ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kick Boxing


__ADS_3

Bunda, bantu vote 😁


----‐-------------------------------------------------------------------------


"Daniel belum mau pulang?"


"Belum. Katanya dia masih ingin tinggal bersama Papanya."


"Dia sudah seperti bukan anakku, lebih dekat dengan orang lain daripada ayah kandungnya sendiri."


"Daniel kan masih kecil, belum paham hal-hal seperti itu. Lagipula, Ayash sudah bersamanya selama lima tahun jadi wajar kalau mereka dekat."


"Itu juga salahmu, kenapa kamu bawa anakku pergi bersama lelaki lain?"


Prita tak bisa berkata-kata menghadapi seorang ayah yang cemburu karena anaknya lebih dekat dengan mantan suaminya.


"Coba diingat lagi bagaimana sikapmu yang dulu padaku, wahai Tuan Bayu yang pemaksa. Mana ada wanita yang akan menyukaimu kalau sikapmu seperti itu."


"Jadi sekarang kamu sudah suka padaku, kan?"


"Kalau aku tidak menyukaimu, untuk apa aku menikah denganmu?"


"Terus, kenapa tidak pernah memanggilku dengan sebutan yang mesra? Aku lebih tua darimu dan kamu selalu memanggilku Bayu, Bayu, Bayu.... Itu sangat tidak sopan, Sayang."


"Cobalah memanggilku dengan sebutan yang lain."


"Kamu mau aku memanggilmu apa? Bapak, Tuan Muda, Om, atau Daddy, seperti anak-anak memanggilmu?"


"Ya, Daddy juga lumayan enak didengar. Aku jadi merasa punya sugar baby sekarang. Hahaha.... "


"Tapi, aku ingin panggilan lain yang lebih hangat di antara kita. Seperti Sayang, Honey, Darling, atau Hubby."


Prita melayangkan pandangan ke arah langit-langit rumah, kemudian menatap kembali pada lawan bicaranya.


"Aku tidak bisa menyebutmu begitu. Itu terdengar sangat menggelikan."


"Oh, ayolah.... Itu panggilan yang romantis."


"No, bagiku itu aneh."


"Oh, kalian sudah datang."


Pandangan Prita beralih pada tamu yang baru saja masuk rumahnya. Ada Fredi dan Alex.


"Sayang, aku pergi dulu."


"Ikut.... " rajuk Prita.


Bayu melongo, istrinya lagi-lagi bertingkah seperti itu. Dia suka sekali mengekorinya akhir-akhir ini.


"Kali ini jangan, aku mau latihan kick boxing dengan mereka."


"Daddy.... Dean ikut.... Dean juga mau kick boxing." sahut Dean yang berlari menghampiri ayah dan ibunya di ruang tengah.


Bayu menggaruk-garuk kepalanya. Anak dan istrinya mau mengikutinya ke sasana tinju?


"Kamu di rumah saja, Dean. Main tinju ditemani mama."


"Tidak mau! Aku mau ikut Daddy!"


Menyesal Bayu mengucapkan niatnya pergi latihan kick boxing. Dean tidak akan mungkin menyerah karena dia sedang senang-senangnya berlatih tinju.


"Sayang, tolong bujuk Dean agar tidak ikut."


"Tapi kami berdua mau ikut.... Apa tidak boleh?"


"Kamu akan kelelahan, ini olahraga berat. Aku tidak mau kamu sampai pingsan. Di rumah saja temani anak-anak."


"Mas.... Boleh ikut, ya.... "


Rayuan yang Prita ucapkan membuat Bayu berbunga-bunga. Apa tadi Prita baru saja merayunya dengan memanggilnya dengan sebutan 'Mas'? Meskipun terdengar tidak cocok untuk dirinya yang berwajah kebule-bulean, tapi saat Prita sendiri yang mengucapkannya membuat dia merasa senang.


"Mas.... Ikut.... "


Bayu semakin meleyot mendengar panggilan sayang yang tidak wajar dari istrinya. Panggilan yang tidak dia harapkan tapi senang ia dengarkan.

__ADS_1


"Oke, oke.... Kalian ganti baju dulu. Aku tunggu di sini."


"Yeay!" seru Prita dan Dean bersamaan.


Prita langsung menggendong Dean dan membawanya ke kamar.


Sementara, Fredi dan Alex yang ada di hadapan mereka hanya bisa saling bertatapan sambil menahan tawa.


"Berani kalian tertawa, aku pecat!" ancam Bayu.


Keduanya langsung merubah raut wajahnya menjadi datar.


