ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kemenangan Bersama


__ADS_3

Yang paling aktif nagih update, tolong aktif juga jarinya buat tinggalin like dan kasih vote buat karya ini. Masa suka baca tapi malas kasih dukungan. Kasihan atuh authornya.... 😳


Author masih sibuk dengan pekerjaan di real life ya.... Jadi waktu untuk nge-halu tentang Bayu dan Prita berkurang. Harap sabar 😘


...-------------------------------xxx------------------------------...


"Tunggu.... Daniel juga mau ikut!"


Seruan Bayu mengalihkan perhatian orang-orang di kelompok TK besar. Pandangan mereka fokus pada hot daddy yang tengah menggendong putranya. Dia tampak begitu gagah sampai kumpulan ibu-ibu di sana tercengang ada orang tua murid seperti Bayu.


"Oh, ini ayahnya Daniel, ya?" tanya ibu guru yang menjadi panitia lomba.


"Benar, Bu Guru. Boleh kami ikut lomba?"


Senyuman yang Bayu berikan sedikit membuat guru itu meleleh, "I.... Ini talinya." ia memberikan tali pengikat kepada Bayu seperti yang peserta lain dapatkan.


"Terima kasih."


Guru itu buru-buru lari ke pinggir sebelum hatinya meledak. Senang senang sekali rasanya dia bisa melihat banyak visual di lomba anak-anak TK.


"Mama.... " Daniel berteriak penuh semangat ketika melihat ada mamanya bersama Livy yang berdiri di pinggir lapangan. Di sampingnya juga ada Raeka dan Irgi.


"Anakmu menyusahkan sekali hari ini, Ta. Ngambek terus sejak tadi gara-gara kalah lomba." Irgi mengadukan kelakuan Daniel kepada Prita.


"Mungkin dia kesal karena kamu datang." ujar Prita.


"Lah, seharusnya senang kan, aku bisa menemaninnya lomba?"


"Daniel maunya ditemani daddy-nya, Sayang.... Bukan kamu."


"Ah, anaknya Prita memang sekarang sudah lupa padaku. Padahal dulu lengketnya seperti lem aib*on."


"Lah, ini Livy juga mau digendong Raeka." Prita menunjuk pada Livy yang ada di gendongan Raeka.


"Nah, ini lagi, kecil-kecil galak banget. Coba sini ikut Papa Irgi." Irgi memajukan kedua tangannya kepada Livy.


Plak!


Wajah Irgi dipukul oleh Livy cukup keras. Prita dan Raeka tertawa lepas melihatnya. Tampaknya Irgi semakin kesal karen Livy tidak mau digendongnya.


"Peraturan mainnya, silakan ayah mengikatkan sebelah kakinya dengan kaki putranya dengan tali yang sudah dibagikan panitia. Nanti, anak-anak dan para ayah harus berlari dari garis start sampai ke garis finish. Ikatannya tidak boleh terlepas dan tidak boleh terjatuh di tengah perlombaan. Yang sampai di garis finish lebih dulu yang akan menjadi pemenangnya."


"Daniel, kamu sudah siap kan?" tanya Bayu sembari mengikatkan tali pada kaki kanannya dan kaki kiri Daniel.


Daniel mengangguk.


"Nanti, pegang tangan daddy dengan kencang. Kita lari sambil berhitung satu dua satu dua.... "


"Kalau daddy bilang satu, berarti Daniel harus melangkahkan kaki yang sendirian. Kalau daddy bilang dua, berarti Daniel harus menggerakkan kaki yang diikat ini. Mengerti."


Daniel kembali mengangguk. Sebelum perlombaan dimulai, dia memeluk tubuh ayahnya. Dia senang sekali ayahnya bisa datang meskipun terlambat. Menang ataupun kalah sudah tidak jadi masalah. Daniel sudah merasa menang dengan kedatangan ayahnya.

__ADS_1


"I love you, Daddy.... " ucapnya.


Bayu menyunggingkan senyum, "I love you too, Daniel."


