
Nungguin, ya? 😁
Vote ayo vote 😅
------------------------------------------------------------------------------
Prita seperti bermimpi. Tubuhnya diangkat dengan lembut oleh seorang lelaki berbadan tegap. Dadanya yang kokoh sangat nyaman sebagai tempat kepalanya bersandar. Rengkuhan tangannya yang hangat membuatnya serasa dimanjakan dan dilindungi. Kenyamanan bagai seorang putri.
Perasaan diselimuti air hangat, itu adalah sentuhan yang menenangkan. Ketika jemarinya mengusap perlahan setiap inchi kulitnya, membalurkan cairan licin seraya memberi pijatan lembut di tubuhnya, serasa ia berada di ruangan spa. Sangat nyaman.
Lelaki itu memperlakukannya dengan sangat baik. Apakah kini ia sedang berperan sebagai aurora? Lelaki itu juga menyapukan bibirnya pada area telinga dan lehernya. Rasanya geli, tapi nikmat. Bahkan mampu menimbulkan sengatan-sengatan kecil di sekujur tubuh yang membuatnya ingin diperlakukan lebih. Ia terang*sang namun matanya tak kuasa untuk terbuka. Ah, ia hampir lupa. Sekarang dia masih bermimpi.
Walaupun itu mimpi, ia masih betah berlama-lama menempel pada dada bidangnya yang kokoh. Saat tangannya meraba, terasa lekukan-lekukan rapi yang tercipta. Lelaki itu pastilah rajin berolahraga. Mungkin juga dia seorang pangeran tampan. Sayangnya, matanya tetap tak bisa terbuka.
Lelaki itu membantunya membersikan bagian dalam miliknya dengan jemarinya. Uh.... Apakah lrlaki itu tidak tahu kalau gerakan jarinya itu membuatnya terganggu? Rasanya menggelitik namun membuatnya ketagihan. Namun itu tidak berlangsung lama, lelaki itu kemudian menyudahinya. Seandainya ia bisa membuka mata, mungkin ia akan merengek padanya.
Sapuan handuk terasa menyentuh kulitnya. Mengeringkan sisa-sia air mandi yang masih menempel di tubuh. Lalu, dia dibaringkan perlahan di atas kasur yang empuk dengan selembar selimut yang menghangatkan tubuhnya. Sapuan lembut tangan lelaki itu membelai rambut membuat Prita semakin hanyut dalam tidurnya.
Ketika akhirnya ia benar-benar bisa membuka matanya, tubuhnya terasa ringan dan nyaman. Tidurnya nyenyak, mimpinya sangat indah.
Ia memiringkan sedikit tubuhnya ke arah kiri, ada seorang lelaki tampan yang juga sedang memandanginya sambil tersenyum. Sepertinya semalam lelaki itu tidur di kasurnya. Dengan bagian dada yang terekpose begitu, lelaki itu tampak seksi. Sementara bagian perut ke bawah masih tertutup selimut yang sama dengannya.
Prita mengerjapkan matanya. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya dan membaca situasi saat ini. Lelaki yang ada di hadapannya adalah Bayu.
"Ah!" teriaknya keras.
Ia langsung terkesiap bangkit dari tidur. Selimut yang menutupi tubuhnya melorot, sehingga payud*aranya terlihat dan menjadi pusat perhatian lelaki yang ada di hadapannya.
"Ah!" teriaknya lagi sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Kini giliran tubuh polos lelaki itu yang terekpose karena Prita terlalu serakah menggunakan selimutnya sendiri. Ada benda yang tegak di sana yang membuatnya semakin malu kemudian membuang muka.
Bayu sendiri heran melihat tingkah wanitanya. Kenapa dia? Apa dia masih kaget?
Lambat laun kesadaran Prita semakin terkumpul. Ia ingat semuanya. Dia Bayu, sudah menjadi suaminya. Semalam juga mereka sudah melewati malam yang panjang dengan kegiatan yang memalukan namun menyenangkan. Kenapa dia jadi canggung saat membuka mata dan melihatnya ada di sampingnya?
"Kamu kenapa?" Bayu meraih helaian rambut Prita yang lembut.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya kaget."
__ADS_1
Bayu mendekatkan tubuhnya, menarik selimut yang menutupi tubuh Prita lalu memeluknya. Hal itu membuat Prita kaget. Kulit mereka bersentuhan dan rasanya aneh. Apalagi saat Bayu mengecupi area pipinya, tubuhnya seakan dibuat merinding.
Ia mengingat kembali aktivitas semalam. Bayu memberikannya kenikmatan yang bertubi-tubi seperti seorang ahli yang mampu memberikannya kepuasan tanpa batas. Ia sampai menangis dan merengek karena Bayu tak kunjung berhenti menggodanya sepanjang malam. Dia pandai mempermainkan wanita. Dia pandai membuat wanitanya sampai merengek dan memohon untuk dipuaskan. Kalau diingat-ingat, betapa memalukannya ia semalam.
"Jangan bilang kamu lupa kalau sekarang aku suamimu. Makanya aku menyuruhmu untuk terus menatapku saat kita bercinta agar kamu tidak lupa kalau Bayu Bagaskara adalah suamimu."
Bayu semakin mempererat pelukannya. Wanita manis itu sepagi ini juga sudah kembali membuatnya gemas. Sepertinya yang semalam belum cukup untuknya. Mungkin harus satu minggu ia mengurung diri di kamar bersama wanitanya agar bisa puas.
Prita masih sedikit tertegun, "Jam berapa sekarang?" tanyanya.
"Baru jam delapan pagi."
