ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Daniel Bangun


__ADS_3

Prita menangis tersedu-sedu di area taman rumah sakit. Meskipun menjadi perhatian orang-orang yang lewat, ia sudah tidak peduli. Ketabahannya sudah hilang dihantam bertubi-tubi oleh masalah yang tidak pernah selesai. Ayash duduk di sebelahnya menemani tanpa berkata apapun. Ia membiarkannya terus menangis dan menjadi tontonan orang.


"Maaf." ucap Ayash setelah Prita mulai bisa mengendalikan emosinya. Tangisannya sudah berhenti.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dari kata-kata yang menyakitkan."


"Kita bercerai saja."


Entah mengapa kata-kata itu sangat mulus terlondar dari mulut Prita. Rasanya dia sudah tidak bisa bertahan terutama dengan sikap Mama Maya.


"Jangan pernah mengucapkan hal seperti itu. Saat ini kamu sedang emosi."


"Mama tidak akan membiarkanku hidup tenang sebelum aku lepas darimu."


"Aku akan membuat Mama mengerti."


"Mama tidak akan mengerti!" bentak Prita.


"Mama bahkan bisa membahas hal seperti itu di saat kondisi Daniel masih kritis. Mama tidak akan menerima Daniel sampai kapanpun. Mama sangat membenci Daniel. Dan sekarang Mama juga membenciku."


"Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan Dean dan Livy? Kamu mau menyerah untuk mempertahankan keluarga bahagia kita hanya karena Mama?"


Prita menangkupkan telapak tangannya ke wajah. Ditariknya nafas dalam-dalam, "Kamu tidak pernah tahu seperti apa Mama memperlakukanku selama ini di rumah. Apa yang aku lakukan selalu salah di mata Mama. Caraku mengasuh anak, caraku memperlakukanmu sebagai suami, dan masih ada hal-hal kecil lainnya yang tak luput dari komentar Mama. Aku sudah berusaha menahannya. Asalkan Mama tak mengusik Daniel, aku akan menerima semua perlakuan Mama."


"Mama tidak mungkin seperti itu padamu. Dia sangat menyukaimu."


Prita menggeleng.


"Oke, memang mungkin saat ini Mama yang belum bisa menerima. Tapi masih ada aku, Livy, dan Dean yang sangat menyayangi Daniel. Cukup kamu fokus saja dengan itu."


"Sudah aku bilang, Mama tidak akan berhenti sampai di sini. Mama akan terus seperti ini sampai kamu mau melepaskanku."


"Aku tidak mau melepaskanmu."


"Aku sudah tidak bisa lagi menahan diri dari kata-kata Mama. Aku tidak mau terus tertekan. Aku hanya ingin fokus merawat Daniel. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya sebelum penyakitnya semakin memburuk."


"Ta.... "


"Sudahlah, kita sama-sama mendengarnya dari dokter."


"Mungkin Daniel hanya punya sisa waktu 5 tahun saja."


Ayash menggenggam tangan Prit, "Daniel tidak akan mati sekarang. Dia akan tumbuh dewasa bahkan menjadi tua. Dan kita akan terus mendampinginya sampai akhir sisa hidup kita."


Drrt.... Drrt...


"Sebentar."


Ayash mengambil ponselnya. Tampak nama Irgi yang meneleponnya.


"Kenapa, Ir?"

__ADS_1


"Cepat kembali. Daniel sudah sadar."


"Benarkah?" antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Irgi.


"Ya, dan dia sedang mencarimu."


"Kenapa?" tanya Prita yang penasaran melihat Ayash begitu girang dengan teleponnya.


"Daniel sudah sadar." ucapnya sambil tersenyum lebar.


Ayash mematikan ponselnya dan langsung menarik tangan Prita untuk ikut berjalan bersamanya menuju kamar perawatan Daniel.


Ketika mereka sampai, sudah ada Dokter Hansen dan perawat di sana.


"Papa.... Mama.... " seru Daniel kegirangan.


Sontak membuat kedua orang tua itu langsung berlari untuk memeluknya. Air mata Prita kembali mengalir saking bahagianya.


"Papa.... tadi malam Daniel mimpi kita berhasil menangkap ikan yang besar."


Daniel terlihat antusias bercerita. Dia seperti sudah sembuh sepenuhnya. Dia mengira selama dua hari koma, dia hanya tertidur dan bermimpi. Padahal orang-orang di sekitarnya sudah sangat cemas.


"Oh, iya? Kamu mimpi kita memancing bersama?"


