
Makasih ternyata ada 10 vote minggu ini. Yang lain kok diem2 aja sih ayo dong ikutan vote. Up lagi ah.... 😁
-------------------‐----------------‐-----------------------------------------
"Anak-anak sepertinya kelelahan. Aku akan mengantar mereka kembali ke kamar." Pamit Prita setelah semua prosesi pernikahannya selesai.
Dia juga sudah menemui teman-temannya. Meskipun muka mereka terlihat tidak senang, tapi dia tetap menyunggingkan senyum. Sekali lagi, pernikahannya memang bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Dan dia rasa, Bayu bukanlah pilihan yang buruk.
"Oke, aku akan menyusulmu setelah berbicara dengan teman-temanku sebentar."
Prita tersenyum. Ketika ia hendak berbalik, Bayu meraih tangannya dan mendekatkan mulutnya ke telinga, "Jangan lupa, setelah masuk kamar, buka kado di atas kasur. Pakai itu saat aku kembali." bisiknya.
Prita tidak tahu apa yang sudah Bayu persiapkan untuknya. Dia hanya mengangguk kemudian menghampiri anak-anaknya. Ia menggendong Livy, princess kecil kesayangannya. Baju yang dipakai si kecil Livy memiliki model dan warna senada dengannya. Hal menyenangkan memiliki seorang anak perempuan adalah bisa memakai baju yang sama.
Sesampainya di kamar anak-anak, Prita menyempatkan mencium dan memeluk ketiga anaknya sebelum masuk ke kamarnya sendiri. Ia butuh berganti pakaian karena baju yang dikenakannya cukup berat dan tidak nyaman.
"Leta, nanti akan ada yang mengantarkan makan malam ke sini. Tolong bantu anak-anak makan, ya."
"Baik, Nyonya Prita."
Prita menutup kamar anak-anaknya. Ia berjalan beberapa meter menuju kamar yang telah dipersiapkan sebagai kamar pengantin. Kamar nomor 30. Ia tersenyum saat membuka kamar itu.
Kamar yang wangi dengan banyak bunga bertebaran di dalamnya. Penerangan yang tidak terlalu terang, sedikit redup memberikan nuansa romantis.
Ia jadi teringat lagi tentang kenangan di malam pernikahan pertamanya. Dulu, ia bahkan belum sempat melihat kamar pengantinnya. Semua gara-gara Mario. Ia harus menghabiskan malam pengantinnya di rumah sakit dengan kenangan buruk yang tidak akan dilupakannya seumur hidup.
Saat memasuki ruangan, matanya tertuju pada kotak hitam dengan pita merah yang tergeletak di atas ranjang. Sepertinya itu kado yang dimaksudkan oleh Bayu. Dengan rasa penasaran, ia ambil box yang berukuran cukup besar itu. Pita yang mengikat ia lepaskan, penutup ia ambil. Ternyata isinya satu set lingerie merah yang cukup transparan jika dipakai.
__ADS_1
Prita hanya geleng-geleng kepala. Ini masih terlalu sore untuk melakukan prosesi malam pertama. Mereka bahkan belum makan malam, tapi sudah menyuruhnya mengenakan pakaian seperti itu.
Hobinya sejak dulu masih sama, suka menyuruhnya memakai pakaian pengundang syahwat seperti itu. Bedanya, dulu ia merasa sangat terpaksa. Namun, kali ini adalah suatu kewajiban untuk menyenangkan hati suami.
Tanpa pikir panjang lagi, ia membawa box itu ke dalam kamar mandi. Diletakkannya box itu di dalam lemari sementara ia melepaskan gaun pengantin yang sedari tadi sangat mengganggunya.
Rasanya lega ketika pakaian berat itu terlepas dari tubuhnya. Ia lepaskan juga pakaian dalam berwarna putih hingga kini tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi.
Prita menyibakkan tirai pembatas yang menutupi. Tampak bathtube yang telah terisi penuh dengan air dan bunga di atasnya. Bayu pasti yang telah mempersiapkan ini semua secara detail untuknya.
Perlahan Prita menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtube yang hangat. Rasanya sangat nyaman. Ditambah lagi dengan adanya lilin aroma terapi yang semakin menenangkan pikirannya. Ia tidak sabar lagi untuk melihat kejutan lain yang telah Bayu persiapkan untuknya.
