
Klek!
"Bayu!" seru Shuwan
Wanita itu datang dengan wajah terlihat panik. Semua mata yang ada di ruangan itu tertuju pada Shuwan. Membuat wanita itu menjadi canggung.
"Masuk, Shu."
Bayu tidak tau untuk apa wanita itu datang. Tapi, seharusnya dia tau diri untuk tidak datang di saat seperti itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Bayu hanya terkekeh, "Lihat sendiri kondisiku seperti ini. Apa masih bisa disebut baik-baik saja?"
"Aku minta maaf atas apa yang telah ayahku lakukan." wajah Shuwan tampak memelas dan sedih.
"Kenapa kamu meminta maaf? Apa kamu bersekongkol dengan ayahmu?"
Shuwan membelalak, "Tidak, aku sama sekali tidak tau apa yang ayahku rencanakan. Aku juga baru tau kemarin." bantahnya.
"Lalu dimana ayahmu? Dia sekarang jadi buronan."
"Aku tidak tau. Sudah lama aku hidup terpisah darinya. Apalagi sejak masalah yang terjadi di hotel, dia tak pernah menghubungiku lagi."
"Jangan coba-coba sembunyikan dia, Shu."
"Aku benar-benar tidak tau dimana ayahku."
"Kalau kamu tau, apa kamu akan melaporkannya pada polisi?"
Shuwan terdiam, "Tolong maafkan ayahku, dia sudah tua."
Sebagai anak, Shuwan tetap berupaya membela ayahnya. Meskipun hubungan mereka tidak pernah baik, tapi Shuwan tetap menyayangi ayahnya. Dia kasihan kepada ayahnya yang sudah tua tapi terseret dalam masalah hukum seperti itu. Apalagi yang menjadi lawannya adalah keluarga Hartadi.
Bayu terpaku mendengar jawaban dari Shuwan. Dia kira wanita itu sudah tidak peduli lagi pada ayahnya, "Hahaha.... Kamu masih membelanya?"
"Aku tidak membelanya, tidak pula membenarkan perbuatannya. Tapi, sebagai anak aku meminta belas kasihan kalian, ayahku sudah tua, dia juga selama ini hidup sendirian. Apa kalian tega melihat ayahku masuk penjara?"
"Nona Shuwan, ayah Anda juga tidak ada rasa belas kasihan kepada anakku. Dia hampir saja menembak mati anak sekecil ini, Anda tau?" sahut Ayash.
__ADS_1
Shuwan berbalik menghadap Ayash. Ia juga memberikan pandangan penuh penyesalan.
"Aku tau, kesalahan ayahku sangat besar. Tapi, tolong kali ini maafkan dia."
"Ayah Anda tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jangan ikut campur atau Anda akan dianggap turut serta dalam penculikan itu."
Shuwan mengira Ayash seorang yang bijaksana dan pemaaf. Ternyata dia tidak seperti itu. Responnya sama saja dengan Tuan Reonal yang lebih dulu ia temui. Keluarga Hartadi benar-benar menginginkan ayahnya masuk bui.
"Apa tidak ada cara damai yang bisa kami tempuh? Aku akan membayar berapapun kompensasi yang kalian minta."
Ayash tersenyum, "Kami tidak membutuhkan uang, Nona Shu. Kami hanya ingin ayahmu mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Shuwan kembali berbalik pada Bayu, "Kamu mau membantuku, kan?" katanya mengiba.
"Shu, lihat kondisiku. Aku hampir mati oleh ayahmu dan kamu berharap aku memaafkannya? Pergilah!"
Shuwan menghela nafas kemudian pergi begitu saja meninggalkan Bayu. Tampaknya dia sangat kesal.
"Kamu tidak mau membantu pacarmu?" seloroh Andin.
Ayash menoleh ke arah Andin. Dia kaget mendengar perkataannya. Ternyata wanita yang baru masuk itu adalah pacar Bayu?
"Waktu itu Raeka dan Prita sedang menonton berita kalian di TV. Aku kira wanita itu artis. Tidak menyangka juga aku bisa bertemu kalian secara langsung."
"Hahaha.... Yang waktu itu, ya?"
"Hah, aku jadi merasa bersalah pada Prita. Apa dia cemburu melihat beritaku seperti itu? Kami hanya berakting saja waktu itu untuk menutupi skandal Shuwan dan Moreno."
"Benarkah?"
