ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Anak Adopsi


__ADS_3

"Livy... awas!" teriak salah seorang pelayan.


Bruk!


Livy terjatuh karena kakinya tersandung balok kayu saat bermain di taman.


"Hua.... Mama.... "


Tangisan Livy seketika langsung pecah. Sang pelayan yang tadi ditugaskan untuk menjaga Livy, mengangkat tubuh anak kecil itu. Kepalanya berdarah karena terantuk batu.


Pelayan yang bernama Leni itu panik. Dia takut sekali akan dimarahi majikannya. Sementara, tangisan Livy semakin kencang.


"Nyonya Prita.... Nyonya Maya.... Tolong.... " teriaknya panik.


Ia membawa Livy masuk ke dalam mansion. Orang-orang rumah yang mendengar suara tangisan Livy dan teriakan histeris Leni langsung berdatangan.


"Ada apa, Leta?" Prita berlari dari arah dapur bersama pelayan lainnya menghampiri Leta.


Saat itu Prita masih berkutat di dapur bersama para pelayan mempersiapkan makan siang. Dia menyuruh Leta untuk menggantikannya mengawasi Livy bermain di taman belakang. Belum lama Prita tinggalkan, Livy sudah menangis dan Leta juga ikut menjerit-jerit. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia sangat khawatir.


"Kenapa berisik sekali, ada apa?" Maya turun dari arah lantai atas. Mama Maya baru selesai berdandan.


"Hua.... Mama.... " tangisan Livy semakin kencang ketika melihat Prita. Tangannya diulurkan, seakan memberi isyarat ia ingin digendong ibunya.


"Ya Tuhan, Livy!"


Prita syok melihat kondisi Livy yang dahinya berdarah. Ia langsung mengambil Livy dari gendongan Leta. Ia timang-timang Livy sembari menenangkan pikirannya. Ia tak boleh panik agar tetap bisa berpikir jernih.


"Astaga.... Livy kenapa?" Maya ikut menjerit panik. Tentunya semua orang akan panik melihat anak sekecil itu terluka.


"Tadi jatuh, Nyonya. Dahinya terantuk batu." Leta menjelaskan sambil menangis.


"Kamu ini bagaimana, menjaga anak kecil sampai lalai begini!"


"Mama, sudah. Aku mau bawa Livy ke dokter. Tolong Mama jemput Daniel dan Dean, ya."


"Ah, iya iya.... cepat kamu pergi ke dokter. Jangan sampai Livy kenapa-napa."


Prita berlari membawa Livy ke arah luar mansion sambil menitihkan air mata. Ia khawatir dengan Livy. Ia merasa seharusnya tak jauh-jauh dari Livy agar kejadian seperti ini tidak terjadi. Pak Totok, sang sopir ikut berlari mengikuti Prita di belakangnya. Dia baru saja masuk mansion ketika mendengar suara ribut-ribut. Tapi, melihat Prita berlari membawa anaknya keluar reflek ia mengikuti.

__ADS_1


Leta masih menangis. Dia merasa bersalah. Di sisi lain juga merasa takut dengan kemarahan Maya.


"Kamu tadi ngapain saja sampai Livy jatuh kamu tidak tahu!"


"Saya tadi sedang bermain dengan Nona Livy. Tapi Nona Livy berlarian kurang hati-hati jadi menabrak balok kayu yang ada di taman, Nyonya."


"Lain kali awasi yang benar. Jangan sampai ini terulang lagi!"


"Baik, Nyonya."


"Sekarang kembali lakukan tugasmu. Kalian semua juga, kembali bekerja."


Para pelayan langsung membubarkan diri. Maya Menghela nafas. Rasanya jantungnya mau copot melihat cucunya berdarah seperti itu.


Tadinya Maya ingin pergi arisan bersama teman-temannya. Tapi karena Prita harus membawa Livy ke dokter, terpaksa ia membatalkan acaranya untuk pergi menjemput Daniel dan Dean.


Maya menyuruh salah seorang bodyguard untuk mengantarkannya ke sekolah. Ya, sopir di mansion hanya satu, tapi masih ada bodyguard yang baru ditempatkan Reonal di rumah. Biasanya mereka berjaga di perusahaan atau mengikuti setiap perjalanan bisnis yang dilakukan Reonal. Bodyguard tidak selalu ada di mansion.


Suasanya di depan TK sudah cukup ramai. Jajaran mobil mewah terparkir siap menjemput anak-anak yang sebentar lagi akan pulang. TK itu termasuk sekolah yang memiliki biaya pendidikan yang tinggi. Tidak heran jika kebanyakan yang bersekolah di sana adalah anak-anak orang kaya.


