ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Bayu Mengamuk


__ADS_3

"Daniel, ayah kandungmu sebenarnya adalah Bayu Bagaskara. Dan aku adalah kakekmu."


Daniel memandang lekat Samuel. Ia mendengarkan ucapannya dengan serius.


"Yang selama ini kamu anggap ayahmu sebenarnya itu bukan ayahmu. Ayahmu adalah Bayu, berbeda dengan ayah adik-adikmu. Makanya kamu tidak mirip dengan mereka, karena kamu mirip dengan ayah kandungmu, Bayu."


Daniel menghubungkan informasi yang dia dengar dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Dimana ia pernah disebut anak adopsi, dibedakan perlakuannya, hingga orang-orang berkomentar jika dia tidak ada mirip-miripnya dengan papanya Ayash. Dia jadi sedih, dia ingin papanya tetap Ayash, bukan yang lain.


Melihat Daniel yang jadi murung, Prita ikut bingung. Anak itu tipe pemikir, pasti sedang memikirkan hal-hal yang sulit diterima oleh otaknya.


"Sudah, cukup. Dia belum bisa terlalu mengerti untuk masalah seperti ini." pinta Prita.


"Jangan sedih, Daniel. Keluargamu yang sebenarnya juga tidak kalah dengan keluarga ayah sambungmu. Yang jelas, tidak akan ada yang berani menjelek-jelekkanmu di sini seperti oma kamu."


*****


Bayu memegangi kepalanya yang pening akibat acara minum-minum bersama teman lamanya. Cara jalannya juga sedikit sempoyongan. Untunglah tadi dia mengendarai mobilnya dengan selamat.


Bayu berusaha bersikap sebagai orang yang tidak mabuk. Kalau sampai ketahuan, mungkin dia akan diusir dari rumah sakit. Untunglah malam itu kondisinya sudah sepi, dia tak bertemu seorangpun di koridor menuju kamar Daniel. Rencananya malam ini dia akan menginap di rumah sakit, dia sudah tidak kuat jika harus mengendarai mobilnya lagi untuk pulang ke apartemen.


Sesampainya di depan pintu kamar, dia sudah merasa ada hal yang aneh. Tidak ada penjaga di sana. Tiba-tiba kesadarannya kembali pulih akibat rasa khawatir.


Ia buka pintu itu. Sepi. Tak ada sedikitpun suara.


"Prita.... Prita.... " panggilnya.


Ranjang Daniel kosong. Prita juga tidak ada di sana. Pikirannya semakin panik. Ketika ia menoleh ke samping kiri, dilihatnya dua orang penjaga tergeletak di sana tak sadarkan diri. Sudah pasti terjadi sesuatu pada Prita dan anaknya.


Ia langsung berlari mengecek ke dalam toilet dan kamar. Tidak ada siapa-siapa di sana.


"Ah!" pekiknya kesal.


Matanya tiba-tiba tertuju pada meja ruang makan. Ada selembar kartu terkeletak di sana. Dia ambil kartu itu. Kartu yang tak asing baginya, kartu tanda pengenal Tiger King.


Bayu mengepalkan tangannya. Ia sudah tahu semua ini pasti ulah ayahnya. Benda itu sengaja diletakkan supaya Bayu mendatanginya di mansion.


"Tua bangka bangsat!" umpatnya sembari membanting kartu itu ke lantai.

__ADS_1


Dengan perasaan yang masih emosi, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Alex.


"Alex, datang ke rumah sakit sekarang juga! Aku tunggu di parkiran basement."


"Kenapa, bos?"


"Aku butuh bantuanmu untuk menyetir. Aku sedikit mabuk. Jangan banyak tanya lagi!"


"Baik, Bos."


Bayu mematikan ponselnya. Ia menghembuskan nafas kasar. Dengan segenap kesadaran yang masih dimiliki, ia terpaksa kembali berjalan menuju lift. Sampai ayahnya berani melukai sedikit saja Prita ataupun anaknya, dia bertekad malam ini akan langsung membunuhnya tanpa pikir panjang.


Sesampainya di bawah, tampak Alex sedang berlari ke arahnya. Anak itu benar-benar langsung datang setelah ia memanggilnya. Napasnya terengah-engah. Ia gunakan seluruh tenaganya untuk berlari agar bosnya tidak marah.


Bayu menyerahkan kunci mobil Maserati Grandcarbio warna putih miliknya. Mobil itu belum lama ia beli, mengingat Prita pernah protes tentang mobilnya karena kursinya hanya ada dua. Mobil yang baru ini memiliki empat kursi seperti yang Prita inginkan.


