ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Extra Part: Daniel


__ADS_3

Pendiam, tidak banyak bicara, tapi peduli. Terlihat cuek, kurang peka, padahal sebenarnya perhatian. Dingin, tapi penuh kasih sayang. Tampan dan pintar.... Tapi sulit untuk digapai. Siapa saja yang menaruh hati padanya akan memilih mundur sebelum maju.


Daniel Bagaskara, mantan ketua OSIS, siswa terbaik di sekolah yang selalu mendapatkan peringkat pertama tiap semesternya, bahkan menjadi juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Fisika tahun lalu.


Sifatnya jauh berbeda dengan Dean. Adiknya jauh lebih populer di sekolah daripada dirinya. Mungkin karena sifat pendiamnya yang membuat orang lain juga sungkan untuk berteman dengannya. Padahal, untuk teman-teman yang sudah biasa dekat dengannya, Daniel anak yang ramah dan baik hati.


Wajahnya yang cukup kebule-bulean membuatnya gampang untuk dikenali. Karena warna rambutnya yang pirang alami, dulu awal masuk SMA dia sempat dimarahi guru karena dikira mewarnai rambut. Dia juga suka dikira orang asing, padahal dia keturunan Indonesia meskipun masih ada darah Jerman yang mengalir di tubuhnya.


Waktu kelas sepuluh dan sebelas SMA, Daniel cukup aktif mengikuti organisasi dan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah. Dia ikut organisasi OSIS dan pramuka serta klab Fisika dan klab renang untuk ekstrakurikuler.


Sekarang, setelah naik kelas dua belas, dia meninggalkan segala kesibukannya baik di organisasi maupun ekstrakurikuler untuk fokus belajar mempersiapkan diri masuk ke perguruan tinggi dan Ujian Nasional. Waktunya memang masih lama, tapi Daniel ingin mempersiapkannya sejak awal. Cita-citanya ingin melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat, Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengambil jurusan ilmu bisnis, sesuai dengan cita-citanya menjadi pengusaha seperti papanya, Ayash. Namun, mamanya menginginkannya supaya dia tetap bersekolah di tanah air saja, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri.


Daniel masih berusaha meyakinkan mamanya kalau dia benar-benar ingin berkuliah di MIT. Karena itu, dia juga merayu papanya dan juga daddy-nya untuk memberi dukungan.


Daniel juga mulai belajar tentang bisnis kepada papanya. Karena sudah kelas dua belas dan banyak waktu luang, sepulang sekolah ia bisa mampir ke kantor papanya.


Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa nama belakang Daniel dirubah? Saat lahir akta kelahirannya bernama Daniel Hartadi dan ayahnya Ayash Hartadi. Sekarang, namanya di akta kelahiran maupun berubah menjadi Daniel Bagaskara dan ayahnya Bayu Bagaskara.


Daniel sendiri pasti tidak tahu ceritanya. Kejadiannya sudah cukup lama, bahkan saat itu Daniel masih SD. Mama Maya pernah datang ke rumah Prita sambil marah-marah membawa akta kelahiran Daniel yang ditemukan di penthouse Ayash. Dia tidak terima kalau Daniel memakai nama belakang Ayash, karena Daniel bukan anak Ayash. Oleh karena itu, Bayu dan Prita langsung mengganti akta kelahiran Daniel. Dan sampai sekarang, nama Daniel sudah berubah.


"Kak Daniel!" seru Livy.


Suaranya yang keras langsung membuatnya menjadi pusat perhatian di perpustakaan. Bahkan, penjaga perpustakaan sendiri sampai memandanginya dengan tatapan yang menyeramkan.


Livy menutup mulutnya. Ia berjalan cepat ke arah meja tempat kakaknya sedang membaca. Ia tersenyum lebar di depan kakaknya.


"Kenapa, Livy?"


"Aku membawakan makan siang untuk Kakak. Aku yang masak sendiri loh, ini." ucapnya sembari menaruh kotak makanan untuk kakaknya.


"Halah, paling ini masakan Mama." Daniel tidak percaya kalau adiknya itu bisa memasak.


"Hehehe.... Dimakan dong, Kak. Atau mau aku suapi?"


"Nanti pasti aku makan. Di perpustakaan tidak boleh makan soalnya."


"Oh, iya. Aku sampai lupa."


"Lupa atau tidak tahu? Pasti kamu tidak pernah masuk ke perpustakaan, kan?"

__ADS_1


"Hehehe.... " Livy memang seperti Dean, sama-sama tidak terlalu suka belajar.


"Kamu mau kemana pakai hoodie seperti itu?"


"Mau main ke mall, nonton bareng teman."


"Diantar sopir?"


"Tidak.... Aku berangkat bareng teman nanti. Dia diantar pacarnya yang anak kuliahan."


