
"Pak, ini mainan yang tadi Anda minta."
Reni menaruh tas belanja berwarna biru di meja Bayu. Tadi, saat Reni akan kdluar untuk makan siang, tiba-tiba Bayu memanggilnya. Dia sudah was-was saja kalau sudah dipanggil oleh bosnya, takut ia membuat kesalahan dan akan dipecat. Ternyata, Bos Bayu memanggilnya bukan untuk masalah pekerjaan, tetapi meminta tolong padanya untuk membelikan mainan di toko untuk dua anak lelaki usia 4-5 tahun.
Reni awalnya ragu, kenapa bosnya tiba-tiba menyuruhnya membeli mainan. Tapi, ia tetap laksanakan perintah dari bosnya itu.
"Terima kasih, Reni. Kamu boleh kembali bekerja."
"Baik, Pak."
Reni keluar begitu saja dari ruangan Bayu. Sebenarnya di dalam otaknya ada banyak pertanyaan yang ingin diutarakan kepada bosnya. Tapi, nyalinya terlalu kecil untuk ingin tahu tentang masalah pribadinya.
Saat kembali ke ruangan, Winda, Jonan, dan Hari sudah menunggunya dengan muka-muka penasaran. Mereka memang empat serangkai tukang gosip yang tidak bisa sehari saja fokus bekerja. Bagi mereka, kalau belum ngerumpi saat kerja itu belum sempurna.
"Ren.... mainannya buat siapa katanya?" Winda tidak sabaran mendengarkan cerita versi Reni.
"Mana aku berani bertanya, Win. Kamu mau aku dipecat gara-gara salah ngomong?"
"Bukan begitu juga.... maksudnya kan Pak Bayu sudah mempercayakanmu untuk membelikan mainan. Ya, siapa tahu itu awal hubungan yang baik antara atasan dan bawahan."
"Kalau menurutku sih hadiah itu untuk anak dari pacarnya, Nona Shuwan itu."
"Heh! Jonan, jangan sembarangan bicara. Masa Nona Shuwan sudah punya anak." ujar Hari.
"Ya siapa tahu Nona Shuwan itu sebenarnya janda yang sudah punya dua anak."
"Eh tapi masuk akal juga sih omongan Jonan. Mungkin saja kan itu hadiah untuk anak pacarnya." kata Winda.
"Siapa tahu juga hadiah untuk anak temannya. Pak Jimmy kan punya anak kecil juga kalau tidak salah namanya Leo. Pak Bayu juga sayang banget sama dia." Reni menimpali.
"Masa Leo dikasih hadiah robot-robotan? Dia kan sudah kelas empat SD."
"Iya juga, sih."
"Sudahlah! Mungkin untuk teman anaknya yang lain. Ngapain juga ya kita ngurusin." Reni jadi tampak bodoh membahas hal yang tidak berguna.
"Ngomong-ngomong kenapa ya, wajah Pak Bayu seperti bekas luka-luka begitu? Dia kan jago bela diri. Masa babak belur dihajar penjahat?" tanya Hari yang sempat berpapasan dengan atasannya saat keluar dari toilet.
"Serius, Har?" Jonan yang tidak tahu menahu ikut penasaran.
"Apa yang dikatakan Hari benar. Memang Pak Bayu di dahinya masih terpasang perban. Bagian wajah yang lain juga masih memar-memar."
"Masa sih.... Ilang dong gantengnya." kata Winda.
"Tambah kelihatan macho, Win. Tampilan Pak Bayu hari ini pokoknya beh.... keren! Seperti mafia yang baru pulang dari medan pertempuran."
__ADS_1
"Hahaha... Kebanyakan baca novel kamu Ren!"
"Yang lebih aneh juga beberapa hari ini Alex tidak pernah kelihatan di kantor, ya? Kenapa anak itu? Aku jadi khawatir."
"Benar, Har. Nggak biasa-biasanya adik kesayangan kita bisa jauh-jauh dari bos. Mana kita masih hutang satu kali traktiran lagi." gumam Jonan.
"Jangan-jangan Pak Bayu dan Alex sedang bertengkar."
"Bisa jadi."
"Eh, kalian ada yang punya nomor Alex, nggak? Aku mau tanya kabarnya."
"Lah, yang paling dekat dengan Alex kan kamu, Ren. Kok tanya ke kita."
"Aku nggak punya soalnya."
