
Berita skandal perselingkuhan antara Moreno dan Shuwan memberi dampak yang besar terutama Holly Hotel. Mengingat Shuwan adalah GM di sana, kasus tersebut dikaitkan dengan tempatnya bekerja. Rating hotel menurun, banyak hujatan bahwa hotel tersebut merupakan hotel pelakor. Ada juga yang mengembangkan isu kalau hotel tersebut pendukung kegiatan perselingkuhan.
Para pemegang saham kalang kabut dengan kondisi itu. Mereka mendesak dilaksanakannya rapat umum untuk membentuk kepengurusan yang baru.
Zetian tampak terlihat pasrah dengan kondisi yang ada. Beberapa orang yang biasanya sangat setia padanya juga menginginkan hal yang sama, melakukan perombakan besar-besaran dan memecat Shuwan.
Shuwan datang memasuki ruang rapat dengan tetap menjaga kepercayaan dirinya. Meskipun semua mata tertuju padanya, ia berusaha tenang dan duduk di samping kiri ayahnya.
"Anda masih memiliki keberanian untuk hadir, Nona Shu? Saya salut dengan sikapmu."
"Apa saya tidak boleh hadir? Saya juga memiliki saham di sini, Tuan Ghani yang terhormat."
"Hah! Anak muda sekarang tidak pandai menjaga sikap."
"Sikap seperti apa yang harus saya tampilkan, Tuan Ghani?"
"Nona Shu, apa isu itu benar?" tanya Pak Brandon.
"Isu itu tidak benar, Pak. Saya hanya berteman dengan Moreno. Di antara kami tidak ada hubungan yang khusus selain memang kami pernah berpacaran waktu SMA."
"Kalau tidak benar mana mungkin berita bisa tersebar dengan sangat cepat. Sampai mereka tahu detil masa lalu kalian."
"Saya tidak bisa mengendalikan jari-jari orang untuk membuat berita sesuka mereka, Tuan Ghani. Kenyataannya saya tidak seperti itu. Saya bisa apa?"
Klek!
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Muncullah orang yang membuat sebagian besar dari mereka terkejut karena belum pernah sekalipun bertemu dalam rapat pemegang saham. Bayu yang datang bersama Fredi berhasil menjadi pusat perhatian.
Shuwan tersenyum melihat kedatangan Bayu. Sementara, Zetian terlihat tidak suka dengan kedatangan Bayu.
"Oh, Pak Bayu, silakan duduk." Pak Barry mempersilakan Bayu duduk di sebelahnya. Dia adalah salah satu pemegang saham yang sangat dekat dengan Bayu.
"Perkenalkan, ini Pak Bayu, salah satu pemegang saham pasif di Holly Hotel. Beliau terkenal sebagai pemilik klab malam Skylight Bar."
Para pemegang saham yang lain mulai berbisik-bisik, ternyata orang yang datang itu bukan orang sembarangan. Dia termasuk pengusaha muda yang paling sukses di Kota S.
"Baiklah, karena sebagian besar sudah hadir, rapat akan segera dimulai."
__ADS_1
Rapat berlangsung dengan menegangkan. Ada dua kubu dalam rapat itu. Kubu yang ingin tetap pada kondisi semula dan kubu yang mendukung perubahan besar-besaran.
"Saya mengajukan diri sebagai Presiden Direktur Holly Hotel." ucap Bayu.
Perkataan itu menggemparkan peserta rapat. Pemegang saham yang baru itu begitu percaya diri mengajukan dirinya sebagai presdir? Beberapa orang tertawa dengan pernyataan itu.
"Saya ingin mengakuisisi Holly Hotel sebagai milik saya."
Pernyataan lanjutan dari Bayu semakin membuat mereka tercengang. Suasana menjadi riuh. Zetian ikut terkejut dengan ucapan Bayu. Bagaimana mungkin dia mau mengakuisisi hotel miliknya?
"Memangnya berapa persen saham yang Anda miliki? Seperti orang gila saja mau mengakuisisi hotel ini." celetuk Pak Ghani.
"Pak Bayu memiliki 25% saham di perusahaan ini."
"Apa!?" Zetian sangat terkejut. Yang dia tahu Bayu hanya memiliki 7% saham di perusahaannya. Kenapa sekarang menguasai seperempat saham hotel? Ia melirik ke arah Shuwan. Shuwan menunduk tak berani menatap ayahnya.
Bayu mengumpulkan nominal saham dengan membeli sedikit-sedikit saham dari pemegang saham lainnya. Tentunya, ia tak akan berhasil tanpa bantuan dari Pak Barry.
