
Jangan lupa vote ya.... 😘
 -----------------------------------------------------------------------------
"Beneran yang seperti ini?"
Raeka memandang heran pada pakaian yang sedang ia pegang. Setelah menyempatkan diri untuk makan di food court, mereka lanjut belanja di area Vict*ria Secr*t. Prita benar-benar menunjukkan baju cosplay Yuuki Asuna.
"Ada juga bajunya Asuna yang warna biru. Tapi aku rasa kamu lebih cocok memakai yang warna putih merah ini. Ditambah juga dengan wig coklat orange dan pedangnya juga biar totalitas."
Prita menyerahkan wig dan pedang mainan ke hadapan Raeka.
"Kamu memang benar-benar lebih tahu ya, tentang Irgi. Aku jadi cemburu, Ta."
"Terus, kamu mau musuhan lagi."
"Iya.... Rasanya aku ingin menjambak rambutmu lagi. Aku sangat kesal."
"Hahaha.... Percayalah, kalau kamu kenal Irgi sejak lama, kalian pasti tidak akan menikah."
"Aku beri tahu, ya.... Irgi yang dulu itu sangat jelek. Sampai sekarang juga dimataku dia tetap jelek sih."
"Dia itu dulu agak gemuk, pipinya tembem, pakai kacamata tebal, kulitnya hitam. Orangnya pendiam dan pemalu, hobinya nonton anime. Suka berkhayal jadi Kirito dan punya pacar secantik Asuna."
Raeka tidak percaya dengan ucapan Prita. Ketampanan suaminya yang paripurna bahkan mengalahkan seluruh aktor Indonesia itu, bisa-bisanya digambarkan seperti itu.
"Tidak percaya, kan?"
"Tidak."
"Kapan-kapan kita main ke rumah lamaku, ya. Sepertinya masih ada foto Irgi saat masih jadi wibu."
"Apa itu wibu?"
"Kamu tidak tahu?"
Raeka menggeleng.
"Kamu suka baca manga atau nonton anime dari Jepang?"
"Tidak. Paling Doraemon dan Detective Conan mungkin waktu kecil."
"Kalau Drama Korea?"
"No."
"Ah, ya.... Pantas saja sulit berteman denganmu. Kamu tidak akan nyambung kalau aku beri tahu."
"Oke, intinya dulu Irgi pecinta anime akut, terutama Sword Art Online (SAO) karena ada pacar gepengnya Si Asuna itu. Coba suruh saja dia menceritakan alur SAO, dua hari dua malam kalian tidak akan tidur."
"Oke, aku mau ambil ini. Besok aku coba sehari menjadi Yuuki Asuna."
Raeka kembali memandangi pakaian yang ada di tangannya, sepertinya tidak terlalu buruk untuk dicoba.
"Kamu sendiri tidak beli, Ta.... Mungkin ada salah satu baju tidur yang kamu mau untuk 'menyenangkan suami'?" Raeka menekankan nada bicaranya.
__ADS_1
"Aku? Dirumah sudah terlalu banyak."
"Ah.... Memang benar ya hobimu seperti itu, Ta." Raeka menggeleng-gelengkan kepala.
"Hobi apa?"
"Koleksi baju dinas malam."
"Bukan aku yang beli. Aku kan sudah bilang, semua barang-barangku itu suamiku yang membelikan."
"Termasuk baju dinas malam?"
Prita mengangguk.
"Sepertinya suamimu sangat mesum, ya?"
"Aku rasa semua lelaki seperti itu."
"Raeka!"
Seseorang memanggil nama Raeka. Obrolan mereka terhenti. Mereka menengok ke arah datangnya suara, ternyata itu adalah salah satu teman SMA mereka.
"Jennifer.... " ucap Raeka.
Jennifer menggandeng seorang anak perempuan yang berusia sekitar empat tahun. Ibu anak itu tampak modis dengan style baju senada.
"Hai, Ra.... "
"Hai.... "
"Kamu bareng Prita?" Jennifer memandang aneh ke arah Prita. "Ternyata kalian sekarang bisa berteman, ya."
Raut wajah Raeka berubah masam. Dia jadi kembali teringat masa lalu yang mungkin sangat menyakitkan untuk Prita. Dulu, dia dan Jennifer merupakan orang yang paling suka mengganggu Prita.
"Apa tidak ada yang mau berteman denganmu, Ra, sampai memilih berteman dengannya?" Pertanyaan Jennifer seperti sedang menyindir.
"Sudahlah, jangan diteruskan. Kita bukan anak remaja lagi, untuk apa membahas masa lalu."
"Iya juga sih, kamu benar. Tapi aku masih merasa aneh saja melihat kalian bersama. Terlihat lucu."
"Oh, iya, Ta. Apa itu anakmu?" Jennifer menunjuk pada Livy yang tertidur di atas stroller.
"Iya, ini anak ketigaku."
"Oh, sudah banyak juga ya anakmu. Kalau anakku baru satu, namanya Rachel, baru empat tahun."
Prita tersenyum ke arah anak kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Jennifer. Ia berharap sifat anak itu tidak sama dengan ibunya. Sampai sekarang sepertinya Jennifer masih sama seperti dulu, sombong dan angkuh.
"Kalau kamu bagaimana, Ra? Apa sudah ada tanda-tanda sedang hamil?"
"Belum."
"Lambat juga, ya. Aku waktu menikah juga langsung hamil. Bukannya kamu sudah hampir setahun menikah, ya Ra?"
