
"Bos, kali ini Shy Shy Cat yang yang jadi sasaran."
Brak!
Bayu menggebrak keras mejanya mendengar laporan dari Alex. Udah beberapa minggu ini ia mengalami kerugian besar akibat klab malamnya dirusak orang. Pertama, King Crown yang dihancurkan oleh Arya. Kedua, Meridian Klab yang dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal hingga terbakar habis. Untung kejadiannya dini hari setelah klab tutup sehingga tidak ada korban jiwa. Shy Shy Cat adalah klab ketiga yang bermasalah.
Bayu merasa ada orang yang ingin menghancurkan usahanya. Waktu itu pernah ada yang berencana membunuhnya dengan meracuni minuman tapi gagal. Sekarang mungkin caranya berbeda, dengan membuat usahanya hancur dan bangkrut.
Berita yang ia terima akhir-akhir ini tidak ada yang bagus. Masalah investasi di Holly Hotel juga tidak berjalan lancar. Padahal ia ingin segera mengambil alih hotel itu, tapi prospek hotel malah semakin bagus. Segala upaya yang Alex lakukan untuk menjatuhkan hotel itu belum ada hasil. Justru usahanya sendiri yang saat ini hampir tumbang satu per satu.
"Shy Shy Cat kebakaran. Semalam ada yang menyewa klab untuk pesta ulang tahun yang dihadiri sekitar lima puluh orang. Dalam pesta itu juga diadakan pesta kembang api. Percikan kembang api itu yang dimungkinkan sebagai penyebab terjadinya kebakaran."
"Aku tidak yakin kalau hal itu bisa memicu kebakaran kecuali ada yang sengaja melakukannya."
"Kalau begitu, ayo kita ke sana sekarang. Aku ingin tahu kondisinya."
"Sebaiknya Bos jangan dulu datang ke sana. Masih ada banyak wartawan dan polisi juga sudah banyak yang diterjunkan."
Bayu menatap Alex dengan serius. Bagaimana bisa klabnya menjadi sorotan wartawan dan polisi? Separah apa kejadiannya Bayu belum bisa membayangkan. Kejadian pelemparan bom molotov di Meridian Klab saja masih diproses polisi dan sangat lamban belum ada kemajuan. Kenapa kali ini heboh?
"Katanya ada tiga orang yang meninggal dan lima belas orang terkena luka bakar dari parah hingga ringan."
"Apa!?" Bayu tak menyangka ada korban jiwa kali ini. Pantas saja wartawan berburu berita di sana.
"Hubungi pengacara kita, Alex. Aku yakin besok polisi juga akan mencariku." pinta Bayu.
__ADS_1
Bayu paling malas untuk berurusan dengan polisi. Kalau di Kota J, ia tak pernah tersentuh hukum karena kekuasaan ayahnya. Di Kota S, tak ada yang bisa membantunya selain dirinya sendiri. Karena itu selama ini dia menjalankan bisnisnya dengan sangat hayi-hati.
"Baik, Bos. Nanti mereka akan saya hubungi untuk mendampingi Anda."
Kalau sudah ada korban jiwa, urusannya akan sedikit panjang dan rumit. Uang saja tidak akan cukup untuk menutup kasus dan berita yang akan muncul di media. Polisi akan terus mencari tahu penyebab kebakaran dan pelaku yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sebagai pemilik klab, Bayu juga tidak akan lepas untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Ia bisa mudah saja mengelak dari tuntutan hukum. Bayu bisa melimpahkan kesalahan pada manajer klabnya atau menumbalkan salah seorang karyawan untuk mengaku sebagai pelaku kekacauan itu jika tidak ada pelaku dari luar klab yang tertangkap.
Bayu yakin kejadian ini juga hasil dari ulah seseorang. Mana mungkin pesta kembang api yang dilakukan dengan jumlah puluhan orang yang sudah terdaftar nama-nama tamunya bisa menyebabkan kebakaran. Ia yakin ada yang melakukan sabotase.
"Bagaimana dengan hasil investigasinya terhadap orang itu?"
Orang yang Bayu maksud adalah pelayan yang melakukan transaksi narkoba di klab Arya sehingga klab milik Arya itu dicabut ijin usahanya. Bayu menyekap pelayan itu di ruang bawah tanah mansion.