Bayu sangat puas melihat ekspresi kemarahan di wajah Zetian. Orang itu salah untuk memilih musuh. Zetian sendiri yang memancing Bayu untuk menghancurkannya dengan cepat. Berani-beraninya ada orang yang menginginkan kematiannya dan membuat usahanya bangkrut. Dia juga bisa membalikkan keadaan, merebut perusahaan yang dibanggakan oleh Zetian.
"Oke, untuk mengakuisisi hotel ini, setidaknya Anda menguasai lebih dari 50% saham. Kalau hanya 25%, Anda tidak bisa mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan kami."
"Saya tidak mendukung Anda."
"Saya menolak. Saya lebih percaya dengan kepemimpinan Tuan Zetian."
"Saya juga menolak."
Bayu tetap tersenyum mendengar satu per satu penolakan dari mereka. Dia tetap percaya diri kali ini akan berhasil mengambil alih hotel yang sudah lama ia incar itu.
"Bagaimana dengan Anda, Pak Barry? Apa Anda mendukung saya?"
Pak Barry terdiam sejenak. Ia sekarang sedang menjadi pusat perhatian peserta rapat yang lain.
"Ya, saya ada di pihak Pak Bayu."
Suasana kembali riuh karena ternyata Pak Barry ada di pihak Bayu.
__ADS_1
"Saya juga bersedia mendukung Pak Bayu. Dia masih muda, pemikirannya pasti lebih inovatif untuk memajukan hotel ini."
"Saya sependapat dengan Pak Yuan. Saya juga ada di pihak Pak Bayu."
"Saya juga." ucap Shuwan.
Hal itu membuat Zetian dan yang lainnya terkejut. Seharusnya Shuwan membela ayahnya, bukan Bayu. Zetian mengepalkan tangannya. Urat-urat sekitar lehernya mengencang. Anaknya sangat lancang berani melawan ayahnya sendiri.
Tanpa disangka-sangka, pihak yang ada di sisi Bayu juga banyak. Pada akhir rapat, akhirnya ditetapkan bahwa Bayu dan pendukungnya berhasil mengakuisisi hotel. Mereka berhak melakukan perombakan besar-besaran baik dalam jajaran kepemimpinan maupun kebijakan-kebijakan seputar kepengelolaan hotel.
Setelah rapat berakhir, satu per satu dari mereka mulai meninggalkan tempat rapat. Tersisa Bayu, Shuwan, Zetian dan beberapa bodyguard.
"Shu, jangan takut lagi akan apapun. Aku akan membantumu. Aku usahakan dalam satu hari berita-berita itu akan hilang."
Shuwan tersenyum, "Terima kasih."
"Shuwan Mey.... apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?" nada suara Zetian terdengar tegas.
"Kenapa, Papa? Bukankah Papa tidak peduli padaku? Aku berusaha sendiri memulihkan namaku seperti yang Papa minta. Tentunya dengan bantuan pacarku."
"Anda jangan salah paham, Tuan Zetian. Saya melakukan semua ini demi kebaikan hotel."
"Hah! Demi kebaikan hotel. Kali ini lebih terasa kamu sedang merampok milik orang lain tepat di depannya."
"Ini sudah keputusan mayoritas pemegang saham. Mereka yang meminta saya untuk maju. Ada beberapa yang mengalihkan sahamnya pada saya karena percaya dengan kinerja saya selama ini. Anda tidak perlu sakit hati. Anda masih bisa ikut berpartisipasi memajukan hotel ini meskipun tidak lagi menjadi pimpinan utama."
"Shuwan, bisa tinggalkan kami?" pinta Zetian.
Shuwan bangkit dari duduknya mengikuti perintah ayahnya. Para pengawal yang ada di ruangan juga disuruh keluar. Tersisa Zetian dan Bayu yang ada di ruangan itu.
"Kelakuanmu kali ini tidak akan aku maafkan. Suatu saat kamu harus membayarnya."
Bayu mencebikkan bibir dan terkekeh mendengar pernyataan Zetian.
"Hahaha.... Anda pikir kenapa saya melakukan hal seperti ini? Saya peringatkan, Anda salah memilih Bayu Bagaskara sebagai musuh."
"Saya sudah tahu semua kekacauan di klab malam adalah ulah Anda. Termasuk pelayan yang mau meracuni saya, semua atas perintah Anda bukan?"
__ADS_1
Zetian membelalakkan mata. Ia serasa mati kutu. Segala rencananya sudah diketahui oleh Bayu.
"Saya tidak tahu ada dendam apa Anda kepada saya. Tapi saya tidak akan membiarkan orang yang musuhiku hidup tenang."