"Ya nanti tanya saja ke bagian HRD. Pasti mereka tahu."
Gosip di antara empat serangkai masih berlanjut. Topiknya tak jauh-jauh dari bosnya, Alex, dan orang-orang kantor yang menarik untuk dibahas.
Di lain sisi, ada Bayu yang mood-nya tampak senang karena hari ini ia akan menemui Daniel. Dia sudah sangat merindukan anaknya itu.
Dengan langkah penuh semangat, Bayu berjalan menuju gerbang sekolah Daniel membawa paperbag berisi mainan untuk Daniel dan Dean. Ya, selain membelikan mainan untuk Daniel dia juga membelikan mainan untuk Dean.
Dari arah luar pagar, terlihat anak-anak sedang bermain di halaman. Saat itu waktunya istirahat.
Daniel yang menyadari kehadiran Bayu langsung melambaikan tangan dari arah pagar. Ada juga satpam yang berjaga di sana.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pak satpam.
"Boleh saya masuk sebentar bertemu keponakan saya?"
"Anda papannya Daniel, ya?"
"Iya, benar."
"Kalau begitu, silakan masuk."
Satpam membukakan pintu gerbang sehingga Bayu bisa masuk ke dalam. Suasana di dalam ramai dengan anak-anak yang bermain dengan gembira. Daniel memeluknya. Rasanya tak ada hal yang lebih membahagiakan daripada dipeluk oleh anaknya.
"Dean mana?"
"Dean.... kemari!" teriak Daniel sehingga Dean mendengar suara panggilan kakaknya.
"Oh, ada Uncle Yu."
__ADS_1
"Ikut uncle sebentar, ya. Uncle membawakan hadiah untuk kalian."
Mendengar kata-kata hadiah tentu saja membuat Daniel dan Dean kegirangan. Mereka mengikuti Bayu menuju ruang bermain yang agak sepi. Diberikannya mainan itu kepada Daniel dan Dean.
"Yeay.... mainan robot lagi!" seru Dean kegirangan. "Uncle... aku mau main ini dengan teman!" Dean langsung berlari keluar membawa mainannya.
Sementara, Daniel sedikit tidak suka dengan mainan robot.
"Kamu tidak suka ya, dengan mainannya?" tanya Bayu melihat raut murung Daniel.
Daniel mengangguk.
"Kamu mau mainan apa? Besok daddy belikan."
"Daniel mau puzzle."
"Oke."
"Uncle.... eh, Daddy.... "
"Ya?"
"Kenapa wajah Daddy seperti itu?" tanya Daniel yang sejak tadi penasaran melihat wajah Bayu yang penuh luka.
"Ah, kemarin daddy melawan penjahat yang lumayan hebat. Makanya wajah daddy jadi sedikit terluka. Tapi daddy tetap menang melawan penjahat itu." jawab Bayu dengan memulaskan senyum.
"Waktu itu Papa dan Daddy juga pukul-pukulan. Terus, siapa yang jahat?"
Kalau boleh jujur, Bayu ingin mengatakan kalau Ayash yang jahat karena dia yang lebih dulu memukulnya. Tapi, Daniel belum cukup umur untuk memahami permasalahan orang dewasa.
"Em, waktu itu papamu mengira daddy orang jahat yang mau menculik Daniel. Jadi, kami sedikit bertengkar."
"Papa bilang Papa akan marah kalau Daniel bertemu Daddy."
"Papamu bilang begitu?" Bayu geram mendengar Ayash berani melarang anaknya bertemu dirinya. Rasanya ingin kembali menghajar orang itu.
"Ya. Mama Papa juga bertengkar. Mungkin karena Daniel bertemu Daddy."
Bayu menyunggingkan senyum, ia senang mendengar kalau hubungan Prita dan Ayash renggang.
"Daniel tidak perlu takut untuk bertemu Daddy. Kalau mama papa Daniel marah, Daddy yang akan maju." Bayu mengusap kepala anaknya.
"Daniel, Daddy kembali ke kantor dulu, ya? Besok Daddy akan kembali lagi membawakan puzzle untukmu."
Daniel mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Ayo peluk Daddy dulu."
Daniel langsung memeluk Bayu. Membuat Bayu rasanya ingin membawa Daniel pergi bersamanya. Diciuminya pipi Daniel berkali-kali sampai ia merasa puas. Akhirnya, Bayu harus kembali meninggalkan Daniel di sekolahnya.