
"Daniel, sebenarnya Dean itu adikmu atau bukan?" tanya Rooney, salah seorang teman Daniel.
Entah mengapa saat istirahat siang itu, sembari bermain pasir, Rooney menanyakan hal itu kepada Daniel.
"Tentu saja Dean adikku, memangnya kenapa?"
"Kok kalian tidak mirip?" tanya Rooney lagi.
"Iya, ya. Kok kalian tidak mirip?" Fiko ikut penasaran juga.
"Eh, iya. Benar. Daniel dan Dean beda." ucap Rayn setelah melakukan pengamatan singkatnya.
Dean yang merasa sedang dibicarakan hanya memasang wajah heran. Dia tidak terlalu paham mereka sedang membahas apa.
"Kami kan kakak adik, bukan anak kembar. Masa harus sama?"
"Tapi bedanya jauh.... " kata Rooney. "Kata Mamaku, kamu mirip orang Eropa. Kamu tidak mirip papamu, yang mirip itu Dean."
"Kalau tidak mirip sama papanya katanya itu anak pungut." Fiko mengatakan pendapatnya.
"Masa Daniel anak pungut."
"Anak pungut itu apa?" tanya Rayn.
"Itu loh, Rayn.... Anak yang diambil dari panti asuhan atau dari jalanan lalu dijadikan anak." Fiko mencoba memberi penjelasan.
"Oh, jadi Daniel dari panti asuhan?"
"Tidak." jawab Daniel singkat.
Baru kali ini Daniel merasa kesal berbicara dengan teman-temannya. Ia tidak suka dibilang tidak mirip dengan papanya, apalagi dibilang anak pungut. Dia juga punya ayah seperti mereka, yaitu Daddy Bayu.
"Terus, kenapa kamu tidak mirip papamu?"
"Papaku beda dengan Dean."
"Kok papanya bisa beda? Berarti kalian bukan kakak adik, kan papanya beda."
"Tapi mama kami sama."
"Mamanya sama tapi papanya beda? Apa papa mamamu bercerai?"
"Iya." jawab Daniel dengan nada lemah.
"Kasihan, ya.... "
Daniel merasa kesal mendengar kata-kata kasihan. Ia merasa hidupnya tidak semenyeramkan cerita dari orang tua yang bercerai. Papa mamanya tetap menyayanginya meskipun mereka telah berpisah. Daddy Bayu, ayah kandungnya juga sangat menyayanginya. Ia bahkan bisa mendapatkan kasih sayang dari dua orang ayah. Kenapa mereka seperti sedang mengejeknya?
"Iya, kasihan.... Kalau orang tua bercerai kan tidak enak."
"Tuh seperti Rani, papanya sudah pergi dari rumah. Ibunya juga tidak mau mengurusnya."
"Kasihan kamu, Daniel.... "
Daniel yang geram langsung mendorong tubuh Rooney hingga jatuh ke pasir, "Siapa yang kasihan? Papa mamaku tetap menyayangi aku. Mereka setiap hari bergantian menjemputku."
"Yang kasihan itu kamu! Punya papa mama tapi tidak pernah ada di rumah, kamu juga dijemput oleh pembantu terus."
__ADS_1
Rooney tak kalah emosi. Meskipun yang dikatakan Daniel benar, itu membuatnya marah. Ia balas mendorong Daniel hinggal jatuh.
"Hey, jangan ganggu kakakku!"
Dean tidak terima kakaknya diganggu.
Bugh!
Dean memukul pipi kiri Rooney. Anak itu kini marah dengan Dean. Ia juga balas memukul Dean dan akhirnya keduanya saling pukul.
Anak-anak lain yang ada di sana berkerumun menonton. Lalu, salah satu guru melihat Dean dan Rooney sedang pukul-pukulan segera melerai keduanya. Mereka dibawa ke ruang guru bersama Daniel, Fiko, dan Rayn sebagai saksi.
"Sayang, kenapa kalian bertengkar?" tanya ibu guru dengan lembut.
"Dean memukulku, Bu!" ucap Rooney dengan nada emosi.
"Tapi dia mendorong Kak Daniel duluan! Dia nakal, Bu." Dean mencoba membela diri.
"Daniel juga mendorongku, makanya aku dorong dia!" Rooney tidak mau kalah.
"Kenapa kamu menjelek-jelekkan Kak Daniel? Dasar nakal!"
"Kamu yang nakal!"
Keduanya kembali bertengkar.
"Stt.... Sudah, Sudah.... " ibu guru melerai kembali.
"Daniel, kenapa kalian bertengkar? Kamu biasanya tidak suka bertengkar di sekolah."
Daniel menunduk. Dia merasa bersalah, namun dia tidak menyesal sudah mendorong Rooney.
"Benar itu, Rooney?" tanya ibu guru?
Rooney mengangguk.
"Rooney, perbuatanmu itu salah. Kamu harus meminta maaf pada Daniel."
