ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kunjungan Mama Maya


__ADS_3

Keluarga Prita menikmati akhir pekan di rumah saja. Repot kalau harus bepergian bersama tiga anak yang masih kecil-kecil. Butuh persiapan dan perencanaan serta waktu liburan yang cukup panjang agar mereka benar-benar bisa menikmati liburan.


Sering kali Prita justru kelelahan saat harus bertamasya mengajak ketiga anaknya. Untuk mengurus Livy yang kecil saja tenaganya sudah habis, apalagi ada dua jagoan yang akan menghilang jika mata tak mengawasi mereka barang satu detik.


Akhir pekan ini mereka hanya di rumah karena Ayash memiliki beberapa pejerjaan yang harus diselesaikan. Alasan lain, kakek nenek anak-anak dari Indonesia akan berkunjung. Ya, Mama Maya dan Papa Reonal katanya akan datang ke Singapura.


Bukan perkara mudah bagi pengusaha seperti mereka meluangkan waktu mengunjungi cucu-cucunya yang tinggal jauh di luar negeri. Saat di Indonesia saja mereka jarang bertemu, apalagi sekarang. Mungkin hanya setahun sekali. Atau jika ada pekerjaan di Singapura sekalian mereka mengunjungi cucu-cucunya.


Prita tengah menemani Livy bermain boneka barbie. Livy masih dalam tahap yang ingin tahu, ia merusak bonekanya, melepas baju, tangan, kaki, dan kepala boneka. Kemudia ia berusaha memasangkannya kembali. Saat merasa kesal, ia akan meminta Prita untuk membantunya memasang bonekanya kembali. Setelah diperbaiki, akan dia lepas-lepaskan lagi. Begitu seterusnya pekerjaan Livy. Tapi, Prita dengan sabar tetap mengikuti kemauan putri bungsunya itu.


Tak jauh dari tempat Livy, Dean sedang asyik bermain tinju di area bermain yang khusus dibangunkan untuk anak-anak. Adanya tempat bermain tinju setidaknya bisa menyalurkan energi Dean yang super aktif. Dia memang suka memukul dan menendang. Tak salah Papanya membangunkan area tinju dan membelikan banyak patung-patung empuk yang bisa dia pukul tampa merasa sakit.


Berbeda dengan kedua saudaranya, Daniel sudah mulai bosan menyusun lego miliknya. Ia pergi meninggalkan tempat permainannya menujj ruang kerja ayahnya.


"Papa.... "


"Hai, Sayang. Kenapa?" Ayash menghentikan pekerjaannya. Ia melepas kacamatanya kemudian mengangkat Daniel dan memangkunya.


"Apa Papa lelah? Aku bisa membantu memijit." Daniel menggerakkan jari-jari kecilnya di bahu Ayash.


"Hahaha... kamu memang anak Papa yang paling pengertian. Kenapa tidak main dengan Dean?"


"Aku tidak suka tinju. Dean akan memukulku betulan kalau aku mendekatinya." Daniel memang satu tahun lebih tua, tapi Dean yang selalu menang jika keduanya bertengkar.


"Kamu bisa bermain lego."


"Aku bosan."


"Apa perlu Papa temani bermain?"


"No, aku yang ingin menemani Papa bekerja." Daniel terus menggerakkan tangannya di bahu papanya. Tenaganya memang tak terasa sedikitpun, tapi Ayash menyukai usaha dan perhatian anak kecil itu.


"Bukankah membosankan menemani papa bekerja?"


"Tidak. Aku suka melihat Papa bekerja. Kalau aku sudah lebih besar, aku akan membantu pekerjaan Papa supaya Papa tidak kelelahan."


"Kalau sudah besar kamu ingin menjadi seperti papa?"


"Tentu. Aku mau menjadi pengusaha hebat seperti Papa."


Ayash langsung memeluk Daniel. Dari ketiga anaknya, Daniel memang lebih dekat dengannya. Mungkin karena mamanya selalu sibuk mengurusi adik-adiknya, sehingga Daniel justru lebih memilih bersamanya. Dulu Ayash sering mengajak Daniel ke kantor. Daniel anak yang baik, tidak rewel. Dia bisa tenang bermain permainan yang diberikan untuknya. Daniel bukan anak yang mudah bosan dan aktif seperti Dean. Daniel seperti anak kecil yang sudah bisa mandiri. Dia tidak cengeng.

__ADS_1


"Papa... apa Daniel mengganggu?"


"Tidak... kamu sudah memijit papa. Sekarang rasa lelah papa jadi hilang."


"Benarkah? Kalau begitu setiap hari aku mau memijit Papa, boleh?"


"Boleh."


"I love you, Papa." Daniel mendaratkan ciuman di pipi Ayash.


"I love you too, Daniel."


Ayash mencubit hidung Daniel yang mancung. Dipandanginya mata polos yang berbinar penuh cinta sedang menatapnya balik. Mereka berdua memang tak memiliki hubungan darah. Tapi, keduanya memiliki rasa cinta yang tulus layaknya ayah dan anak.


