ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Gosip di Kantor


__ADS_3

Ada kalanya kita tidak bisa menghapuskan nama seseorang di dalam hati kita. Bukan karena ingin kembali lagi padanya, tapi lebih pada dia yang telah mengisi salah satu ruang di hati dan tidak akan bisa terganti.


 


"Maaf, Nona Shuwan.... Tapi Pak Bayu sudah melarang Anda memasuki kantor ini. Tolong kerjasamanya."


Seorang resepsionis kukuh melarang Shuwan tetap yang memaksa ingin bertemu Bayu. Dua orang security juga ikut menghalanginya.


Shuwan mengelus-elus perutnya yang baru sedikit membuncit. Ia mengharapkan rasa empati dari orang-orang di sekitarnya.


"Saya hanya ingin bertemu dengan ayah dari anak ini. Apa kalian tidak kasihan padaku? Aku sedang hamil muda dan kalian memperlakukanku seperti ini." Shuwan memasang wajah memelas. Matanya tampak berkaca-kaca. Siapapun yang melihat, pasti akan kasihan.


"Maaf Nona Shu, kami hanya menjalankan tugas dari Pak Bayu."


Shuwan sedang ada masalah dengan Moreno. Tidak ada orang lain lagi yang bisa ia mintai tolong selain Bayu. Apalagi ayahnya saat ini masih menjadi buronan polisi dan ternyata semua kekayaan ayahnya dikelola oleh asisten pribadinya. Shuwan tak bisa menikmati fasilitas dari orangtuanya. Sementara, kehamilannya lambat laun akan semakin terlihat, orang akan mulai membicarakannya kalau dia tidak punya suami.


"Ada apa, ini?"


"Eh, Ibu Kirana."


Salah seorang staff HRD mendekat karena melihat ada ribut-ribut di bagian resepsionis.


"Nona Shu, kan?" tanyanya.


Shuwan mengangguk.


"Ada perlu apa datang ke kantor?"


"Saya ingin menemui Bayu, tapi mereka menghalangi. Katanya saya tidak boleh menginjakkan kaki di sini?"


"Kenapa begitu?" Kirana menatap pada resepsionis wanita dan kedua satpam itu. "Nona Shu ini kan pacarnya Pak Bayu, kenapa tidak boleh bertemu dengan Beliau?"


"Ini perintah langsung dari Pak Bayu." kilah si resepsionis itu.


"Bu Kirana.... Tolong saya agar bisa bertemu dengan Pak Bayu." Shuwan meraih tangan Kirana seraya memohon.


"Sudah beberapa bulan ini saya kesulitan menghubungi Bayu gara-gara wanita itu."


"Maksudmu janda yang pernah datang beberapa ke kantor ini, ya?"


"Benar." jawab Shuwan.


Semakin banyak karyawan yang datang ke sana hanya ingin tahu apa yang sedang terjadi. Mereka mulai berbisik-bisik menggosipkan skandal yang menimpa bosnya. Selama ini, mereka memang sudah sering memperbincangkan tentang hubungan Shuwan dengan Pak Bayu dan kedatangan wanita lain yang ternyata sudah janda.


Menurut isu yang berkembang di kantor, Nona Shuwan diselingkuhi karena Pak Bayu lebih memilih janda daripada Shuwan. Makanya setiap Prita datang, mereka menatapnya dengan jijik seperti melihat kedatangan seorang pelakor yang menghancurkan hubungan orang lain.


"Saya sedang hamil. Dan ini anak Bayu."

__ADS_1


Mereka yang ada di sana sangat kaget mendengar pengakuan wanita itu. Bosnya menghamili pacarnya tapi ditinggalkan demi seorang janda? Itu sungguh sebuah berita yang sangat menggemparkan. Bos yang selama ini mereka kagumi dan terlihat tidak tertarik kepada wanita, ternyata suka main perempuanm Dan lebih parahnya, pacanya hamil tapi tidak mau bertanggung jawab.


"Benar-benar keterlaluan juga Pak Bayu." gumam Kirana tidak percaya.


"Tolong ijinkan aku bertemu dengannya. Sepertinya ponsel Bayu dikuasai oleh wanita itu. Saya hanya ingin menyampaikan kalau saat ini sedang mengandung anaknya."


Semua jadi merasa kasihan kepada Shuwan. Dia memang beberapa kali datang ke perusahaan, namun Pak Bayu tidak mau menerimannya. Padahal wanita itu sedang hamil dan ingin memberitahunya.


"Pak satpam, ijinkan saja dia masuk." pinta Kirana.


"Saya tidak berani, Bu. Apapun alasannya, Pak Bayu tidak menginginkan Nona Shuwan masuk."


"Kalian ini memang tidak bisa membayangkan apa rasanya punya saudara perempuan yang hamil di luar nikah, Nona Shu ini pasti bingung, biarlah dia menemui Pak Bayu untuk menyelesaikan masalah mereka!"


Shuwan terharu di antara mereka ada yang membelanya seperti Kirana. Ada juga karyawan lain yang mendukungnya dengan memberi semangat. Mereka juga ikut mendesak agar security tidak menghalangi Shuwan bertemu Bayu.


Biasanya juga Shuwan diperbolehkan menemui Bayu kapan saja. Mungkin kali ini hanya salah paham sehingga ia tidak boleh masuk. Mungkin juga pengaruh dari wanita baru Pak Bayu yang tidak mengijinkan Shuwan bertemu dengan Pak Bayu lagi. Kasihan, kondisinya Shuwan sedang hamil.


"Kami tetap tidak berani membantah Pak Bayu, Bu."


