
"Daripada tujuannya tidak jelas begini, bagaimana kalau kita ke alun-alun?" ajak Rafa.
"Memangnya ada apa di alun-alun?"
"Konser dangdut sih.... "
Rafa malu-malu mengucapkannya. Dia takut Prita akan mengejeknya, karena tidak semua orang menyukai jenis musik dangdut. Kalau Rafa sendiri, dia lumayan suka dangdut.
"Ah.... Oke, terserah kamu saja."
Rafa memutar arah mobilnya menuju arah alun-alun kota. Sejak tadi mereka hanya berbincang-bincang di mobil menyusuri kota tanpa tujuan. Setidaknya, mampir sebentar di alun-alun bisa mengusir rasa bosan.
Sampai di sana, lapangan sudah dipenuhi penonton meskipun konsernya belum dimulai. Menurut jadwal, artisnya akan perform jam sepuluh, sekitar setengah jam lagi.
Mata Prita bukannya tertuju pada panggung, tapi malah ke deretan pedagang yang menjual berbagai jenis makanan. Dari tampilan luarnya, sepertinya rasanya enak-enak. Apalagi bentuknya lucu-lucu, suatu godaan besar bagi kaum hawa.
Rafa yang tadinya mau mengajak Prita mencari tempat ke depan panggung mengurungkan niatnya. Dia tahu kalau wanita di sebelahnya lebih tertarik pada makanan daripada konser dangdut itu sendiri.
"Kamu mau permen kapas?" tanya Rafa menawarkan.
"Hah, apa?"
Rafa menarik tangan Prita mendekat pada penjual permen kapas. Tampilannya warna warni serta bentuk karakternya lucu-lucu.
"Pilih yang kamu mau."
Prita jadi canggung. Tapi, karena ia sangat menginginkannya, ia ambil satu yang berbentuk hello kitty yang ukurannya cukup besar.
"Eh, biar aku saja yang bayar!"
Prita mencegah Rafa yang ingin membayari makanannya.
"Jangan membuatku malu, aku yang mengajakmu ke sini masa kamu yang membayar." Rafa tetap memberikan uangnya pada pedagang itu.
Setelah membeli permen kapas, mereka kembali berjalan menyusuri deretan stand makanan yang lain. Meskipun hanya berjalan dan melihat-lihat saja, Rafa bisa tahu jika wanita di sebelahnya sedang merasa senang.
"Apa aku terlihat memalukan memakan makanan seperti ini?" tanya Prita sembari mencubit makanannya sedikit demi sedikit.
"Tidak, kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Karena sejak tadi kamu memperhatikanku terus."
"Hahaha.... aku ketahuan, ya?" ucap Rafa malu-malu.
__ADS_1
"Aku memperhatikanmu karena kamu cantik."
"Dan imut."
Mendengar pujian dari lelaki lain membuat Prita mengalihkan pandangannya pada makanan. Sepertinya dia sudah membuat kakak Raeka jadi terbawa perasaan padanya.
"Mau makan kebab?"
"Hm, boleh." Prita menyunggingkan senyum.
Rafa membeli dua kebab ukuran sedang. Mereka kembali melanjutkan berjalan menyusuri deretan stand makanan yang lain. Sampai akhirnya, mereka merasa cukup lelah dan memutuskan untuk mencari tempat untuk duduk.
Konser sudah dimulai. Artis dangdut wanita yang sedang naik daun itu mengalunkan nyanyian yang membuat para penonton bergoyang dan bersorak sorai. Rafa yang penggemar dangdut hanya bisa melihatnya dari jarak yang jauh. Tapi, setidaknya sekarang di sebelahnya ia bersama seorang wanita yang tak kalah menarik.
Meskipun ia hanya membantu wanita itu kabur dari pacarnya, tapi dia merasa seperti sedang berkencan dengannya. Biarlah itu pikirannya sendiri. Mungkin Prita akan marah jika tahu dia sedang memandanginya dengan penuh kekaguman. Sungguh, dia sudah tertarik dengan Prita sejak pertemuan pertama. Ia harap setelah pertemuan kedua ini akan ada pertemuan ketiga, keempat, dan seterusnya.
"Apa rencanamu selanjutnya setelah ini?"
"Mungkin pulang." Prita masih memakan sedikit demi sedikit permen kapas miliknya. Sensasi nyes di lidahnya itu selalu membangkitkan kenangan indah waktu kecil. Ia serasa kembali menjadi muda padahal sudah punya anak tiga.
