
Raya telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat montok. Operasi berjalan dengan lancar pagi tadi. Egi yang orangnya kaku, begitu takjub melihat anaknya sendiri. Ia tidak menyangka sekarang sudah menjadi seorang ayah.
Raya masih terbaring lemah di ranjang perawatan. Ia juga merasa bahagia bisa melihat anak yang telah dilahirkannya. Orang tua Raya dan beberapa saudaranya juga tampak ada di sana menyambut anggota baru keluarga mereka.
Prita dan Raeka datang beberapa saat kemudian untuk melihat kondisi Raya. Raeka ikut datang menjenguk karena dulu Raya pernah jadi teman sekelasnya. Sekarang, sepertinya mereka bertiga juga akan kembali menjadi teman.
"Kamu mau coba gendong, Ra?" Prita menawarkan bayi Raya yang saat ini sedang ia gendong.
Raeka menggeleng.
Prita tampak ahli sekali menggendong bayi yang baru lahir itu. Berbeda dengan Raeka, dia seperti takut untuk menggendongnya. Ia takut menjatuhkan bayi mungil itu. Padahal sebenarnya dia juga gemes ingin menggendongnya juga.
"Nggak apa-apa, aku bantuin kok."
"Iya, Ra. Gendong aja. Sekalian belajar kalau nanti punya anak." ucap Raya.
"Aku nggak berani. Kalau dia jatuh nanti kamu nangis, Ray."
"Hahaha.... Ya hati-hati dong gendongnya."
"Sakit nggak, Ray?"
"Hah, apa Ra? Maksudnya operasinya?"
Raeka mengangguk.
Raya tertawa kecil, "Nggak sakit sama sekali, Ra. Kan tadi diberi obat bius. Cuma paling kerasa waktu perutnya disayat gtu.... Soalnya tadi aku tetap sadar selama operasi karena memakai bius lokal."
Raeka merinding mendengar cerita Raya, "Serem banget."
"Kalau sudah dijalani, nggak serem sih. Walaupun kadang kbawatir aja dokternya mau ngapain. Soalnya aku juga lihat yang mondar-mandir bawa peralatan bedah gitu. Ada gunting, pisau, jarum, nggak tau lagi deh ada apa aja di atas nampan. Untungnya nggak ngerasain sakit sama sekali."
"Sudah, Ray. Jangan diteruskan. Nanti Raeka jadi takut."
"Aku mau punya anak. Tapi jadi takut kalau nanti melahirkan. Serem banget, Ray."
"Nggak serem, kok. Santai saja. Wanita itu sudah dirancang bisa menahan sakit saat melahirkan. Jangan khawatir. Sakitnya sebentar, dan langsung ilang saat melihat bayi yang baru kita lahirkan."
"Tuh, dengerin teman kita yang sudah berpengalaman tiga kali."
"Hahaha.... "
Klek!
Ayash masuk ke ruangan membawa buket bunga mawar berwarna merah ke ruangan Raya. Ketiga wanita yang sedati tadi heboh langsung terdiam. Ada Egi yang membuntuti Ayash di belakangnya. Meskipun sudah bukan bawahan Egi, entah mengapa setiap bertemu Ayash ia masih saja bersikap seolang-olah Ayash masih bosnya.
"Selamat ya, Ray." ucap Ayash sembari meletakkan bunga yang ia bawa di nakas samping Raya.
"Makasih, Yash."
__ADS_1
"Oh, bayinya lucu sekali. Siapa ini namanya?" Ayash memegang pipi bayi yang sedang Prita gendong.
"Namanya Afgan." jawab Raya.
"Kok mirip nama penyanyi Ray?"
"Biar nanti bisa jadi penyanyi juga."
"Hahaha.... boleh juga. Biar tidak sekaku ayahnya."
"Boleh nggak Prita aku bawa keluar? Sepertinya dari tadi kalian asyik ngobrol."
"Boleh, kok." kata Raya.
"Mau kamu apain?" Raeka berucap dengan ketus.
"Mau tau banget sih Nenek Lampir satu ini. Ayo, Ta."
Prita meletakkan Anak Raya di box bayi kemudian ia mengikuti Ayash keluar.
Di luar, ada dua orang wanita muda seumuran Leta, sekitar awal dua puluhan tahun yang masing-masing sedang menggendong Livy dan Dean.
"Ini namanya Rahma dan ini namanya Muti. Mereka pengasuh Livy dan Dean."
