
"Halo, Daniel.... baru selesai jalan-jalan, ya?" sapa seorang perawat ketika Daniel melewati lobi rumah sakit.
"Iya, Suster Ana. Tadi Daniel makan di taman bersama Daddy."
"Oh, ini daddy-nya Daniel, ya?" tanya Ana.
Ia terpana dengan ketampanan Bayu yang ada di belakang kursi roda.
Daniel menjawab dengan anggukan.
"Maaf ya, Suster. Saya bawa Daniel dulu ke kamarnya. Takut mamanya marah."
"Ooh, iya, silakan Pak."
Bayu menyunggingkan senyum agar terlihat ramah. Padahal dia sudah ingin cepat sampai di kamar Daniel lagi. Dia malas berbasa-basi dengan orang. Sejak tadi banyak juga pegawai rumah sakit yang menyapa anaknya itu.
Daniel sudah berbulan-bulan dirawat di rumah sakit. Hampir semua pegawai di rumah sakit kenal dengan dia. Selain karena anaknya yang baik dan ramah, wajahnya yang tampan juga membuat banyak orang yang menyukainya.
Wajah Daniel itu mudah dikenali. Ia berbeda dengan anak-anak Indonesia pada umumnya. Wajahnya kebule-bulean, tapi sangat fasih berbahasa Indonesia. Ketampanannya tidak kalah dengan selebgram cilik yang banyak muncul di internet.
Apalagi Daniel memiliki orang-orang tampan yang sering menemaninya. Ada Irgi, Ayash, dan Bayu. Perawat yang mendapat tugas di kamar Daniel akan merasa sangat beruntung mata mereka bisa dimanjakan dengan pemandangan indah ketampanan mereka.
"Katanya sebentar, tapi lama." gerutu Prita saat Bayu dan Daniel kembali.
Bayu melihat ke arah jam tangannya, "Belum ada satu jam, paling tiga puluh menit masa lama."
"Daniel sudah ditunggu perawat mau diajak ke lab untuk pemeriksaan."
Dua orang perawat wanita sudah ada di sana. Mereka tersenyum ke arah Bayu.
"Sayang, kamu ikut kakak-kakak ini dulu ya untuk dicek."
Daniel mengangguk. Ia sudah tidak takut karena hampir setiap hari dia melakukan hal yang sama di rumah sakit itu. Obat, jarum suntik, ruang terapi, alat medis, semuanya sudah Daniel hafal. Meskipun terkadang yang para dokter lakukan menyakitkan, Daniel sudah paham kalau itu semua untuk melawan penyakit jahat yang ada di tubuhnya. Apalagi mama papanya selalu bilang kalau Daniel anak yang kuat. Jadi, dia tetap berusaha menjalani pengobatan yang sebenarnya tidak ia sukai.
"Ayo Daniel, kakak bawa ke lab dulu, ya. Permisi Bapak, Ibu.... " Perawat itu mendorong kursi roda Daniel keluar kamar melewati Prita dan Bayu.
"Bagaimana perkembangan Daniel dengan kemoterapinya? Apa ada perubahan yang signifikan?"
"Kondisinya sekarang sudah lebih baik. Dia bisa punya tenaga lebih untuk marah-marah setiap hari, artinya dia kuat."
"Duduk dulu."
Prita mempersilakan Bayu duduk. Ia menyuguhkan secangkir teh yang baru ia buat dan sepiring kue ke hadapan Bayu.
__ADS_1
"Kenapa jadi menjamuku seperti tamu?"
"Siapa tahu kamu haus."
"Sepertinya aku lebih haus kasih sayang daripada minuman." goda Bayu.
Prita memutar kedua bola matanya, "Bercandamu tidak lucu."
"Benarkah, apa generasimu tidak ada bercandaan semacam ini? Aku jadi merasa sangat tua berbicara denganmu."
"Ya memang sudah tua, kan."
"Terus kalau menganggapku sudah tua, kenapa cara bicaramu tidak pernah sopan padaku. Seharusnya panggil aku 'kakak' atau 'mas'. Turunkan juga nada bicaramu."
"Hah! 'kakak' atau 'mas' katanya. Lebih pantas aku panggil 'om' atau 'pak dhe'." gumam Prita.
"Bilang apa tadi?"
"Nggak, aku nggak bilang apa-apa."
"Kata Daniel suamimu sudah tidak pernah datang kesini lagi, ya?"
Deg.
"Aku kan sudah bilang, dia masih di luar kota."
"Kalian sedang tidak ada masalah, kan?"
"Masalah apa, kami tidak ada masalah apapun." Prita terus berkilah.
"Waktu itu mertuamu sampai marah-marah seperti itu. Aku tidak yakin kalian baik-baik saja."
