
Bayu memandangi jemari tangannya yang lecet. Tangan yang ia gunakan untuk memukul tembok melampiaskan rasa marah kepada Prita.
Saat ini Bayu tampak seperti orang bodoh. Ya, kapan lagi melihat mafia yang plonga-plongo seperti orang tolol karena masalah cinta. Otaknya sekarang kosong, tidak bisa digunakan untuk memikirkan tentang pekerjaan. Yang ada di pikirannya hanya pertemuannya dengan Prita siang tadi.
Sebenarnya dia tak berniat sejauh itu kepada Prita. Dia hanya ingin membahas tentang Daniel. Kalaupun bisa, dia ingin Daniel tinggal bersamanya atau setidaknya dia diberi kesempatan untuk sesekali menghabiskan waktu bersama Daniel. Bagaimanapun juga, Daniel adalah anaknya.
Tapi, siapa yang tahan saat berdekatan dengan orang yang ia cintai? Sekuat tenaga ia menepis keinginan untuk melakukan kontak fisik dengan wanita yang sudah menjadi istri orang itu, namun dorongan nafsunya lebih besar. Ia memeluk Prita bahkan menciumnya. Yang lebih membuatnya terkejut, ada sesuatu dalam dirinya yang bereaksi saat berciuman. Jiwa kelelakiannya kembali seperti saat dulu bersama Prita. Namun itu tak berlangsung lama. Setelah sampai di rumah, hasratnya kembali hilang.
Memang, hal terpenting bagi seorang lelaki terutama Bayu adalah kelelakiannya. Bermodalkan hal itu, dia bisa bergonta-ganti pasangan tanpa melibatkan rasa cinta. Baru setelah bertemu Prita, dia sudah tak menginginkan kepuasan dari wanita lain. Dia terobsesi dengan Prita, cinta pertama yang justru hadir saat usianya sudah memasuki kepala tiga.
Prita, satu wanita yang mampu memberikannya kepuasan setiap waktu. Tapi sayang, sekarang ia sudah tidak bisa melakukan hal kesukaannya. Lima tahun ia tersiksa gara-gara sosis kanzler kebanggaannya sedang tidak berfungsi dengan baik. Ia sadar jika penyakitnya belum sepenuhnya sembuh. Mungkin memang ia harus lebih rutin check up ke dokter supaya penyakitnya segera teratasi.
*****
Prita memijit keningnya. Bayu barusaja memberinya tindakan syok terapi dengan ciumannya. Rasa stres kembali menyelimuti dirinya. Dia merasa telah melakukan dosa besar. Dia wanita bersuami, tapi ada lelaki lain yang mencium dirinya.
Taksi yang dinaiki Prita terus melaju membelah kesunyian jalanan yang sepi menuju mansion. Setelah berhasil kabur dari Bayu, Prita berlari sekuat tenaga, menghentikan satu taksi yang kebetulan lewat di depannya. Saat itu pikirannya benar-benar kosong. Dia tidak bisa berpikir apapun selain untuk segera pulang ke rumah.
"Terima kasih, Pak."
Prita memberikan uang sejumlah nominal yang tertera pada Argo taksi. Akhirnya dia sudah sampai mansion. Ia kembali menenteng dua tas belanja berisi susu dan makanan ringan.
"Huuaaa.... Mama.... Mama.... "
Jerit tangis Livy langsung menyambut kedatangan Prita. Dia pasti sudah terlalu bosan bermain dan merindukan ibunya.
__ADS_1
"Uuhh.... Sayang.... " Prita lantas mengambil Livy dari gendongan salah seorang pelayan.
Setelah menempel pada ibunya, tangis Livy perlahan mereda.
"Kamu kangen mama ya, Sayang.... uuhh cup cup cup.... "
"Prita, kamu darimana saja? Livy sampai nangis terus karena lama menunggumu. Katanya pergi cuma sebentar." Maya berjalan dari arah taman samping saat mendengar Prita sudah pulang.
Sementara, Dean dan Daniel tampak masih asyik bermain tak terlalu terpengaruh mamanya sudah pulang. Mereka berdua memang sudah besar, lebih tertarik dengan mainan daripada dengan ibunya sendiri.