"Iya."
__ADS_1
"Sepertinya kamu harus periksa kandungan, Ra. Umumnya wanita yang sudah menikah itu kan langsung hamil."
Prita menoleh ke arah Raeka. Dia takut Raeka akan tersinggung karena ucapan Jennifer itu sudah sangat keterlaluan.
"Aku merasa belum butuh pergi ke dokter. Lagipula aku dan Irgi juga tidak terburu-buru untuk memiliki momongan."
"Wanita harus aware dengan masalah keturunan. Secantik apapun kamu, kalau tidak bisa memiliki anak, lelaki juga bisa meninggalkanmu, Ra. Hati-hati, aku hanya khawatir padamu."
Raeka bereaksi dengan memberi tatapan sinis kepada Jennifer, "Maksudmu Irgi akan meninggalkanku kalau aku tidak bisa punya anak?"
"Ya, itu mungkin saja, kan? Salah satu yang bisa melanggengkan rasa cinta lelaki itu memang anak. Kalau seorang istri tidak bisa punya anak, biasanya lama kelamaan cinta suami akan memudar. Serasa rumah tangganya hambar."
"Apalagi Irgi itu sangat tampan, pasti banyak mengincarnya."
"Berusahalah untuk punya anak, Ra, supaya rumah tangga kalian lebih bahagia."
Baru kali ini ada yang membahas tentang anak dengan Raeka. Padahal, orang tuanya dan orang tua Irgi sendiri tidak pernah menuntutnya untuk segera memiliki anak. Tiba-tiba ada orang sok tahu yang mendikte kehidupannya. Sungguh luar biasa.
"Maaf ya, Jen. Aku terpaksa ikut bicara." Prita sepertinya sudah tidak tahan mendengar ucapan Jennifer. Meskipun dulu Jennifer dan Raeka berteman baik, bisa-bisanya dia berkata seperti itu yang bisa melukai hati orang lain.
"Menurutku selama ini kehidupan Irgi dan Raeka baik-baik saja, mereka bahagia walaupun belum memiliki anak. Justru yang bisa membuat mereka tidak bahagia itu ucapan orang sepertimu yang seolah-olah paling tahu standar kebahagiaan hidup orang lain."
"Siapa bilang anak bisa menjadikan rumah tangga langgeng dan cinta suami bertambah? Banyak pasangan yang sudah memiliki anak akhirnya juga bercerai."
"Kalau kamu merasa bahagian dengan hidupmu yang sekarang, pertahankan untuk dirimu sendiri. Tidak perlu menilai kehidupan orang lain, apalagi memberikan standar hidupmu kepada orang lain."
"Satu hal lagi, Irgi bukan orang seperti itu. Dia menikahi Raeka karena tulus mencintainya, bukan untuk menjadikan Raeka sebagai pabrik anak."
Jennifer terperangah melibat Prita begitu berani mengatakan hal itu di depannya. Sangat berbeda dengan Prita yang hanya bisa diam saat ia menjahilinya waktu SMA.
"Apa sekarang kamu sedang membela orang yang dulu pernah mem-bully-mu? Lucu sekali."
"Lalu kamu sendiri apa? Bukankah Raeka itu temanmu? Teman macam apa yang tega melukai perasaan temannya?"
Jennifer sangat kesal mendengar perlawanan dari orang lemah seperti Prita. Berani-beraninya ia ngelunjak, seakan menyalahkan ucapannya.
Jennifer hendak melayangkan tamparan ke arah Prita, namun tangannya lebih dulu ditahan oleh Prita. Tatapan matanya tajam dan penuh keberanian. Semakin membuat Jennifer kesal.
"Kamu mau menamparku di depan anakmu? Jen, kita bukan anak kecil lagi. Berhenti bersikap seperti ini." Prita masih memegang kuat tangan Jen.
"Sudah, Ta. Ayo kita ke kasir membayar belanjaanku."
Raeka meraih tangan Prita agar melepaskan tangan Jennifer. Ia mengajak Prita pergi menuju kasir, sembari mendorong troli Livy. Untung saja tidur Livy tidak terganggu mendengar pertengkaran kecil yang tadi.
"Ra, jangan dipikirkan ucapannya yang tadi, ya. Setiap orang bisa bahagia dengan kehidupannya masing-masing. Lagipula, Irgi tidak akan meninggalkanmu hanya karena hal seperti itu."
"Iya, kamu tidak usah khawatir. Aku memang tipe orang yang tidak terlalu peduli omongan orang lain."
"Jennifer menilai hidupku kurang bahagia, mungkin dia sendiri yang kehidupannya kurang bahagia."
"Suaminya itu pelaut, kapten kapal. Gajinya besar kan, sekitar US$200.000 atau setara tiga miliyar per bulan. Tapi ya begitu, jarang pulang."
"Hem, masih kalah jauh sama kamu. Uang jajanmu berapa Ra, satu bulan?"
"Unlimitted."
__ADS_1
"Hahaha.... "
Prita dan Raeka tertawa bersama-sama. Kebahagiaan itu memang tidak ada patokannya. Kebahagiaan hanya bisa diciptakan oleh diri sendiri, tidak tergantung pada kekayaan, jabatan, kepopuleran, ataupun keturunan. Semua orang bisa bahagia asalkan fokus pada dirinya sendiri dan tidak terlalu mendengarkan penilaian orang lain.