
Prita bersandar pada dada bidang suaminya. Perutnya yang membuncit itu diusap-usap oleh Bayu sebelum waktu tidur. Sepertinya hal itu menjadi ritual wajib yang harus dilakukan setiap malam.
Usia kandungannya sudah mencapai tiga puluh minggu, hampir mendekati bulan kedelapan kehamilan. Hal yang paling menyenangkan untuk Bayu, ketika ia bisa merasakan pergerakan makhluk kecil di dalam perut istrinya. Seolah kehamilan adalah suatu keajaiban. Bayu benar-benar menikmati pengalamannya sebagai seorang ayah.
"Lihat ini.... Tendangannya terasa sekali." ujarnya ketika tangannya tepat meraba bagian yang ditendang si calon bayi.
"Apa kamu merasa kesakitan? Sepertinya dia sangat kuat menendangnya."
"Tidak, tapi kadang kalau sedang tidur dan dia menendang, jadi membuatku terbangun."
"Hm, jangan kuat-kuat nendangnya, Boy. Kasihan mamamu." ucap Bayu sembari terus mengelus perut istrinya.
"Dia ini bayi yang paling baik. Aku tidak merasakan mual dan muntah sama sekali sejak awal kehamilan."
"Benar juga. Katanya kalau orang hamil suka ngidam, minta yang aneh-aneh. Tapi kamu tidak begitu ya, Sayang. Padahal aku juga mau sekali-kali mendengar permintaan aneh darimu."
Wajah Prita langsung memerah, ia tersipu malu. Dipandanginya sang suami sambil tersenyum-senyum aneh, membuat Bayu menjadi penasaran.
"Kok senyum-senyum begitu?"
"Sebenarnya aku pernah ngidam.... " ucapnya.
Bayu mengernyitkan dahi. Ia merasa tidak pernah melihat istrinya ngidam. Ia tak pernah disuruh mencari sesuatu makanan yang susah dicari atau tiba-tiba Prita menginginkan sesuatu saat tengah malam. Prita bahkan tidak seperti orang hamil saat awal-awal kehamilannya. Sekarang saja, ukuran tubuh Prita masih sama, hanya perutnya saja yang membesar. Dan juga payu*daranya tentunya.
"Kapan.... ?"
"Ngidamku beda, Mas.... " Prita masih berbicara sambil tersenyum-senyum.
"Apasih?" Bayu semakin penasaran.
Prita membalikkan badannya. Ia menaiki paha suaminya meminta dipangku lalu memeluknya. Ia cium aroma tubuh dari lelaki yang selalu membuatnya seakan merasa kecanduan. Bayu sendiri bingung dengan apa yang dilakukan istrinya sendiri.
"Ngidamku ingin disayang suami seperti ini, Mas.... " ucap Prita sembari menyembunyikan wajah pada dada suaminya.
"Oh, jadi ngidammu seperti ini, ya?" Bayu turut memeluk punggung istrinya.
"Iya. Beda, kan.... ?"
__ADS_1
"Kalau ini sih, ngidam yang membuat aku senang. Bayi ini memang jagoan, paling tahu kesukaan ayahnya."
"Kenapa tidak dari dulu seperti ini sih, Sayang. Sampai aku harus bersusah payah untuk meluluhkanmu." Bayu menciumi gemas pipi istrinya.
"Mas.... Nanti anak kita mau diberi nama siapa?"
"Mmm.... Siapa, ya? Aku juga belum memikirkannya. Kamu ada ide?"
"Ada. Aku mau anak kita nanti dinamai Dylan. Supaya mirip dengan kakak-kakaknya. Bagaimana menurutmu, Mas?"
"Dylan, ya.... Dylan Bagaskara.... Bagus juga." gumam Bayu. "Siapapun namanya, yang penting dia bisa terlahir dengan sehat aku sudah bersyukur."
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu sudah mau mengandung anakku." Bayu mengecup puncak kepala Prita.
Menikah dengan Prita adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Sementara, bisa memiliki anak dari Prita adalah bonus.
"Mas, kalau kamu ingin bermesraan denganku, tolong katakan dengan jujur padaku, ya. Jangan ditahan sendiri. Jangan juga menggunakan kehamilanku sebagai alasan untuk tidak tega melakukaannya."
"Aku juga akan bilang kalau merasa tidak nyaman saat berhubungan. Aku tau kondisi tubuhku sendiri, Mas. Meskipun sedang hamil, aku masih bisa melayanimu."
