
"Shu.... Aku beri kesempatan padamu untuk pergi dari sini sekarang juga. Jangan memancing emosiku lebih jauh lagi."
Bayu memberi peringatan terakhir. Kalau wanita itu tetap maju, dia akan benar-benar menghancurkannya.
"Aku hanya ingin kamu membantuku membiayai anak ini dan mencantumkan namamu sebagai ayahnya."
"Hahaha.... Kamu gila?"
"Anak itu kamu buat dengan lelaki lain dan aku yang harus mengakuinya?"
"Kamu pikir aku bodoh?"
Bayu tidak habis pikir dengan kelakuan Shuwan.
"Semua orang tahu kalau kita berpacaran. Mereka juga pasti mengira kalau anak ini adalah anakmu."
"Memangnya Moreno dimana? Dia kabur seperti pengecut ya?"
"Dia tidak kabur. Dia hanya bilang belum bisa menikahiku karena isu sebelumnya. Kalau dia menikah denganku dalam waktu dekat, orang akan kembali mengkaitkannya dengan kerusakan rumah tangganya yang dulu."
"Sudah tahu dia lelaki seperti itu, kenapa tidak kamu tinggalkan?"
"Berani buang benih tapi tidak mau tanggung jawab!"
"Dia akan menikahiku, kalau waktunya sudah tepat." Shuwan ngotot. Dia masih membela Moreno.
"Hahaha.... Bullsh*it!"
"Jangan percaya ucapan buaya, Shu. Kamu tidak akan mendapatkan apapun darinya."
Shuwan terdiam sejenak.
"Aku datang kemari bukan untuk membahas tentang Moreno." Shuwan menegaskan keinginannya
"Kalau kamu tidak mau menurutiku, aku akan mengganggu kehidupan Prita. Aku akan membuat dia tidak berani lagi keluar rumah dan bertemu orang."
Bayu semakin emosi ketika mendengar istrinya menjadi sasaran Shuwan.
"Apa sekarang kamu sedang mengancamku?"
"Iya!"
"Akui anak ini dan aku tidak akan mengganggumu lagi. Bukan hanya kamu, tapi juga wanita janda itu."
"Sepertinya kamu belum sepenuhnya mengerti orang seperti apa aku."
"Aku bukan orang yang mau tunduk dengan perintah orang lain."
"Dan aku pastikan, rencanamu juga tidak akan terjadi."
__ADS_1
*****
Sementara itu, di tempat lain, Prita sedang dalam perjalanan menuju kantor Bayu. Dia akan menemuinya sebentar karena hari ini Bayu tidak pulang untuk makan siang. Prita akan menyampaikan kalau Dean juga ikut dengan Ayash.
Meskipun Bayu nanti pasti akan marah karena dia bertemu Ayash, namun ia tetap berkewajiban untuk memberitahukan yang sebenarnya. Memang dia tanpa sengaja bertemu Ayash di depan sekolah saat menjemput anak-anak.
Satu hal lagi, dia akan memarahi Bayu karena sudah memukul Rafa. Dia sudah janji tidak akan melibatkan Rafa dalam masalah mereka, namun kenyataannya dia tetap mencarinya dan menghajarnya sampai babak belur.
"Saya ke dalam dulu ya, Pak." pamit Prita saat mobil mereka telah sampai di depan perusahaan Minata Food.
Prita berjalan melenggang seperti biasa memasuki area lobi. Lagi, ia jadi pusat perhatian di sana. Sungguh tidak nyaman setiap kali datang kesana mendapat tatapan seperti itu. Kenapa ia seperti orang yang telah melakukan kesalahan besar?
"Selamat siang, Nona Prita." sapa resepsionis dengan ramah.
"Selamat siang. Saya ingin bertemu dengan Pak Bayu."
"Oh, iya. Silakan langsung saja ke ruangannya. Tapi, sepertinya Beliau sedikit sibuk hari ini."
"Terima kasih. Saya juga tidak akan lama."
"Hmmm.... Beda perlakuan, ya?"
Tiba-tiba empat orang karyawan wanita yang tidak Prita kenal berjalan ke arahnya. Sepertinya mereka baru saja kembali dari kantin atau kafe, terlihat mereka membawa minuman ditangannya.
"Jihan, kamu memihak wanita ini, ya?" tanya salah seorang di antara mereka yang menurut Prita punya wajah paling sinis.
"Aku hanya menjalankan tugas dari Pak Bayu." kilah Jihan, si resepsionis itu.
Prita mengerutkan keningnya. Dia tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Mereka menyebutnya pelakor? Yang benar saja, dia datang mau menemui suaminya sendiri masa disebut pelakor? Memangnya dia merebut Bayu dari siapa? Bayu saja belum pernah menikah. Kenapa karyawan di sana selalu sinis padanya? Dia salah apa?
