
"Anak-anak masih tenang bermain, kan?"
Prita kembali dibuat kaget karena Bayu sudah ada di belakangnya. Ingin rasanya dia tabok lelaki satu itu yang membuat jantungnya hampir copot. Gara-gara dia juga tadi Prita sempat bermimpi hal yang tidak-tidak.
"Ayo ikut aku."
"Kemana?"
"Aku bilang kan kita perlu bicara di ruang privat supaya tidak ada yang mendengar."
Bayu kembali menarik tangan Prita. Ia hendak membawa Prita masuk ke kamarnya. Memiliki firasat yang kurang baik, Prita menghentikan langkahnya tepat di depan kamar. Kamar itu yang dulu pernah ia gunakan dan.... Prit tak sanggup untuk melanjutkan pikirannya.
"Takut banget. Ingat sesuatu, ya?" sindir Bayu. "Hal yang ingin aku tunjukkan ada di dalam kamar. Sebaiknya kamu masuk."
Bayu lebih dulu memasuki kamarnya. Prita, dengan langkah ragu-ragu juga mengikutinya masuk ke dalam. Prita mengedarkan pandangan ke sekeliling. Semua masih terlihat sama seperti saat ia menempati kamar itu. Bahkan deretan skincare dan make up masih berjajar rapi di meja rias. Ada satu hal yang baru di sana. Banyak foto Prita yang terpasang di dinding kamar.
Prita menghela nafas. Darimana Bayu mendapatkan foto-fotonya. Dan kenapa juga harua ia pasang fotonya di tembok kamar padahal dia sudah menikah.
"Duduk di sini."
Bayu yang baru keluar dari ruangan kerja menyuruh Prita duduk di sofa kamar. Ditangannya ada satu amplop coklat. Prita mendekat ke arah Bayu. Ia menerima amplop itu dan membukanya. Hasil tes DNA. Bayu benar-benar telah melakukan tes DNA terhadap Daniel dan hasilnya memang benar Daniel adalah anak Bayu.
"Prita.... apa kehidupan pernikahanmu bahagia?" tanya Bayu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja kami sangat bahagia."
"Apa Ayash dan keluarganya memperlakukanmu dengan baik? Apa mereka juga memperlakukan Daniel dengan baik?"
Prita terdiam sejenak. "Ya, tentu saja."
"Benarkah? Apa mertuamu juga tahu kalau Daniel itu anakku?" pancing Bayu.
Prita kembali terdiam sejenak. Pertanyaan Bayu seakan ingin memojokkannya. "Ya, mertuaku orang yang baik."
Bayu menarik sudut bibirnya. Seperti biasa, Prita tak mau berkata jujur.
"Aku akan menceritakan satu drama padamu. Kamu harus mendengarnya."
"Siang itu ada seorang ayah yang tidak pernah diakui datang ke sekolah anaknya yang selama ini disembunyikan darinya. Dia membawakan anak itu dan adiknya hadiah mainan. Tapi, anak itu tidak menyukai mainan yang dibawakan ayahnya. Kemudian sang ayah berjanji akan datang kembali membawakan mainan yang diinginkannya esok hari."
"Saking sayangnya kepada anak itu, sang ayah tak sabar untuk menunggu hari esok. Ia membelikan mainan keinginan anaknya hari itu juga dan kembali lagi ke sekolah untuk memberikan mainan itu kepada anaknya."
"Tapi, langkahnya terhenti saat melihat keberadaan nenek sambung anaknya ada di sana. Ada hal menyakitkan yang ayah itu dengar ketika sang nenek berbicara dengan temannya. Nenek itu bilang, Daniel hanya anak adopsi."
__ADS_1
Prita melayangkan tatapan ke arah Bayu. Ternyata dia juga mendengar apa yang Daniel dengar.
"Saat itu juga sebenarnya sang ayah ingin langsung membawa anaknya. Dia yakin hidup anaknya sulit bersama keluarga yang tak bisa menerimanya."
"Kamu suka sekali berbohong."
Prita kembali merasa tersindir, "Ayash sudah membawa aku dan anak-anak pindah ke apartemen karena hal itu."
"Bagus kalau begitu. Aku hanya ingin kalian tidak membatasi apalagi melarangku bertemu Daniel kapanpun aku mau."
"Kalau kalian tetap mempersulitku untuk dekat dengan Daniel, terpaksa aku akan menunjukkan surat ini kepada ibu mertuamu. Aku juga akan mengatakan padanya kalau kita sering tidur bersama sebelum kamu menikah dengan anaknya."
"Kamu gila?" Prita melotot kepada Bayu.
Bayu menyunggingkan senyum, "Aku sedang mengancammu."
