ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Lelaki yang Tidaksabaran


__ADS_3

Prita tertegun melihat tubuh Bayu setelah bajunya terlepas. Tubuh kokoh nan kuat itu penuh dengan luka goresan dan memar-memar. Kondisi Bayu lebih parah dari pada yang terlihat. Bagaimana dengan tubuh seperti itu dia masih bisa pergi menemuinya bahkan mengajaknya bercanda? Seharusnya dia dirawat di rumah sakit, bukan datang menemuinya.


Prita beralih ke arah punggung. Luka di bagian sana terlihat lebih parah daripada di bagian depan. Luka bekas operasi di bahu kirinya kembali terbuka. Prita mengambil cairan untuk membersihkan luka itu.


Suasana menjadi hening. Tadinya mereka berdua tertawa-tawa dan bersenda gurau, sekarang keduanya seperti sangat serius.


"Kamu diam karena melihat kondisi tubuhku begini, ya?" tanya Bayu. "Tidak usah kaget, ini hal biasa untukku." lanjutnya.


"Meskipun kondisiku seperti ini, percayalah, aku masih kuat untuk melanjutkan kegiatan kita tadi. Punyaku ini masih sehat dan bisa membuatmu enak."


"Aduwh!" pekik Bayu.


Prita menekan lukanya saat memberikan obat luka. "Enak, kan? Mau lagi?" ucap Prita dengan nada meninggi.


Dia serius mengobati tapi Bayu malah terus membercandainya. Apalagi dengan pembahasan yang membuatnya malu.


"Galak banget. Aku bisa mati kalau kamu begitukan terus." protes bayu.


"Makanya diam. Ini rumah sakit, ya, bukan tempat hiburan. Ucapanmu itu bisa membuat risih orang lain."


Prita menyelesaikan tugasnya dengan menempelkan perban pada luka. Ia bereskan kembali peralatan yang sudah di pakai dimasukkan ke dalam kotak P3K.


"Bagaimana dengan kondisi Daniel?"


"Kata dokter kondisinya baik, tapi masih harus dievaluasi selama satu sampai tiga bulan ke depan."


Prita mengambil ponselnya, menghubungi nomor seseorang di sana.


"Halo, Alex. Tolong bawakan pakaian untuk bosmu."


"Bos Bayu sudah datang?"


"Ya. Kalau ada, pilih yang kemeja saja. Sekalian Livy dan Leta ajak kemari."


"Baik, Nona Prita."


Prita kembali menyimpan ponselnya. Mata Bayu mengikuti arah gerak Prita. Dia terlihat sibuk berjalan ke sana kemari. Dia mengambil selembar selimut dari dalam lemari. Tanpa disangka-sangka, ternyata Prita menyelimutinya.


"Sementara pakai ini sampai Alex datang membawa pakaianmu."


"Begini aku seperti orang yang sedang meriang."


"Daripada orang berpikir aneh-aneh kan, lebih baik seperti ini."


"Yang berpikir aneh sepertinya hanya kamu saja. Ayo realisasikan yang ada di otakmu itu."


Prita memberikan lirikan tajam. Lelaki itu memang tidak ada kapok-kapok memancing kekesalannya, "Tau yang ada di otakku? Aku mau memukul bahumu lagi."


"Uh.... Katanya mau merawatku. Ditelepon kata-katamu manis sekali, berbeda sekali saat kita berbicara langsung seperti ini."


"Kalau orang yang dirawat sepertimu, semua orang aku rasa juga akan kesal."


Bayu menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia merentangkan kedua tangannya.


"Apa?"

__ADS_1


"Aku kangen banget. Kamu tidak mau memberiku pelukan?"


Prita berdecih, ada-ada saja kelakuan Bayu. Tapi dia juga memiliki perasaan yang sama. Meski dengan setengah malu, Prita menyambut pelukan itu. Ia lingkarkan tangannya pada punggung Bayu hingga kedua tubuh mereka menempel.


Selama tiga hari Prita kesulitan tidur menantikan kabar dari Bayu. Bisa melihatnya kembali membuat perasaannya menjadi lega. Entah mengapa tubuh lelaki itu terasa begitu nyaman padahal dulu dia sempat begitu membencinya. Benci segala sifat pemaksa seorang Bayu.


"Apa kamu benar-benar mengkhawatirkanku?"


"Ehm. Aku sampai tidak bisa tidur beberapa hari ini karena memikirkanmu dan Dean."


"Seharusnya kamu dirawat dulu sampai sembuh. Luka di tubuhmu sangat mengkhawatirkan."


"Aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk bisa bertemu denganmu."


Bayu meletakkan kepalanya di ceruk leher Prita. Dihirupnya aroma tubuh yang sangat ia sukai itu.


"Tapi kamu tetap butuh perawatan."


"Kalau begitu kamu saja yang merawatku seperti yang kamu katakan di telepon."


"Ah, aku tidak mau melepaskan ini. Ini sangat nyaman." Bayu mengeratkan pelukannya.


"Jjangan kencang-kencang.... aku tidak bisa bernafas."


Reflek Bayu melepaskan pelukannya, "Maaf, ya. Aku gemes banget sama kamu."


Direbahkannya tubuh Prita di atas sofa, sementara ia berada di atasnya. Matanya terus mengawasi mata indah wanita di hadapannya. Kelihatannya dia sedang gugup dan bingung karena diperlakukan seperti itu. Ekspresinya lucu saat terpojok. Perlahan ia mendekatkan wajahnya agar lebih jelas memandang.