Daniel menutup bukunya. Kali ini ia fokus menatap adiknya, "Kamu mau jadi nyamuk, nemenin orang pacaran?"


"Yang sudah punya pacar cuma satu temanku itu saja, Kak. Tapi tiga temanku yang lain masih jomlo kok. Jadi, nanti kita pergi berenam."


"Kamu berteman dengan anak seperti itu saja kakak sudah tidak suka, loh. Masa masih SMP sudah pacaran.... Dengan anak kuliahan lagi."


"Memangnya kenapa sih, Kak.... Mama sama Daddy saja jarak usianya sembilan atau sepuluh tahun, kok.... Paling temanku itu selisih usianya tujuh tahun."


"Bukan masalah jarak usianya, Livy.... Tapi, menurut kakak SMP itu masih terlalu muda untuk pacaran. Nanti kalau kamu sering berteman dengan anak seperti itu bisa jadi ikut-ikutan."


"Sudah, kalau mau main ke mall, nonton film, tunggu kakak pulang. Biar kakak yang antar dan menemani kamu."


"No!" tegas Livy. "Kalau Kakak ikut nanti aku yang repot.... "


"Kalau Kakak ikut, nanti teman-temanku bakalan suka sama Kakak. Itu kan merepotkan. Mereka pasti akan minta main ke rumah setiap hari untuk bertemu Kakak. Aku tidak mau seperti itu."


Daniel tersenyum. Ia mengusap lembut kepala adiknya, "Kalau begitu, kita pergi berempat saja, ajak Kak Dean dan juga Dylan."


"Alah.... Untuk apa ajak mereka. Berdua sajalah dengan Kak Daniel!"


"Memangnya kenapa kalau ajak mereka?"


"Dean itu.... "


"Kak Dean. Panggilnya yang sopan, Livy."


"Iya, iya.... Maksudku, Kak Dean suka jahil."


"Kan ada kakak. Biar kakak yang bilang supaya Dean tidak jahil lagi."

__ADS_1


"Ya sudah, deh! Kak Dean boleh ikut. Tapi, Dylan jangan, ya.... Dia kan masih kecil."


"Halah! Tinggi kalian saja hampir sama masih bilang Dylan kecil."


"Dylan kan anak SD."


"Kamu juga masih SMP, di mata kakak kamu juga masih anak-anak."


Livy mencebikkan bibirnya, "Mau nonton film apa kalau ajak anak SD ke bioskop?"


"Hahaha.... " Daniel menggeleng-gelengkan kepala. Adiknya benar-benar merasa sudah dewasa meskipun mengenakan seragam SMP. "Nanti kakak yang pilihkan filmnya. Tiket dan jajannya nanti kakak yang bayar, kalian cukup duduk tenang menonton."


"Tapi, pulangnya main ke Time Zone!"


"Boleh.... "


"Aku juga mau beli baju baru.... Sekalian belanja ya, Kak.... " rayu Livy.


"Oke."


"Kalau begitu aku ke gerbang sekolah dulu, mau memberitahu teman-temanku kalau aku tidak bisa ikut."


"Memangnya tidak bawa ponsel."


"Kan tidak boleh bawa ponsel ke sekolah.... "


"Oh, iya."


"Ya sudah, sana! Kakak juga mau siap-siap dulu untuk pulang."


"Siap, Bos!"


Livy berlari keluar dari perpustakaan. Kelakuannya yang membuat gaduh membuat penjaga perpustakaan semakin kesal.


"Daniel, itu siapa?" tanya penjaga perpustakaan ketika Daniel hendak keluar melewatinya.


"Dia adikku, Bu. Kenapa?"


"Oh, tidak.... Tidak apa-apa.... " penjaga perpustakaan itu tidak jadi melanjutkan perkataannya. Ia hanya tersenyum dan mempersilakan Daniel melanjutkan jalannya.

__ADS_1


Dia kira yang tadi datang hanya seorang anak SMP centik yang mau mengganggu kakak kelasnya. Antara SMP dan SMA memang satu yayasan dan berada dalam satu kompleks, namun berbeda gedung. Jadi, kalau ada anak SMP mau main ke gedung SMA juga diperbolehkan, begitupula sebaliknya.


Daniel diijinkan membawa mobil ke sekolah mengendarai Lexus RX warna hitam pemberian daddy-nya saat ulang tahun yang ke tujuh belas. Dia biasa berangkat ke sekolah bersama Dean dari penthouse papanya. Ya, Daniel dan Dean masih tinggal bersama Ayash. Senin sampai kamis mereka di penthouse papanya, akhir pekan mereka tinggal di rumah mamanya. Sementara, Livy dan Dylan tetap tinggal bersama Bayu dan Prita.


__ADS_2