
Suasana di ruangan Daniel hening. Prita dan Bayu sama-sama terdiam sambil berdiri di dekat kaca jendela yang menampilkan pemandangan kota. Keduanya terlihat canggung. Terlebih Prita yang tanpa sadar bisa menangis tersedu-sedu di hadapan Bayu.
Kamar yang Daniel tempati merupakan kamar perawatan tipe tertinggi di Citra International Hospital (CIH). Kamar President Suite seluas 75 meter persegi itu di dipatok dengan harga 3,5 juta per malam. Dalam kamar perawatan eksklusif itu tersedia furniture modern, tempat tidur pasien elektrik, sofa-bed penunggu pasien, ruang keluarga luas untuk tamu dan keluarga, tv 40 inch, ruang makan, ruang dapur, microwave, kulkas 2 pintu, dan dispenser.
Tak hanya itu, diruang perawatan yang dihuni Daniel juga disediakan sekat fleksibel untuk mengoptimalkan privasi dan untuk kumpul bersama keluarga. Bahkan kamar tidur pribadi untuk penunggu dengan lemari dan ranjang keluarga juga ada. 2 buah kamar mandi dengan air panas pun disediakan untuk pasien dan penunggunya.
Prita dan Ayash setiap hari menginap di sana bersama Livy dan Dean juga. Sementara, Pak Agus dan Leta bolak-balik antara apartemen dan rumah sakit. Tugas mereka membawakan perlengkapan yang Prita butuhkan di rumah sakit.
Seperti siang ini, Livy diajak Leta pulang ke apartemen untuk mengambil baju-baju. Sehingga Prita menunggu Daniel sendirian di rumah sakit.
"Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri. Ada banyak orang yang akan mau membantumu saat kamu mau bicara. Tidak semua masalah harus kamu selesaikan sendiri."
Bayu mulai mengajak Prita berbicara setelah tangisan wanita itu mereda. Ia juga masih kaget kalau Prita akan menangis di depannya. Ia terkejut saat Prita menahan tangannya.
"Kenangan antara kita dulu mungkin membuatmu tidak nyaman denganku. Aku tahu dulu caraku salah. Dan saat ini aku sedang berusaha menjadi orang yang lebih baik."
"Jujur memang sampai saat ini aku masih tetap mencintaimu. Aku tidak akan memungkiri hal itu. Mati-matian aku menahan diri untuk tidak mengganggumu lagi walaupun kadang tidak tahan juga untuk menyentuhmu."
"Ya, aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku tidak akan mengganggu kehidupan pernikahanmu. Tapi setidaknya, biarkan aku juga ikut merawat Daniel. Sebenci apapun kamu padaku, aku masih tetap ayahnya."
"Sesekali pulanglah ke rumah, habiskan waktu bersama keluargamu. Biar aku yang menjaga Daniel nanti. Kita harus bersikap bijaksana mulai dari sekarang."
"Aku juga akan mendonorkan darahku untuk Daniel dan ikut melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang seperti yang dokter katakan."
Prita mendengarkan semua ucapan Bayu, namun ia masih tetap terdiam. Ia juga tidak tahu mau berbicara apa. Semua emosinya sudah ia luapkan dalam bentuk air mata.
Bayu meletakkan telapak tangan kanannya di atas kepala Prita seraya memberikan usapan lembut.
"Aku pulang dulu." ucapnya.
Bayu berjalan meninggalkan Prita dan Daniel yang masih tertidur. Baru kali ini hati Bayu terasa tenang setelah bisa berdamai dengan Prita. Semua berkat Daniel. Demi Daniel mereka berdua menanggalkan ego masing-masing.
"Untuk apa kamu kemari?"
Langkah Bayu terhenti sesaat keluar dari ruangan Daniel. Ada Irgi yang berdiri di balik pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Irgi memang tidak pernah bisa bersikap baik padanya. Namun Bayu tetap mengembangkan senyuman.
__ADS_1
"Aku baru saja menjenguk anakku. Kamu juga mau menjenguk anakku? Maaf, aku tidak bisa menemanimu."
"Hah! Apa Si Brengsek ini baru saja mengatakan anak?"
