ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Sikap Mama Maya 2


__ADS_3

"Mmm.... Nanti malam mau ngapain, ya?"


"Main nintendo.... "


"Tapi Papa masih punya lego baru, lego Hogwart Castle yang belum dibuka. Kamu tidak tertarik?"


Mulut Daniel melongo membentuk huruf O mendengar mainan yang disebutkan ayahnya. Daniel sangat menyukai karakter Harry Potter. Mendengar papanya memiliki lego bangunan sekolah di film Harry Potter, tentu membuatnya sangat antusias.


Memiliki seorang anak yang sangat menyukai lego, membuat Ayash ikut menyukai permainan itu juga. Sudah banyak jenis-jenis lego yang ia beli untuk Daniel dari harga termurah hingga harga termahal. Dari yang pasaran hingga produk limited edition. Lego Hogwart Castle ini juga ia dapatkan lewat seorang teman yang baru pulang dari lear negeri. Harganya sekitar sepuluh juta.


"Papa beneran punya itu?"


"Iya, dong. Papa kan mau memainkannya dengan Daniel."


"Kalau begitu, malam ini kita main itu saja."


"Nintendonya?"


"Kapan-kapan." ucapnya sambil tertawa kecil.


Daniel memberikan pelukan hangat kepada orang yang sedang menggendongnya itu.


"Kenapa bawa anak itu kesini?"


Tawa ceria yang terpancar di wajah Ayash dan Daniel seketika pudar ketika melihat Maya berdiri di depan mereka. Daniel mengeratkan pelukannya. Ia takut melihat omanya.


"Memangnya kenapa, Ma? Daniel juga anakku."


Maya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kamu itu aneh. Kenapa malah lebih menyayangi anak orang lain daripada anakmu sendiri?"


"Aku menyayangi semua anak-anakku."


"Dia hanya anak dari hasil perselingkuhan wanita itu dan kamu masih mau menganggap anak ini sebagai anakmu? Apa kamu tidak punya harga diri?"


"Daniel punya salah apa sama Mama? Dia hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa."


"Lihat sekarang, kamu lebih membela anak ini daripada mama. Kamu juga sudah tidak peduli dengan Dean dan Livy gara-gara anak itu."


"Dimana letak tidak pedulinya, Ma?"


"Kalau kamu peduli pada Dean dan Livy, seharusnya kamu membawa mereka berdua tinggal bersama mama di sini."


"Suami baru Prita juga belum tentu memperlakukan mereka dengan baik."


"Justru karena aku sangat peduli pada Dean dan Livy, makanya aku ijinkan Prita yang mengasuh. Mereka masih kecil dan lebih membutuhkan kedekatan dengan ibunya."


"Mama juga bisa mengasuh mereka dengan lebih baik."


"Mama bisa menyusui Livy?"


Pertanyaan Ayash membuat Maya terdiam. Mulutnya terasa kaku untuk bersuara.


"Livy sudah biasa minum susu formula. Sudah tidak penting lagi ASI ibunya." kilah Maya.


"Apa perceraianku dengan Prita belum membuat Mama puas? Aku harus bagaimana lagi agar Mama tidak lagi mencampuri kehidupanku?"


"Mama berusaha memberitahumu hal yang benar. Kalau kamu tidak bisa menerimanya, mama bisa apa?"

__ADS_1


"Lama-lama aku bisa memilih mati kalau sikap Mama terus seperti ini."


"Sepertinya ada pembahasan seru."


Kedatangan Andin seketika membuyarkan suasana tegang di antara mereka. Maya memilih pergi dan menyudahi perdebatannya ketika melihat Andin datang.


Semenjak Andin menjadi menantu di rumah itu, Maya dan Andin hampir tidak pernah berbicara. Maya seperti menghindarinya. Entah karena takut atau karena tidak suka. Mungkin karena dari parasnya, Andin terlihat sebagai tipe menantu yang tidak bisa diatur.


"Mama Andin.... " sapa Daniel.


"Hai, anak ganteng. Kamu mau menginap di sini?"


Daniel mengangguk.


"Kamu dari mana, Ndin?"


"Dari makam Ibu."


"Ah, Ya Tuhan. Ini hari peringatan kematian ibumu, ya?"


Andin mengangguk sembari mengulaskan senyum.


"Maaf ya, Ndin. Aku lupa. Seharusnya kamu memberitahuku."


"Sudahlah, tidak apa-apa. Ini juga bukan ritual wajib."


"Kamu ke sana diantar sopir?"


"Aku naik taksi."


"Memangnya kenapa, sih? Mau naik taksi atau pakai sopir tujuannya kan tetap sama."


"Kamu kan menantu di rumah ini, ya gunakan semua fasilitas yang ada di sini."


"Halah, masalah sepele begini saja dibahas."


"Ya sudah, lain kali kalau mau pergi-pergi bilang. Aku yang akan mengantarmu kalau sempat. Kalau tidak, aku suruh sopir yang mengantarmu."


"Oke, Bos."