"Baiklah, semuanya bersiap, lomba akan dimulai dalam hitungan ketiga."


Panitia memberi aba-aba. Seluruh peserta lomba sudah bersiap-siap.


"Satu.... Dua.... Tiga.... "


Lomba sudah dimulai. Terdengar suara sorak-sorai dari tim supporter di tepi arena. Sementara, pasangan ayah dan anak yang ikut lomba saling berusaha untuk menyeimbangkan langkah agar bisa berjalan lebih cepat. Ada pasangan ayah dan anak yang terjatuh setelah lomba dimulai. Beberapa kesusahan menggerakkan langkah bersama.


"Eh, eh.... Ayahnya Chiko, tidak boleh seperti itu, itu namanya curang!" panitia menegur Ayahnya Chiko yang berlari sambil mengangkat tubuh anaknya di sisi tubuh. Ia tidak sabar mengajak anaknya berjalan bersama, jadi dia bawa lari saja supaya cepat sampai. Bukannya menjadi juara, mereka justru didiskualifikasi.


Sementara, Bayu dan Daniel masih terus berusaha menyeimbangkan langkah. Mereka tidak peduli akan menang atau kalah, yang penting sudah berlaku sportif dalam lomba. Ketika pasangan yang lain ribut-ribut, mereka berdua sibuk berhitung sambil sesekali tertawa ketika kesusahan menggerakkan kaki.


Satu per satu peserta tumbang. Ada beberapa peserta yang berhasil dilewati, hingga kini Daniel dan ayahnya berada di posisi ketiga. Mereka harus mendahului dua pasang peserta di depannya untuk memenangkan perlombaan kali ini.


Suara sorak sorai dukungan semakin keras terdengar di perlombaan terakhir hari ini. Siapa yang akan memenangkan cabang peelombaan ini, masih belum dipastikan. Ketiga pasang peserta ayah dan anak sama-sama penuh semangat untuk menjadi yang pertama.


"Daniel, sebentar lagi kita bisa mencapai garis finish. Kita percepat lagi ya langkahnya."


Daniel mengangguk. Ia melangkahkan kakinya lebih cepat, sementara Bayu mengimbangi langkah itu seraya mengeratkan pegangannya pada pinggang Daniel agar tetap stabil melangkah.


"Satu dua satu dua satu dua satu dua.... "


Suara hitungan yang dilakukan Bayu dan Daniel semakin terdengar lebih cepat. Mereka berhasil melewati peserta di urutan kedua. Jarak mereka dengan peserta pertama tidak terlalu jauh. Keduanya berusaha semaksimal mungkin .menyelaraskan langkah dengan gerakan yang lebih cepat. Mendekati garis finis, pada akhirmya mereka bisa menjadi yang pertama sampai di sana.


"Yeay.... "


"Apa hari ini kamu senang?" tanya Bayu.


Daniel tersenyum lebar. Ia mengangguk-anggukan kepalanya saking girangnya.


"Daddy juga senang melihat Daniel senang."


Bayu melepaskan ikatan pada kaki mereka.


"Kak Daniel.... "


Dean berlari menghampiri Daniel sembari menggendong satu piala. Di belakangnya ada Ayash yang juga membawa dua piala lainnya. Dari lima cabang lomba yang dipertandingkan di kelas TK kecil putra, Dean berhasil memenangkan tiga di antaranya, yaitu lomba berjalan di dalam karung, lomba memancing, dan lomba memasukkan pensil ke dalam botol. Prita, Livy, Raeka, dan Irgi juga tampak berjalan ke arah mereka.


"Kak.... Aku menang.... Lihat ini, pialaku ada tiga. Aku menang dengan Papa.... " kata Dean sembari memamerkan piala-pialanya. "Daddy, Dean hebat, kan?" sambungnya lagi seakan ingin mendapat pengakuan juga dari ayah sambungnya.


"Iya, Dean. Kamu hebat sekali. Selamat, ya." Bayu mengusap kepala Dean.


