ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Ada yang Panas 2


__ADS_3

"Kamu sudah selesai, Ta?"


Prita menoleh ke arah suara. Ada Ayash membawa serta kedua anaknya.


"Uh.... Livy, Dean.... "


Prita sangat lemah ketika berhadapan dengan kedua anaknya. Niatnya ia ingin mengabaikan Ayash, tapi melihatnya membawa serta mereka membuatnya mengurungkan niat.


Prita mengangkat Dean dalam gendongannya. Ia juga menciumi Livy yang masih ada dalam gendongan Ayash.


Sekarang, yang merasa muak adalah Bayu. Pacarnya kembali dekat dengan mantan suaminya. Ayash benar-benar pandai mencari cara untuk menarik perhatian Prita. Padahal kemarin dia sudah senang, Prita bisa mengabaikan keberadaan suaminya.


"Biar aku yang gendong Dean."


Bayu merebut Dean dari gendongan Prita. Ia tak mau kalah. Untuk bisa mendapatkan hati Prita, tentu dia juga harus bisa dekat dengan anak-anaknya.


"Uncle Yu, Dean mau mainan!"


"Oh, oke. Nanti kita beli bareng mama, ya?"


"Livy, sini mama gendong."


Prita mengambil Livy dari gendongan Ayash. Anak itu langsung menyandarkan kepalanya di pelukan Prita. Tangannya meremas kecil baju mamanya, seakan memberi isyarat ia selalu merindukan pelukan nyaman itu.


Livy sekarang lebih pendiam. Prita menjadi muram. Seakan ada ikatan batin di antara keduanya, kalau mereka sama-sama saling merindukan.


Biasanya anak kecil akan menangis jika merasa ditinggalkan orang yang sangat disayanginya. Tapi Livy tidak begitu. Awal-awal jauh memang kata pengasuh Livy sering menangis. Tapi, sekarang dia jadi jarang menangis.


"Andin mana?"


"Dia masih ada di ruang ganti bersama Raeka. Mungkin sebentar lagi mereka akan keluar."


"Raeka tidak dijemput Irgi?"


"Tidak, dia bawa mobil sendiri. Tadi aku juga berangkat dijemput olehnya."


"Ah, begitu."


"Dean, tadi main apa di sekolah?" tanya Prita.


Kalau Dean, tidak terlalu banyak yang berubah. Dia masih lincah seperti biasanya. Dean tipe anak yang mudah dekat dengan siapa saja. Jadi, dia tidak terlalu masalah ketika ditinggal oleh mamanya. Apalagi Dean lebih dekat dengan Omanya.


"Main pasir, Mama. Tapi temanku nakal. Dia melemparkan pasir ke kepala Dean. Jadi kotor."


"Oh temanmu nakal sekali, siapa namanya?"


"Namanya Luke."


"Besok kita harus membalasnya. Kita lempar balik ya pasir ke rambutnya."


"Iya, Uncle. Aku setuju."


"Ah!"

__ADS_1


Prita mencubit lengan Bayu. Matanya melotot mengisyaratkan dia tak menyukai perkataannya.


"Oh, Bapak Ayash sudah datang." ucap Raeka.


Dia dan Andin sudah selesai berkemas-kemas. Tidak menyangka jika di luar sudah seramai itu yang menunggu mereka. Ada mantan suami dan pacar baru Prita. Serta anak-anak hasil pernikahan Ayash dan Prita.


"Sayang, kita pulang, ya? Mama Andin sudah selesai."


Ayash mencoba mengambil Livy dari gendongan Prita. Bukannya mau ikut dengan papanya, Livy justru menyembunyikan wajahnya di dada Prita. Tangannya menggenggam erat baju Prita. Meskipun tak berkata apa-apa, tingkah Livy seperti mengisyaratkan jika dia tidak ingin berpisah dengan mamanya.


"Livy, ayo pulang dengan papa." sekali lagi Ayash mencoba merayu anaknya.


Livy tetap bergeming.


"Mungkin Livy masih ingin bersama mamanya. Biarkan saja ikut dengan Prita." ujar Andin.


"Kalau Dean, mau ikut papa pulang?" Ayash berganti meminta jawaban Dean.


"Aku mau sama Uncle Yu beli mainan."


Ayash sedikit sedih melihat anaknya bisa dekat dengan Bayu.


"Beli mainan sama papa juga bisa, kan?"


"Aku maunya sama Uncle."


"Aku ajak mereka berdua dulu, ya?" kata Prita memohon.


"Apa nanti kamu tidak kerepotan? Aku tidak membawa pengasuh mereka."