Sejak pertama melihat Daniel lahir kedunia, Ayash sudah dibuat jatuh cinta oleh anak itu. Ia belajar menjadi seorang ayah pertama kali dengan Daniel sebelum kelahiran anak-anaknya yang lain.


Daniel, meskipun bukan darah dagingnya, memiliki tempat yang sama seperti anak-anaknya yang lain. Daniel tetap anaknya, meskipun kenyataan mengatakan dia bukan anak biologisnya. Fisik mereka tak memiliki kesamaan. Hal itu yang sering membuat orang menggunjingkan, termasuk orang tuanya sendiri.


Tapi, Ayash akan selalu berdiri di depan Daniel untuk membelanya. Baginya Daniel tetap anaknya tak peduli perkataan orang, tak peduli orang mau percaya atau tidak. Dia tak akan mengakui Daniel sebagai anak orang lain, Daniel adalah anaknya.


Kembali Ayash memeluk tubuh Daniel. Dia tak ingin siapapun melukai perasaannya. Apapun yang terjadi, dia akan berusaha untuk menjaga perasaan bahagia Daniel bersama keluarganya yang utuh. Hidupnya akan sempurna tanpa harus mendengarkan perkataan orang.


Ting Tong....


"Ah, iya. Ayo kita sambut mereka." Ayash bangkit dari duduk sambil menggendong Daniel.


Mereka keluar dari ruang kerja menuju ruang tamu. Tampak Prita, Livy, dan Dean sudah lebih dulu menyambut kedatangan kakek dan neneknya dengan suka cita.


"Ye... Oma Opa datang.... " seru Dean.


Mama Maya langsung memeluk Dean, "Aduh, cucu kesayangan Oma sudah Besar."


Setelah memeluk Dean, Mama Maya ganti menciumi Livy, "Livy cucu Oma yang cantik... gemasnya.... sedang main boneka, ya?"


Prita mencium tangan kedua mertuanya.


"Oma bawa hadiah untuk kalian.... ini robot avengers untuk Dean, dan Ini boneka barbie untuk Livy."


Dean menerima sekotak besar mainan yang berisi lima tokoh Avengers kesukaannya. Sementara, Livy mendapat boneka Barbie yang bisa menari.


"Oma.... hadiah untuk Kak Daniel mana?" ucap Dean polos.

__ADS_1


Suasana tiba-tiba menjadi hening dan canggung. Daniel yang ada dalam gendongan papanya memasang wajah sedikit murung melihat saudaranya yang lain mendapat hadiah sedangkan dirinya tidak.


Maya mendekati Daniel, memegang tangan kecil itu dan menciumnya. "Ah! Aduh, Daniel sayang, maafkan oma, ya. Oma lupa membelikan Daniel hadiah. Kamu main dulu bareng Dean, ya?"


"Kak Daniel, ayo main denganku. Robotnya bisa bergerak." ajak Dean.


"It's okay, Oma. Mainanku sudah banyak." ucap Daniel.


"Terima kasih, sayang. Kamu memang anak baik." Maya mencium pipi Daniel kemudian dia beralih kembali pada Livy.


Ayash memandang ke arah Prita. Tampak jelas matanya memancarkan kesedihan walaupun ia melemparkan senyuman padanya.


"Daniel, kamu mau menemani papa keluar sebentar? Papa ingin membeli sesuatu."


"Apa Papa tidak berani pergi sendiri?"


"Iya, papa butuh jagoan sepertimu untuk melindungi papa."


"Oke, kalau begitu, ayo kita pergi!" seru Daniel semangat.


"Sayang, kita keluar sebentar ya." pamitnya pada Prita seraya mendaratkan ciuman di pipi.


"Papa dan Mama mau minum apa?"


"Buatkan saja kami teh."


"Baik, Pa."


Prita segera pergi ke dapur membuatkan minuman untuk mertuanya sendiri. Saat hari biasa, ada tiga orang asisten rumah tangga yang membantunya. Tapi, saat weekend, mereka sengaja diliburkan karena Prita ingin quality time bersama keluarga.


"Maafkan kami, Prita. Mamamu memang benar-benar lupa membelikan mainan kesukaan Daniel."


Prita menyunggingkan senyum, "Papa tidak perlu merasa tidak enak hati seperti itu. Prita juga tahu Mama Maya lupa. Lagipula, Daniel bisa bermain bersama Dean. Papa tidak perlu khawatir."


"Sikap mamamu memang masih saja seperti itu. Papa harap kamu tidak pernah tersinggung. Dia suka mempermasalahkan hal-hal sepele yang seharusnya tak dipermasalahkan."


"Iya, Pa. Prita mengerti."


"Kalau begitu, Papa kembali ke depan ya, mau bermain dengan Dean dan Livy."


"Iya, Pa."

__ADS_1


Setelah Papa Reonal pergi, air mata Prita mengucur dengan sendirinya. Setegar apapun usahanya untuk tidak menangis, ia tidak bisa menahan jika berkaitan dengan Daniel.


__ADS_2