Dean berjingkrak-jingkrak kegirangan memeluk pialanya, "Mama.... Mama.... Dean menang.... Ye ye ye.... "


"Selamat ya, Sayang. Anak mama memang hebat. Daniel juga hebat, bisa menang. Sini mama peluk dulu."


Daniel dan Dean memeluk mamanya bersama. Prita semakin menyadari kalau kedua anaknya kini semakin tumbuh besar dengan cepat. Dulu, mereka yang hanya bisa menangis jika menginginkan sesuatu, kini sudah bisa melakukan banyak hal yang ia sendiri kagum jika melihatnya. Kedua anak itu menjadi anak-anak yang hebat di matanya.

__ADS_1


"Papa Irgi.... Mama Raeka.... Dean menang."


Seakan belum puas, Dean juga memamerkan pialanya kepada Irgi dan Raeka.


"Livy, lihat! Ini pialaku." Dean juga memamerkannya pada Livy yang belum paham apa itu piala. Namun, warna keemasannya mampu membuat anak kecil itu tertarik.


"Anakmu pasti membuat anak-anak yang lain menangis. Masa semua piala hampir kalian ambil sendiri. Seharusnya kalian mengalah, menangkan satu saja. Beri kesempatan kepada yang lain." ujar Irgi kepada Ayash.


"Hah! Sepertinya itu kata-kata yang hanya diucapkan oleh orang yang tidak bisa memancing."


"Untuk apa juga orang sepertiku pandai memancing kalau bisa membeli pasar ikan beserta seluruh isinya?"


"Tapi kamu tidak bisa mendapatkan kebanggaan karena ini, kan? Hahaha.... "


"Aduh, mulai lagi." Raeka pusing kalau Ayash dan Irgi mulai berdebat. "Daniel, selamat, ya.... Kamu hebat sekali berlomba dengan daddy-mu."


"Terima kasih, Mama Raeka."


"Panggilan kepada juara pertama lomba lari kaki tiga dari kelas TK besar putra, silakan naik ke panggung untuk menerima pialanya."


"Mas, Daniel sudah dipanggil. Temani dia ke depan." ucap Prita kepada Bayu.


"Ayo, Daniel. Kita ambil pialanya."


"Ayo!" seru Daniel penuh semangat seraya menggandeng tangan daddy-nya.


"Daddy.... Dean juga mau ikut.... "


Dean menyerahkan pialanya kepada Ayash lalu berlari menggandeng tangan Bayu di sisi lainnya.


"Aku yakin anakmu itu mau merebut pialanya Daniel juga." gumam Irgi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ajaran siapa itu kenapa Dean menjadi seperti itu?"


Ayash melirik tajam ke arah Irgi, "Itukan ajaranmu, sialan! Memangnya siapa yang dulu suka menyuruh-nyuruh Dean untuk belajar memukul-mukul orang?"


"Aku tidak mengajarinya untuk sembarangan memukuli orang, ya.... Maksudku supaya dia bisa melindungi diri sendiri dari anak jahat."


"Pokoknya gara-gara kamu anakku yang satu itu jadi ambisius sepertimu."


"Tapi bagus, kan.... "


"Ah, bosen, Ta.... Ribut terus mereka berdua."


"Tidak apa-apa, Ra, kan jadi seru."


"Apa urusan Bayu sudah selesai?"


"Sudah, Yash. Terima kasih bantuannya, ya. Kalau bukan karena bantuan dari pengacaramu, aku tidak tahu lagi apa mereka mau melepaskan suamiku."


"Aku dengar mereka menyembunyikan Bayu juga. Harlan sampai marah-marah juga kalau cerita."


"Itu urusan orang atas, Yash. Tidak mungkin mereka melepaskan informan penting kalau bisa dimanfaatkan untuk kenaikan pangkat." celetuk Irgi.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana Bayu bisa pulang, Ta?"


"Orang yang paling ambisius menahannya terkena kasus lama, jadi ada celah untuk melepaskan Bayu."


__ADS_2