
Ting!
Pintu lift terbuka. Bayu dan Bara langsung berlari menyusuri koridor lantai teratas Bagaskara Corp. Gedung megah dua puluh lantai, bukti kejayaan keluarga Bagaskara itu sudah sangat sepi. Sepanjang lorong, mereka tidak berpapasan dengan satu orangpun pegawai.
Bayu hafal jelas letak ruang kerja ayahnya, di lantai teratas, ruangan seberang lift paling pojok. Karena tadi ia menggunakan lift untuk karyawan, jadi cukup jauh untuk bisa mencapainya.
"Alex!"
Bayu berlari lebih kencang menyadari ada Alex yang sedang terduduk di lantai dengan kaki bersimbah darah.
"Bos.... "
Alex, bayi besarnya Bayu menangis tersedu-sedu melihat kedatangan bosnya. Kakinya terasa sangat sakit hingga rasanya ia ingin menjerit. Bayu memeluknya, berusaha menenangkan Alex.
"Siapa yang melakukan ini, Alex?"
"Tuan.... Samuel."
Bayu sudah mengira ini perbuatan ayahnya. "Lalu, dimana istriku?"
"Dia membawanya ke ruangan Tuan Samuel. Ada Pak Ben juga."
"Bayu, dia terkena luka tembakan. Sebaiknya kita cari pertolongan, dia harus segera ditangani." ucap Bara.
Bayu melepaskan pelukannya. Baru kali ini anak lemah itu terlihat menangis. Alex yang ceria dan suka merepotkannya kini sedang kesakitan. Siapa yang tega melihat anak seimut itu menangis? Ah, meskipun Alex sudah tumbuh besar, di mata Bayu dia masih tetap anak kecil.
"Bara, tolong bawa Alex ke rumah sakit."
"Tunggu, tunggu.... Kamu mau ke sana sendirian?"
"Kamu mau ikut? Lalu bagaimana dengan Alex? Siapa yang akan menolongnya?"
"Tolong, Bara. Bantu aku. Kamu selamatkan Alex dan aku akan menyelamatkan istriku."
"Bayu, jangan pakai senjatamu. Saat kamu mengambil senjata dari kantong bajumu, maka kamu akan menjadi musuhku sebagai polisi."
Bayu tersenyum. Ia menepuk pundak Bara. "Iya, aku mengerti. Mohon bantuannya."
Bayu segera berlari meninggalkan Alex bersama Bara.
"Alex, namaku Bara, teman Bayu. Aku akan membawamu ke lantai bawah."
__ADS_1
Alex mengangguk. Ia berusaha berdiri dengan bantuan Bara yang memapahnya. Mereka berjalan pelan menuju lift karena kaki Alex masih terpincang-pincang.
Sementara di ruang kerja Tuan Samuel, Ben masih terlibat adu fisik dengan seorang pengawal yang juga sebenarnya anak buahnya. Peluru di pistol mereka sudah habis untuk saling tembak menembak. Dua orang pengawal sebelumnya terkena tembakan Ben dan telah mati. Tersisa mereka berdua yang kini saling melayangkan pukulan.
Fisik Ben yang tidak terlalu prima masih bisa ia tahan untuk menghadapi pengawal yang bertubuh kekar itu. Beberapa kali punggungnya terkena tendangan dan ia masih mencoba bertahan. Padahal, luka yang sebelumnya ia dapatkan dari Samuel sepertinya semakin parah akibat perkelahian itu.
"Hentikan, Ben.... "
Samuel memamerkan Prita yang ada di sampingnya. Ben langsung menghentikan perkelahiannya. Pengawal itu kembali ke sisi Samuel. Sementara, Bayu hanya bisa berdiri mematung di tempatnya.
"Serahkan dokumen yang kamu pegang jika tidak mau aku melukai istri dari bos kesayanganmu." Samuel menyeringai penuh kemenangan. Ben sekarang sudah tidak berdaya dengan ancamannya.
"Lepaskan dulu Nona Prita baru saya mau menyerahkan ini."
Ben mengeluarkan dokumen yang telah diambilnya dari dalam bajunya. Ia memperlihatkannya kepada Samuel.
"Hahaha.... Anak-anakku memang benar-benar gila. Padahal kalian juga ikut terlibat di dalam rencana itu, tapi kalian mau membeberkan ini kepada polisi? Itu sangat konyol. Kita semua bisa masuk penjara bersama-sama.
"Saya sudah membahasnya dengan Tuan Muda dan dia tidak khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti."
"Hahaha.... Anak itu benar-benar....!" Samuel geram dibuatnya.
"Berikan dokumen itu!"
Dor!
"Aargh.... !!!"
"Ben.... !"
Terdengar teriakan Prita dan Bayu bersamaan ketika Samuel dengan kejamnya menarik pelatuk dan menembakkan pelurunya hingga menembus dada Ben.