Sebenarnya Irgi sudah ada di sana sejak Prita berdebat dengan Bayu. Pemandangan yang membuatnya kaget saat keduanya berpelukan. Dia merasa jadi saksi mata yang sangat berdosa. Apa perlu ia menceritakannya nanti pada Ayash? Tapi pasti akan memperburuk keadaan. Hubungan mereka berdua juga sudah renggang gara-gara ibunya Ayash, apalagi jika ia menceritakan kejadian ini.
"Aku sedang tidak ingin ribut denganmu. Aku pergi dulu."
Bayu mengabaikan Irgi dan melanjutkan langkahnya menyusuri koridor menuju lift. Di pikirannya sekarang hanya ada Jimmy. Dia pasti marah besar karena Bayu meninggalkannya terlalu lama di kantor.
"Hai, Ta."
Irgi masuk ke dalam kamar Daniel seolah tidak terjadi apa-apa. Ia letakkan box makanan yang ia bawa di meja makan.
"Kamu kesini sendiri? Tidak bersama Raeka?"
"Ya, aku datang sendiri. Raeka sedang pergi dengan temannya."
"Bagaimana kondisi Daniel?" Irgi melongok ke arah Daniel. Dia sedang tidur.
"Apa kondisinya memburuk?"
"Yah! Sejak kecelakaan itu, tanda-tanda penyakitnya mulai muncul. Daniel sepertinya tidak bisa pulang cepat dari rumah sakit. Dia tidak bisa bermain lagi seperti anak-anak lainnya."
"Sabar, Ta. Penyakit ini memang sulit. Tapi yakin saja Daniel pasti bisa sembuh. Banyak juga kok yang berhasil sembuh dari leukemia. Entah itu butuh waktu berapa lamapun, kita harus tetap optimis."
"Ah, aku sudah kangen pulang ke apartemen."
"Kenapa? Kamu pusing memikirkan biaya rumah sakit?"
"Bukan.... aku kangen kegiatan kami sehari-hari. Masak, antar jemput anak sekolah, main bareng anak-anak.... hah! Itu semua entah kapan bisa aku rasakan lagi."
"Oh, aku kira gara-gara biaya rumah sakit."
"Ya ngapain aku bingung soal itu. Papanya Daniel kan presdir dan CEO di PT Prayoga Jaya."
__ADS_1
"Hahaha.... biasanya kan kamu tim mendang mending. Bagus banget Ayash mau memilihkan kamar ini untuk Daniel. Biar bisa merasakan fasilitas setara presiden."
"Makan dulu, Ta. Aku sengaja membawakanmu makanan loh, Ayash yang menyuruh. Dia masih ada urusan di kantor. Tadi Dean juga dia ajak ke kantor."
*****
Klang!
Jimmy melemparkan kaleng biskuit ke arah pintu ketika Bayu memasuki ruangannya. Jimmy sudah sangat kesal menunggu Bayu. Ia telepon Bayu juga ternyata ponselnya tertinggal di meja kantor. Pamitnya hanya ingin memberikan hadiah pada anaknya, tapi nyatanya berjam-jam tidak kunjung kembali.
Bayu berpikir kalau Jimmy pasti akan langsung pergi jika ia lama kembali. Ternyata dia masih menunggunya di ruangan.
"Sialan! Kemana saja tadi?"
"Sori, aku tadi ke rumah sakit."
"Hah! Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Daniel."
"Daniel? Daniel sakit? Anakmu sakit apa?"
"Katanya habis jatuh dari jurang. Dan dia mengidap Leukemia Limfoblastik Akut."
"Serius?"
Bayu mengangguk.
"Kalian sudah akur, ya? Sampai mereka mau memberitahumu tentang Daniel."
"Mungkin. Tadi aku ke sekolah Daniel bertemu dengan Ayash yang sedang menjemput Dean. Daniel sudah semingguan tidak masuk sekolah. Katanya dia sedang dirawat di rumah sakit karena leukemia."
"Ah, kalau begitu ajak aku kalau kamu mau kesana. Aku juga ingin melihat wajah anakmu secara langsung. Apa dia benar-benar mirip denganmu sama seperti di foto."
"Tentu. Dia sangat mirip denganku. Sama gantengnya seperti aku."
__ADS_1
"Cih! Mudah-mudahan sifatnya jauh berbeda denganmu."