
"Ma, boleh minta waktunya sebentar? Aku mau bicara."
Prita menghampiri Maya yang sedang duduk bersantai menikmati teh di ruang tengah lantai atas.
"Duduk, Ta. Mau membahas apa?"
"Apa benar tadi di sekolah Mama bilang Daniel anak adopsi di depan teman Mama?"
Maya mengurungkan niat meminum tehnya. Ia kaget Prita menanyakan hal itu.
"Kalau Mama heran aku tahu dari mana, Daniel yang cerita semua."
Maya tidak menyangka kalau Daniel akan paham dengan percakapan yang ia lakukan dengan temannya.
"Daniel memang belum terlalu mengerti bahasa orang dewasa. Tapi dia akan bertanya kalau mendengar kosa kata baru yang ingin ia tahu."
"Daniel bilang Mama mengatakan kalau dia anak yang Ayash adopsi dari Singapura."
Maya menghela nafas, "Maksud Mama bukan begitu, Ta. Kamu jangan salah paham."
"Mama segitu nggak suka ya, dengan kehadiran Daniel?" Mata Prita berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak dan hatinya terasa sakit.
"Tuh kan, kamu sampai salah paham."
"Ada apa ini?"
Ayash yang baru pulang kerja dan sama-samar mendengar percakapan istri dan ibunya langsung menghampiri mereka. Dilihatnya Prita yang sudah mulai meneteskan air mata.
"Kenapa, Ma?"
"Ini loh, Prita salah paham dengan Mama."
"Mama kan tadi bertemu teman mama di depan sekolahan Daniel dan Dean. Dia tanya, kenapa Daniel itu seperti bule, tidak mirip denganmu. Jadi mama bilang kalau dia anak yang kamu adopsi dari Singapura."
"Mama.... "
"Tapi maksud mama bukan karena tidak menganggap Daniel sebagai cucu mama, mama tetap sayang semua cucu-cucu mama. Mama hanya ingin supaya percakapan kami cepat berakhir. Jadi kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut mama."
Prita yang sudah tidak tahan berlari ke kamar meninggalkan Maya dan Ayash.
__ADS_1
"Ma, itu sudah keterlaluan."
"Tapi mama tidak bermaksud seperti itu."
"Mama juga tidak tahu kalau Daniel mendengarkan apa yang kami bicarakan. Mama kira Daniel tidak akan oaham dengan percakapan kami karena dia masih kecil seperti Dean."
Ayash memijat kepalanya, "Mama tidak kasihan dengan Daniel, Mama perlakukan seperti ini terus?"
"Mama janji ini terakhir kali terjadi. Mama juga nggak mau menjemput mereka lagi. Biarkan sopir atau bodyguard saja yang jemput supaya mama tidak berbicara sembarangan."
"Sepertinya aku akan membawa Prita dan anak-anak pindah ke apartemen. Prita tidak akan nyaman kalau Mama seperti ini."
"Ayash! Mama bilang kan tidak sengaja. Kamu tega ninggalin mama kesepian di sini?"
"Ma, aku sudah memiliki keluargaku sendiri yang harus aku lindungi. Kalau mama termasuk orang yang menyakiti anak atau istriku, maka aku akan melindungi mereka dari mama."
"Ayash!"
Maya geram. Ayash bersikap tidak sopan di hadapannya. Dia pergi meninggalkan ibunya begitu saja setelah membuatnya marah.
Ayash membuka pintu kamarnya. Sepi. Ia tak melihat Prita ada di sana.
"Prita.... "
Terdengar suara air shower menyala dari arah kamar mandi. Ayash mendekati arah kamar mandi karena kemungkinan Prita ada di dalam.
"Prita!"
Ayash melihat Prita sedang menangis sesenggukan di bawah guyuran shower. Pakaian yang dikenakannya masih lengkap. Segera ia dekap tubuh Prita seraya mematikan kucuran shower. Prita menangis sejadi-jadinya. Selama pernikahan, baru kali sekarang Prita serapuh ini. Apa menikah dengannya begitu menyakitkan sampai ia terlihat sangat depresi.
"I'm sorry.... " ucap Ayash.
Ayash memandangi wajah Prita yang tampak sendu. Diusapnya air mata yang mengalir bercampur dengan tetesan air. Ia bisa melihat luka dalam diri Prita lewat ekspresi wajahnya.
