ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Keputusan Mencengangkan


__ADS_3

"Putra Anda benar-benar gila. Dia sendiri yang menginginkan pernikahan ini, tapi setelah kami mempersiapkan semua yang terbaik dia pergi begitu saja."


"Andin sudah melakukan apa yang Arga inginkan. Dia sudah meninggalkan pekerjaannya, demi anak Anda yang sangat kurang ajar itu. Bagaimana tanggung jawab kalian sebagai orang tua?"


Sebagai ayah, Pak Suryo sangat kesal. Harga dirinya serasa diinjak-injak oleh lelaki yang bernama Arga. Andin anak tunggalnya, tentu ia mengharapkan kehidupan bahagia bisa dia raih. Ketika Andin meminta ijin untuk menikah dengan Arga, Suryo sangat senang. Selama ini memang Andin tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ketertarikannya pada lawan jenis. Ia hanya suka bekerja dan bekerja. Mendengar Andin menginginkan pernikahan baginya seperti sebuah anugerah. Tapi, hal yang dianggapnya anugerah iti akhirnya menjadi sangat menyakitkan. Calon menantunya mencampakan anak kesayangannya.


"Kami minta maaf, Pak Suryo. Kami juga tidak tahu jika Arga akan melakukan hal ini. Padahal kemarin kita juga masih bersama-sama, memang aneh tiba-tiba Arga pergi."


"Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari keberadaan Arga. Semoga saja dia bisa segera ditemukan."


"Hah! Percuma. Mungkin sejak awal dia memang sudah berniat untuk mempermainkan putriku."


"Dia pasti akan sangat senang melihat putriku nantinya menjadi bahan pembicaraan orang karena gagal menikah."


"Ayo, Nak. Kita pergi dari sini."


Andin menggeleng. Isakan tangisnya masih belum berhenti. Andin belum bisa mempercayai Arga telah meninggalkannya. Ia masih berharap, sebentar lagi Arga akan kembali dan memberikan kejutan bahwa surat itu hanya prank saja.


"Kamu jangan keras kepala, Andin.... Arga sudah kabur. Dia tidak mungkin kembali."


"Aku mau menunggunya di sini. Dia pasti akan kembali." Ucap Andin sembari terus menangis.


Pandangannya mulai kosong. Ia tak memikirkan apapun lagi selain Arga dan keinginannya menikah. Ia ingin malam ini menjadi seorang pengantin, berjalan menuju altar dan mengucap janji suci bersama Arga. Arga akan menjadi suaminya seperti yang ia impikan.


"Kamu lihat, kan. Anakku jadi hampir gila seperti ini gara-gara anakmu? Apa yang akan kalian untuk mempertanggungjawabkan semua ini?"


Suryo mengguncangkan pundak Reonal sambil berkata dengan nada setengah berteriak. Reonal mematung membiarkan Suryo melakukan apapun yang dimau. Ia tak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah bodoh anaknya sendiri.


"Andin, dasar bodoh! Ngapain nangisin orang brengsek seperti Kak Arga? Hidupmu juga tetap akan baik-baik saja tanpa dia." Vino mencoba menyadarkan Andin.


Wajah cantik itu terlihat sedikit berantakan karena ia terlalu banyak menangis.


"Vino.... Kak Arga pasti akan datang. Hari ini kami akan menikah. Kamu jangan bilang begitu."


"Andin!" teriak Vino kesal.


"Aku tetap akan menunggunya."


Sebenarnya pikiran dan perasaan Andin sangat rumit. Ia seperti tidak akan kuat menghadapi omongan orang jika sampai malam ini gagal menikah. Ayahnya juga pasti akan sangat malu. Banyak koleganya yang malam ini datang, memalukan jika sampai pernikahan dibatalkan karena calon mempelai laki-laki yang kabur. Ia lebih baik mati atau menjadi gila daripada menghadapi kenyataan sebenarnya.


"Aku yang akan menggantikan kakakku menikahi Andin."


Semua terperangah mendengar ucapan Ayash. Sepertinya di ruangan itu bertambah satu orang lagi yang tidak waras.

__ADS_1


"Ayash!" seru Maya.


"Apa-apaan kamu, Ayash!" ucap Reonal.


"Heh! Kamu gila, ya?" bisik Irgi.


"Bisa aku bawa Andin ke dalam sana sebentar? Kami butuh bicara berdua."


Ayash menghampiri Andin dan meraih tangannya. Vino ikut memegangi tangannya dan menatapnya dengan tajam.


"Kamu jangan main-main, Yash."


"Aku serius."


Ayash menyingkirkan tangan Vino dan membawa Andin masuk ke dalam ruangan walk in closet kemudian menutup pintunya. Di dalam mereka hanya berdua.


Ayash lebih jelas melihat wajah sendu penuh luka yang terpancar dari Andin. Dia memang tampak berbeda. Dia terlihat cantik dalam balutan busana pengantin, berbeda dengan Andin yang biasanya tak pernah mempedulikan penampilan. Ayash mengambil sapu tangan dari dalam sakunya, menghapus air mata yang membasahi wajah Andin.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Ndin."


"Kita sudah lama berteman, dulu kamu bukan orang yang suka memikirkan apa yang akan terjadi besok. Hari ini, sangat jelas kamu sedang memikirkan banyak hal. Kamu pasti sangat mengkhawatirkan ayahmu.... dan tentunya juga kakakku."


