersalah di hati Prita sudah membuat Ayash berpisah dengan anak-anaknya. Ia sendiri tidak melihat Daniel beberapa hari juga sudah merindukannya, apalagi Ayash yang lebih lama tidak menghabiskan waktu dengan anak-anaknya.


Terlebih Ayash tak akan bisa memiliki anak lagi. Ia jadi seperti itu juga untuk dirinya. Namun sayang, jodoh mereka harus berakhir setelah keluarnya keputusan cerai dari pengadilan agaman. Dan sekarang, mereka berdua memiliki keluarga baru yang harus dijaga.


Rasanya tidak adil dia merasakan hidup bahagia bersama suaminya yang sekarang, sementara ada yang menderita di tempat lain. Apalagi Ayash pernah menjadi orang yang penting dalam hidupnya.


Prita hanya berharap Ayash bisa bahagia denga hidup yang dijalaninya. Seperti dirinya yang bahagia dengan keputusannya.


Setiap kali melihat sorot mata itu, ia tahu persis Ayash masih sangat mencintainya. Diapun sama, masih mencintai Ayash, namun di jalan yang berbeda. Ia mencintai Ayash sebagai bagian dari masa lalunya. Dan hidupnya yang sekarang, ia abdikan untuk keluarganya yang sekarang.


"Livy mana?"


"Sebelum aku ke sini dia sedang tidur, jadi aku tinggal."


"Iya, dia sehat."


"Kalau kamu mau, boleh kok, sesekali ajak Livy tinggal denganmu."


"Ah, Livy lebih baik bersamamu. Dia kalau malam suka menangis mencari-cari mamanya. Kalau Daniel dan Dean, mereka sudah lebih besar dan mengerti. Jadi tidak masalah kalau sesekali tinggal bersamaku."


"Andin tidak ikut?"


"Dia masih sibuk mengurusi butiknya."


"Mama.... " Teriak Dean dengan penuh semangat.


Dia berlari paling depan ketika pintu gerbang sekolah dibuka. Segera ia peluk mamanya dengan hangat.


"Eh, ada Papa."


"Hai, Sayang.... "


"Papa.... " Dean beralih memeluk Ayash.


Ayash mengangkat anaknya tinggi-tinggi, "Sepertinya kamu sudah semakin besar ya.... "


"Papa.... Dean kangen Papa."


"Papa juga kangen Dean."


"Papa, Papa kenapa tidak tinggal bareng Mama? Rumah Daddy Bayu bagus, loh."


Ayash melirik ke arah Prita. Anaknya yang satu itu sepertinya belum paham kalau orang tuanya sudah berpisah.


"Kalau papa tinggal di sana, nanti daddy-nya marah dong."


"Tidak.... Daddy itu baik. Nanti aku bilang kalau Papa mau ikut Dean di rumahnya."

__ADS_1


"Hahaha.... Jangan, Sayang.... Papa juga punya rumah, masa Papa tinggal? Dean saja ya, kalau kangen papa boleh menginap di rumah papa."


"Oh, lihat itu kakakmu juga sudah keluar." Ayash mengalihkan perhatian Dean pada Daniel yang baru keluar dari pagar sekolah.


"Daniel.... " Prita menyodorkan kedua tangannya ke depan menyambut Daniel. Uluran tangannya disambut pelukan hangat Daniel.


"Kamu sehat, Sayang?" Prita membelai-belai rambut Daniel yang sudah semakin lebat.


"Iya, Mama.... Daniel sehat."


"Syukurlah. Tetap jaga makan, istirahat yang teratur, dan jangan terlalu lelah, ya."


"Iya, Ma. Daniel ingat semua nasihat Mama. Daniel kan tidak mau sakit lagi."


"Anak pintar." Prita tersenyum memandangi Daniel. Dia tampaknya sehat-sehat saja selama bersama Ayash. Prita memang seharusnya tak perlu khawatir, Ayash pasti akan menjaganya dengan sangat baik.


"Daniel, hari ini kamu pulang ke rumah sama Mama, ya." pinta Ayash.


Daniel menatap ke arah Ayash dengan tatapan memelas. Sepertinya dia masih ingin ikut ayahnya.


"Mama.... Memangnya Daniel tidak boleh lebih lama tinggal sama Papa? Aku mau sama Papa sampai Daniel bosan."


Ini sudah hampir seminggu dia tinggal dengan papanya dan masih ingin melanjutkannya? Sebenarnya Prita lebih bingung untuk menjawab pertanyaan Bayu. Dia pasti akan sedikit kecewa kalau mendengar anaknya tidak mau pulang.


"Sepertinya Daddy kangen Daniel." Prita berusaha mencari alasan.


"Mama.... Dean juga mau pulang sama Papa."


Satu anaknya lagi ikut-ikutan, keduanya mau tinggal dengan Ayash. Artinya Prita sia-sia menjemput mereka kalau maunya pulang dengan papanya.


"Ma, tolong ijinin ke Daddy, ya. Daniel masih mau tinggal di tempat Papa."


"Daddy kan sudah ada Mama yang temenin. Jadi, biar Daniel yang temenin Papa, ya?"


Prita sudah tidak bisa berkata apa-apa kalau itu kemauan anak-anaknya.


"Ya sudah, biarkan saja mereka ikut denganmu. Kalau kamu kerepotan, jangan lupa hubungi aku, ya. Aku akan menjemput mereka."


"Benar, tidak apa-apa?" Ayash memastikan.


Prita mengangguk.


"Dean, benar kamu mau tidur di rumah Papa? Nanti tidak apa mama jangan nangis, ya?"


"Dean tidak cengeng, Dean tidak akan menangis."


"Oke, awas ya kalau Dean menangis. Nanti Papa jewer."


"Kalau Papa yang nangis, Dean yang jewer Papa."


"Hahaha.... Memangnya untuk apa papa nangis? Kamu ada-ada saja."


"Kan Papa juga tidurnya tidak sama Mama. Kalau Papa nangis nanti Dean yang jewer."


Perkataan Dean itu lucu, tapi membuat kedua orang tuanya malah jadi kikuk.


"Em, Ta.... Kalau begitu, aku pulang dulu dengan anak-anak."


"Iya, hati-hati di jalan."


Ayash menyunggingkan senyum, "Salam untuk Livy."


"Iya."


"Daniel mau papa gendong juga?"


"Daniel mau jalan kaki sendiri."


"Oke."


Ayash menggendong Dean serta menggandeng tangan Daniel. Ia membawa kedua anaknya ke tempat ia memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Sementara, Prita melihat punggung ketiganya yang semakin menjauh.


__ADS_2