ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Bertemu Opa Samuel


__ADS_3

"Mama.... Mereka mau bawa kita kemana?" tanya Daniel dengan nada lirih.


"Mama juga tidak tahu, Sayang. Jangan takut ya, kan ada mama di sini."


Mobil Audi hitam yang membawa Prita dan Daniel terus melaju menembus kegelapan malam. Jalan yang dilalui cukup panjang, melewati pinggiran kota yang cukup sepi.


Prita dan Daniel duduk di kursi belakang, sementara Ben dan seorang sopir ada di bagian depan. Mobil lain yang berisi para bodyguard juga berjalan mengiringi mobil mereka di arah depan dan belakang. Ibarat mereka berdua menjadi orang penting yang harus mendapat pengawalan ekstra.


Setibanya di depan sebuah mansion besar bergaya klasik eropa, iring-iringan mobil itu memasuki area halaman depan mansion. Penjaga yang berada di sana lebih banyak lagi. Mereka berjajar seakan memberikan penyambutan kepada Prita dan Daniel.


Ben membukakan pintu samping dan menyuruh Prita turun dari dalam mobil. Prita menurut. Ia menggandeng Daniel di sisinya.


Anak itu tampak sibuk memerhatikan sekeliling, ia tak paham dengan apa yang sedang terjadi. Tapi, dia juga merasa takut walaupun ada mama di sampingnya.


"Ah, tamu tidak sudah datang rupanya."


Seorang lelaki yang telah berumur berjalan menuruni tangga menghampiri mereka. Wajah blasteran Eropa itu masih memancarkan aura ketampanannya meski usianya tak lagi muda. Tubuhnya juga masih terlihat tegap dan sehat. Rambutnya sudah semakin memutih dari yang terakhir pernah Prita lihat. Tuan Samuel Bagaskara, ayah Bayu.


Daniel bersembunyi di belakang Prita. Sesekali kepalanya melongok, mengamati lelaki tua yang sedang berjalan ke arahnya. Menurut Daniel, kakek itu sedikit menyeramkan karena memiliki brewok di wajahnya.


"Senang sekali akhirnya aku bisa bertemu dengan cucu dan menantuku setelah sekian lama."


"Ah, tunggu dulu. Bisakah aku menyebutmu sebagai menantu? Ya, aku rasa tidak apa-apa, karena aku dengan sebentar lagi juga kalian akan menikah."


"Apa yang Anda inginkan dari kami?"


Prita melayangkan tatapan tajam. Samuel hanya membalas dengan senyuman. Wajar dia mendapatkan respon seperti itu karena memang dia mengundang mereka dengan cara paksa.


"Kamu tidak perlu bersikap seperti itu, aku hanya ingin melihat cucuku."


Samuel berjalan mendekat. Ia merendahkan tubuhnya dengan kaki kanan sebagai tumpuan.


"Daniel, keluarlah. Aku Kakekmu."


Daniel kembali menjulurkan kepalanya, melihat lebih dekat sosok orang yang mengaku sebagai kakeknya. Ia menatap ibunya seakan bertanya apa orang itu aman atau tidak. Dia lihat mamanya memberi anggukan.


"Ayo, peluk kakekmu ini."


Dengan polosnya Daniel berjalan menyambut pelukan kakeknya. Samuel tampak bahagia bisa memeluk dan menggendong cucunya. Dia tertawa-tawa sambil memberitahukan kepada anak buahnya jika dia adalah cucunya.


"Lihat ini, cucuku benar-benar sangat mirip dengan anak bodoh itu. Aku harap kamu tidak seperti ayahmu yang keras kepala dan suka membangkang."


"Aku rasa jika ayahmu tau aku membawamu dan ibumu ke sini tanpa ijin, dia akan datang kemari sambil mengamuk."

__ADS_1


"Tapi biarkan saja, sebelum dia datang ayo kita makan malam bersama." ajak Samuel.


"Eum, tapi kami sudah makan malam." ucap Prita.


Ini sudah pukul sembilan malam, sudah terlalu larut untuk menyantap makan malam.


Samuel sedikit murung, "Ah, iya. Kamu benar. Seharusnya aku suruh Ben membawa kalian lebih awal."


"Tapi, makanan sudah pelayan siapkan. Setidaknya kalian bisa mencicipinya sedikit sambil menemani orang tua ini makan."


Samuel membawa Daniel menuju meja makan. Mau tidak mau Prita juga mengikuti.


Di ruang makan, pelayan berjajar. Makanan yang tersaji sangat penuh di meja makan. Prita rasa itu hal yang mubadzir karena mereka hanya bertiga. Kecuali kalau para pelayan juga ikut dipersilakan makan, mungkin akan jadi porsi yang pas.


"Mama.... Aku mau spagetti."


Prita agak ragu mengambilkan makanan yang diminta Daniel. Anaknya itu baru sembuh, makanan juga sangat ia jaga agar Daniel tetap sehat. Selama ini, Daniel hanya makan makanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit sesuai dengan rekomendasi ahli gizi.


