ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Raya Akan Melahirkan


__ADS_3

"Maaf ya, Ta. Aku sama sekali belum pernah menjenguk Daniel selama dia dirawat di sini. Tapi malah kamu yang sekarang menjengukku di rumah sakit."


Wajah Raya menampilkan ekspresi bersalah. Dia tidak tahu kabar kalau Daniel sakit. Sesekali ia berkirim pesan dengan Prita, temannya itu tidak pernah cerita apapun. Prita selalu bilang keadaannya baik, selalu terdengar ceria saat bertelepon dengannya.


Sebagai orang yang pernah dekat dengan Prita, ada rasa bersalah sekaligus kecewa. Ia merasa bersalah karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya Prita alami. Dia juga kecewa karena Prita tak mau menceritakan apapun kepada temannya.


Bahkan, ia juga baru tahu kalau Prita dan Ayash sudah bercerai dari suaminya pagi tadi. Saat ditanya, Prita mengiyakan hal tersebut. Raya tak berani bertanya lebih jauh tentang kenapa dan bagaimana mereka bisa bercerai. Ia rasa Prita akan kembali terluka jika ia menanyakan hal itu. Perceraian juga pasti menjadi hal yang berat bagi Prita disamping kondisi Daniel yang juga belum membaik.


"Tidak apa-apa, Ray. Rumahmu kan jauh, lagipula, Daniel juga harus dibatasi bertemu dengan orang. Tau sendirilah, penyakitnya membuat daya tahan tubuhnya menurun. Dia gampang ketularan sakit."


"Yang penting doamu saja supaya anakku cepat sembuh."


"Itu sudah pasti, Ta."


Prita menyunggingkan senyum, ia mengelus-elus perut Raya yang sudah sangat besar. Rasanya ia jadi bernostalgia saat hamil ketiga anaknya. Bedanya, Tubuh Raya ikut membesar seperti perutnya. Sementara, saat Prita hamil, hanya perutnya saja yang membuncit.


"Ini kenapa kamu akhirnya harus menjalani operasi caesar untuk kehamilan pertamamu?"


"Bayiku gendut, Ta. Kata dokter bobotnya udah sekitar 4kg. Jadi bakal susah kalau dipaksa lahiran normal."


Prita tertawa kecil, "Egi ini semangat banget pasti kasih kalian makan. Sampai kamu dan bayimu sama-sama tumbuh besar."


"Ya gimana ya.... menikah dengan Mas Egi itu bikin aku bahagia sekaligus doyan makan. Apalagi aku kerja di kafemu, jadi bagian tukang nyicipin. Menunya enak-enak lagi. Mana kuat aku diet."

__ADS_1


"Nggak apa-apa Ray, yang penting bahagia. Kamu juga masih kelihatan imut kok walaupun bulat begini." Prita mencubit kedua pipi chubby Raya.


"Nggak apa-apa tapi yang bilang ibu-ibu anak tiga yang badannya masih bagus. Huhuhu.... irinya.... "


"Uh.... lebay! Kalau lagi hamil itu yang penting ibu dan bayinya sehat, nggak usah pikirin bentuk tubuh dulu deh.... Lagian Egi juga tetap mencintaimu kan, orang dia sendiri yang buat kamu jadi melar begini."


"Hahaha.... omonganmu tepat seratus persen, Ta! Kalau bentuk tubuh wanita berubah saat hamil, itu semua gara-gara cowok. Kalau nggak mau wanita tetap secantik waktu awal menikah ya jangan dihamili. Benar kan, Ta?"


"Exactly!"


Suatu kebetulan yang tidak terduga, Raya merencanakan persalinan di Citra International Hospital, rumah sakit yang sama dengan tempat Daniel dirawat. Tadi sore, ia tidak sengaja berpapasan dengan Egi di lobi rumah sakit. Mereka sempat bercakap-cakap singkat dan katanya Raya mau melahirkan.


Oleh karena itu, sekarang Prita sedang berada di ruangan Raya. Sudah lama juga mereka tidak bertemu secara langsung. Terakhir kali saat di kafe, sebelum Daniel masuk rumah sakit. Sekarang malah mereka berdua dipertemukan di rumah sakit. Bertemu Raya membuat Prita juga bisa tertawa lagi. Sebelumnya Raeka yang membuatnya terhibur. Hari ini ada Raya yang juga tak kalah konyol kalau diajak bicara. Sepertinya memang Prita harus sering-sering bertemu dengan teman-teman se-frekuensi supaya bisa lebih bahagia. Sekalian untuk menghibur diri setelah perceraian.