Rooney menunduk, ia menghampiri Daniel untuk meminta maaf.
"Daniel, maaf aku sudah mengejekmu." ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Daniel membalas uluran tangan itu, "Aku juga minta maaf sudah mengatakan yang tidak baik tentang orang tuamu."
"Dean, kamu juga harus minta maaf pada Rooney."
"Maaf, Rooney. Lain kali jangan ganggu kakakku lagi, ya!"
Rooney dan Dean bersalaman. Kedua anak itu memang sering bertengkar, tapi cepat juga untuk berbaikan.
Sementara, Fiko dan Rayn juga meminta maaf mepada Daniel karen tadi sempat ikut-ikutan Rooney mengejeknya. Akhirnya mereka semua bisa bermaaf-maafan, saling melupakan kesalahan, dan bisa bermain bersama lagi.
Waktu pulang sekolah akhirnya tiba. Anak-anak terlihat senang keluar dari kelas hendak menjumpai orang tua mereka yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.
Tak terkecuali dengan Daniel dan Dean. Hari ini mereka dijemput oleh mama tercinta. Sudah beberapa hari ini mereka tinggal bersama mamanya setelah cukup lama menghabiskan waktu di rumah papa.
Daniel memandangi wajah mamanya. Ada yang berbeda. Mamanya yang periang sekarang jadi murung lagi. Padahal Daniel sudah senang ketika mama menikah dengan daddy-nya, mama selalu kelihatan bahagia.
__ADS_1
Kata mama, daddy-nya hilang dan sampai sekarang belum ketemu. Daniel harap daddy-nya segera pulang agar mamanya bisa ceria lagi. Meskipun mamanya selalu berusaha tersenyum dan ceria di depannya, tapi Daniel tahu, mamanya sedang bersedih. Apalagi kalau mamanya sedang sendiri.
Seperti malam ini, mamanya tampak sedang melamun di balkon kamar sambil memandangi langit malam. Setiap malam mama selalu seperti itu. Entah apa yang dipikirkannya, wajahnya tampak sendu.
"Mama.... "
Daniel memeluk mamanya. Kedatangannya yang tiba-tiba sedikit mengagetkan Prita.
Prita tersenyum, ia merendahkan tubuhnya agar sama tinggi dengan Daniel, lalu memeluknya kembali.
"Oh, Sayang.... Kamu belum tidur?"
"Belum ngantuk, Ma."
"Adik-adikmu sudah tidur?"
"Sudah."
"Mama sedang apa di sini? Nanti masuk angin, loh."
Prita tertawa kecil mendapat perhatian dari putra sulungnya yang semakin terlihat besar.
"Mama sedang mencari udara segar, di dalam sedikit panas."
"Kan ada AC, Ma."
"Tapi lebih enak udara dingin langsung dari alam."
"Jangan lama-lama, takutnya Mama sakit nanti."
"Iya, Sayang.... Iya. Ayo kita masuk."
Prita menuntun Daniel untuk masuk ke dalam kamar lalu menutup kembali jendela balkon.
"Mama sedang sedih, ya?" tanya Daniel.
"Kok Daniel tanya begitu? Mama sedang tersenyum ini melihat anak tampak kesayangan mama." Prita mengelus pipi anaknya.
Sebenarnya ia memang sedang bersedih, tapi tidak mungkin ia perlihatkan di depan anak-anaknya.
"Mama kangen Daddy, ya?"
"Mama khawatir karena Daddy tidak pulang-pulang."
Mendengar perkataan Daniel, Prita menjadi melankolis. Matanya berkaca-kaca dan beberapa tetes air mata menetes tanpa kemauannya.
Daniel mengusap air mata yang menetes di wajah mamanya, "Mama, jangan sedih, ya.... Daniel akan menemani Mama."
Prita merasa senang mendapat perhatian dari anaknya, namun air matanya semakin tak tertahan. Ia memeluk tubuh anaknya sembari terisak. Apalagi melihat Daniel seperti dirinya juga melihat Bayu ada di hadapannya sekarang. Wajah Daniel yang sangat mirip dengan Bayu membuatnya semakin merindukannya.
"Mama, Daddy pasti pulang. Mama jangan nangis lagi."
Dari arah luar balkon, lewat jendela kaca yang belum tertutup tirai, Bayu memerhatikan istrinya yang sedang menangis sambil memeluk anaknya. Ia ingin sekali menghampiri keduanya lalu memeluk mereka sampai puas. Ia juga merindukan mereka. Namun, belum saatnya ia bertemu keluarganya. Ada hal yang harus ia selesaikan, sebelum bertemu kembali dengan istri dan anaknya.
Bayu memasang kembali masker pada wajahnya dan memasang topi hitam di kepala. Ia kembali pergi meninggalkan kamar istrinya menuruni lantai dua balkon rumah. Setelah itu, ia menghilang di tengah pekatnya malam.
------------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Sehari nggak ada Bayu kenapa authornya diteror woy.... 😅