Daniel mengangguk, "Aku juga membantu Papa menarik tali pancingnya karena Papa tidak kuat. Ikannya besar jadi Papa membutuhkan bantuanku."


"Lihatlah anak kalian sudah seceria ini. Sepertinya sebentar lagi Daniel bisa pulang." ucap Dokter Hansen.


"Memangnya Daniel sakit?" tanya Daniel polos.


"Daniel.... Daniel lupa kalau kemarin sempat jatuh ke jurang?" tanya Dokter.


Daniel memainkan bola matanya. Ia mencoba mengingat kejadian yang pernah dialaminya.


"Oh, iya. Aku sedang menangkap capung bersama Dean terus jatuh."


"Ah! Sakit." Daniel tak sengaja menekan kepalanya sendiri.


"Hati-hati, Daniel. Sakit di kepalamu belum sembuh."


"Iya Papa, Daniel tidak tahu."


Kelakuan Daniel kembali membuat tawa di ruangan itu pecah.


"Eh, Daniel sudah bangun, ya?"


Tampak Reonal masuk ke ruangan menggendong Dean. Disusul di belakang ada Maya yang menggendong Livy, Pak Ahmad, dan Leta. Prita membuang muka karena masih teringat kejadian tadi.


"Oma.... Opa.... " sapa Daniel.


"Kalau begitu, saya keluar dulu. Daniel, jaga kesehatan, ya."

__ADS_1


"Terima kasih, Om."


"Saya permisi dulu, Pak Reonal dan Bu Maya."


"Terima kasih, Hansen."


Dokter Hansen dan perawat yang mendampinginya keluar. Raeka memegangi lengan Irgi. Sepertinya mereka masih akan melihat kelanjutan drama keluarga.


"Daniel, cepat sehat, ya. Supaya bisa main bareng adik-adikmu lagi."


"Iya, Opa. Aku pasti akan sembuh."


"Anak pintar."


"Mama dan Papa akan membawa Livy dan Dean pulang ke mansion. Kalian di sini juga paling akan sibuk mengurus Daniel. Jadi kami yang akan mengurus Dean dan Livy."


Prita kurang suka mendengar ucapan Maya. Dia merasa masih bisa mengurus anak-anaknya yang lain meskipun harus mengurus Daniel yang sakit.


"Biarkan mereka di sini, Ma. Kami sengaja menyewa kamar sebelah juga untuk mereka. Lagipula, di sini ada Pak Ahmad dan Leta yang ikut menjaga mereka."


"Mama juga bisa menjaga mereka, kamu tenang saja. Kalian fokus saja dengan Daniel."


"Tapi anak-anak tidak bisa jauh dari Prita. Nanti Mama kewalahan sendiri menghadapi mereka."


"Tidak, mama kan juga sudah pernah mengasuh kamu waktu kecil. Mama bisa menangani mereka."


"Dean, kamu beneran mau ikut Oma Opa pulang?" tanya Ayash pada Dean.


Dean menggeleng, "Aku mau di sini sama Kak Daniel." jawabnya polos.


"Tadi katanya Dean mau ikut Oma pulang. Oma punya hadiah untukmu."


"Aku tidak mau, Oma. Aku mau dengan Kak Daniel. Kami akan main bersama."


Maya terlihat kesal karena sebelum ke ruangan itu, dia sudah meyakinkan Dean agar mau pulang dengannya. Tapi, anak itu sudah berubah pikiran lagi.


"Tuh kan, Ma.... Biarkan anak-anak tetap di sini. Mama Papa pulang saja dan istirahat."


"Leta, ambil Livy dari Mama."


Leta mendekati Maya. Dengan terpaksa Maya menyerahkan Livy kepada pengasuhnya.


"Dean sini ikut Papa. Opa mau pulang."


Dean turun dari gendongan Reonal berpindah kepada Ayash.


"Ya sudah kalau begitu, papa mama pulang dulu. Kalau ada apa-apa, telepon saja ke rumah."


"Iya, Pa. Terima kasih."


"Daniel, opa oma pulang dulu, ya."

__ADS_1


"Iya, Opa. Hati-hati di jalan."


Reonal mengusap lembut kepala Daniel sebel mengajak istrinya pulang. Maya masih kesal. Ia gagal membawa kedua cucunya pulang. Apalagi suaminya, Reonal, juga menyuruhnya untuk tidak mencampuri urusan rumah tangga Ayash. Bagaimana dia tidak boleh mencampuri kalau ternyata Prita selama ini sudah berbohong padanya?


__ADS_2