"Saya minta maaf karena belum bisa mendapatkan hasilnya. Orang itu katanya juga tidak tahu siapa yang menyuruhnya. Dia hanya diberi uang lima puluh juta oleh seseorang yang memakai topeng dan menyuruhnya menjadi pelayan di tempat Arya untuk bertransaksi narkoba. Hal yang dia ingat, suara orang yang menyuruhnya seperti lelaki yang cukup berumur atau sudah tua. Ada bekas luka sayatan di punggung tangan kanannya."
Bayu masih berpikir, orang tua mana yang punya dendam besar terhadapnya? Apa itu ayahnya sendiri? Apa seorang Samuel Bagaskara kurang kerjaan sampai ingin menghancurkan bisnis anaknya sendiri? Tapi, seingat Bayu ayahnya tak memiliki luka bekas sayatan di punggung tangannya. Apa itu luka baru? Sudah lima tahun juga dia tidak bertemu ayahnya. Selain ayahnya, dia tak bisa menebak lawan bisnisnya yang tua dan kira-kira sangat ingin menghancurkannya. Sepertinya tidak ada.
"Anda harus bersiap-siap juga kalau kejadian ini akan berpengaruh pada kerjasama yang akan dilakukan antara Skylight Bar dan Greenland Paradise Hotel."
"Hah! Kamu benar." Bayu memijit kepalanya yang pening. "Skylight Bar belum sepenuhnya dipindahkan ke sana tapi ada banyak sekali masalah yang menimpa usahaku. CEO Greenland Paradise yang songong itu pasti sedang tertawa mendengar berita tentang ini. Dia juga jadi punya alasan untuk membatalkan kerjasama."
Bayu jadi makin pusing. Masalahnya sangat banyak. Satu masalah pada bisnisnya akan berlengaruh kepada bisnis-bisnisnya yang lain.
"Apa mungkin lawan kita kali ini tahu tentang Red Wine, Bos?"
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Karena mereka selalu membuat onar saat mereka tidak berjaga di sana. Entah itu kebetulan atau memang mereka sudah tahu."
"Kalau begitu, suruh Red Wine sementara memperketat pengamanan di Skylight Bar dan Bubu Baba. Ganti sebagian staff dengan anggota Red Wine. Suruh mereka melaporkan hal-hal yang janggal padamu setiap saat."
"Akan saya lakukan."
"Gara-gara ini juga aku jadi tidak bisa bertemu Daniel. Hah! Masalah sialan, kenapa selalu saja datang di saat seperti ini."
"Kalau sampai ada yang tahu Daniel anak Bos, dia juga bisa dalam bahaya."
Kata-kata Alex menyadarkannya. Benar, Daniel juga akan menjadi sasaran jika ada yang tahu kalau dia anaknya. Prita juga mungkin sama. Begitu pula dengan Shuwan. Semua orang yang dekat dengannya akan ikut terkena imbas karena bisnis atau dendam. Ia hampir tak memperkirakan itu.
Bayu kembali sadar kalau dirinya memang penjahat yang punya banyak musuh. Bagaimana bisa dia menjalani hidupnya dengan santai padahal mungkin musuh-musuhnya sedang mengawasi dari kejauhan.
"Kamu benar-benar harus memecahkan semua misteri ini, Alex. Cari dalangnya siapa. Aku tidak bisa kalau berlama-lama tak menemui Daniel. Nanti dia bisa lupa kalau aku adalah ayahnya."
"Memangnya Daniel sudah tahu Anda ayahnya?"
"Dia memanggilku 'daddy'. Tentu dia tahu kalau aku ayahnya. Dia kan anakku."
Alex mengerutkan dahinya.
"Sudah sana kamu pulang saja. Kerjakan hal yang lebih bermanfaat daripada tetap berada di kantor ini. Aku tidak mau tahu, kamu harus segera mendapatkan perkembangan kasusnya."
__ADS_1
Dengan malas Alex keluar dari ruangan Bayu. Ia memang tak terlalu suka bekerja di kantor. Tapi dia lebih tidak suka kalau harus menjadi detektif. Dia bebas pergi kemanapun, tapi pusing mencari petunjuk.