Prita menangis histeris melihat aksi kejam tak manusiawi tepat di depan matanya. Tangisannya pecah sejadi-jadinya melihat Ben jatuh tersungkur ke lantai serta bersimbah darah. Samuel memegangi tangannya erat, tidak membiarkannya berlari menghampiri Ben.
Bayu yang baru tiba langsung berlari menghampiri Ben. Ia mengangkat kepala Ben lalu menaruhnya di atas pangkuannya. Rasanya ia hampir gila melihat kondisi Ben saat ini. Ayahnya yang kejam tanpa perasaan ingin menghabisi nyawa Ben.
"Ben.... Kamu sudah janji, kita akan menjalani hidup normal bersama. Ben.... Bertahanlah! Kamu harus hidup panjang dan menikah supaya bisa punya anak sepertiku." Bayu mengucapkan kata-katanya dengan nada bergetar serta air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Kemeja putih yang Ben kenakan sudah berubah warna menjadi kemerahan oleh darah yang terus mengucur keluar.
Suasana sejenak hening, hanya terdengar suara tangisan Prita dan Bayu dengan kondisi kritis Ben saat ini.
__ADS_1
Ben, dalam kondisi terluka parah, ia berusaha menyunggingkan senyum kepada orang yang ada di sisinya. Matanya mulai berkaca-kaca, Ben ikut menitihkan air mata.
"Bos, terima kasih sudah memperlakukan saya seperti keluarga. Saya.... merasa bahagia bisa berada di sisi Anda sampai akhir."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Ben menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Bayu.
"Ben.... !"
Suara teriakan Bayu seakan menggetarkan seisi ruangan. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Ben yang tak lagi bergerak. Sesekali ia memeluknya, lalu berteriak memanggil-manggil namanya dengan tangisan yang semakin tersedu-sedu.
Bayu tidak ikhlas Ben meninggal secepat ini. Dia berharap Ben bisa menikmati sisa hidupnya secara normal, mengarungi kehidupan biasa, tanpa bersentuhan dengan hal-hal yang melanggar hukum lagi. Dia, Ben, dan semua anak buahnya akan membuka lembaran kehidupan baru yang lebih baik. Ben tidak boleh mati.
Hanya Bayu dan Prita yang meratapi kepergian Ben. Samuel dan anak buahnya yang keras hati sama sekali tak tersentuh atau merasa bersalah dengan apa yang sudah mereka lakukan terhadap Ben.
"Untuk apa kalian menangisinya? Dia orang yang akan menghancurkan kejayaan Bagaskara Corp yang sudah lama aku perjuangkan."
Samuel memang sama sekali tidak memiliki rasa kemanusiaan. Di saat seperti itu, dia masih bisa menyalahkan orang lain.
Bayu menurunkan perlahan kepala Ben dari pangkuannya. Ia membaringkan Ben yang telah meninggal di atas lantai. Kemudian, ia melepaskan jas miliknya lalu digunakan untuk menutupi kepala Ben.
Rasa sedih kehilangan Ben masih sangat besar. Ia berdiri perlahan sembari mengeluarkan pistol dari dalam saku celananya. Diarahkannya pistol itu ke kepala ayahnya sendiri. Sementara, Samuel ikut mengarahkan pistol yang dipegangnya ke arah Prita.
"Apa kamu ingin istrimu menjadi orang kedua yang aku bunuh?"
"Kenapa kamu membunuh Ben!?" teriaknya. Bayu sangat emosional. Ia kembali menangis mengingat kejahatan ayahnya kepada Ben. Ben tidak seharusnya mati.
"Ben ingin menyerahkan dokumen ini kepada polisi. Itu artinya dia ingin menjebloskan aku dan kamu ke dalam penjara."
"Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri, dan tentunya kamu, anakku satu-satunya sekaligus penerusku."
"Aku.... Tidak pernah menginginkan menjadi penerusmu."
"Kamu bisa hidup bahagia bersama anak dan istrimu tanpa mengkhawatirkan apapun jika menjadi penerusku. Aku jamin masalah ini akan segera lenyap. Ayah sangat ahli membereskan masalah."
"Aku tidak mau! Aku tidak mau lagi menjadi orang yang ada di sisimu!"
"Berarti aku harus membunuh istrimu supaya kamu tidak perlu ragu mengambil keputusan untuk tetap mematuhi ayahmu."
Samuel semakin mendekatkan ujung pistolnya hingga menekan area pelipis Prita. Bayu juga mengencangkan pegangan pistolnya. Sementara, Prita tidak tahu lagi harus melakukan apa. Tubuhnya seakan telah beku menyaksikan hal paling sadis dalam hidupnya. Begitu mudahnya orang mengambil nyawa orang lain tanpa beban dan rasa bersalah. Menyadarkannya bahwa dunia ini memang benar-benar kejam
*****
__ADS_1
Maaf, peran Ben hanya sampai di sini. Authornya lagi susah nyari mood buat nulis. Semoga pesan kesedihannya tersampaikan. 🥲