Ucapan Bayu terasa sangat menyakitkan bagi Ayash. Tapi bukan haknya untuk melarang-larang hal itu. Dia sendiri yang menginginkan Prita menikah dengan Bayu. Tapi entah mengapa melihat kedekatan mereka berdua justru membuat hatinya sakit.


Dia bilang bisa berkorban apa saja demi Daniel. Di sisi lain, egonya masih tidak bisa menerima Prita dimiliki oleh lelaki lain. Dia memang payah.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Mereka juga pasti mau bersama mamanya." bujuk Andin.


"Baiklah, kalau begitu papa dan Mama Andin pulang dulu ya, Sayang."


Ayash mencium pipi Dean kemudian beralih pada Livy yang ada di gendongan Prita.


"Jaga anak-anak, ya, Ta." ucapnya.


Prita hanya membalas dengan anggukan. Sementara, Ayash dan Andin berjalan menuju mobil mereka.


"Aku juga pulang, ya, Ta." ucap Raeka yang sedari tadi hanya menjadi penonton.


"Iya, Ra. Makasih tadi siang sudah memberiku tumpangan."


"Oke. Minggu depan aku akan menjemputmu lagi."


Raeka melambaikan tangan sebelum berlalu menuju tempat parkir.


"Uncle.... Ayo beli mainan.... " Dean merajuk.

__ADS_1


Anak itu kalau sudah dijanjikan sesuatu pasti tidak sabaran.


"Wah, jagoan yang satu ini sudah tidak sabaran menerima hadiahnya, ya? Oke, ayo kita beli di mall."


Bayu membawa Prita dan kedua anak itu ke tempat ia memarkirkan mobilnya. Sesampainya di depan mobil Bayu, Prita harus ternganga, karena mobil yang Bayu bawa adalah Ferrari Spider warna hitam yang hanya memiliki dua dudukan kursi.


"Kamu pikir kita akan berkencan?" guman Prita.


"Ya, aku kira kita hanya akan berdua. Tidak tau kalau dapat bonus dua anak manis ini."


"Kalau begitu mulai sekarang ganti selera berkendaramu, karena kamu mengencani seorang wanita beranak tiga."


"Oke, secepatnya aku akan mengganti mobilku."


"Lalu sekarang bagaimana? Apa aku naik taksi saja?"


"Tidak perlu. Kamu pangku Livy dan aku akan memangku Dean."


"Sambil menyetir?"


Prita tidak yakin dengan ide gila Bayu. Dia mau menyetir sambil memangku Dean? Membayangkan betapa lincahnya Dean, Prita punya firasat buruk jika dia menuruti ide itu.


"Jangan ragukan kemampuanku. Aku bisa menyetir sambil memangku anak."


"Tapi anak yang akan kamu pangku itu tingkat rasa ingin tahunya sangat tinggi. Aku tidak mau mengambil resiko kalau di tengah jalan kita kecelakaan."


"Sudah, sudah.... Lebih baik aku naik taksi saja."


"Mama.... Enet.... " Livy yang sejak tadi diam tiba-tiba bersuara sambil menunjuk-nunjuk mobil Bayu.


"Kenapa, Sayang?"


"Enet."


"Sepertinya Livy menyukai mobilku." Bayu tersenyum. "Masuklah!"


Terpaksa Prita menuruti keinginan Livy masuk ke dalam mobil itu. Melihat Dean dan Bayu ada di balik kemudi membuatnya deg-degan. Apalagi Dean tampak antusias memegangi perangkat mobil yang bisa dijangkaunya.


Sementara, Livy tadi menunjuk-nunjuk mobil ternyata karena ada pajangan monyet sedang naik pisang yang terpasang pada dashboard. Dia terus menunjuk-nunjuk benda itu sambil tertawa.


"Ambil saja kalau Livy suka." ucap Bayu.


"Kamu mau itu?"


Prita menanyakan pada Livy. Anak itu mengangguk. Jadi, Prita melepas pajangan monyet itu dan memberikannya pada Livy. Livy kegirangan.


"Dean, kamu mau mainan yang banyak, kan?"


"Iya, Uncle."


"Kalau begitu, kamu harus duduk tenang. Oke?"


"Oke."

__ADS_1


Bayu baru melajukan mobilnya setelah membuat kesepakatan dengan Dean. Cara menyetir mobil seperti itu memang sangat berbahaya. Apalagi kalau tanpa sengaja Dean menekan tombol-tombol yang ada di sana. Untunglah Dean anak yang pintar, dia mematuhi janjinya.


__ADS_2