
"Mood-mu sepertinya sedang sangat buruk, ya?"
Irgi mengelus puncak kepala Raeka yang kini sedang terduduk lemas di sofa. Wajahnya cemberut sejak ia jemput dari klub memanah.
"Baru kali ini aku bertemu wanita seperti itu." Raeka berbicara sambil mencebikkan bibirnya.
"Hahaha... akhirnya setelah sekian lama kamu merasa punya musuh dan saingan, ya?"
"Saingan bagaimana? Aku tak pernah merasa punya musuh dan saingan. Mungkin dia saja yang merasa tersaingi."
"Rasanya seru bisa melihatmu emosi begini. Terakhir kali waktu SMA, kan... satu-satunya wanita yang selalu membuatmu kesal itu Prita. Sekarang ganti lagi teman satu klubmu."
"Apaan sih, mau meledek?"
"Tadi kamu nggak kalah kan, waktu ribut? Kamu apakan wanita itu?"
"Dia menjambak rambutku lebih dulu makanya aku juga membalas menjambak rambutnya. Aku juga tadi sempat memukulnya beberapa kali."
"Lebih menyenangkan bermusuhan dengan teman satu klubmu atau dengan Prita?"
"Oh, ayolah.... Dulu Prita tak pernah membalas perbuatanku. Tapi dia selalu berhasil membuatku kesal. Kalau kali ini, aku puas sih bisa memukuli wanita centil seperti itu. Dia pandai sekali berakting."
"Ya, aku setuju. Dia sepertinya wanita yang sangat licik. Kamu harus hati-hati dengannya."
"Hem, dia lebih tua dariku tapi kelakuannya sangat menjijikan. Kalau mau tebar pesona pada anggota klub yang lain, kenapa harus mencari masalah denganku? Dia sengaja sekali mengajakku ribut."
"Berarti kamu dianggap saingan terberatnya."
"Ah, aku tak mau berurusan dengan orang seperti itu." Raeka memeluk Irgi dengan manja.
"Heh! Kalian ngapain?" tiba-tiba Rafa datang tanpa permisi ke apartemen Raeka. Dia langsung duduk memisahkan Irgi dan Raeka.
"Apaan sih, Kak! Ganggu!" keluh Raeka.
Rafa dengan santainya mengganti saluran tv dan memakan camilan yang tersedia di meja.
"Aku ditugaskan Papa untuk mengawasi kalian. Selama pacaran tidak boleh melakukan hal yang aneh-aneh."
"Kalau bukan karena Kak Rafa juga aku sudah akan menikahi Raeka. Berat banget pacaran nggak boleh ngapa-ngapain tapi nikah juga nggak boleh." protes Irgi.
__ADS_1
"Ngebet banget pengin mengambil adik kesayanganku." Rafa memeluk posesif Raeka, sengaja untuk meledek Irgi.
"Lepas kakak bodoh!" satu pukulan Raekan mendarat di dada Rafa.
"Kalian nggak usah pura-pura, aku sudah tahu kalian berencana akan menikah dalam waktu dekat, kan? Kamu tega banget Raeka melangkahi kakakmu. Kalau aku tidak laku bagaimana?"
"Nggak laku dari Hongkong? Itu wanita-wanita yang setiap hari datang ke kantor siapa? Kakak saja emang yang tidak mau menentukan pilihan padahal yang suka dengan Kakak banyak. Kakak memang mau menyiksaku, kan, supaya tidak nikah-nikah? Kalau Irgi sampai meninggalkanku, aku akan memusuhi Kakak seumur hidup, loh!"
"Hem, kalau Irgi berani begitu bakal aku gantung! Kamu awas ya kalau sampai bosan dengan Raeka!" Rafa menunjukkan kepalan tangannya pada Irgi.
"Ini sudah lima tahun loh Kak, masa belum merestui hubungan kami."
"Siapa juga yang tidak merestui kalian? Itu kan aturan Papa sendiri, Raeka tidak boleh menikah sebelum kakak-kakaknya menikah."
"Kak Reyhan menikah juga melangkahi Kakak, tapi Kakak ijinkan."
"Ya Reyhan kan bukan adik kesayanganku, berbeda denganmu, kamu itu adik kesayanganku, jadi aku ingin lama-lama kamu menjadi adikku."
Raeka memutar bola matanya mendengar alasan klise kakaknya yang menyebalkan.
"Kalau kelamaan Raeka bisa hamil duluan, Kak."
"Mama Papa juga setuju kok kalau kami segera menikah. Terus kenapa Kakak ngotot melarang-larang aku segera menikah? Malah sengaja mengulur-ulur waktu."
"Ya, ya.... terserah kalian sajalah!"
