
Bara memapah Alex berjalan melewati area lobi. Dia sudah menelepon meminta bantuan polisi serta tenaga medis untuk segera datang ke lokasi.
Sebelum mencapai pintu keluar, dua orang polisi yang tadi mengejarnya lebih dulu datang.
"Apa Anda pemilik mobil XXX di luar?" tanya salah seorang dari mereka.
Bara mengeluarkan kartu tanda pengenalnya, "Kita bahas itu nanti. Orang ini perlu bantuan medis. Sebentar lagi tenaga kesehatan dan polisi bantuan akan segera datang."
Kedua polisi itu tampak kaget karena orang yang mereka kejar ternyata juga polisi bahkan pangkatnya lebih tinggi dari mereka.
Bara meletakkan Alex di lantai. Ia mengecek luka pada betis Alex. Masih mengeluarkan darah.
"Tolong bantu jaga dia sampai medis tiba. Jika polisi bantuan sudah datang, suruh menyusulku kebatas."
"Siap, Pak!" kedua polisi itu memberi hormat kepada Bara.
Bara kembali berlari ke arah lift, dia akan menyusul Bayu ke atas.
*****
Bayu masih berdiri tegak sembari mengacungkan pistolnya ke arah Samuel. Begitu pula dengan Samuel yang semakin mengintimidasi Prita dengan pistol yang dipegangnya. Kedua orang itu saling bersitegang, tak ada satupun yang mau mengalah.
"Ayah.... Berhentilah. Pertanggungjawabkan semua perbuatanmu." Bayu masih berusaha berbicara dengan nada yang sopan.
"Berani kamu berkata seperti itu pada ayahmu?"
"Kamu lupa kalau kita berdua adalah ayah dan anak? Kita adalah keluarga!"
Bibir Bayu bergetar, matanya kembali berkaca-kaca. Ayahnya selalu mengatakan bahwa mereka adalah keluarga, tapi perlakuannya tidak pernah mencerminkan seorang ayah. Di hadapannya, ayahnya bahkan tega menodongkan senjata kepada menantunya sendiri.
"Ya, benar.... Ayah adalah ayahku."
"Itu artinya, aku akan menjadi putramu sampai aku mati."
"Namun.... Anakmu ini bukanlah boneka, ayah! Aku manusia.... Aku manusia, ayah.... !"
"Aku manusia yang punya pemikiran dan kehendak sendiri!" Suara Bayu semakin meninggi. Sampai terakhirpun dia masih menganggap lelaki tua itu sebagai ayahnya dan berharap dia bisa masih bisa berubah.
"Berani kamu membentak ayahmu!?"
__ADS_1
"Ya!" Bayu semakin meninggikan suaranya, tak mau kalah dengan nada bicara Samuel.
"Aku memang sedang membentakmu, ayah."
"Sayang, maafkan aku sudah membuatmu memiliki ayah seperti dia."
"Aku ayah yang paling sempurna jika kamu bisa memahamiku." kilah Samuel.
Ayahnya memang tidak pernah merasa bersalah. Tidak seharusnya Bayu berharap banyak agar ayahnya bisa berubah.
"Sudahi semua ini dan lupakan keinginan bodohmu."
Bayu tidak mau berhenti. Dia sudah bertekad bulat untuk mengakhiri semuanya seperti yang ia bicarakan dengan Ben. Ia tidak akan mundur.
"Sayang.... Sweep! Sweep! Sweep!" teriak Bayu kepada istrinya.
Samuel dan anak buahnya tidak paham dengan apa yang Bayu ucapkan. Prita yang sejak tadi mematung mulai mendapatkan kembali kesadarannya.
"Sweep!"
Prita melakukan gerakan leg trapping dengan cepat kepada Samuel. Dalam waktu sekejap, ia berhasil membanting tubuh mertuanya dengan sangat keras ke lantai. Dia juga pernah melakukan hal serupa keoada suaminya sendiri saat itu.
Bayu mengambil alih perannya. Secepat kilat ia menembaki pengawal ayahnya sambil berlari menghampiri Prita.
Prita mengambil dokumen yang terjatuh di sisi Samuel dan merebut pistol dari tangannya. Lalu, ia bangkit berdiri, meraih tangan Bayu seraya berlari bersamanya.
Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Prita hampir tidak sadar dengan apa yang barusaja dilakukannya. Dia melumpuhkan Samuel dengan muay thai yang bahkan belum terlalu ia kuasai. Mungkin karena merasa terdesak, sehingga tenaga yang dikeluarkannya merupakan hasil dari alam bawah sadarnya.
Di ujung koridor, ada Bara yang baru datang menyusul. Prita dan Bayu terus berlari meninggalkan Samuel sendiri.
