ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Malam Pertama yang Gagal 2


__ADS_3

Penontonpun gregetan karena gagal terus 😅


Jangan kendor dukungannya, ya. Vote dong, biar makin semangat update. 😁


 -----------------------------------------------------------------------------


"Kamu cantik sekali, Sayang."


Bayu merengkuh mesra pinggang kecil Prita. Ia memagut mesra bibir mungil itu yang langsung disambut oleh wanitanya. Prita mengalungkan tangannya ke leher Bayu. Keduanya saling memagut satu sama lain.


Kenikmatan ciuman yang Bayu rasakan untuk pertama kali tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya sangat nikmat, ketika bibirnya menyapu bibir Prita serta mendapat respon luma*tan dari Prita sendiri. Untuk pertama kalinya juga Prita membalas ciumannya dengan sangat mesra. Seakan ia sudah mau menerima kehadirannya sebagai seorang suami.


Prita melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Bayu ketika merasakan tubuhnya diangkat tanpa melepaskan ciuman panas yang masih mereka lakukan. Posisinya, Bayu seperti menggendong seekor koala besar. Ia membawa Prita berjalan keluar dari kamar mandi menuju ranjang.


Perlahan ia membaringkan wanitanya seraya melepaskan pagutan bibir mereka. Wajah Prita sudah cukup merah. Lipstik yang dikenakan meleber kemana-mana termasuk juga menempel di bibir Bayu. Suara nafas yang tersengal-sengal terdengar sek*si.


"Malam ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya." ucapnya dengan nada suara yang lembut.


"Tapi ini masih terlalu cepat, ini masih sore dan kita belum makan malam."


"Aku sudah tidak lapar ketika ada hidangan yang nikmat di depanku. Sepertinya aku lebih ingin memakanmu sekarang."


Bayu menggerakkan bibirnya menyusuri seluruh seluruh wajah Prita. Dari pipi, hidung, dahi, mata, dagu, tak ada yang luput untuk ia ciumi. Aroma tubuh Prita yang sangat wangi membuatnya mabuk dan semakin menuntut lebih. Ciumannya berpindah menyusuri area telinga. Ia beri tiupan pelan yang membuat wanita itu mengeluarkan leng*kuhan kecil.


"Akhh.... " desa*han keluar saat Bayu menggigit kecil daun telinganya.


Bayu menyeringi, titik sensitif wanita itu tidak berubah. Ia kembali mendaratkan kecupan menyurusi leher jenjangnya hingga semakin turun ke arah dada. Tangannya mulai menelusup ke dalam pakaian menggerayangi area perut dengan perlahan sembari mencari gundukan yang ingin di raihnya.


"Hentikan dulu."


Prita menyuruhnya berhenti disaat tangannya sudah mencapai salah satu payu*daranya. Meskipun heran, ia tetap mengikuti kemauan Prita. Keduanya duduk saling berhadapan di atas ranjang.


"Aku mau tanya, kita beneran mau melakukannya?"


Bayu memutar malas kedua bola matanya. Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? Padahal sudah jelas kan, ini malam pengantin mereka. Mau apalagi kalau tidak melakukannya?


"Kamu nggak mau? Sekarang aku suamimu, lho."


Prita turun dari ranjangnya. Ia berjalan ke arah nakas dimana ia meletakkan tasnya. Diambilnya satu benda dari dalam tasnya lalu naik lagi ke atas ranjang.


Bayu mengerutkan dahi melihat benda yang Prita berikan padanya, "Apa ini?"


"Kon*dom." jawabnya singkat.


Bayu terkekeh, "Ya, aku tahu. Maksudku, untuk apa? Kenapa aku harus memakai ini?"


"Aku belum mau punya anak lagi."


Sebelah alis Bayu dinaikkan, "Apa masalahnya? Aku mampu menghidupi seberapapun anak yang akan kamu lahirkan. Aku tidak masalah dengan banyak anak. Sebelas juga boleh sekalian kita buat tim sepakbola."

__ADS_1


"Anak-anakku masih kecil, tiga saja sudah membuatku kewalahan untuk mengurusnya."


"Siapa yang menyuruhmu mengurusi anak? Tugasmu cukup mengurusi aku. Biar anak-anak kita diurusi oleh para pengasuh."


"Tapi aku setidaknya ingin terlibat dalam pengasuhan mereka. Aku tidak mau menjadi orang tua yang tidak tahu apa-apa tentang anaknya."


Bayu mengusap pipi Prita, memandang lekat kedua bola mata beningnya, "Itu kan bisa dipikirkan nanti. Aku jamin mereka tidak akan kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Aku juga bisa membantu mengasuh mereka. Aku ini sudah cukup kaya dan tidak perlu terlalu sibuk bekerja. Aku bisa menghabiskan banyak waktu di rumah bersamamu dan anak-anak kita."


Prita tertawa kecil, "Aku rasa nanti kamu akan menyesali perkataanmu." ucapnya.


"Tidak, tidak akan. Aku suka punya anak banyak. Makanya, ayo kita buat sekarang."


"Pakai kon*domnya."


Bayu melihat kembali kon*dom yang ada di tangannya. Ia berdecih saat menemukan tulisan yang ada pada benda itu.


"Kalau memberikan sesuatu, teliti dulu. Kamu mau aku pakai ini? Rasa bubble gum? Ukuran M?" ia terkekeh.