Perkataan Prita memang terdengar cukup vulgar. Namun, ia terpaksa harus mengatakannya dengan lugas, mengingat seorang lelaki itu memiliki nilai kepekaan yang rendah jika tidak dijelaskan secara gamblang. Semenjak hamil, Bayu tidak pernah berinisiatif meminta hal itu kepadanya. Jika bukan Prita yang menggodanya, mungkin selama hamil mereka tidak akan berhubungan. Sungguh aneh bagi seorang istri yang memiliki suami cukup agresif dan aktif, tiba-tiba menjadi pasif hanya karena dirinya hamil. Bahkan, beberapa kali Prita mendapati suaminya bermain sendiri di dalam kamar mandi.
Kalau istrinya sudah merayunya, terkadang ia juga tidak bisa mengelak. Tentu saja ia tidak bisa mengelak. Namun, tetap saja ia melakukannya dengan hati-hati, jangan sampai membahayakan kandungan Prita.
"Mas.... Kamu jangan sampai mencari wanita lain di luar sana, ya.... "
Bayu terkejut, "Sayang, kok kamu sampai berpikir seperti itu?" ia melepaskan pelukan istrinya, menatap matanya dengan sungguh-sungguh.
Prita melayangkan tatapan penuh harap dengan mode memanja, "Aku akan sangat sedih kalau kamu mencari kepuasan di luar sana."
"Sayang, aku tidak akan seperti itu.... Mana mungkin aku seperti itu. Oh, Ya Tuhan.... Sayang, kamu percaya, ya! Aku keluar rumah hanya untuk bekerja. Bahkan aku sudah tidak pernah dekat-dekat lagi dengan wanita manapun. Kalau ada yang sekiranya mau menggoda, sudah Alex singkirkan lebih dulu."
Bayu seperti kalang kabut untuk meyakinkan istrinya. Dia baru tahu kalau istrinya ternyata khawatir ia akan memiliki hubungan dengan wanita di luaran sana. Hal itu membuatnya bingung sekaligus senang. Ternyata Prita memang benar-benar mencintainya. Dia bisa memiliki rasa cemburu juga terhadapnya.
"Terus, kenapa tidak pernah minta itu lagi? Biasanya kan juga mau setiap hari." Prita memanyunkan bibirnya.
"Aku hanya mengkhawatirkan kondisimu saja, Sayang. Aku lebih baik menunggu sampai dia lahir daripada harus membahagiakan kalian berdua."
__ADS_1
"Tapi, ini kan tidak bahaya."
"Iya, Sayang.... Tetap saja aku khawatir."
"Janji ya, jangan sembarangan main-main di luar!"
"Oh, Ya Tuhan.... Sayang, aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi. Wanita di dunia ini yang bisa aku lihat itu hanya kamu, yang lainnya seperti makhluk astral. Aku tidak peduli dengan mereka."
"Aku khawatir itu hanya kata-kata manismu saja. Nanti lain di rumah lain di luar."
Bayu mencubit kedua pipi Prita dengan gemas. Wanita itu kenapa jadi sangat ngeyel dan tidak memercayai perkataannya.
"Baiklah, mulai besok aku akan standby di rumah, menjaga nyonya cantik yang sedang hamil ini, ya!"
"Aku akan ngantor dari rumah supaya kamu percaya."
"Kamu juga boleh mengecek isi ponselku, riwayat pesan dan panggilan yang masuk. Bahkan aku tidak menyimpan nomor pribadi client-ku. Semua urusan bisnis dipegang oleh Alex. Kalau ada meeting dengan kolega wanita, tentunya aku tidak datang sendiri, tapi ditemani Fredi."
"Bisa juga Alex dan Fredi sekongkol denganmu, Mas. Kamu kan bosnya."
Bayu mendengus kasar, "Apa ini bagian dari ngidam? Orang hamil bisa sangat cemburuan begini, ya?"
"Habisnya sekarang Mas kurang mesra.... "
"Aduh, kalau tahu begini aku tidak akan absen mengajakmu olahraga setiap malam, Sayang. Perut besarmu ini loh, yang membuat suamimu ini khawatir. Kasihan dia kalau diganggu terus setiap malam. Nanti dia bisa marah dan menendangimu."
"Justru dia marah karena daddy-nya jarang menjenguk!" ucap Prita kesal.
"Hahaha.... Yang marah baby-nya atau mamanya, sih?"
"Tuh kan, malah dibercandai.... " Prita jadi semakin kesal. Perasaannya jadi sensitif dan gampang ngambek.
"Iya, Sayang.... Maaf, ya. Mulai besok aku akan lebih perhatian lagi supaya kamu tidak marah-marah begini."
"Siapa yang marah?"
"Ah, Hm, tidak.... Maksudku, jangan ngambek lagi."
__ADS_1
"Perasaan tidak ada yang ngambek."
Bayu menggaruk-garuk kepalanya. Perasaan malan ini apapun yang ia katakan tetap akan salah di depan Prita.