
Pagi itu Kota J digemparkan oleh berita penangkapan Tuan Saddam, salah seorang pengusaha ternama di kota itu, yang juga banyak memberikan pengaruh terhadap kemajuan kota. Namanya kini menghiasai headline berita baik di media cetak hingga media elektronik.
Pengusaha yang terkenal ramah dan dermawan itu, tidak disangka telah melakukan kejahatan besar dengan menjadi penimbun ganja. Sepertinya peredaran barang haram tersebut memang semuanya bersumber dari satu orang, yaitu Tuan Saddam.
Barra membaca-baca berkas-berkas yang sebelumnya Bayu serahkan padanya. Ia memegangi kepalanya sendiri, pusing. Orang yang mendanai gerakan separatis yang selalu ingin memisahkan diri dari negara ini ternyata adalah Tuan Saddam. Termasuk juga kasus-kasus pembunuhan para pengusaha dan pejabat yang masih misterius sampai sekarang, ternyata juga tak lepas dari peran Tuan Saddam dengan bantuan dari Tuan Samuel.
Namun, berita seperti itu cukup disimpan di pihak kepolisian, tidak perlu diketahui oleh masyarakat. Apalagi, ada banyak tokoh yang terlibat di dalamnya. Jika sampai data itu keluar, entah apa yang akan terjadi. Sepertinya akan terjadi gonjang ganjing di Kota J.
"Temanmu itu juga harus datang ke kantor polisi ya, supaya kita bisa meminta keterangan darinya juga." ucap Tuan Inu, ayah Bara.
"Apa dia tidak bisa dibebaskan dari semua tuduhan, Yah?"
"Tentu saja tidak bisa. Dia juga ikut terlibat dalam masalah ini, jadi tetap harus ikut menjalani proses penyidikan."
"Tapi dia sedang menunggui istrinya yang masih koma. Lagipula, dia sudah banyak memberikan bantuan kepada kita untuk mengusut masalah yang sejak dulu kita tangani. Apa dia tidak bisa dibebaskan karena itu?"
"Kalau untuk dibebaskan tidak bisa. Tapi, hal itu juga bisa meringankan hukumannya."
"Sebaiknya kamu nanti undang sendiri dia untuk datang, ya. Aku tidak ingin dia syok jika dijemput paksa oleh orang kepolisian. Kalau memang dia tidak terbukti bersalah, dia bisa bebas. Tapi, ayah yakin temanmu itu juga terlibat."
"Setidaknya itu yang bisa ayah lakukan sebagai tanda terima kasih padanya karena sudah mau jujur dan membongkar semua kasus besar yang ada di kota ini."
Bara termenung. Baru kali ini ia bisa merasa kagum kepada seorang penjahat bahkan menganggapnya sebagai teman. Bayu, dia pasti sudah memperkirakan jika semua ini akan terjadi. Keputusannya untuk memberitahuan segala kejahatan yang dilakukan Tuan Saddam dan ayahnya sendiri kepada polisi akan berdampak pada dirinya. Mau tidak mau Bayu harus ikut mempertanggung jawabkan perbuatannya di masa lalu.
"Yah, bagaimana dengan Tuan Saddam?"
"Ah, aku rasa dia akan mendapatkan hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati. Kejahatannya sudah sangat besar dan tak bisa diampuni lagi. Menimbun dua ton ganja saja sudah kejahatan besar, apalagi dia juga menyuruh orang untuk menghabisi nyawa orang lain. Itu namanya pembunuhan berencana dan dia sebagai otak kejahatannya. Hukuman apapun di dunia ini ayah rasa tidak cukup untuk menebus kesalahannya."
"Kenapa kamu masih peduli kepada Tuan Saddam? Apa karena putrinya?"
Tidak bisa dipungkiri, Bara memang mengkhawatirkan Valerie. Wanita itu sama selali tidak tahu seperti apa ayahnya. Yang ada dalam kenangannya, pasti hanya ada kebaikan seorang ayah terhadap putrinya. Kecuali tentang sikap ayahnya yang selalu ikut campur dengan kedekatan Valerie bersama teman lelakinya. Mungkin itu yang akan Valerie tidak suka dari ayahnya.
"Bukannya dulu kamu sangat membencinya"
"Katanya, karena dia ayah harus pindah ke daerah pelosok."
__ADS_1
"Hahaha.... Iya, Yah. Dulu aku memang kekanakkan. Dulu aku sangat membenci Tuan Saddam."
"Tapi, setelah dipikir-pikir, aku jadi seperti sekarang juga berkat Tuan Saddam. Dia yang menyulitkan jalanku menjadi seorang polisi, menyulitkan karir ayah dengan memutasi ke daerah pelosok."
"Ayah bisa sabar bertugas di tempat baru, tetap berdedikasi menjalankan tugas dengan baik, hingga akhirnya bisa kembali lagi ke kota ini. Artinya, ayah memang seorang polisi yang tangguh. Dimanapun ayah bertugas, siapapun yang berusaha menjatuhkan, ayah bisa kembali bangkit. Aku bangga dengan ayah."
"Karena itu, saat aku juga harus menjalani pendidikan yang berat sebagai seorang polisi, melaksanakan tugas di daerah yang sulit terjangkau peradaban, aku tetap bertahan karena jika ayah bisa, aku juga pasti bisa. Tuan Saddam yang membuat aku sekuat sekarang."