Kedua pengasuh itu tersenyum pada Prita. Pritapun membalas dengan senyuman.
"Sebentar, ya." ucap Prita kepada kedua pengasuh itu.
"Kenapa tambah dua pengasuh lagi? Aku kan masih bisa menangani mereka."
"Nggak apa-apa. Biar kamu lebih bisa beristirahat."
"Jadi kapan mau berangkat?"
"Sore ini."
"Aku juga sudah meminta pihak rumah sakit memberikan bed ekstra supaya kalian bisa beristirahat dengan nyaman. Ruangan rapat juga aku ubah jadi kamar tidur sekalian pengasuhnya ikut tinggal sementara di rumah sakit menemanimu."
Prita mengangguk. Ayash memang sudah mengatakan ingin menitipkan anak-anak padanya karena dia mau pergi ke Kota J menghadiri pernikahan kakaknya, Arga. Dia tidak menyangka kalau Ayash juga sudah mempersiapkan dua orang pengasuh tambahan untuknya. Prita sendiri sudah memiliki Leta yang membantunya menjaga Daniel.
"Ta.... Kenapa tagihan kartu kreditnya kosong? Kamu nggak pernah pakai, ya?"
Prita memutar bola matanya. Ia memang tidak pernah lagi memakai kartu kredit yang Ayash berikan.
"Sesekali pakailah untuk membeli apa yang kamu suka. Kalau tidak bisa pergi-pergi, kan bisa beli secara online."
"Iya, nanti kalau aku menginginkan sesuatu, aku akan menggunakan kartu kreditmu. Untuk saat ini aku memang sedang tidak menginginkan apapun. Selain kesembuhan Daniel."
Ayash mengusap puncak kepala Prita, "Kamu jangan khawatir, Daniel akan sembuh."
__ADS_1
"Kalau begitu, aku mau mengunjungi Daniel sebelum berangkat. Jaga anak-anak dengan baik, ya."
"Iya." Prita mengulaskan senyum.
Tanpa ia sangka, Ayah memberikannya pelukan dan satu kecupan singkat di bibirnya.
Ayash menepuk dahinya sendiri, "Ah, maafkan aku. Aku sampai lupa. Susah menghilangkan kebiasan seperti ini."
"Oke, aku ke kamar Daniel dulu, ya." Ayash kembali menepuk puncak kepala Prita sebelum pergi.
*****
"Papa.... " seru Daniel ketika melihat Ayash datang.
Daniel sampai berlonjak-lonjak kegirangan menyambut kedatangan papanya. Leta juga ada di sana menemani Daniel.
Ayash langsung menggendong tubuh Daniel. Anak itu sudah terlihat ceria dan penuh energi. Sepertinya pengobatannya ada hasil.
"Papa.... Aku mau ikut lagi ke kantor Papa." rengek Daniel.
"Iya, pasti akan Papa ajak kalau sudah sembuh."
"Kenapa sih, Papa jadi sibuk terus? Daniel juga mau bantu Papa kerja biar Papa bisa main sama Daniel."
"Memangnya Daniel tidak suka dengan Daddy-nya Daniel? Ada juga Papa Irgi, kan?"
Daniel memeluk Ayash, "Aku paling suka sama Papa."
Ayash senang mendengar ucapan itu.
"Kalau begitu, Daniel harus cepat sembuh ya, supaya bisa main sepuasnya dengan papa."
"Iya. Daniel juga kuat disuntik untuk Papa. Kata Papa kan Daniel harus kuat."
Ayash mencium pipi Daniel, "Kamu sudah makan belum?"
"Sudah. Aku disuapi Kak Leta. Katanya Mama mau lihat adik bayi dulu."
"Iya. Nanti juga mama kembali. Dean dan Livy juga ikut. Kamu bisa main bareng mereka. Nanti kamarmu jadi ramai."
"Jangan lupa tetap pakai masker ya, kalau adik-adikmu datang."
Daniel mengangguk, "Papa mau pergi lagi, ya?" wajah Daniel jadi cemberut.
"Iya, Sayang. Papa mau ke Kota J. Uncle Arga mau menikah. Jadi papa harus datang."
"Daniel juga mau lihat Uncle Arga menikah."
"Tapi kamu kan masih sakit. Adik-adikmu juga tidak ada yang ikut."
__ADS_1
"Sudah, kalau nanti papa pulang, papa belikan lego terbaru. Kita bangun rumah sakit bersama, kamu mau?"
"Mau.... Mau.... Mau.... " seru Daniel.