"Kamu harus mengeringkan tubuhmu supaya tidak masuk angin."
Prita mematung di tempatnya. Ayash membantu melepaskan pakaiannya. Prita tetap diam walaupun seluruh pakaiannya yang basah telah dilepaskan. Ayash memakaian handuk kimono untuk menutupi tubuh polos Prita. Tak lupa dia juga melepaskan semua pakaiannya sendiri yang ikut basah dan menggantinya dengan handuk kimono.
Prita masih diam. Ayash mengangkatnya ala-ala princess, membawa istrinya yang masih sedih itu masuk kembali ke dalam kamar. Dengan telaten Ayash mengeringkan rambut Prita menggunakan hair dryer. Ayash paham, mengajak bicara Prita saat ini hanyalah hal yang sia-sia. Dia memilih diam, menunjukkan bentuk kasih sayangnya lewat perbuatan, bukan kata-kata.
__ADS_1
Selesai mengeringkan rambut dan menyisirnya dengan rapi, Ayash merebahkan Prita di ranjang. Dia usap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Kalau kamu sedang merasa sedih, tolong bagikan kesedihanmu denganku. Jangan kamu pendam sendiri. Kamu harus ingat, aku adalah suamimu yang siap berbagi suka duka denganmu."
Air mata Prita kembali meleleh. Hari ini dia menjadi sangat melankolis. Saat Livy terluka, dia menangis. Saat mendengar Daniel disebut anak adopsi, dia juga menangis. Hanya tangisan yang bisa mengekspresikan perasaannya.
Prita memang tipe wanita yang lebih suka memendam perasaan. Dia tak pernah menceritakan jika selama ini sebenarnya hidupnya sangat tertekan, terutama karena Mama Maya yang selalu mempermasalahkan Daniel. Ayash pasti juga tidak menyadari itu. Dia pasti akan mengira istrinya selama ini baik-baik saja karena selalu memasang senyum di depannya. Kalau disuruh cerita, pasti yang diceritakan hanya hal-hal lucu dan menyenangkan, bukan tentang kesedihannya ataupun kerepotannya mengurusi tiga balita. Prita tak pernah sekalipun mengeluh.
"Kamu sedih?"
Prita mengangguk, ia hanya bisa mengangguk. Air matanya terus mengalir memandangi suaminya yang tampak khawatir itu.
"Apa hatimu terasa sakit?"
Prita kembali mengangguk dengan isakan tangis yang mulai terdengar.
"Karena Mama, ya?"
Prita tak kuasa lagi menahan tangisannya. Ia menangis tersedu-sedu sambil menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Aku tidak terima Mama mengatakan Daniel anak adopsi. Dia anak kandungku, aku yang telah mengandung dan melahirkannya."
Ayash lega, Prita sudah mau berbicara. Hal paling menyeramkan bagi laki-laki adalah ketika wanita sedang marah tapi diam. Itu artinya rasa sakit hatinya sangat besar. Ketika wanita mulai mengungkapkan hal-hal yang membuatnya sedih dan sakit, artinya dia mau dimengerti dan mau memaafkan.
"Iya.... Aku minta maaf karena tidak bisa menghindarkanmu untuk tidak mendengarkan hal-hal menyakitkan seperti itu."
"Daniel tidak bersalah. Tidak ada orang yang boleh berkata buruk tentangnya."
"Tentu saja."
"Daniel mungkin sekarang masih kecil, belum paham ada orang yang tidak menyukainya. Tapi lambat laun dia akan semakin mengerti. Pasti dia akan bertanya-tanya, kenapa dia diperlakukan berbeda."
"Aku akan berusaha agar hal itu tidak terjadi. Aku akan berusaha menyayangi Daniel sebanyak-banyaknya sampai dia tidak peduli lagi dengan omongan orang."
"Kamu jangan bersedih lagi. Mulai besok, kita akan tinggal di apartemen."
Prita menatap intens Ayash. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan. Sebenarnya itu sangat sesuai dengan keinginannya.
"Aku rasa kamu akan lebih tenang jika tinggal jauh dari Mama. Jadi, aku akan membawa kalian pindah ke apartemen. Jangan menangis lagi."
__ADS_1