"Malam ini aku mau menginap di apartemen, kamu mau ikut?"


"Hah, katanya tadi mau menginap di sini?"


"Sepertinya perasaanku kurang baik kalau bersama Daniel di sini. Kami akan menghabiskan weekend di apartemen saja. Kalau mau, kamu juga boleh ikut gabung."


"Aku dan Papa mau main lego Hogwart Castle, Mama Andin tertarik?"


"Wah, sekolahnya Harry Potter, ya?"


Daniel mangguk-mangguk.


"Kalau itu sih, ayo! Mama Andin juga suka Harry Potter."


"Ajak Daniel ke mobil dulu, aku mau ambil barang di kamar."


Ayash menyerahkan Daniel ke gendongan Andin. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya mengambil lego yang akan dimainkan di apartemen. Lego itu ia letakkan di atas meja. Pandangannya mengarah pada dinding di atasnya, foto pernikahannya bersama Prita masih terpasang di sana. Saat itu mungkin menjadi saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

__ADS_1


Segera ia tepis pikirannya yang macam-macam. Diraihnya kotak lego yang hendak dibawanya menghampiri Andin dan Daniel di bawah.


"Ini legonya."


Ayash memberikan kotak lego besar kepada Daniel yang duduk di bagian belakang. Anak itu bertingkah kegirangan. Dipeluk-peluk kotak lego itu seperti sebuah barang yang sangat berharga.


"Tadi ribut lagi ya dengan Tante Maya?" tanya Andin di sela-sela perjalanan mereka menuju apartemen.


"Tidak ribut, hanya beda pendapat saja."


"Beban mental bagi wanita yang jadi menantunya."


"Hahaha.... memangnya kamu kena mental setelah menjadi menantu di keluarga Hartadi?"


"Tidak juga sih, malah sepertinya kebalik. Justru Tante Maya yang sepertinya kena mental punya menantu sepertiku."


"Hayo.... Apa yang kamu lakukan sampai Mamaku sepertinya takut padamu?"


"Aku sendiri tidak tahu, ya. Tante Maya tidak pernah mengajakku bicara. Kalau melihatku, dia langsung pergi."


"Ah, mungkin karena kejadian yang dulu."


"Kejadian apa?" Andin mencoba mengingat-ingat.


"Dulu, tas Mama hampir dijambret orang kan di depan kompleks. Terus, kamu datang langsung menendang penjambret itu sampai masuk got."


"Mama pernah cerita katanya kaget, ternyata Andin wanita bar-bar. Dia bukan hanya takut sama penjambretnya tapi juga takut sama kamu."


"Oh.... memangnya aku seseram itu?"


"Jago muay thai kalau lagi marah tidak hanya membuat penjahatnya takut tapi juga orang yang ditolong ikut takut."


"Lagian waktu itu kenapa kamu tidak membantuku malah berdiri terus seperti patung. Itu mamamu loh yang mau dijambret."


"Lah, penjambretnya keburu tumbang dulu olehmu aku harus apa selain nonton?"


"Kalau Prita beda ya, Yash, waktu jadi menantu Mama Maya?"


"Seperti yang kamu tahu, kalian beda jauh."


"Selama di rumahmu, pekerjaanku hanya numpang makan dan tidur."


"Memantu paling tidak tahu diri di dunia sepertinya kamu, jadi ratu di rumah mertua."


Andin terkekeh, "Untunglah Tante Maya tidak berani memarahiku."


"Takut kamu tinju, Ndin."


"Hahaha.... Aku tidak akan seperti itu kepada orang tua."


Mobil terus melaju menuju apartemen milik Ayash yang terletak di pusat kota. Apartemen yang dulu pernah dijadikan tempat tinggal bersama Prita. Sekarang, hanya sesekali ia gunakan tidur kalau banyak pekerjaan lembur dan tidak kuat menyetir ke mansion.


Ketika sampai di sana, semua masih tertata rapi seperti biasa, tak ada yang berubah. Bahkan, foto-foto bersama Prita dan anak-anak masih setia menghiasi dinding. Untunglah Andin bukan wanita baperan yang akan marah melihat pemandangan itu. Sikap Andin sangat cuek, karena memang dia tidak merasa sedikitpun cemburu. Justru dia merasa bersalah Ayash tidak bisa kembali bersama Prita karena menolongnya.


Hubungan Ayash dan Andin selama ini tidak ada chemistry sebagai pasangan suami istri. Lebih cenderung pada hubungan persahabatan yang saling menguatkan satu sama lain.


Entahlah, orang pasti tidak akan percaya ada lelaki dan wanita yang tinggal bersama tanpa perasaan cinta. Tapi, itulah mereka. Persahabatan yang terjalin selama 15 tahun membuat mereka saling mengenal karakter masing-masing. Dan mereka tahu, satu sama lain bukanlah orang yang cocok untuk hidup bersama. Tipe pasangan hidup yang mereka inginkan sangat bertolak belakang.

__ADS_1


__ADS_2