"Memangnya kenapa?"


"Jadi menurutmu punyaku hanya seukuran M?"


"Aku kan tidak tahu."


Bayu mendekatkan wajahnya, "Yakin tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu? Kamu kan pernah mencobanya."


Ia lemparkan jauh-jauh benda itu entah kemana. Dipagutnya kembali bibir Prita dengan semangat. Kali ini ia tak akan melepaskannya.


Kedua tangannya tak tinggal diam, menyusuri setiap jengkal lekukan indah wanita di bawahnya. Dari mulai area paha, perut, hingga berakhir di payu*dara. Sensasi yang ia rasakan membuatnya ingin segera memasukkan miliknya.


Tok tok tok


"Mama.... Mama.... "


Terdengar suara ketukan dan panggilan dari luar pintu. Prita hendak menyingkirkan tubuh Bayu dari atasnya, namun lelaki itu tetap saja melanjutkan apa yang sedari tadi dilakukannya.


"Ah!" pekik Prita ketika Bayu tiba-tiba menggunakan satu jarinya untuk mera*ngsangnya.


"Hentikan dulu, anak-anak ada di luar. Berisik."


"Kita selesaikan satu kali saja baru kita temui mereka." Bayu tetap kukuh pada keinginannya. Ia menghirup aroma tubuh Prita yang membuatnya candu.


"Mama.... !" suara teriakan di luar makin terdengar kencang.


Terpaksa Prita mendorong Bayu dan segera melompat turun dari atas ranjang. Ia berlari ke arah kamar mandi, mengenakan bathrobe untuk menutupi baju haramnya, lalu berjalan ke pintu untuk menemui anak-anaknya.


Ketika pintu terbuka, ketiga anak itu langsung memeluk Prita.


"Maaf, Nyonya Prita. Katanya mereka tidak mau tidur kalau tidak ditemani mamanya." Leta berkata dengan perasaan tidak enak hati. Dia tahu, saat ini sedang mengganggu momen-momen pengantin baru.

__ADS_1


"Ya sudah, Leta. Biarkan saja mereka tidur di sini bersamaku."


"Tapi.... "


"Tidak apa-apa, kamu kembali saja ke kamar dan beriatirahat."


"Baik." ucapnya yang masih canggung.


Prita membawa ketiga anaknya yang masuk ke dalam. Bayu hanya bisa pasrah keinginannya harus tertunda karena ketiga anak kecil itu. Anak umur 5 tahun, 4 tahun, dan 2 tahun kurang itu bisa mengalahkan prioritasnya di mata Prita.


"Apa aku bilang, kamu akan menyesali ucapanmu tentang memiliki banyak anak. Ini baru tiga, bayangkan kalau ada sebelas, kamu tidak bisa menyentuhku sedikitpun." ejek Prita.


Ia menyuruh anak-anaknya naik ke atas ranjang dan menempatkan posisi tidur berjajar. Prita ada di sisi paling kiri, kemudian Livy, Dean, dan Daniel yang ada di paling kanan. Bayu masih terduduk di pinggir dengan ranjang sembari memandangi mereka.


"Mama, kok kasurnya banyak bunga?" tanya Dean.


"Biar wangi, Sayang."


Daniel masih memandangi lelaki dewasa yang saat ini bersama mereka. Masih belum terbiasa melihat lelaki dewasa selain ayahnya yang ada di kamar saat mereka akan tidur.


"Nanti Uncle Yu juga tidur di sini ya, Ma?" tanya Dean lagi.


"Iya, Sayang. Tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa. Dean mau tidur ah, ngantuk!" Dean langsung memejamkan matanya. Sedari tadi dia memang sudah mengantuk. Meskipun tidak dipeluk, tapi tidur di ranjang yang sama dengan mama dan saudara-saudaranya membuatnya nyaman.


"Mama, *****.... " ucap Livy.


"Kamu bisa keluar sebentar nggak? Aku mau menyusui Livy dulu." pinta Prita. Dia masih belum terbiasa dilihat oleh lelaki lain saat sedang menyusui.


"Tidak usah malu, lakukan saja."


Meskipun canggung, Prita tetap mengeluarkan sebelah payu*daranya untuk Livy. Anak itu menyambutnya dengan sangat senang. Lalu mengemutnya sambil memejamkan mata.


Dalam hati Bayu mengumpat kesal, lagi-lagi ia merasa kalah dengan anak kecil. Seharusnya itu jadi miliknya dan dia hanya bisa melihat sambil menelan air liurnya sendiri.


Pandangannya beralih pada Daniel. Anak itu masih memperhatikannya dengan tatapan mata yang lebar.


"Daniel kenapa? Apa mau daddy peluk supaya cepat tidur?" tanya Bayu.


Dengan cepat Daniel menggeleng. Ia segera memiringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.


Benar apa yang dikatakan Prita. Semakin banyak anak, semakin ia tidak bisa memonopoli Prita untuk dirinya sendiri. Rencana malam pertama harus ia tunda karena anak-anaknya. Padahal di bawah sana miliknya masih menegang sempurna. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah kepada anak kecil.


"Aku akan pindah ke kamar sebelah." kata Bayu.


"Maafkan aku."


"Tidak apa-apa, kamu temani saja mereka tidur di sini. Aku pergi dulu."

__ADS_1


__ADS_2