Reflek Prita mendorong Bayu agar melepaskan pelukannya. "Oh, astaga.... Kenapa tidak membangunkan aku lebih awal?" protesnya.
Ia beringsut hendak turun dari atas ranjang. Namun, Bayu justru menariknya dan membaringkannya kembali di atas ranjang.
"Kamu mau kemana buru-buru sekali?"
"Aku belum melihat anak-anakku. Mereka harus mandi dan sarapan."
"Aku sudah menyuruh pengasuh mereka mengurus semuanya. Kamu jangan khawatir."
Bayu justru memandangi kedua gundukan yang ada di hadapannya. Tempat yang menjadi rebutan bagi Livy dan dirinya.
"Sayang, mereka bertiga sedang bermain. Aku tadi sudah menelepon Alex yang ikut menemani mereka. Sepertinya Livy juga tidak mencarimu. Mungkin dia tahu, ini giliran daddy-nya yang menyu*su pada mamanya."
Mendengar kata-kata seperti itu, wajah Prita memerah. Dia malu sendiri mendengar perkataannya.
"Apa.... Sejak semalam kamu tetap di sini?"
Prita ingin memastikan jika Bayu tidak pergi meninggalkannya saat ia sedang tertidur. Ia memang berusaha menahan Bayu agar tidak pergi malam itu setelah mendengar percakapan yang sepertinya terdengar suatu rencana yang tidak baik. Dia tidak ingin Bayu pergi untuk urusan seperti itu.
"Aku bukan seorang suami yang buruk, yang tega untuk meninggalkanmu sendirian setelah aku mengisi lubangmu, Sayang." Bayu membelai-belai rambut Prita.
Kata-katanya membuat Prita merinding. Apa dia perlu sefrontal itu mengucapkannya?
"Tapi kalau kamu tidak percaya, aku tidak bisa berkata apa-apa."
Syukurlah kalau memang dia tidak jadi pergi. Memang seharusnya dia sudah tidak lagi melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan hal-hal seperti itu. Apalagi dia membawa pistol di kantong jas miliknya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan yang di bawah sana, apa masih terasa sakit?"
Pertanyaan itu seharusnya tidak ditanyakan. Itu hanya membuatnya malu. Padahal dia bukanlah seorang pera*wan, tapi karena sudah lama tidak berhubungan, jadi harus beradaptasi lagi.
"Itu.... Baik-baik saja." jawabnya dengan malu. Padahal itu suaminya sendiri, tapi kenapa rasanya aneh ditanya seperti itu? Kenapa rasanya masih seperti orang asing yang baru kenal?
"Lalu, apa masih ada yang keluar dari bawah sana?"
"Kamu masih mengeluarkannya bahkan setelah aku menaruhmu di dalam bathtube dan memandikanmu hingga bersih tadi malam. Aku khawatir tubuhmu belum benar-benar bersih."
Jadi, yang semalam itu Prita tidak sedang bermimpi. Ternyata memang Bayu yang memandikannya. Ia tidak bisa mengingat semua kejadian semalam. Yang masih tersisa di memorinya, saat Bayu tak henti-hentinya mengeluar masukkan miliknya dengan tempo yang lambat hingga membuatnya menangis. Malam terasa begitu panjang, namun aktivitas Bayu tak kunjung berhenti. Rengekannya tidak didengarkan, hingga akhirnya dia tertidur dan tak mengingat apa-apa lagi.
"Apa aku harus mengeceknya?"
"Tidak, tidak perlu."
Mungkin dia sedang berusaha bersikap romantis. Tapi, perlakuannya justru membuat Prita merasa malu dan tidak nyaman.
"Aku jadi sedih melihatmu canggung seperti ini padaku. Padahal, semalam kita sudah melakukannya berkali-kali."
"Apa sikapku kurang manis?"
Justru karena sikapnya terlalu manis yang membuat Prita merasa aneh.
"Tidak, sikapmu padaku sudah baik."
"Bagaimana kalau pagi ini kita melakukannya sekali sebelum sarapan?"
Apa dia memiliki kesempatan untuk menolak? Sepertinya lelaki di atasnya tidak akan menerima jika dia menolak. Prita menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.
Bayu segera memagut bibirnya dengan lembut. Gairah yang semalam ada mengalir kembali. Tangannya mendarat pada dua gundukan sek*si itu seraya memijatnya dengan lembut. Membuat pemiliknya menge*rang penuh kenikmatan.
Prita sudah terlalu lelah melayaninya semalam. Kali ini dia tidak akan terlalu lama menuntutnya. Ia akan bermain sedikit cepat namun tetap nikmat.
Beberapa lama setelah berciuman, ia menurunkan tangan kanannya ke bawah, mengecek, ternyata sudah cukup siap untuk dimasuki. Perlahan ia masukkan miliknya ke bawah sana tanpa melepaskan ciuman. Kali ini miliknya bisa melesak dengan mudah. Sungguh kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Setelah menyelesaikan aktivitas bercinta dinpagi hari, mereka menyantap hidangan sarapan di kamar. Tubuh Prita masih terasa remuk hingga tak sanggup turun dari ranjangnya. Untuk mandi saja harus Bayu yang membantunya. Sekarang, menyantap sarapan di atas ranjang. Tapi, setidaknya aktivitas yang mereka jalani berdua semakin menumbuhkan benih-benih cinta di hati Prita.
Kadang dia berpikir, apakah jika sejak awal dia mau menerima Bayu, lelaki itu akan semanis itu memperlakukannya? Apakah menikah dengannya akan sebahagia ini?
__ADS_1