"Meskipun kakakku sudah membuatmu seperti ini, aku yakin kamu tidak bisa membencinya."


"Karena itu, gunakan aku, Andin."


"Kamu tahu kan, aku sudah bercerai dengan Prita. Aku seorang duda. Kalau kamu tidak keberatan, menikahlah denganku demi kebaikanmu dan kebaikan kedua belah keluarga."


"Hubungan keluarga kita sudah sangat baik sejak dulu. Aku juga tidak mau semuanya hancur seperti yang kamu takutkan juga."


"Tapi bagaimana dengan Prita? Kamu masih mencintainya, kan?" Andin mulai mau bicara. "Kamu dan Prita adalah teman yang aku sayangi. Aku juga masih berharap kalian berdua bisa bersatu lagi. Bagaimana bisa kamu melibatkan diri dalam masalahku?"


Ayash tersenyum, "Kamu juga teman kami. Aku yakin Prita juga tidak akan mau melihatmu terpuruk seperti ini."


"Yash.... "


"Pernikahan ini bisa menyelamatkan hubungan baik keluarga kita. Bertahanlah, sampai kamu bisa bertemu kembali dengan kakakku. Kamu bisa meminta penjelasannya kenapa bisa meninggalkanmu."


"Aku tak yakin kenapa dia bisa meninggalkanmu. Padahal kamu adalah cinta pertama kakakku."


"Kemarin malam dia masih bersikap hangat padaku. Kami bercerita banyak hal tentang apa yang akan kami lakukan setelah menikah. Aku masih tidak menyangka dia akan meninggalkanku dengan begitu mudah. Huhuhu.... "


Ayash meminjamkan pundaknya sebagai tempat Andin bersandar. "Kamu tidak sendiri, Andin. Aku akan membantumu."

__ADS_1


"Apa keputusanmu? Orang-orang di luar pasti sedang menunggu."


Andin kembali menatap mata Ayash, "Maafkan aku, Ayash. Tolong, menikahlah denganku." Andin menitihkan air mata. Ia merasa bersalah sekaligus bersyukur ada Ayash di sisinya.


"Sudah, jangan nangis. Kita akan menikah, kamu harus terlihat cantik di kamera."


"Hahaha.... Rasanya aneh sekali menikah dengan orang sepertimu. Kamu memang orang baik, tapi sangat jauh dari tipeku. Mohon bimbingannya ke depan, ya."


Andin dan Ayash keluar dari ruangan itu. Tampak di sana orang-orang masih cemas. Ayash seperti orang gila yang menawarkan diri ingin menggantikan posisi kakaknya. Sementara, Andin seperti orang yang tidak punya harapan hidup lagi setelah ditinggal pergi oleh calon suaminya.


Andin memasang senyum di wajahnya, seakan semua sudah kembali seperti biasa, "Ayah, ijinkan aku menikah dengan Ayash."


Suryo membeku mendengar permintaan anaknya. Tapi, ia juga lega karena Andin sudah mau kembali tersenyum.


"Tapi, Nak.... "


"Kami sudah membahas banyak hal. Ayah juga tahu kan, Ayash teman baikku. Aku yakin dia tidak akan menyakitiku nanti. Aku pasti bisa bahagia bersamanya."


"Ayash, kamu serius?" tanya Mama Maya.


"Iya, Ma. Selain Prita, wanita yang menurutku baik di dunia ini adalah Andin."


Maya memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing. Reonal menahannya agar Maya tidak tumbang.


Vino, Irgi dan Raeka tak bisa berkata-kata. Mereka hanya saling menatap satu sama lain.


"Baiklah, kalau itu memang sudah keputusan kalian. Aku sebagai orang tua hanya mendukung." ucapan Suryo mengakhiri perdebatan mereka.


Pernikahan itu benar-benar terjadi. Suryo menuntun anaknya menuju altar pernikahan. Di sana, ia serahkan putri kesayangannya itu kepada Ayash, sahabat masa kecil putrinya. Dia tahu Ayash anak yang baik dan Andin akan diperlakukan baik olehnya.


"Apa yang nanti harus kita katakan kepada Prita? Ayash bukan datang sebagai tamu tapi malah menjadi pengantinnya." ucap Raeka. Sejak berteman dengan Prita, ia jadi semakin peduli dengan Prita.


"Kita tidak perlu menceritakan apapun. Biar mereka berdua yang menjelaskannya."


"Andin dan Prita berteman baik. Bagaimana kalau pertemanan mereka rusak gara-gara ini?"


"Mereka sudah bercerai, Ra. Baik Ayash maupun Prita bisa menikah dengan siapa saja."


"Kamu kenapa, Vin?" tanya Irgi melihat Vino yang sepertinya cemas.


"Aku hanya takut mereka berdua tidak bahagia. Jelas sekali keduanya tidak menginginkan pernikahan ini."


"Kalau sampai aku bertemu Arga, aku pastikan akan menghajarnya habis-habisan. Semua ini gara-gara Si Bangsat itu."

__ADS_1


"Aku yakin mereka sudah memikirkan semua hal sebelum memutuskan untuk menikah, Vin. Kamu tenang saja, Ayash juga tidak akan menyakiti Andin."


"Ya, aku tahu itu. Tapi hidup bersama orang yang tidak kita inginkan aku rasa tidak ada bedanya dengan hidup di neraka."


__ADS_2