"Awas!" teriak Bara kencang.
Prita sempat menoleh ke belakang, Samuel mengejar mereka sembari mengarahkan senjatanya. Tanpa berpikir panjang lagi ia memeluk suaminya, menjadikan dirinya sebagai tameng dari sebutir peluru yang dilesakkan oleh Samuel.
Dor!
Peluru itu menembus punggung Prita dengan cepat. Darat segar langsung muncrat dari punggungnya. Tubuhnya terhempas ke dalam pelukan suaminya. Kali ini, ia bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya memiliki tubuh yang dengan mudah tertembus peluru. Rasanya sangat sakit. Mungkin seperti itu pula yang setiap kali Bayu rasakan saka menerima luka-luka di tubuhnya.
Dokumen yang Prita pegang terbuka tutupnya. Lembaran kertas yang ada di dalamnya berhamburan ke lantai. Tangan Prita sudah tak berdaya. Kesadarannya menghilang, ia larut di dalam kegelapan.
__ADS_1
"Prita.... !" Bayu berteriak histeris menerima tubuh istrinya yang terhuyung tak berdaya.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan ia arahkan ke ayahnya sendiri tanpa rasa ampun lagi. Tembakan yang tepat mengenai kepala dan dada Samuel seketika membuatnya jatuh terjerembab ke lantai. Bayu telah membunuh ayahnya sendiri.
Tangisannya kembali pecah memeluk istrinya yang sudah pingsan dengan darah yang masih mengucur dari punggungnya. Mungkin kali ini ia akan menjadi gila jika kehilangan semuanya.
Bara berlari menghampiri Bayu. Ia turut prihatin dengan apa yang terjadi. Menenangkan lelaki itupun tidak akan ada gunanya.
Ia lepaskan pistol dari tangan Bayu, lalu dia simpan di dalam saku celananya. Sekilas ia melihat berkas-berkas yang berserakan di lantai. Terdapat potret foto orang dengan keterangan di bawahnya. Ada salah satu foto yang ia kenali dan sudah meninggal. Ternyata, itu berkas permintaan pembunuhan yang dilakukan oleh Samuel.
Anggota polisi yang Bara akhirnya datang. Entah mengapa peran polisi selalu datang terlambat di setiap kejadian. Bara mulai memikirkan perkataan yang pernah Bayu ucapkan. Bahwa jika polisi mampu mengayomi masyarakatnya, maka warga sipil tidak akan berjuang melindungi dirinya sendiri. Bara menyesal terlambat datang dan memberi bantuan.
"Pak, orang yang terluka di bawah sudah ditangani oleh medis." lapor salah seorang anak buah Bara.
"Amankan TKP secara hati-hati."
"Baik, Pak."
"Bayu, ayo bawa istrimu ke rumah sakit. Aku sudah memanggilkan ambulan di bawah."
Dengan perasaan yang masih bergemuruh, Bayu memapah istrinya. Ia tak bisa berkata-kata selain hanya memandangi wajah istrinya yang seperti orang tertidur.
Mengingat saat itu, mengembalikan lagi ingatannya saat ia menyelamatkan Prita dari Mario. Saat itu, kepanikannya sama, ia takut kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang menjadikannya motivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik dan menjalani kehidupan normal seperti orang-orang lainnya.
Saat itu, ia juga terluka parah ketika menyelamatkan Prita. Kali ini, Prita yang menjadi penyelamat bagi dirinya.
Setibanya di lantai bawah, sudah banyak polisi yang berdatangan, bahkan garis polisi sudah mulai dipasang. Bayu terus membawa istrinya menuju mobil ambulan yang dimaksud oleh Bara.
Mobil ambulan itu terparkir di depan perusahaan. Tenaga medis membantu menyiapkan pertolongan pertamanya untuk Prita. Bayu dan Bara turut ikut di dalam ambulan yang membawa Prita. Tak ada kata-kata di antara keduanya. Hanya keheningan dan suara sirine ambulan yang menemani sepanjang jalan.
Ketika mereka sampai di rumah sakit, Prita langsung masuk ke dalam UGD lalu dialihkan ke ruang operasi untuk mendapatkan penanganan yang lebih cepat.
Bayu terduduk lemas di bangku depan ruang operasi itu. Kedua tangannya ditangkupkan menutupi wajahnya. Rasa khawatir tentu saja meliputi dirinya. Seandainya boleh, ia ingin ikut mendampingi Prita di dalam sana yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Istrimu pasti selamat." Bara menepuk pundak Bayu untuk menguatkannya.
*****
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mendukung dengan memberikan vote, ya. Tidak terasa sebentar lagi akan tamat ceritanya. 😘