"Ta.... kamu hebat, ya. Sudah tiga kali merasakan lahiran normal. Aku iri deh." guman Raya.


"Ih.... maksudku bukan begitu." Raya memanyunkan bibirnya.


"Aku juga ingin merasakan rasanya melahirkan secara normal sepertimu. Tapi kehamilan pertama malah seperti ini. Kata dokter lebih baik operasi."


"Ya nggak apa-apa kan? Jaman sekarang memang cara-cara melahirkan ada banyak. Tinggal disesuaikan saja dengan kondisi ibu dan janinnya. Kalau dokter menyuruh operasi, ya ikuti saja. Dokter kan orang yang lebih tahu dari kita."


"Kalau aku dulu memang tiga kali kehamilan tidak ada masalah, jadi aku memilih melahirkan normal dengan metode gentle birth."

__ADS_1


"Hah! Kamu tahu kan persepsi masyarakat pada umumnya. Mereka suka memandang rendah wanita yang melahirkan lewat operasi. Katanya bukan ibu sejati kalau tidak bisa melahirkan secara normal."


Raya selalu jadi lemas kalau membayangkan omongan orang yang bakal dia dengar jika tetangga-tetangganya tahu ia melahirkan secara caesar. Seakan hal itu suatu aib yang patut untuk diolok-olok.


"Lah, mau lahirannya normal, caesar, kayang atau salto ya tetap saja orang yang sudah melahirkan disebutnya ibu lah Ray, masa disebutnya jadi ubi gara-gara operasi? Jangan dengarkan cibiran orang. Fokus pada kesehatan bayi dan dirimu sendiri."


"Lagipula, mau lahir secara normal ataupun caesar, seorang ibu sama-sama merasakan sakit dan sama-sama mempertaruhkan nyawa."


Raya menghela nafas. Memang sejak awal dia menginginkan persalinan normal. Apa daya, ternyata bayi yang ada di dalam tubuhnya tumbuh secara cepat menjadi besar sehingga akan menyulitkan jika tetap dipaksakan lahiran secara normal.


"Ray, kamu sayang calon bayimu, kan?"


"Ya sayang.... "


"Kalau begitu, nggak usah punya pikiran yang macam-macam. Kamu harus bahagia, tenang, dan santai. Supaya persalinan berjalan lancar dan bayimu sehat."


"Untuk menghindari tetangga mulut lemes, sementara pindah rumah saja. Ambil perumahan yang tetangganya nggak julid. Demi kewarasanmu dan kesehatan anakmu." Prita mengerlingkan sebelah matanya.


Raya terkekeh, "Kamu pengalaman banget ya, Ta." ujar Raya.


Prita memang sudah sangat berpengalaman. Saat kelahiran Daniel, sudah muncul bibit-bibit stres dari Mama Maya. Untung saja mereka tinggal di luar negeri, jauh dari orang tua Ayash. Sehingga, ia tidak terlalu stres dan bisa merawat anak-anaknya dengan tenang.


"Yang paling berbahaya itu kan stresnya ibu pasca melahirkan. Banyak contoh kasus ibu tega menganiaya atau membunuh anaknya sendiri karena tidak sadar sebenarnya mereka menderita sindrom baby blues. Penyebabnya kebanyakan dari faktor lingkungan sih, yang tidak peka pada keinginan dan perasaan ibu baru. Kamu jangan sampai begitu ya, Ray."

__ADS_1


"Iya, Ta. Sepertinya aku harus banyak-banyak belajar darimu. Senangnya punya teman yang sudah berpengalaman."


Prita menutup mulutnya untuk menahan tawa. Ia juga jadi teringat nasihatnya kepada Raeka. Dua temannya itu ya suka polos-polos gemesin atau dia yang terlalu banyak punya pengalaman. Dulu dia pernah menjadi seorang guru TK. Sekarang, mungkin ia akan cocok menjadi gurunya para istri sholehot.


__ADS_2