"Kali ini kamu juga harus ikut latihan kick boxing, Alex. Jangan hanya menonton seperti biasanya."


"Baik, Bos."


"Aku akan menertawakanmu kalau sampai kalah dengan Dean. Dia masih kecil saja sudah sangat lincah."


Beberapa saat kemudian, Prita dan Dean sudah berganti pakaian. Mereka langsung berangkat ke tempat yang akan digunakan untuk latihan tinju.


Ini pertama kalinya Prita datang ke tempat latihan tinju. Tak jauh berbeda dengan tempat fitnes biasa, hanya saja ada banyak samsak dan sarung tinju di sana.


Bukan tanpa alasan Prita mengikuti kegiatan suaminya. Dia juga sebenarnya tidak nyaman pergi ke tempat yang biasa Bayu datangi. Kantor, klab malam, tempat latihan menembak, dan sekarang tempat latihan tinju. Mungkin Bayu juga masih memiliki banyak aktivitas yang belum Prita tahu, tempat-tempat yang lebih berbahaya yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.


Prita hanya merasa perlu tahu tentang siapa suaminya yang sebenarnya. Tidak cukup hanya mengenal Bayu yang baik saat berada di rumah. Dia ingin tahu, bagaimana ketika Bayu berada di luar rumah. Apakah dia lelaki yang seburuk Irgi ceritakan? Atau mungkin lebih buruk dari itu?


Mengikuti Bayu membuatnya harus membuang jauh-jauh rasa takutnya. Ia tidak boleh terlihat gemetar ketika melihat hal baru yang menurutnya menakutkan. Ia pasti bisa mengimbangi apa yang biasa Bayu lakukan.


"Yakin, mau lanjut?"


Prita mengangguk.


"Pemanasan dulu sebelum mulai."


Bayu memberikan tali skipping kepada Prita. Mereka berdua melakukan gerakan skipping bersamaan. Sementara, Dean sudah langsung main pukul-pukulan ditemani Fredi. Alex yang disuruh ikut bergabung malah kapok karena berkali-kali terkena tendangan dan pukulan Dean. Fredi yang biasanya selalu serius hampir tak pernah tertawa dibuat terpingkal-pingkal melihat Alex. Dia sangat payah, melawan anak kecil saja kalah. Seumur-umur baru kali ini dia melihat anggota Red Wine yang tidak bisa berkelahi sama sekali.


Jangankan untuk melakukan kick boxing, olahraga biasa saja Alex tidak pernah. Dia sangat tidak menyukai aktivitas yang banyak melibatkan fisik. Hobinya rebahan sambil bermain game. Kalau sedang serius, dia bisa melakukan coding atau sesekali mellnjadi hacker jika jiwa isengnya muncul.


"Oke, Dean, kamu latihan dulu dengan pelatih. Biar Kakak Alex ini Om Fredi yang ajarin."


Dean mengangguk dan menghampiri pelatihnya.


"Sumpah anak kecil itu.... Kalau dia bukan anak Nona Prita, sudah aku balas. Kasih tendangan tidak kira-kira." umpat Alex.


"Hahaha.... Dia anak yang penuh semangat. Itu salahmu sendiri yang tidak bisa menghindar. Anak sekecil itu memang belum bisa mengendalikan tenaganya. Sakit nggak?"


"Masih berani tanya, Kak? Ya sakit lah!"


"Hahaha.... "


"Aku ini kasihan padamu, tapi melihatmu kalah dari anak kecil juga membuatku terhibur."


"Sini, aku ajari dulu dasar-dasar kick boxing. Setidaknya jika nanti ada musuh yang mengepung, kamu bisa ikut menghajar mereka, tidak hanya ngumpet di pojokan."


"Kak Fredi memang jago kalau menghina orang."


"Setidaknya aku masih baik, mau mengajarimu berlatih."


"Ayo, ikuti gerakanku."


Di sisi lain, Prita sudah mulai melakukan latihannya dengan pendampingan Bayu yang sedang mencontohkan shadow boxing untuk melakukan gerakan jab, cross, uppercut, dan hook.


"Apa kamu sudah mulai kelelahan, Sayang?"


"Belum, aku masih kuat."


"Aku kagum dengan kebugaran fisikmu. Sepertinya istriku ini cukup rajin olahraga."


"Jangan meremehkanku, Tuan Bayu. Tenagaku masih penuh untuk melakukan hal ini."


"Oh, ayolah.... panggil aku dengan sebutan yang tadi sebelum berangkat."


"Mas.... " panggil Prita sembari mengedip-ngedipkan mata manja.


Hal itu membuat Bayu terhibur.