"Eh, Jeng Maya, ya?"


Sapa seorang wanita paruh baya seumuran Maya dengan penampilan yang sangat modis. Wanita itu menggandeng anak perempuan yang sepertinya bersekolah di situ juga. Maya mulai mengingat-ingat, siapa wanita yang menyapanya itu.


"Oh, Ya Tuhan. Kamu Sarita? Rita? Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini."


"Iya, aku menjemput cucuku ini."


"Oh, ini cucumu ya? Halo, anak cantik.... namanya siapa?"


"Gwen."


"Oh, namanya bagus, ya."


"Kamu sendiri kenapa ada di sini? Apa mau menjemput cucu juga sepertiku?"


"Iya. Aku mau menjemput cucuku. Menantuku tadi pergi membawa cucuku yang bungsu ke rumah sakit. Dia jatuh sampai dahinya berdarah. Jadi aku menggantikannya menjemput anak-anak."


"Oh, kasihan sekali.... "

__ADS_1


"Oma.... Oma.... " teriak Daniel dan Dean sambil berlari menghampiri neneknya.


"Dua anak ini cucumu, ya? Ternyata cucu kita sekolah di tempat yang sama."


"Iya."


"Kamu sudah punya berapa cucu memangnya?"


"Tiga. Aku sudah punya tiga orang cucu."


"Wah, sudah banyak juga. Cucuku baru satu ini."


"Eh, ngomong-ngomong... kedua cucumu ini besarnya hampir sama, ya? Tapi kok yang ini ganteng banget kayak anak bule. Rambutnya juga pirang begini. Hidungnya mancung gemesin. Kok nggak mirip sih dengan anakmu Ayash, kalau yang ganteng satu ini aku tahu, duplikat waktu kecilnya Ayash ini. Kamu imut banget, Sayang. Sama seperti ayahmu."




Rita tampak antusias mengomentari kedua cucu temannya. Dia tidak sadar jika perkataannya telah menimbulkan kekesalan di hati Maya. Maya paling tidak tahan kalau mendengar komentar seperti itu. Dia memang sudah memperkirakan, hal ini pasti akan terjadi. Perbedaan wajah Daniel dengan Ayash selamanya akan membuat orang bertanya-tanya. Maya sendiri ragu kalau Daniel adalah anak Ayash, apalagi orang lain. Tapi, dia harus bersabar. Dia sudah berjanji kepada Ayash akan menerima Daniel dengan baik.


"Ah, sebenarnya yang ini anak adopsi. Ayash mengadopsi anak temannya waktu di Singapura karena kasihan."


"Oh, iya iya.... Aku memang pernah dengar anakmu tinggal di Singapura."


"Ya kamu tahu sendirilah, anakku itu hatinya sangat lembut, tidak tega melihat orang lain kesusahan, apalagi temannya. Dia sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Kami sekeluarga juga begitu. Kami tidak pernah membedakan mereka berdua."


"Ya, aku tahu sifatmu dan anakmu. Senangnya punya keluarga yang saling menyayangi dan baik hati."


"Uti... Ayo pulang...." rengek Gwen.


"Iya, Sayang.... Maya, aku pamit dulu, ya. cucuku sepertinya sudah lelah. Kapan-kapan kalau kita bertemu lagi, ayo kita makan bareng."


"Iya, hati-hati di jalan." Maya mengiring kepergian Rita dengan senyuman.


Maya berharap itu pertama dan terakhirnya bertemu dengan Rita. Dia tidak akan lagi mau menjemput sendiri Daniel dan Dean, lebih baik menyuruh orang lain.


"Oma... Kita tidak pulang?" tanya Dean melihat neneknya mematung.


"Ah, iya. Ayo kita pulang."

__ADS_1


Maya menggandeng Daniel dan Dean menuju mobil. Bodyguar membukakan pintu untuk mereka bertiga. Mobil segera melaju meninggalkan halaman sekolah setelah ketiganya masuk.


Tak jauh dari posisi awal Maya bertemu Rita, ada Bayu yang ternyata sedang berdiri di sana. Niatnya dia ingin kembali membawakan mainan puzzle untuk Daniel. Tapi, ia mengurungkan niatnya ketika mendengar obrolan kedua nenek-nekek yang sedang membahas Daniel. Hal yang membuat Bayu geram adalah ketika Maya menyebut Daniel sebagai anak adopsi. Dia tidak terima anaknya dikatakan seperti itu. Daniel masih memiliki ayah, dia siap menerima Daniel jika memang keluarga Prita dan Ayash tidak menginginkannya.


__ADS_2