Pihak security dan front office memang mendapat mandat langsung dari Bayu agar mencegah Shuwan masuk ke kantornya. Kalau bisa, sebelum dia menapaki lobi, mereka harus bisa mengusirnya, apapun alasannya. Kalau mereka tidak bisa menjalankan tugas, Bayu mengancam akan memecat mereka semua.


Maka dari itu, terlepas dari kondisi Shuwan yang sedang hamil, mereka tetap tidak berani membantah Bayu. Mereka juga memiliki keluarga yang harus dijaga dan dicukupi kebutuhannya. Mungkin terkesan egois, tapi mencari pekerjaan lain saat ini sangat sulit. Apalagi Pak Bayu tipe atasan yang tidak akan berpikir dua kali untuk memberhentikan karyawannya.


Kirana kesal sekali dengan mereka yang tidak berperasaan. Karyawan lain juga berpikir hal yabg sama, security dan resepsionis sudah kelewatan.


"Kalian tidak perlu mencegahku, aku sendiri yang akan bertanggung jawab jika nanti Pak Bayu marah. Aku akan bilang, aku yang mengijinkan Nona Shuwan masuk!"


Karyawan yang ada di sana memuji tindakan Kirana. Mereka salut dengan keberaniannya. Sebagai sesama wanita, mereka memang harus saling mendukung.


Kirana menggandeng tangan Shuwan, ia menyingkirkan kedua security itu agar tak menghalangi jalannya. Kirana membawa Shuwan ke lantai atas.


"Selamat siang, Pak."


Bayu tersentak kaget ketika sedang memeriksa dokumen ditemani Alex dan Fredi. Apalagi melihat Shuwan digandeng oleh Kirana, salah satu karyawannya.


Saat ini dia sedang benar-benar sibuk, kenapa malah ada Shuwan datang? Ia bahkan tidak sempat pulang ke rumah untuk makan siang karena pekerjaannya cukup banyak.


Melihat Shuwan datang, bagaikan melihat segunung masalah yang akan dihadapinya.


"Kirana.... berani-beraninya kamu lancang datang kemari tanpa aku minta!"


"Dan.... Kenapa kamu mengajak wanita itu!?"


"Maafkan atas kelancangan saya, Pak. Tapi, sebagai sesama wanita, saya tidak tega membiarkan Nona Shuwan terkatung-katung di bawah."


"Nona Shuwan sedang hamil, seharusnya Pak Bayu bertanggung jawab untuk mencontohkan kepada karyawan yang lain tindakan yang baik ssetelah melakukan kesalahan."

__ADS_1


Bayu mengepalkan tangannya. Gigi-giginya dieratkan saking marahnya. Pasti wanita itu sudah membuat cerita yang tidak-tidak di kantor. Shuwan sudah ia peringatkan tapi tidak mau mendengarkannya. Berani-beraninya dia mengusik Bayu Bagaskara dengan cerita murahan seperti itu.


"Anda mungkin sedang mencintai wanita lain yang katanya janda beranak tiga itu. Saya juga bisa melihat Anda bisa menyayangi anak-anaknya dengan tulus."


"Tapi, apa Bapak tega menelantarkan calon anak sendiri demi menyenangkan anak orang lain?"


"Saya hanya mengatakannya karena merasa empati sebagai sesama wanita. Maaf, kali ini saya tidak profesional."


"Permisi."


Kirana meninggalkan Shuwan di ruangan Bayu agar mereka bisa menyelesaikan masalahnya berdua. Rasanya puas bisa mengutarakan apa yang asa di hatinya.


Brak!


Bayu menggebrak meja dengan sangat kuat, mengagetkan Alex, Fredi, dan juga Shuwan.


"Puas sekarang kamu? Puas!" kata Bayu dengan nada suara tinggi.


"Jangan begitu, kamu mengagetkan anak kita yang ada di perut ini."


Shuwan memamerkan perutnya yang buncit sedikit kepada Bayu. Tatapan matanya terlihat lugu, tapi itu yang paling Bayu benci. Wanita itu lebih berbahaya daripada Karla. Sepertinya dia tidak bisa diberitahu dengan cara yang baik. Padahal kasus ayahnya sebarusnya sudah menjadi suatu pelajaran berharga baginya. Orang tua itu sudah tidak pernah berani lagi menampakkan batang hidungnya karena menjadi seorang buronan polisi.


"Shuwan, aku sudah berbaik hati masih mempertahankanmu sebagai GM di Holly Hotel, ya. Apa itu masih kurang?" Bayu mencoba sedikit bersabar.


"Ini bukan tentang materi, tapi kasihan kalau anak ini tidak kamu akui."


Bayu ingin tertawa mendengar permintaannya agar dia mengakui anak itu. Sudah jelas-jelas dia bukan anaknya, kenapa dia masih mengharapkan pengakuannya? Dia benar-benar sedang mencari masalah dengannya.


"Itu wanita yang dulu Tuan Bayu pernah suruh untuk menyelidiki?" Fredi bertanya dengan nada berbisik-bisik pada Alex.


"Iya, Kak."


"Bukannya sudah jelas kalau dia pacaran dengan atlet panahan itu?"


"Iya."


"Terus, kenapa minta pertanggung jawaban Tuan Bayu?"


"Aku juga tidak tahu. Mungkin mereka sempat tidur bareng."


"Oh.... " Fredi mangguk-mangguk. "Apa menurutmu itu beneran anak Tuan Bayu?"


"Aku tidak bisa memastikannya."


"Tapi, aku lebih percaya kalau Nona Shu sedang akting saja. Menurutku dia tidak sedang hamil. Aku rasa dia hanya sedang sembelit saja makanya perutnya agak buncit."


"Dia itu memang tukang akting."

__ADS_1


Fredi kembali mangguk-mangguk dengan penjelasan dari Alex.


__ADS_2