"Kalau pacarmu menunggumu di depan rumah?"
Prita menghentikan aktivitas makannya. Bayu bukan akan menungguinya di depan rumah, tapi di dalam rumah. Entah nanti hukuman apa yang akan ia dapatkan kalau pulang. Tiba-tiba dia jadi takut pulang. Padahal yang salah Bayu, tapi kenapa dia merasa dirinya yang akan mendapat hukuman?
"Ah, maaf. Itu akan aku pikirkan nanti."
"Kamu masih marah padanya?"
"Tentu saja. Wanita mana yang tidak akan marah kalau melihat pacarnya dekat dengan perempuan lain. Apalagi penampilan mereka seperti itu."
Prita kembali kesal mengingat dua wanita berbikini yang duduk di samping Bayu. Rasanya dia ingin menjambak rambut keduanya.
Ah, tapi dia ingat lagi kalau yang salah bukan wanita-wanita itu. Mereka hanya bekerja, yang salah tetap Bayu, karena pasti dia yang mem-booking mereka. Prita sudah bertekad kalau nanti Bayu meminta jatah, dia akan menolaknya. Salah sendiri dia bertingkah seperti itu di luar. Kalau sampai dia lebih gila ketahuan pernah membawa wanita-wanita semacam itu ke hotel, jangan harap dia akan memaafkannya.
"Berarti, mungkin pacarmu juga akan marah kalau melihat kita bersama, ya?"
"Hah?"
"Lelaki kan juga tidak suka melihat wanitanya dekat dengan pria lain."
Prita tertegun dengan ucapan Rafa. Apa yang dikatakannya itu ada benarnya. Jadi, sebenarnya baik dirinya maupun Bayu sama-sama salah. Tapi, Prita terpaksa mengajak Rafa lari agar Bayu tak mengenali siapa lelaki yang bersamanya.
"Walaupun aku menikmati saat-saat seperti ini bersamamu, tapi aku juga merasa bersalah. Aku seperti ada di posisi orang ketiga, ya? Hahaha.... "
__ADS_1
"Tidak, posisimu sebagai penolongku. Terima kasih ya, sudah membawaku pergi dari klab."
"Ya, itu bukan masalah besar."
"Kamu mau nonton ke depan panggung?"
"Tapi, sepertinya di sana penuh sesak."
"Memang keseruan nonton konser dangdut itu di bagian desak-desakan."
"Sepertinya penampilanku kurang cocok untuk itu."
Rafa memperhatikan penampilan Prita dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita itu memang sedang memakai pakaian yang cocok untuk clubbing atau pesta, bukan untuk nonton konser dangdut. Bisa melorot bajunya kalau ikut berdesak-desakkan.
Rafa melepaskan jas yang dikenakannya, lalu memakaikannya untuk menutupi bagian bahu Prita yang terekspose. Seharusnya sejak tadi dia melakukannya. Prita pasti kedinginan.
"Tidak usah, Rafa." Prita mencoba menolak halus.
"Aku tidak mau kamu masuk angin karena mengikutiku ke sini."
"Maaf ya, sebagai lelaki tampaknya aku kurang peka. Seharusnya aku sudah tahu kalau penampilanmu tidak cocok untuk nongkrong di tempat terbuka seperti ini."
"Hahaha.... Kamu pikir aku tua renta yang gampang masuk angin? Aku tidak kedinginan, kok."
"Kalau tidak kedinginan ya untuk menutupi tubuhmu supaya tidak menjadi pusat perhatian orang-orang."
"Penampilanku aneh kan, tidak cocok di sini."
"Bukannya aneh atau tidak cocok, tapi kamu terlalu seksi."
Seketika Prita menutupkan jas yang Rafa berikan menutupi dadanya.
"Memang ya, memperhatikan penampilan harus disesuaikan dengan tempatnya. Saat di klab, penampilanku mungkin tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penampilan wanita-wanita di sana."
"Apalagi wanita-wanita yang memakai bikini itu." kesal Prita.
"Kalau sekarang, penampilanku justru seperti mereka ya, di sini. Kalau kamu tidak mengingatkan, mungkin akan ada lelaki yang menawarku."
"Hahaha.... Tidak seperti itu juga."
"Penampilanmu anggun, jauh jika dibandingkan dengan wanita seperti itu."
"Hanya saja, ya.... Akan banyak mata yang tertarik untuk memperhatikanmu."
__ADS_1