
Siang ini Bayu mengadakan pertemuan dengan seluruh manajer yang mengelola klab-klab miliknya. Ada Fazid dari King Crown, Martin dari Bubu Baba, Ejaz dari Meridian Bar, Roy dari Skylight Bar, dan Edo dari Shy Shy Cat.
Mengapa penting mereka mengadakan pertemuan? Karena Bayu benar-benar di ambang kebangkrutan. Dari lima klab miliknya hanya tersisa dua yang masih beroperasi, yaitu Skylight Bar dan Bubu Baba. Profit dari kedua klab tersebut tidak bisa mengcover matinya klab-klab lain.
Apalagi belum lama ini Bayu baru saja mengucurkan dana yang terbilang cukup banyak untuk membantu hotel Shuwan. Uang yang Bayu berikan pada Shuwan berasal dari dana daruratnya. Awalnya uang sebanyak itu baginya tak terlalu berarti karena penghasilan klabnya saja lumayan besar. Tapi, setelah satu persatu klabnya bermasalah, ia harus gigit jari karena tak memiliki dana untuk mengcover kerusakan klab dan kerugian yang diderita akibat klab harus tutup.
"Jadi sekarang harus bagaimana?" tanya Ejaz.
"Opsinya ada dua, tutup sementara entah sampai kapan atau dijual saja."
"Yah, masa dijual, Bos. Klab kita kan sudah sangat terkenal di kota ini. Sayang kalau harus tutup." protes Edo.
"Nggak ada uang, Do. Coba pikir aja, klab milik bos bermasalah di waktu yang berdekatan. Uang darimana untuk membereskan masalah ini? Penghasilan dari klabku saja tidak mencukupi untuk tetap membayar gajimu dan para karyawan." tukas Roy.
"Kalau menurutku jual saja, Bos. Lebih baik fokus pada klab yang masih tersisa." lanjut Roy.
"Wah, gila kamu Roy. Mentang-mentang klab milikmu yang paling stabil, nggak mikirin yang lain apa? Kayaknya kamu pengin kita jadi pengangguran."
"Bukan begitu, Jaz. Kamu, Fazid, dan Edo kan bisa gabung mengurusi Skylight Bar atau Bubu Baba. Kita besarkan kedua klab ini bareng-bareng."
"King Crown mau dibuang? Penghasilan dari King Crown juga setara dengan klab milikmu, Roy."
"Ya, aku tahu. Kamu bisa kan mengajak tamumu untuk mau pindah ke Skylight Bar?"
"Tempat kita ada di distrik yang berbeda. Dan mereka tidak semudah itu merubah tempat tongkrongan. Apalagi konsep klab kita sangat berbeda."
"Bos, tolong pertahankan King Crown." Fazid memohon.
Bayu kembali berpikir. Dia memiliki total 7% saham di Holly Hotel yang jumlahnya cukup untuk memperbaiki kekacauan klabnya. Tapi, dia masih berat karena tujuan awalnya untuk menguasai hotel itu.
"Aku masih akan memikirkannya, Zid. Sementara ini aku tidak bisa fokus karena harus memenuhi panggilan polisi."
"Parah kamu, Do. Sampai Bos harus ikut repot karena klab milikmu." ucap Martin.
"Maafkan aku, Bos. Aku akan berusaha menyelesaikan masalahnya secepat mungkin."
"Jadi terkenal klab kamu, Do. Sampai masuk TV. Klabku saja belum pernah disorot TV." ujar Roy.
"Terkenal karena kebakaran dan ada korban tewas. Nyindir."
"Hahaha.... Klabmu memang parah."
"Berarti belum ketemu ya, pelakunya?"
"Belum."
"Memangnya siapa yang menyewa klab malam itu?"
__ADS_1
"Anaknya salah satu anggota DPRD."
"Wah, anak orang kaya. Sudah minta ganti rugi belum?"
"Boro-boro minta ganti rugi. Yang ada mereka malah menuntut katanya klabku hampir membuat anak mereka celaka. Padahal mereka sendiri yang main kembang api."
"Makin susah kalau urusannya sudah masuk dengan orang politik politik."
Tok tok tok
Semuanya berhenti bicara ketika pintu ruangan mereka diketuk.
"Masuk." perintah Bayu.
Seorang lelaki memakai hoody hitam dan masker hitam masuk. Orang-orang di sana sudah tahu kalau dia salah seorang anggota Red Wine, yang biasa ikut mengurusi klab mereka.
Lelaki itu memberikan amplop besar warna coklat kepada Bayu. Bayu lantas membukanya. Isinya beberapa lembar potret foto.
"Itu Nona Shu, kan?" celetuk Ejaz.