Prita sampai lupa kalau waktu itu Bayu ada di sana saat melihat Mama Maya memarahinya. Tapi untung saja saat itu Bayu sudah pergi ketika Maya memberikan foto Bayu sedang menciumnya.
"Setiap rumah tangga pasti ada masalahnya sendiri-sendiri. Kamu belum pernah menikah, jadi tidak akan paham."
Bayu merasa sedang diceramahi oleh anak kecil. "Ya, kamu memang lebih berpengalaman." ujarnya.
"Jadi kamu hanya sendiri menjaga Daniel?"
"Lebih sering begitu. Kadang ditemani juga oleh Leta, pengasuh anakku."
"Kalau begitu nanti malam aku akan menginap di sini."
__ADS_1
Prita membelalakkan mata. Apa-apaan lelaki itu ingin menginap di rumah sakit? Itu sudah kelewatan namanya.
"Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu? Kamu boleh pergi kalau tidak suka aku menginap di sini. Kamu pikir aku tidak bisa mengurusi Daniel sendiri? Kamu pikir aku hanya mencari alasan untun bisa dekat denganmu? Pergi sana, aku di sini juga hanya untuk Daniel."
Prita terkekeh. Lucu sekali orang itu seperti bisa membaca pikirannya. "Kamu pulang saja. Mengurusi Daniel tidak semudah yang aku kira. Kamu akan emosi jika dia mulai rewel saat malam."
"Kita lihat saja nanti." ucap Bayu seraya menyeruput secangkir teh yang sudah Prita buatkan untuknya.
Selang beberapa menit kemudian, Daniel diantar kembali ke ruangannya. Perawat yang mengantarnya mencuri-curi pandang ke arah Bayu.
"Terima kasih, Suster."
Ucapan Prita mengagetkan perawat itu. Ia segera pergi meninggalkan ruangan karena malu. Sebenarnya Prita melakukannya dengan sengaja. Kalau dia tidak begitu, mungkin perawat itu akan teebengong terus memandangi Bayu. Ini bukan pertama kalinya melihat tingkah perawat seperti itu. Ketika ada Ayash atau Irgi di sana, mereka juga melakukan hal yang sama. Seakan tidak pernah bertemu dengan orang-orang good looking.
Prita mengambil air untuk membersihkan tubuh Daniel. Tak lupa ia menyiapkan baju ganti yang akan Daniel kenakan.
Bayu memperhatikan Prita dengan telaten membersihkan tubuh anaknya. Itu pemandangan yang baru sekali ini ia lihat. Dalam pikirannya, Prita pasti sangat sibuk hanya mengurusi Daniel sendiri. Memandikan, memakaikan baju, menyuapi, hingga mendampingi saat Daniel menjalani terapi.
Malam semakin larut. Bayu tetap bertahan berada di sana meskipun beberapa kali Prita sudah mencoba menyuruhnya pulang. Malam ini ia ingin menginap. Ia bahkan sudah menghubungi Alex untuk membawakannya baju ganti dan pakaian kerja yang akan ia kenakan besok.
"Aku turun ke lobi dulu menemui asistenku."
"Kalau bisa pulang sekalian." kata Prita.
Bayu hanya terkekeh mendengar perkataan Prita. Namun ia juga tidak peduli. Malam ini ia tetap akan menginap.
Sesampainya di lobi, sudah ada Alex menenteng paperbag berisi pakaian yang ia minta.
"Kalian sudah mulai bekerja, kan?"
"Sudah, Bos. Kami sudah mulai menghubungi orang-orang yang bos inginkan."
"Baguslah. Selesaikan secepat mungkin."
"Bagaimana dengan kondisi anak Bos?"
"Sudah lebih baik. Kamu doakan saja. Aku mau kembali ke atas."
Bayu mengambil paperbag dari tangan Alex. Ia buru-buru kembali naik ke lantai atas menuju kamar Daniel.
Setibanya di kamar, tampak Daniel sudah tertidur. Di sampingnya ada Prita yang ikut tertidur. Ranjang pasien yang kecil itu digunakan tidur berdua oleh mereka. Bayu jadi khawatir jika Prita nanti akan jatuh karena tidurnya sangat mepet ke pinggiran ranjang.
Perlahan ia angkat tubuh Prita dari atas ranjang Daniel. Ia hendak memindahkannya ke kamar agar Prita bisa beristirahat dengan lebih tenang. Ruang kamar ada di sebelah ranjang Daniel, hanya dibatasi oleh pintu geser.
__ADS_1
Bayu merebahkan Prita di ranjang kamar. Tidurnya terlihat sangat nyenyak. Terbukti ia tidak bangun sedikitpun ketika ia pindahkan. Wajahnya sedikit menampilkan gurat kelelahan. Siapapun pasti akan kelelahan merawat orang sakit. Tak terkecuali Prita.