"Kamu mengkhawatirkan temanmu? Kamu tenang saja, aku orangnya setia." pandangan Bayu mengarah pada Ayash, "Aku tidak akan melepaskan Prita setelah mendapatkan kesempatan yang sangat aku nanti-nantikan. Kami akan menikah dan hidup bahagia."
Kata-kata itu seperti menyiratkan bahwa Ayash tidak akan lagi bisa menggapai sesuatu yang sudah ia lepaskan. Karena ada orang yang akan menjaga apa yang ia lepaskan dengan cara yang lebih baik darinya.
*****
Zetian menikmati secangkir teh sambil memandangi seorang wanita yang zedang merangkai bunga di depannya. Suasana penuh ketenangan seperti ini memang cocok untuknya.
Setelah kabur pada malam itu, Zetian bersama para pengawalnya bersembunyi di rumah sakit jiwa tempat Ibu Retno di rawat. Tempat itu sangat terpencil dan jarang diketahui orang, tempat persembunyian yang sangat cocok.
__ADS_1
Dia tau, polisi pasti sedang memburunya. Anak kecil yang anak buahnya culik ternyata cucu dari Reonal Hartadi, rekan bisnisnya sendiri. Kesalahannya tidak akan termaafkan. Bahkan jika dia menawarkan segunung uang, Reonal tak akan memaafkannya. Dia pasti hanya ingin melihatnya membusuk dipenjara.
Hidupnya jadi tambah rumit karena rencana balas dendam. Dendam atas kematian Mario belum bisa ia realisasikan. Sekarang, dia sendiri yang menjadi tokoh jahat yang akan dicari di seluruh penjuru negeri.
Untung saja rumah sakit jiwa itu memiliki hubungan baik dengannya. Dia yang selama ini memberikan kucuran dana yang besar demi menstabilkan operasional rumah sakit. Orang-orang kaya yang suka meninggalkan keluarganya yang gila di sana biasanya tidak akan datang lagi. Yang datang hanya uang saja untuk keperluan keluarga mereka. Jadi, tempat itu memang sangat aman.
Retno tampaknya tidak akan bisa disembuhkan. Dia sudah terhanyut dalam kehidupan yang ada di pikirannya sendiri. Sudah banyak hal yang dia lupakan sejak kematian anaknya. Termasuk Zetian.
"Bagaimana di luar sana?" tanya Zetian pada pengawalnya.
"Selama tiga hari ini mereka mencari Anda di mansion, Tuan."
Sudah Zetian duga, polisi tidak akan melepaskannya dengan mudah. Apalagi ada bajingan seperti Bayu yang akan ikut menjadi saksi mata dan memberatkannya.
"Menurutmu, apa aku bisa lepas dari tuduhan ini?"
Pengawal itu terdiam sejenak. Dia memang pengawal yang paling setia dan paling dipercaya oleh Zetian.
"Bagaimana kalau kita mencari orang untuk menggantikan Anda? Kami juga akan mengatakan sebenarnya Anda sudah berada di sini sejak lama dan tidak tahu menahu tentang kasus tersebut."
"Mobil yang ada di sana atas namaku dan Bayu juga ada di sana sudah mengetahui siapa aku."
"Anda bisa mengaku jika mobil itu dipakai tanpa seijin Anda."
"Lalu, bagaimana untuk menghadapi Bayu?"
"Sepertinya dia tidak akan berani banyak bicara tentang masalah di antara kalian. Dia juga pasti tidak akan mau kasus pembunuhan Mario kembali diungkit dan namanya dibawa-bawa."
"Kamu yakin dia akan diam?"
"Saya yakin, Tuan."
"Lalu bagaimana dengan perusahaanku yang bekerjasama dengan Tuan Reonal?"
"Saya belum mendengar informasi tentang hal itu. Sepertinya Beliau belum mengambil tindakan."
"Tapi, aku yakin dia tidak akan diam saja. Pasti dia akan melakukan sesuatu terhadap perusahaan."
Zetian kembali menyeruput tehnya. Ia memandang ke arah jendela dimana terdapat banyak pepohonan rimbun dan semilir angin yang menggoyangkannya. Dia merasa masih untung bisa menikmati ketenangan itu. Seandainya nanti dia tidak bisa lagi kembali ke kehidupan semula, dia akan puas menghabiskan masa tuanya dj tempat itu. Sekalipun berkumpul dengan orang-orang gila.
__ADS_1