ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Tiga Srikandi


__ADS_3

"Banyak juga ya anggota klab memanah ini." gumam Prita.


Ini pertama kalinya Prita menginjakkan kaki di tempat seperti itu. Baru saja Prita bersama Raeka dan Andin mengganti baju mereka dengan pakaian olahraga serta membawa perlengkapan memanah di tangan masing-masing.


"Olahraga seperti ini memang sedang hype. Jadi makin banyak peminatnya."


"Iya. Apalagi kemarin tim Indonesia ada yang dapat medali emas." ucap Raeka.


"Moreno, kan?" Andin memastikan.


Raeka mengiyakan.


Prita jadi kembali terpikir pada berita yang sempat dilihatnya di TV, tentang perselingkuhan atlet Moreno dan Shuwan Mey.


"Moreno.... pemilik tempat ini?" ganya Prita.


"Iya, Ta. Nanti aku kenalkan pada Coach. Biasanya kalau ada anggota baru dia akan menyapa."


"Hai, Raeka." sapa seorang wanita yang juga baru keluar dari ruang ganti.


Saat melihatnya, Prita tau kalau itu wanita yang ia lihat di TV bersama Bayu. Namanya Shuwan Mey. Dilihat secara langsung wanita itu terlihat lebih cantik. Postur tubuhnya sempurna dan sangat menawan. Sebagai wanita saja dia mengagumi kecantikan Shuwan apalagi di mata lelaki.


"Hai, Shuwan."


"Apa mereka temanmu?" Shuwan sedikit terkejut Raeka bisa membawa teman. Raeka tipe orang yang menurutnya sulit mendapatkan teman karena sikapnya yang cuek dan masa bodoh.


"Iya. Mereka temanku. Hari ini baru mulai bergabung di klab ini."


"Kenalkan, ini Prita dan ini Andin."


"Aku Shuwan Mey." Shuwan bersalaman dengan Prita dan Andin.


"Kalau begitu, aku duluan ke lapangan." Shuwan tersenyum sebelum meninggalkan mereka.


"Dia yang muncul di TV itu, Ta." ucap Raeka.


"Iya, aku tau. Dia lebih cantik dilihat langsung."


Raeka terkekeh mengingat kebusukan Shuwan tapi masih mendengar ada orang yang memujinya cantik.


"Dia artis?" sahut Andin.


"Kamu nggak pernah nonton TV, Ndin?"


"Nggak, Ra. Makanya aku tanya."


"Oh, kalau begitu nggak usah dipikirin. Kamu tidak akan paham. Mending kita langsung ke lapangan saja."


Andin jadi orang yang paling tidak mengerti dengan pembicaraan mereka. Akhirnya, ia hanya melupakan rasa penasarannya.

__ADS_1


Sesampainya di lapangan, Moreno menemui mereka. Lelaki itu tampak kharismatik dan menarik. Pantas saja banyak wanita yang mengidolakannya, termasuk Shuwan. Walaupun duda beranak satu, tapi dia masih kelihatan seperti lelaki single yang belum pernah menikah.


"Ada beberapa jenis stance, tapi untuk pemula yang disarankan adalah square stance. Tinggal ambil garis lurus aja sama target. Ujung kaki lurus sama tengahnya target. Kakinya dibuka selebar bahu. Badan tegak yah."


Moreno memberi penjelasan sambil mencontohkan sikap berdiri sebelum memulai panahan. Prita dan Andin memperhatikan dengan seksama.


"Waktu masangin nock ke nocking point harus sampai bunyi klik. Jangan terlalu kencang apalagi terlalu longgar."


Prita tersentak ketika Moreno ikut memegangi tangannya untuk membenarkan caranya yang salah dalam menempatkan anak panah pada busurnya. Posisi mereka sangat dekat hingga membuatnya tak nyaman.


"Perhatikan posisi fletching, warna yang beda sendiri ditaruh di luar menjauhi riser. Posisi qnak panah di arrow rest juga jangan sampai jatuh dari arrow rest-nya."


Prita melirik ke arah Raeka, ia memberi isyarat kalau dia tidak nyaman dengan pelatihnya. Tapi, Raeka malah membalas isyaratnya agar ia tetap santai saja. Padahal, Prita melihat Raeka dan Andin tersenyum-senyum sendiri.


"Megang busurnya harus rileks, ya. Kalau tegang nanti anak panah larinya bakal melenceng ke samping. Nggak usah kenceng-kenceng pegangnya."


"Cara pegang stringnya, sangkutin string di ruas jari pertama. Jangan terlalu sedikit nyangkutnya, takut release gak sengaja dan jangan juga terlalu dalem ntar susah releasenya."


"Lihat ke arah target, tarik string sampe nyentuh idung sambil mempertahankan posisi tangan yang megang busur tetep lurus, kepala juga tetep diam."


"Bahu kiri dan kanan tetep sejajar. Fokus ke target."