Inu menepuk pundak anaknya, ia bangga dengan Bara. "Tetaplah menjadi polisi yang berdedikasi pada tugas dan jabatanmu, anakku."
"Ayah, lalu bagaimana dengan Bapak Irjen Pol. Hanung?"
Inu menghela nafas, Hanung adalah atasannya. Namun, namanya ikut tercatut dalam kasus yang dilakukan oleh Tuan Saddam.
"Ayah rasa dia akan dicopot dari jabatannya."
"Apa ayah sudah membahas tentang kasusnya?"
"Belum. Tentu saja ayah perlu melaporkannya ke lembaga yang lebih tinggi. Dokumen-dokumen mengenai dirinya juga masih ayah kumpulkan agar tidak bocor."
"Kenapa ayah kelihatan sedih? Seharusnya ayah senang, karena sepertinya ayah akan naik jabatan menggantikan Beliau. Hahaha.... "
"Ayqh sedih karena ada rekan polisi yang seharusnya mengayomi masyarakatnya tapi justru mengkhianati kepercayaan mereka. Itu saja yang aku sesalkan dari Tuan Hanung."
"Aku dengar anaknya juga langsung menduduki jabatan cukup tinggi, kan? Padahal dia baru selesai pendidikan. Ini juga akan menjadi bahan pembicaraan jika sampai berita tentang ayahnya keluar."
"Itu sudah resikonya."
"Kalau aku, dulu, kenapa ayah tidak membantuku mendapatkan jabatan yang bagus di kepolisian?"
"Karena kamu bisa mendapatkannya sendiri, untuk apa ayah membantumu?"
"Hah.... Tugasku lebih banyak di daerah, aku sampai bosan."
"Bukannya lebih baik kamu tugas di sana, ya? Daripada di sini, kerjaanmu hanya kebut-kebutan dan melanggar aturan lalu lintas. Memalukan." Inu menggeleng-gelengkan kepalanya, mengingat laporan dari anak buahnya jika mobil miliknya digunakan oleh Bara untuk kebut-kebutan di jalan raya.
__ADS_1
Bara menelan ludahnya sendiri, akhirnya sang ayah membahas tentang mobil itu. Ya, mobil yang Bara bawa kena tilang. Mobil itu masih atas nama ayahnya, sehingga ayahnya juga kena.
"Yah, bukan aku yang mengemudi. Itu ulah Bayu, dia yang mengebut dan menerobos lampu merah." Bara mencoba berkilah.
"Tapi dari rekaman CCTV kamu duduk di sebelahnya. Kamu kan polisi, masa membiarkan temanmu melanggar rambu lalu lintas? Kalau terjadi kecelakaan bagaimana?"
"Kamu seharusnya yang lebih bersalah karena kamu polisi."
Bara bingung ingin memberikan penjelasan apa. "Dia mengebut juga terpaksa, Yah. Dia datang untuk menyelamatkan istrinya."
"Masa demi menyelamatkan orang mengabaikan keselamatan orang lain?"
Ucapan ayahnya memang masuk akal. Bara tidak bisa membantahnya.
"Namanya juga sayang istri, Yah. Kalau Ibu di posisi seperti itu juga ayah pasti akan melanggar juga."
"Kalau ayah lebih baik menggunakan mobil polisi lalu membunyikan sirinenya dengan kencang agar lebih cepat sampai ke lokasi ibumu. Tidak melanggar hukum, kan?"
"Hahaha.... " Bara tertawa dengan lawakan ayahnya. "Itu artinya memakai fasilitas negara demi kepentingan pribadi ya, Yah?"
"Siapa bilang untuk kepentingan pribadi? Ibumu kan juga warga sipil, jadi jika ayah menggunakan mobil polisi untuk menyelamatkan ibumu, sama artinya aku menggunakan fasilitas negara untuk menyelamatkan warga sipil."
Ayah Bara benar-benar cerdas, Bara sudah tidak bisa lagi membalas kata-katanya. "Seharunya Bayu menjadi seorang polisi seperti ayahku daripada jadi pengusaha."
"Terus, kamu mau kembali ke luar pulau kapan?"
"Apa ayah sudah bosan melihatku?"
"Tidak, ibumu juga pasti sangat senang kamu pulang ke rumah. Tapi, bukankah tugasmu masih tiga bulan di sana?"
"Iya, Yah. Tugasku masih tiga bulan. Tapi, kasus Tuan Saddam juga ada kaitannya dengan penyelidikanku di sana. Jadi, ini namanya bekerja sembari pulang kampung."
"Terima kasih ayah sudah percaya dan mau membantuku."
Bara tersenyum kepada ayahnya. Awalnya, saat Bara memberitahu jima di gudang milik Tuan Saddam terdapat timbunan ganja, ayahnya tidak percaya. Inu bisa kehilangan jabatannya dalam sekejap jika melakukan hal yang salah. Tapi, yang memberikan informasi itu adalah anaknya, Inu yakin jika Bara pasti memberikan informasi yang tepat. Ternyata apa yang dicurigakan benar adanya, Inu menemukan dua ton ganja yang masih tersimpan rapi dalam kayu-kayu gelomdongan di gudang pabrik milik Tuan Saddam.
__ADS_1
*****
Terima kasih votenya ya 😊