__ADS_1


"Ayo, sekarang mulai lagi latihannya. Pakai sarung tinjumu."


Bayu bersiap memasangkan padding sebagai sasaran pada kedua tangannya. Sementara, Prita mengenakan sarung tinjunya.


"Sudah siap? Praktikkan gerakan yang aku contohkan."


Bayu mengimbangi gerakan pukulan yang dilayangkan oleh Prita. Sebagai pemula, cukup lumayan lincah dan cekatan.


"Tendang!"


Bayu menginstruksikan agar Prita melakukan tendangan pada pad di tangannya. Meski nafasnya sudah mulai terengah-engah dan keringat membasahi sekujur tubuhnya, Prita tidak begitu saja menyerah.


"Oke, cukup."


Prita langsung menjatuhkan dirinya ke lantai sembari mengatur nafasnya. Sungguh olahraga yang sangat melelahkan.


"Apa aku bilang, ini tidak cocok untukmu." ujar Bayu. "Besok, jangan ikut ke sini lagi. Simpan tenagamu untuk menyenangkanku di kamar, Sayang. Aku tak mau kamu kehabisan tenaga."


Merasa sedang diejek, Prita menarik leher Bayu ke arahnya lalu menggulingkannya ke samping hingga terlentang di lantai. Sementara kini ia berada di atasnya.


"Aku bisa lebih hebat daripada hanya sekedar bergoyang di atas ranjang, Mas.... Jangan meremehkanku." ucap Prita dengan nada sensual.


Bayu yang awalnya terkejut jadi meleleh dengan kelakuan istrinya. She's very hot.


"Mau bertanding satu kali?"


"Boleh.... "


"Turun dari atasku dulu. Biar aku panggilkan lawan untukmu."


Prita menuruti permintaan Bayu, membiarkannya kembali bangkit berdiri.


"Joyceline!" Bayu memanggil salah seorang anak buahnya yang perempuan. Tubuh wanita itu sangat bagus, tampak kuat meskipun seorang perempuan. Maklum saja, tugasnya untuk mengamankan orang.


"Temani istriku bertarung."


"Baik, Tuan."


"Ingat, jangan gunakan kemampuanmu. Aku tidak mau istriku terluka."


Prita ternganga, apa maksudnya bertarung tapi lawannya tidak boleh membalas? Itu sama artinya Joy disuruh jadi samsak hidup untuknya.


"Em, Joy, kamu boleh kok menggunakan sedikit kekuatanmu. Jangan terlalu mendengarkan dia."


"Sayang.... "


Prita menutup mulut suaminya dengan telapak tangannya.


"Tapi, memukulnya jangan keras-keras, ya. Aku kan baru belajar."


Joy mengangguk mengerti.


Keduanya sudah bersiap memakai sarung tinju, lalu naik ke dalam ring tinju. Sontak hal itu menarik perhatian orang-orang yang ada di sana. Sebentar lagi, mereka akan melihat pertandingan antara istri Bos Bayu dengan bodyguardnya.


"Mama.... Semangat.... " seru Dean.


Prita mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Joy sejak awal hanya berusaha menghindar. Sekalipun melayangkan pukulan, ia hanya melakukannya dengan pelan. Namun, Prita tetap menganggap pertandingan itu serius. Meskipun kemampuannya tidak ada apa-apanya dibandingkan Joy, tapi ia tetap berusaha. Lambat laun Joy semakin kewalahan hanya dengan posisi bertahan. Saat terdesak, tanpa sengaja pukulannya mengenai wajah Prita sebelah kiri dengan cukup keras hingga Prita tersungkur jatuh ke tanah. Semua yang menonton tercengang.


"Joy! Sialan! Kenapa memukul istriku?" teriak Bayu keras. Ia langsung naik ke atas, menghampiri Prita dengan cemas.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanyanya khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Kenapa sih?"


"Tuan, Nona, maafkan saya."


"Aku akan menghajarmu sendiri, Joy! Sudah kuperingatkan tadi untuk tidak memukul istriku."


"Ish! Aku kan tidak apa-apa." Prita mencubit keras lengan Bayu.


"Joy, kamu turun saja, aku tidak marah. Jangan dengarkan orang ini."


"Terima kasih, Nona." Joy turun meninggalkan sasana tinju.


"Lihat ini, wajahmu sampai bengkak sebelah."

__ADS_1


"Nanti juga sembuh. Namanya juga latihan tinju wajar kalau kena pukul."


"Pokoknya, ini terakhir kali kamu ikut ke tempat ini. Aku tidak mau sampai kamu kena pukul lagi."


__ADS_2