"Mba Juwita, saya rasa selama di kantor kita harus profesional melakukan tugas kita, ya."
"Apapun masalah antara Nona Prita dengan Pak Bayu itu urusan pribadi mereka. Lebih baik kita tidak ikut campur, apalagi kita tidak tahu yang sebenarnya."
Plak!
Resepsionis itu ditampar keras oleh orang yang berwajah sinis itu. Prita sampai kaget melihatnya.
"Dasar anak baru! Sudah berani ya, mengajari aku? Aku lebih senior darimu! Jabatanmu saja cuma rendahan di bagian front office mau berlagak."
"Maaf, Mba. Kamu kok kasar? Ada masalah apa, ya?" tanya Prita. "Dia hanya melakukan tugasnya, apa dia salah? Kenapa kamu sampai main pukul?"
Pandangan orang itu teralihkan pada Prita. Sepertinya sekarang Prita yang menjadi sasarannya. Karyawan kembali berkerumun di sana. Hari ini seperti ada dua kali konser dadakan di depan resepsionis.
"Dasar pelakor! Janda tidak tahu diri!" umpatnya.
Prita membelalakkan mata mendengar sebutan yang ditujukan untuknya, "Apa kita pernah ada masalah? Kenapa kamu menyebutku begitu?"
Setiap orang berhak dihormati dan diperlakukan dengan baik. Bukan karena dia istri dari pemilik perusahaan lantas ia ingin dihormati, tapi menurut Prita tingkah mereka sudah sangat keterlaluan. Dia bahkan tidak mengenal siapa mereka, bisa-bisanya sekarang mereka berkumpul seperti satu geng dan memusuhinya.
__ADS_1
"Kalau kamu tahu diri, seharusnya sudah menjauhi Pak Bayu."
Mennauhi bagaimana? Bayu itu suami Prita sendiri, dia jadi bingung. Apa Istri Bayu ada banyak? Apa mereka perkumpulan istri-istri Bayu yang sedang sakit hati? Lucu.
"Kami semua di sini sudah tahu kalau Nona Shuwan Mei adalah pacar dan calon istri Pak Bayu."
Prita langsung lemas mendengar nama Shuwan disebut. Kalau sudah berkaitan tentang Shuwan, pasti semua tidak akan berakhir dengan mudah. Terakhir kali mereka bertemu di tempat latihan. Dia juga menyuruhnya untuk menjauhi Bayu. Kali ini, dia sampai datang ke kantor dan menghasut semua karyawan untuk ikut membencinya?
"Nona Shu itu sedang hamil, apa kamu tidak kasihan nanti anaknya terlantar?"
"Kamu senang ya, anak-anakmu nanti ada yang mengurus, CEO perusahaan, kaya, dan perhatian. Kasihan calon anak kandungnya sendiri terlantar."
Sudah jelas Shuwan menceritakan sesuatu yang mengada-ada.
"Semoga saja Pak Bayu pikirannya bisa terbuka setelah tau Nona Shu hamil."
"Kalau kamu merasa wanita, mundur dengan terhormat!"
Prita terperangah dengan perkataannya, "Kalau tidak tahu apapun, lebih baik diam. Kamu jadi kelihatan bodoh kalau berbicara terus."
Plak!
Wanita itu sampai berani menampar Prita.
"Mba Juwita, sudah! Jangan diteruskan!" resepsionis itu berdiri menengahi antara Prita dan wanita itu.
"Minggir!" dia mendorong si resepsionis ke tepi.
"Wanita tidak tahu diri memang harus diberi pengertian dengan cara lain supaya bisa punya rasa empati kepada sesama wanita."
"Aku harap setelah tahu Nona Shu hamil, Pak Bayu akan mencampakanmu begitu saja."
"Dasar janda tidak tahu diri!"
Byur!
Wanita itu merebut gelas berisi minuman boba dingin dari tangan temannya lalu mengguyurkan pada Prita.
Bukannya kasihan, karyawan yang berkerumun di sana malah menertawakan Prita. Seolah Prita layak untuk mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Rasakan ini!"
Beberapa teman wanita itu ikut menumpahkan minumannya ke tubuh Prita. Ada pula yang memukulkan kertas padanya sambil memberikan makian.
"Janda gatel!"
"Janda tidak tahu diri!"
"Dasar gold digger! Mata duitan!"
__ADS_1
Prita lebih pada merasa marah daripada ingin menangis. Ia tetap menahan amarahnya walaupun ingin sekali balik memaki dan memukuli mereka satu per satu.
Ia mencoba bersabar dan menganggap mereka srbagai orang-orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Orang yang bersalah itu Shuwan, dia yang terlebih dahulu harus dibasmi. Ia mendapat perlakuan seperti ini juga gara-gara Shuwan.