"Heh! Ngomong-ngomong, katanya kamu hampir menolak kerjasama dengan Skylight Bar, ya?"
"Nggak.... " kilah Irgi.
"Halah, ngaku saja! Kamu jadi bahan perbincangan hangat kok di perusahaan."
"Aku tidak mendengar apa-apa. Sepertinya tidak ada satupun yang membicarakanku di kantor."
"Ya iyalah, masa ngomongin orang di depan orangnya? Mereka ngomongnya di belakang kamu. Katanya kamu sendiri yang tidak setuju kalau Skylight Bar buka di hotel kita."
"Skylight Bar apaan?" tanya Raeka penasaran.
"Itu loh, klub malam yang terkenal.... kamu pernah Kakak ajak ke sana, kan? Masa lupa. Yang tempatnya asyik banget itu."
__ADS_1
"Oh, klub malam yang ada di daerah dekat stadion itu, ya?"
"Yup!"
"Itu sih tempat nongkrong yang bagus. Konsepnya keren banget, walaupun klub malam tapi eksklusif. Jadi mereka mau buka ke hotel kita, ya?"
"Rencananya begitu. Tapi Irgi sempat menolak paling keras."
"Hah, kenapa, Sayang? Itu klub malam terkenal, loh. Bagus tempatnya. Hotel bakal makin ramai kalau ada klub itu."
"Tidak, aku tidak menolak. Aku hanya menguji seberapa besar mereka bisa meyakinkan orang-orang kalau bisnis mereka memang benar-benar layak berada di hotel kita." kilah Irgi.
Sebenarnya Irgi memang punya alasan lain untuk menolak proyek itu. Alasan sederhananya dia tidak suka berhubungan dengan orang seperti Bayu. Dia tak menyukai Bayu. Tapi itu hanya alasan subyektif yang tidak bisa diterima dalam dunia bisnis. Dalam bisnis, tak kenal namanya teman sejati maupun musuh sejati. Orang akan bekerjasama melihat dari sisi keuntungan yang akan diperoleh.
"Kamu jangan terlalu kaku sebagai pimpinan perusahaan, supaya wibawamu keluar."
"Mungkin aku CEO yang paling santai di negara ini, Kak."
"Terlalu santai juga jangan, dong. Nanti dikira mahasiswa magang oleh para senior."
"Kenapa bukan Kakak saja yang menjadi CEO Greenland Paradise Hotel?"
"Hehehe... tempat kerja itu terlalu tinggi tekanannya. Aku tidak akan kuat. Aku sudah nyaman mengurusi perusahaan Papa yang lebih kecil. Pokoknya kamu harus terus bertahan, jangan limpahkan jabatanmu padaku, karena aku tidak mau!"
"Kakak licik juga, ya."
"Berani bilang begitu, kalian akan butuh waktu lebih lama lagi loh untuk menikah."
"Iya, Kak. Ampun. Jangan lakukan itu."
"Ah, Ya Tuhan... Kakak kenapa senang sekali mengancam calon adik ipar sendiri. Jangan-jangan yang merekomendasikan posisi CEO diserahkan pada Irgi itu Kakak, ya.... Kakak pasti bilang begitu kan pada Papa?"
"Ya mau bagaimana lagi? Memangnya kamu mau mengurusi hotel?"
"No."
"Kalau begitu ya calon suamimu yang harus menggantikanmu, wek!"
Irgi jadi kembali mengingat, beberapa bulan lalu Tuan Rudi Wijaya, Ayah Raeka, khusus mengajaknya bicara berdua. Dia meminta Irgi menjadi CEO di hotel karena ketiga anaknya tidak ada yang mau menempati posisi itu. Awalnya Irgi menolak, ia ingin fokus mengurusi PT Prayoga Jaya dan MyShoppa. Tapi, ayah Raeka bilang, jika dia ingin cepat menikah dengan Raeka, salah satu syaratnya dia harus mau ikut mengurusi perusahaan keluarga Wijaya. Akhirnya Irgi menyetujui syarat itu.
__ADS_1
Seperti yang Rafa bilang, bekerja di hotel harus siap dengan tekanan batin. Perusahaan itu sudah sangat sistematis, apapun memiliki aturan yang sudah dijunjung bertahun-tahun. Para pekerja di sana sangat kompeten di bidangnya, merek orang-orang pilihan. Walau demikian, tidak merubah gaya bekerja Irgi yang santai. Dia tak terbawa arus. Irgi tetap menjadi dirinya sendiri. Sangat timpang dengan cara kerja para bawahannya. Tanpa Irgi sadari, dia sering menjadi bahan perbincangan di perusahaan.