Ia memajukkan tubuhnya, mengungkung Prita dengan kedua tangannya hingga posisi Prita ada di bawahnya. Raut wajahnya tampak cemas, seperti kelinci yang akan dimangsa Singa. Bayu terus mengikis jaraknya sampai Prita memejamkan mata karena sepertinya Bayu akan kembali menciumnya.
"Kenapa menutup mata? Sepertinya kamu menginginkan lebih?" bisik Bayu.
Brak!
Bayu jatuh ke lantai setelah Prita mendorongnya dengan kuat. Dia tertawa terbahak-bahak.
"Benar kan? Kamu kira aku mau menciummu?"
"Kamu boleh menemui Daniel seperti yang biasa kamu lakukan. Temui saja dia di sekolah. Kalau mau mengajaknya jalan, kamu harus memberitahuku dan dia tidak boleh pulang melebihi jam 3 sore."
Bayu memicingkan matanya, "Sesekali aku ingin Daniel menginap di sini. Aku membuatkan kamar itu khusus untuknya agar dia menginap di sini."
"Aku tidak mengijinkannya!"
"Kenapa? Kalau kamu khawatir kamu bisa ikut menginap di sini. Kamu boleh tidur di kamar ini. Semuanya masih sama seperti dulu. Baju-baju juga masih ada kalau kamu ingin memakainya."
Prita tahu Bayu sedang menggodanya. "Kalau tidak mau mengikuti apa yang aku katakan tadi, lebih baik kamu tidak usah menemui Daniel sama sekali."
"Aku mau keluar menemui anak-anak."
Srek! Bruk!
Bayu menarik tangan Prita dan menjatuhkannya ke atas ranjang. "Kamu tahu aku, kan? Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Aku penasaran bagaimana respon mertuamu ketika aku menceritakan hubungan yang pernah kita jalani." Mata Bayu menatap tajam, seperti sedang memendam kekesalan.
Prita berusaha mengelak, namun kedua tangannya sudah dikunci oleh tangan Bayu.
__ADS_1
"Aku tahu Ayash bisa menerimamu dan Daniel dengan baik. Tapi aku tidak yakin dengan mertuamu. Kamu jangan egois, yang aku lakukan juga untuk membahagiakan Daniel!"
"Aku sedang berusaha menjadi orang yang lebih baik. Tapi kenapa kamu selalu memperlakukan aku dengan buruk? Membuatku rasanya ingin kembali berbuat jahat padamu."
Sorot mata Bayu masih menyiratkan emosi. Sementara, Prita sudah pasrah dengan apa yang dilakukan Bayu. Melihat bibir itu, membuat Bayu tidak tahan. Perlahan ia menurunkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Prita. Prita sudah menutup kembali matanya.
"Mama.... "
Suara Daniel langsung membuat Bayu melepaskan Prita. Dia jadi salah tingkah. Prita menggunakan kesempatan itu untuk menghindar dari Bayu.
"Kenapa, Sayang?"
"Mama sedang apa dengan Daddy?"
Prita mengerutkan keningnya. Apa tadi dia salah dengar? Daniel memanggil Bayu 'daddy'? Sementara Daniel yang merasa keceplosan segera menutup mulutnya.
"Kamu bilang apa tadi?" Prita ingin memastikan.
"Mmmm.... " Daniel ragu-ragu menjawab.
"Tidak apa-apa, Daniel, mamamu tidak akan marah jika kamu memanggilku 'daddy'." sahut Bayu.
"Benar, Ma? Apa tidak apa-apa? Mama tidak marah?"
Prita menghela nafas. Ia menengok ke arah Bayu. Bayu hanya menyunggingkan senyum.
"Apa ada yang salah?"
Prita kembali menatap Daniel sambil mengulaskan senyum, "Kenapa kamu mau memanggilnya seperti itu?"
"Karena Daddy baik, sama seperti Papa dan Papa Irgi. Daniel suka Daddy."
"Baiklah, terserah Daniel saja. Tadi kenapa mencari mama?"
"Aku mau pulang, aku mau ketemu Papa."
"Kamu sudah puas bermain?" tanya Bayu.
Daniel mengangguk. "Kamarnya sangat bagus dan mainannya banyak. Daniel suka."
"Daddy memang membuat itu untuk Daniel. Kalau Daniel ingin main di sini lagi, bilang Daddy."
"Oke."
__ADS_1
"Baiklah. Kalian bersiap-siap dulu nanti aku akan mengantar kalian pulang. Aku mau mengganti baju."
Prita mengajak Daniel keluar kamar. Sementara Bayu masuk ke dalam kamar mandinya. Bukan sekedar mengganti baju, tapi Bayu juga mengguyur tubuhnya di bawah kucuran shower untuk menenangkan diri. Rasanya canggung sedang berada di posisi intim tiba-tiba anaknya datang memergoki mereka. Tadi Bayu hampir kembali mencium Prita.