Prita mencoba menahan diri. Dalam hatinya, ia merasa seorang pelatih tidak seharusnya sedekat itu mengajari muridnya. Benar-benar tidak nyaman. Apalagi ketika hembusan nafasnya mengenai telinga saat berbicara, itu seperti tindakan yang disengaja untuk menggoda.


"Release!"


Moreno tersenyum, "Ingat baik-baik yang sudah aku ajarkan. Kalau rutin berlatih, kamu pasti akan lebih mahir."


"Terima kasih, Coach." Prita berusaha tersenyum. Sebenarnya pertemuan pertama ini membuatnya sudah tidak nyaman. Ia tidak tau akan datang lagi ke tempat latihan atau tidak kalau cara pelatih mengajarinya seperti itu.


"Sekarang giliranmu, apa perlu saya bantu?" Moreno berbicara kepada Andin.


"Oh, sebelumnya saya juga pernah beberapa kali latihan memanah. Saya akan melakukan sendiri saja dan Coach bisa menilainya." ucap Andin.


Andin mengambil satu anak panah dari quiver dan mulai memasangkannya pada busur. Dilihat dari caranya memegang perangkat memanah, memang Andin sudah cukup mahir sebagai pemula. Teknik yang tadi Moreno jelaskan sudah hampir semuanya diterapkan oleh Andin.


Syut!


Anak panah yang Andin lepaskan melesat ke arah target. Meskipun tidak pas mengenai tengah sasaran.


"Ah, ternyata kamu lumayan juga." puji Moreno.


"Terima kasih, Coach."


"Berarti yang harus latihan lebih keras itu Prita. Semangat ya, Prita. Asalkan rajin berlatih, kamu juga bisa seperti mereka berdua."


"Iya, Coach."


"Kalau begitu aku mau menemui anak-anak yang lain. Silakan lanjutkan latihannya sendiri." ucap Moreno.

__ADS_1


Sebelum pergi, Prita sekilah melihat Moreno menoleh ke arahnya seraya memberikan senyuman yang sulit untuk diartikan. Kalau boleh Prita memberikan kesan di hari pertama latihannya, Moreno itu tipe pelatih yang sedikit genit.


"Cie.... Teman kita kayaknya dapat perhatian dari orang baru." ledek Andin.


"Waow! Pesona janda memang tidak bisa diabaikan. Kita harus hati-hati menjaga suami, Ndin."


Prita keheranan mendengar ledekan dari kedua temannya.


"Maksud kalian apa, sih?"


"Kamu nggak tau, Ta?" tanya Andin.


"Tau apa, Ndin?"


"Ah, dia nggak paham, Ra."


Raeka dan Andin sama-sama asyik ngobrol sendiri.


"Coach tertarik sama kamu, Ta." ucap Raeka.


'Bukan tertarik namanya, emang mungkin pelatih cabul aja.' gumam Prita dalam hati.


"Mau tau pemandangan yang lebih menarik? Lihat ke sebelah kanan."


Prita menengok ke arah yang ditunjuk Raeka. Ada Shuwan yang sedang memperhatikan ke arah mereka. Prita tak berlama-lama menoleh ke arah sana karena pandangan Shuwan menakutkan.


"Kenapa dia? Kok kayak orang kesal."


"Biasa, Ta. Dia selalu begitu kalau Coach dekat dengan wanita lain. Apalagi sikap Coach padamu seperti itu. Hati-hati, ya. Kamu bakalan jadi sasaran dia nanti."


"Wajahnya nggak ada tampang bully padahal."


"Kamu harus membuktikan sendiri, Ndin. Dia orangnya repot."


"Menarik kalau begitu. Ayo maju, Ta. Aku bakalan membantumu dari belakang."


"Kalian apa-apaan, berasa masih SMA apa? Aku tidak mau ribut dengan orang."


"Ra, kasih video tutorial belajar memanah lah. Biar aku belajar sendiri. Parah kalau dapat Coach begitu."


"Coach atau pelatih gak bisa digantikan dengan baca atau lihat video,Ta. Kalo kamu belajar sendiri tanpa ada yang ngawasin, lalu ngelakuin sesuatu dengan salah terus-terusan, lama-lama kesalahan itu jadi kebiasaan buruk yang bakal susah ilang. Bukannya tambah jago malah tambah ngaco."


"Nggak apa-apa, Ta. Hidup harus ambil tantangan. Aku mendukungmu pokoknya."


"Aku juga dukung kalau begitu." sahut Raeka.


Prita hanya memutar bola matanya. Kedua temannya tiba-tiba jadi bersikap kekanak-kanakan layaknya anak SMA.


Setelah asyik bercanda-canda, mereka bertiga kembali melanjutkan latihan. Raeka yang paling jago lebih banyak mengajari Prita daripada bermain sendiri. Sesekali dia terlihat menghela nafas karena Prita tidak cepat paham dengan apa yang dia ajarkan.

__ADS_1


__ADS_2