Alex duduk di belakang kemudi, tak lupa ia pasang sabuk pengamannya. Sementara, Bayu duduk di sebelahnya.


"Antarkan aku ke mansion Tiger King!" perintah Bayu.


Tubuh Alex langsung menegang. Ia tidak tau kalau bosnya akan mengajaknya ke sana. Pergi ke sana sama artinya dengan bertemu dengan teman-teman lamanya dan tentu saja.... Samuel Bagaskara, orang yang telah memungutnya dari jalan dan membesarkannya.


Bayu sepertinya tau apa yang Alex khawatirkan. Ia memejamkan matanya sejenak untuk meredakan rasa pusing di kepala. Alex mulai melajukan mobilnya.


Seperti dugaan, setibanya di mansion, ada banyak pasang mata yang menyambut kehadiran mereka. Alex melirik Bayu yang masih memejamkan mata.


"Bos, kita sudah sampai."


"Hm."


Bayu membuka matanya. Diregangkannya kedua tangan untuk pemanasan. Kepalanya juga diputar-putar.


Ia sedikit menyesal sudah minum-minum. Sepertinya kemampuan bertarung akan turun karena pengaruh alkohol.


Tepat di depan mansion, jajaran orang-orang sudah menghadang. Alex menghentikan mobilnya di sana.


"Bos, aku benar-benar tidak bisa membantu. Anda salah mengajak orang." Keluh Alex yang sudah pasrah lebih dulu melihat puluhan orang di depannya.

__ADS_1


"Kalau begitu diam saja di belakangku, biar aku yang menghajar mereka semua."


Bayu membuka pintu mobilnya dengan tenang. Diikuti oleh Alex yang ketakutan. Alex tidak bisa berkelahi.


Kemarahan Bayu tiba-tiba muncul saat ada dua orang yang menghalangi jalannya.


"Minggir kalian, Bangsat!"


Dua orang itu tetap bergeming. Membuat Bayu akhirnya memakai cara kekerasan. Dia melayangkan pukulan ke arah dua orang itu. Teman-temannya yang tidak terima, ikut maju mengeroyok Bayu.


Meskipun sendirian, tapi kemampuannya bisa mengimbangi belasan orang yang hendak memukulnya bersama-sama. Tendangan demi tendangan dia berikan dengan power tenaga yang tinggi. Pengaruh alkohol ternyata membuatnya lebih gila dalam berkelahi. Dia sudah tidak memikirkan apa-apa lagi selain menyingkirkan mereka semua. Alex hanya bisa berdiri di belakang tanpa melakukan apapun.


Sementara, Ben yang berada di ruang tengah bersama anak buahnya yang lain mendengar ribut-ribut dari arah depan. Dia merasa tamu yang dinanti-nantikan sepertinya sudah datang. Bergegas ia menuju ke arah luar diikuti oleh anak buahnya.


Sampai di depan pintu utama, anak buahnya sudah banyak yang terkapar oleh amukan Bayu. Bos mudanya itu masih semangat menghajar anak buahnya yang lain.


"Bos!" teriaknya.


Bayu berhenti memukul. Dia menoleh ke arah datangnya suara. Ada Ben di sana.


"Kalian semua hentikan! Dia Tuan Muda Bayu." seru Ben.


Tidak semua anak buahnya tahu kalau orang yang datang adalah Bayu. Mereka itu kebanyakan orang-orang baru.


"Bos, ikut saya."


Bayu menepuk-nepuk kotoran yang menempel pada pakaiannya. Ia merapikan pakaian yang sedikit berantakan lalu berjalan ke arah Ben. Alex mengikutinya dari belakang.


"Dimana Prita dan anakku?"


"Ada bersama Tuan di dalam."


"Ini semua pasti ulahmu kan, Ben?"


"Maafkan saya, Bos. Saya hanya menjalankan perintah."


Ben mengajak mereka memasuki mansion. Di ruang tengah, ayahnya sedang duduk bersantai memangku Daniel sambil menemaninya bermain lego bangunan. Prita yang melihat kedatangan Bayu langsung berdiri.

__ADS_1


"Oh, coba lihat ini siapa yang datang? Berani-beraninya masuk rumahku dengan membuat keributan. Kamu mabuk, kan?"


Bayu tak menggubris ucapan ayahnya. Ketika melihat Prita, fokusnya hanya pada wanita itu. Tanpa memikirkan apapun, dia langsung berjalan menghampirinya lalu memeluknya dengan erat.


__ADS_2