"Iya, benar. Itu Nona Shu." Edo ikut membenarkan.
"Kenapa dengan Nona Shu? Kenapa kamu membawa foto-foto Nona Shu?" tanya Martin penasaran.
"Kalian semua kenal Nona Shu?" tanya Fazid.
"Ke klubku juga sering." tambah Roy.
"Sama. Aku juga mengenalnya di klab." ucap Martin.
"Ternyata dia anak klab ya, semua klab pernah dia datangi."
"Dia pacar Bos Bayu."
"Hah?"
Semua tercengang mendengar ucapan Fazid. Mereka belum tahu kalau Shuwan adalah pacar Bayu.
Sementara, Bayu masih membuka lembar demi lembar foto yang dibawakan anak buahnya.
"Siapa ini?" Bayu memperlihatkan foto Shuwan dengan seorang lelaki. Di foto itu, keduanya terlihat dekat.
"Namanya Moreno, seorang atlet panahan yang juga pelatih Nona Shuwan di klab memanahnya."
Sebenarnya Bayu masih agak bingung. Dia menyuruh anak buahnya menyelidiki klab, tetapi yang ia dapatkan malah info tentang Shuwan yang tidak pernah ia minta.
"Apa maksud semua ini?"
__ADS_1
"Nona Shuwan sering mendatangi klab-klab milik Anda."
"Lalu, masalahnya dimana?"
"Tidak ada pengunjung yang begitu intens mendatangi semua klab Anda. Kalau Nona Shu pecinta klab, seharusnya dia juga mengunjungi klab-klab lain juga. Tapi hanya klab Anda yang dia datangi."
"Mungkin karena Nona Shu ingin lebih mengenal Bos Bayu. Mereka berdua kan sekarang pacaran."
"Saya merasa semua kekacauan ini ada kaitannya dengan Nona Shu."
"Itu tidak mungkin, jangan mengada-ada." tukas Martin. "Dia wanita yang sangat ramah dan sopan. Dia bisa mudah akrab dengan siapa saja, termasuk dengan para karyawan."
"Benar, Nona Shu memang seperti itu. Di klabku saja kalau dia datang, banyak yang mau mengajaknya minum bersama."
"Ya, Shuwan wanita yang populer di klabku juga. Dia memang terkenal dengan kesantunannya."
"Foto lelaki yang bersama Nona Shu bukan hanya pelatihnya. Tapi, dulu mereka pernah pacaran. Sekarang mereka juga kembali dekat apalagi setelah lelaki itu resmi bercerai dengan istrinya. Menurutku, dia tak sebaik yang kalian kira. Saya rasa juga Nona Shu punya maksud untuk mempermainkan Anda saja."
"Kalau begitu selidiki saja lebih lanjut."
"Baik, Tuan."
"Apa ada hal lain lagi yang ingin kamu laporkan?"
"Kemarin di Bubu Baba sempat hampir ada yang ingin bertransaksi narkoba. Tapi berhasil digagalkan sebelum tertangkap polisi yang menyamar."
"Heh! Kenapa kamu melaporkan hal itu juga? Yang penting kan aku sudah bisa mengatasinya." Martin tidak senang klabnya disebut-sebut. Dia tak ingin klabnya dicap bermasalah juga.
"Bagus. Tetap jaga dengan baik kedua klab itu. Jangan beri celah siapapun untuk menghancurkannya."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
"Kamu boleh pergi."
Anggota Red Wine itu pergi setelah diperintah bosnya.
"Roy dan Martin, kalian juga harus standby di klab. Jangan lengah."
"Baik, Bos."
"Roy, apa kegagalan kerjasama dengan Greenland Paradise berpengaruh pada klabmu?"
"Tidak, Bos. Hanya saja mereka masih membahasnya di klab. Katanya mereka akan lebih senang jika Skylight Bar bisa bergabung dengan Greenland Paradise Hotel."
"Untuk sementara aku belum bisa memastikan klab kalian, Fazid, Ejaz, dan Edo. Kalau kalian ounya solusi, bisa katakan padaku. Butuh biaya yang besar untuk memperbaiki klab seperti semua. Sementara bantulah dua klab yang masih bisa dijalankan."
"Aku kira hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Kalian boleh pergi."
__ADS_1
Bayu masih termenung ketika satu per satu anak buahnya pergi. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan anggota Red Wine. Dulit dipercaya jika Shuwan yang membuat kehancuran klabnya. Bayu baru mengenal Shuwan. Ia merasa tak memiliki masalah apapun dengannya. Mana mungki seorang yang tidak ada motif dendam bisa ingin menghancurkan bisnisnya? Saingan usaha juga tidak. Hal itu membuatnya pusing.