"Maaf, Ma. Tadi aku bertemu temanku, Raya. Dan karena keasyikan ngobrol sampai sedikit lupa waktu. Aku juga mampir ke swalayan membeli susu untuk anak-anak jadi agak lama. Maaf sudah merepotkan Mama."
"Mama tidak keberatan menjaga anak-anakmu. Mama senang dengan mereka. Tapi, kamu sebagai ibu harus lebih peka, kalau anak-anakmu masih membutuhkanmu, terutama Livy. Jadi, kalau pergi meninggalkan mereka jangan terlalu lama."
"Iya, Ma."
"Papa mana, Ma? Katanya hari ini mau pulang?" tanya Prita yang tidak menemukan keberadaan Papa Reonal di rumah.
"Katanya mau mampir dulu ke perusahaan Ayash, tidak langsung pulang ke rumah."
"Livy kok diam? Apa dia tidur?" Mama menengok Livy yang ada di gendongan Prita. Benar, matanya terpejam. Livy sedang tidur.
"Mungkin tadi rewel karena mengantuk, Ma. Jam segini memang Livy biasanya tidur siang."
"Kalau begitu kamu pindahkan saja ke kamar. Dia butuh istirahat yang banyak supaya sehat."
__ADS_1
"Iya, Ma."
Prita membawa Livy menuju kamarnya. Kedua anak lelakinya sepertinya masih kuat bermain. Mereka sudah jarang untuk tidur siang.
Prita merebahkan diri di samping Livy. Anak itu tidur dengan sangat tenang. Mungkin karena rasa nyaman berada di dekat ibunya. Wajah polosnya yang imut membuatnya tak bosan untuk dipandang. Ia jadi sedikit merasa bersalah telah meninggalkan Livy. Semua gara-gara Bayu. Kalau saja tidak bertemu Bayu, dia tidak akan sampai membuat anaknya menangis karena ditinggal terlalu lama.
"Prita, kamu sudah selesai menidurkan Livy?" tanya Mama.
"Ah, iya Ma, sudah." Prita bangkit dari ranjang meninggalkan Livy yang sudah tertidur.
"Kamu bantu pelayan di dapur memasak, ya. Nanti malam kan kita akan makan bersama."
"Iya, Ma."
Bukan karena tidak suka membantu pekerjaan di rumah, tapi Prita merasa sikap Mama Maya sangat berbeda. Mama Maya yang lembut dan penyayang, yang selalu memujinya sebagai menantu idaman dan menganggapnya sebagai anak sendiri kini sudah tidak ada lagi.
Memang, Mama Maya tidak berkata-kata kasar atau memaki-maki seperti mertua kejam yang ada di drama. Namun, tetap saja Prita merasa tidak nyaman tinggal bersama mertuanya. Mama Maya tidak menyukainya. Dia seperti hanya memaksakan diri untuk tetap bersikap baik kepada Prita meskipun sebenarnya tidak suka. Begitu pula dengan Daniel. Mama Maya memang tidak bersikap kasar kepada Daniel. Tapi soal kedekatan, Mama Maya tetap lebih dekat dan sayang kepada Dean dan Livy.
Dadi hari ke hari Prita merasa kedudukannya tak berbeda dengan seorang pelayan. Padahal, pelayan di rumah ada belasan. Namun, Mama Maya lebih suka untuk menyuruh-nyuruhnya.
Prita bukannya ingin diperlakukan seperti seorang putri. Dia hanya ingin ada rasa saling menghormati, bukan direndahkan. Jika ada pekerjaan yang kurang benar, Prita harus mempersiapkan telinga mendengarkan omelan Mama Maya yang kadang kurang enak di dengar.
"Nona, Anda tidak perlu melakukan apapun di sini." kata Bibi Yanti, kepala pelayan mansion.
Prita tersenyum, "Tidak apa-apa, By. Kebetulan aku sedang tidak ada kerjaan jadi aku bisa membantu kalian di dapur."
__ADS_1
"Pasti karena Nyonya Maya, ya?" Bibi Yanti memang yang paling tahu perlakuan Maya kepada Prita. Terkadang ia kasihan melihatnya.
"Tidak, Bi. Ini kemauanku sendiri." Prita membantu memotong sayur sawi.