"Lalu, kapan kita akan menikah?"


"Kondisimu saja masih seperti ini dan bisa-bisanya kamu membahas tentang pernikahan?"


"Kamu tidak sedang mencari alasan untuk kabur dariku, kan? Apa kamu berencana untuk menghindar dari pernikahan kita?"


Prita menggeleng. Badannya tidak bisa digerakkan sementara kedua tangannya ditahan di sisi kepala.


"Apa kamu masih memikirkan mantan suamimu? Kamu ingin kembali lagi padanya?"


"Kamu gila ya? Dia sudah menikah dengan Andin. Mana mungkin aku berpikir seperti itu."


"Baguslah. Mulai sekarang memang kamu hanya boleh memikirkanku saja."


Prita memicingkan matanya, "Anak-anakku?"


"Ah, ya, maksudku kamu hanya boleh memikirkanku dan anak-anakmu."


Prita terkekeh. Sepertinya Bayu masih tidak bisa menerima punya saingan meskipun itu anak-anaknya.


"Bagaimana kalau besok kita menikah?"


Prita memutar bola matanya, lelaki itu memang selalu tidak sabaran. "Aku bilang kan tunggu kamu sembuh, baru kita bicarakan ini lagi."


"Aku sudah sembuh." Bayu tetap Kukuh pada pendiriannya.


"Memangnya apa yang kamu khawatirkan dengan kondisi tubuhku? Semuanya berfungsi dengan baik, tau? Kamu masih penasaran dengan bagian favoritmu? Kamu pikir aku impotensi kan, makanya ragu untuk segera menikah denganku?"

__ADS_1


"Hah! Aku bahkan tidak pernah memikirkannya. Sekalipun kamu seperti itu, aku.... " Prita tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku apa? Kalau bicara harus jelas." desak Bayu.


"Aku juga tidak masalah." Prita membuang wajahnya, tak berani membalas tatapan yang Bayu berikan.


"Aku mau menikah denganmu karena kebaikanmu sangat banyak kepadaku. Terutama pada anak-anakku. Dan kamu sudah berusaha untuk berubah menjadi orang yang lebih baik. Aku rasa menikah denganmu adalah keputusan yang tepat."


"Sekalipun kamu memiliki kekurangan, akupun demikian, bukan orang yang sempurna. Aku tidak masalah."


Bayu tersenyum lebar, "Bagaimana aku tidak tergila-gila padamu jika sikapmu sebaik ini."


"Tapi, aku tidak mau tergesa-gesa menikah. Setidaknya tunggu sampai Daniel diijinkan pulang"


"Oke, aku bisa menunggunya sampai saat itu."


"Dan aku tidak ingin ada pesta pernikahan."


"Kenapa?"


"Karena aku ingin pernikahan itu hanya untuk kita, bukan untuk orang lain."


Sebenarnya ada rasa trauma dulu Prita pernah sekali menikah secara mewah, namun kehidupan pernikahannya tak seindah cerita dongeng. Saat menikah, ia merasa baikan ratu sehari yang dicintai semua orang. Setelah menjalani pernikahan, ratu hanyalah sekedar julukan tanpa kekuasaan, singgasana, maupun mahkota. Apalagi harus berhadapan dengan perceraian yang rasanya lebih menyakitkan lagi.


"Baiklah, akan aku ikuti kemauanmu."


"Kalau begitu lepaskan aku. Mau sampai kapan seperti ini?" protes Prita yang masih tidak bisa bergerak karena ulah Bayu.


Cup!


Pada akhirnya Bayu kembali memagut bibirnya tanpa ijin. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah menerima karena tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Entah mengapa hanya ciuman bisa terasa begitu nikmat. Ketika kedua bibir saling menyatu, rasa cintanya kepada Bayu semakin jelas ia rasakan. Lelaki itu membuatnya nyaman, setiap sentuhannya menjadikan ia merasa dikasihi.


"Bos.... "


Alex datang langsung menerobos masuk tanpa permisi. Ia mematung melihat posisi bosnya sedang menindih Prita di bawahnya. Keduanya berciuman saat ia datang. Matanya melirik ke sana kemari. Ingin pergi juga sudah terlanjur masuk. Jika tetap di sana, mungkin juga bosnya mau melanjutkan keintimannya. Apa nanti dia akan ditembak mati karena sudah mengganggu?


Bayu dengan kesal melepaskan ciumannya. Matanya tajam mengarah pada Alex yang jelas-jelas sudah mengganggunya.


Sementara, Prita merasa terselamatkan. Ia hampir tak bisa bernapas karena Bayu begitu agresif menguasai bibirnya. Akhirnya lelaki itu melepaskannya juga.


"Mmmm.... Apa saya harus keluar?" tanya Alex canggung.


Bayu masih menatapnya tanpa berkomentar.


"Tidak perlu, Alex. Kemarikan pakaian yang aku minta." ucap Prita.


Alex melangkahkan kaki mendekat sambil matanya terus memerhatikan mata Bayu.


"Ini, Nona Prita."


"Terima kasih, Akex."


Prita segera membuka isi tas itu. Ia memilihkan satu pakaian yang dia rasa cocok untuk Bayu. Kemeja lengan pendek warna abu-abu. Dibukanya satu persatu kancing baju itu, lalu ia kenakan untuk menutupi tubuh Bayu yang dipenuhi luka.

__ADS_1


__ADS_2