Prita menyandarkan kepalanya pada sisi atas bathtube. Ia melamun, mengingat kembali pertemuannya dengan Bayu. Sebuah kisah yang panjang dan penuh liku. Perkenalan yang dipenuhi dengan kebencian.
Pertemuan pertama yang tak terlupakan saat menolongnya di depan pintu rumah dalam keadaan terluka. Sejak saat itu dia selalu datang menjadi pengganggu dalam kehidupannya. Sikapnya yang agresif semakin membuatnya benci.
Puncaknya, saat Bayu menorehkan luka yang membuatnya sempat trauma. Dia pernah merenggut paksa kesuciannya. Itu adalah pengalaman sek*s pertama dan sangat menyakitkan.
Prita membenamkan kepalanya ke dalam air sambil menahan nafas. Jika kembali mengangat kejadian itu, ia kembali takut. Sekarang, Bayu telah menjadi suaminya yang pasti akan menuntut haknya untuk dilayani. Ia takut Bayu akan memperlakukannya sama seperti dulu. Memaksanya dan tak memperdulikan kesakitan yang ia rasakan.
Prita memunculkan kembali kepalanya ke permukaan. Ia tepis kenangan buruk itu. Bayu tidak mungkin seperti itu lagi. Sikapnya sudah sangat baik dan tak lagi memaksa. Buktinya dia sampai bisa bersabar menahan keinginannya hingga hari pernikahan ini tiba.
Prita menyudahi acara mandinya. Ia membawa tubuhnya keluar dari dalam bathtube lalu mengenakan bathrobe. Ia berjalan menuju area washtafel dimana disana ada cermin dan set meja rias yang sudah tertata skincare serta make up.
Ia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer sembari menyenandungkan lagu random hingga rambutnya dirasa cukup kering. Setelah itu, ia ambil catokan agar rambutnya lebih tertata rapi dan menarik. Setelah itu, ia aplikasikan skincare satu persatu.
Ia tak memakai foundation ataupun bedak. Wajahnya hanya dirias dengan pensil alis dan lipstik agar terlihat lebih menarik. Setelah dirasa cukup merias diri, ia melepaskan bathrobe dan menggantinya dengan lingerie merah yang Bayu hadiahkan untuknya.
__ADS_1
Saat ini ia melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin full body. Baju itu benar-benar transparan dan membuatnya terlihat seperti wanita penggoda. Tapi abaikan saja, toh dia akan menggoda suaminya sendiri. Tak lupa ia lengkapi penampilannya dengan menyemprotkan parfume yang akan membuat lelaki semakin menginginkannya.
Ia tersenyum di depan cermin, sepertinya dia sudah siap untuk melakukan dinas malam. Ia akan menunggu kedatangan Bayu di atas ranjangnya. Dia tidak sabar melihat reaksinya nanti. Mungkin dia akan sedikit mempermainkannya atau berlari pergi saat ia benar-benar menginginkannya. Baru memikirkannya saja sudah membuatnya tertawa. Dia senang melihat Bayu tersiksa menahan hasratnya.
Srek!
Saat pertama membuka pintu kamar mandi, ia sempat tersenyum melihat lelaki yang duduk di ranjangnya. Lambat laun senyumnya memudar karena lelaki yang dia kira Bayu ternyata Ayash. Ayash ada di sana?
Suasana langsung canggung dan keduanya diam mematung.
Prita melihat tatapan serius Ayash ke arahnya, seakan ada yang aneh pada dirinya.
Deg!
Seketika ia teringat dengan pakaian yang tengah ia kenakan, "Ah! Aku mau ganti baju dulu!"
Buru-buru Prita masuk kembali ke dalam kamar mandi. Namun, belum sempat pintu kamar mandi tertutup, Ayash sudah menahan dengan kakinya.
"Aku ganti baju dulu, Yash. Menyingkir dari pintu." perintah Prita. Namun, Ayash tetap bergeming.
"Kenapa kamu pakai baju seperti ini?"
Prita bingung juga menjawabnya. Dia berpakaian seperti itu untuk suaminya.
"Ya mana aku tahu kamu akan datang. Aku mau tidur makanya pakai baju tidur. Kamu tunggu saja aku di luar, biar aku mengganti bajuku dulu."
"Tidak usah diganti, aku juga suka melihatnya."
__ADS_1
Mata Prita membelalak, mulutnya terbuka. Ayash apa-apaan dia? Apa dia sudah gila?