"Kamu tidak perlu khawatir, ambilkan saja. Semua makanan di sini diolah oleh chef dengan pertimbangan ahli gizi yang aman untuk Daniel. Aku tahu kondisi Daniel, jadi aku memang khusus mempersiapkan semua ini untuknya."


Prita sampai lupa kalau Samuel tidak jauh berbeda dengan Bayu. Sebelum melakukan sesuatu dia pasti sudah mencari tahu tentang semua yang berkaitan dengan dirinya dan Daniel. Akhirnya ia ambilkan spagetti itu. Daniel tampak antusias karena sudah lama dia tidak menyantap makanan favoritnya.


"Kamu juga makanlah sedikit, Prita."


Prita tersenyum. Ia menaruh sedikit porsi makanan ke piringnya sebagai bentuk penghormatan.


"Bagaimana kondisi Daniel? Apa semua sudah baik-baik saja?"


"Iya, kata dokter sumsum tulang dari donor bisa diterima dengan baik oleh tubuh Daniel. Sejauh ini baik, tapi masih perlu untuk terus dievaluasi. Karena katanya selama satu sampai tiga tahun setelah operasi masih ada kemungkinan terjadinya infeksi maupun komplikasi. Jadi saya harus benar-benar menjaga Daniel baik dari makanannya, aktivitasnya, sampai lingkungan tempat tinggalnya."


"Kalau boleh jujur aku ingin kalian tinggal di sini."


Prita berhenti mengunyah makanannya. Tawaran itu terlalu mendadak, ia bahkan belum menikah dengan Bayu.


"Tapi, kehidupan kami ada di Kota S. Selain Daniel, seperti yang juga Anda pasti tahu, saya memiliki dua orang anak dari mantan suami saya."


"Kamu boleh mengajak kedua anakmu yang lain. Aku sama sekali tidak keberatan."


"Tapi, nanti repot kalau anak-anak sesekali ingin bersama ayahnya."


Samuel menatap heran ke arah Prita, "Jadi, kamu mau selamanya hidup berdampingan dengan masa lalumu?"


"Kami memang berpisah dengan baik-baik dan kami sudah sepakat untuk tetap menjaga hubungan baik serta membesarkan anak-anak bersama."

__ADS_1


"Hahaha.... Apa apa itu namanya bercerai? Atau hanya drama pisah rumah tapi masih saling mencintai? Aku rasa Bayu juga tidak akan setuju dengan hal semacam itu."


"Hidup kalian akan tetap runyam."


"Aku dengar mantan mertua perempuanmu sejak dulu tidak menyukai Daniel."


Prita terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia tidak boleh salah menjawab, karena bisa jadi Samuel akan melakakan hal buruk kepada Maya.


"Tidak, Mama Maya sangat menyayangi Daniel. Dia memperlakukan Daniel dengan baik, sama seperti cucu-cucunya yang lain."


Samuel menyunggingkan senyum, "Daniel, apa benar Oma Maya itu baik?"


Daniel menatap Samuel. Saat ditanya tentang omanya, tentu saja yang dia ingat saat mamanya ditampar dan mama papanya akhirnya memutuskan untuk bercerai. Sebenarnya banyak hal yang Daniel tahu, ia ingin banyak bertanya, tapi ia tahan karena mamanya selalu tampak sedih jika dia bertanya sesuatu.


"Oma jahat." kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Daniel.


Prita terkejut Daniel mengucapkan hal itu, "Daniel.... Kamu tidak boleh bicara begitu, Sayang."


"Sepertinya anakmu lebih jujur."


"Apa oma pernah menyakitimu?"


Daniel menggeleng, "Tapi Oma sering menyakiti Mama. Daniel tidak suka Oma."


Prita menghela nafas. Ucapan Daniel bisa menyebabkan kesalahpahaman yang besar.


"Tolong, Anda jangan terlalu menganggap serius ucapan anak kecil. Dia belum mengerti banyak hal. Saya memang tidak pernah memarahinya, jadi kalau ada nada bicara orang yang agak tinggi, terkadang dia anggap orang itu sedang marah."


Samuel hanya tersenyum.


"Daniel, apa kamu tahu, siapa nama ayahmu?"


"Ayash Hartadi."


"Bukan, Daniel. Dia bukan ayah kandungmu."


Daniel kembali menatap Samuel. Perkataannya membuat Daniel bingung. Ayahnya disebut bukan ayahnya?


"Tuan, tolong jangan diteruskan." pinta Prita.


"Kenapa? Daniel sudah cukup besar untuk tahu siapa sebenarnya ayahnya."


"Saya akan memberitahunya sendiri secara pelan-pelan. Anda tidak perlu melakukan ini."

__ADS_1


Daniel menggerakkan kepalanya melihat Samuel dan mamanya secara bergantian. Dia bingung sendiri dengan perdebatan yang mereka lakukan.


"Daniel, ayah kandungmu sebenarnya adalah Bayu Bagaskara, dan aku adalah kakekmu."


__ADS_2